Menolak Malin Kundang

jogja.biz.id

SAYA menilai perjalanan proses kreatif Goenawan Mohamad sampai pada suatu jalan pembebasan: menolak penciptaan berideologi Malin Kundang, yang durhaka pada akar budaya leluhurnya. Goenawan Mohamad telah kembali pada mitos dan spiritualitas yang berakar dari masyarakatnya—tempat ia tumbuh dan berkembang. Tanda-tanda kecintaannya pada akar budaya, mitos, dan spiritualitas yang melingkupi atmosfer kehidupannya itu sesungguhnya sudah berkembang semenjak lama, ketika ia mencipta puisi “Penangkapan Sukra”, “Parikesit”, dan “Asmaradana”.

Bila saya melakukan penelitian intertekstualitas, tampak Goenawan Mohamad  suntuk menghunjam pada akar budayanya, menyingkap kembali serat dan babad untuk mencipta puisi dengan pengucapan bernas, magis, dan penuh kedalaman kontemplasi. Ia mencipta puisi yang menghanyutkan empati pembaca pada pembebasan akan pembusukan dominasi kekuasaan (“Penangkapan Sukra”), takdir kematian yang tak terhindarkan (“Parikesit”), dan kesucian ikatan cinta (“Asmaradana”).

Ketika saya membaca novel Surti +  3 Sawunggaling, sampai pada pandangan bahwa Goenawan Mohamad tengah menyempurnakan pergulatannya menolak ideologi Malin Kundang. Dalam bahasa Subagio Sastrowardoyo, kesusastraan Indonesia modern ditandai ciri-ciri manusia perbatasan, atau dua kebudayaan: “lama” (Timur) dan “baru” (Barat).  Akan tetapi, dalam penilaian saya, Goenawan Mohamad menyelam pada akar tradisi, tanpa menjadi usang, tanpa menjadi kebudayaan “lama”, karena kekuatan simbol, estetika, dan fantasi di balik novelnya.

/2/

Inilah novel yang ditulis seorang penyair, dengan tipografi puisi, yang lazim disebut prosa liris. Saya menemukan sifat multitafsir yang pekat pada novel ini yang bermuara pada hakikat puisi, membuka cakrawala batin pembaca akan berbagai makna dan penafsiran. Sejak awal novelnya, Goenawan Mohamad memang membuka diri terhadap simbol-simbol, yang mesti kita maknai. Ia sengaja membuka ruang untuk berkembangnya motif-motif yang tak tunggal, dengan perkembangan struktur narasi dan kisah yang kompleks. Ia mengembangkan defamiliarisasi, dengan melakukan penganehan terhadap objek-objek yang secara kultural tampak lazim. Ia mencipta motif kebiasaan membatik Surti, yang berkembang sebagai struktur narasi dan kisah tak lazim, sebuah teknik bercerita yang membuka cakrawala perenungan pembaca.

Dengan latar kota pesisir utara pantai Jawa, akhir Juli 1947, Goenawan Mohamad menghadirkan tokoh Surti, perempuan pembatik, yang ditinggal mati Niken, anak perempuan tunggalnya—belum genap sembilan tahun, ketika berenang di pantai. Ia bertahan mendampingi perjuangan suami sebagai gerilyawan.  Membatik bukan lagi menjadi soko guru ekonomi sebagai seorang istri yang ditinggal suami bergerilya, tetapi merupakan kegiatan spiritual, melakukan pengembaraan batin untuk memahami kosmologi yang melingkupi atmosfer kehidupannya.

Tiap kali membatik burung sawunggaling, Surti  melakukan pengembaraan batin. Ia memberi nama burung itu Anjani, Baira, dan Cawir. Ketiga burung yang dilukis dalam kain batik itu senantiasa menjelma mata batin Surti untuk memaknai kehidupannya. Ketiga burung sawunggaling itu tiap menjelang dini hari melepaskan diri dari gambar, dengan sekali kepak, keluar dari kain batik, terbang sebagai mata batin Surti untuk melihat peristiwa-peristiwa kehidupan di sekitar dan kosmologi yang melingkupinya.

/3/

Laku batin Surti sebagai seorang istri berhadapan dengan  peristiwa-peristiwa genting peperangan, yang dipenuhi kejutan-kejutan konflik, kesimpangsiuran informasi, tokoh-tokoh dengan berbagai kedok, dan dominasi kekuasaan kuyup dengan fitnah, kekerasan, bahkan pembantaian. Saya sampai pada keyakinan bahwa Goenawan Mohamad melakukan defamiliarisasi motif dan struktur narasi ketika mencipta ketiga burung sawunggaling dalam lukisan batik yang bisa membebaskan diri dari gambar. Ketiga burung sawunggaling itu berperan sebagai  pengembaraan sukma Surti, pertautan pada hal-hal yang transenden. Ketiga burung sawunggaling yang dilukis dalam kain batik dan melepaskan diri dari gambar itulah yang menjadi mata batin Surti untuk memandang dan memaknai kosmologi yang melingkupi kehidupannya dengan bijak, sabar, dan waskita—bahkan untuk menangkap sasmita, memahami hal yang bakal terjadi.

Novel ini memang menciptakan kebebasan untuk mempermainkan konvensi. Dalam pandangan saya, Goenawan Mohamad melakukan penyimpangan—terutama pada tokoh ketiga burung sawunggaling jelmaan gambar kain batik—dalam tingkat  motif dan struktur narasi. Penyimpangan yang dilakukan Goenawan Mohamad itu selaras dengan konsep  defamiliarisasi, istilah yang pertama-tama dipakai oleh ahli sastra Rusia mazhab Formalis, Victor Shklovsky: “yang biasa, yang normal, yang otomatis dibuang, yang dipakai harus khas, aneh, menyimpang, luar biasa”. Defamiliarisasi ketiga burung sawunggaling dalam novel ini merupakan teknik yang memaksa pembaca untuk memahami motif yang biasa, kejadian sehari-hari, sebagai hal yang aneh dan menjadi ragam yang tak dikenali; tak lazim. Defamiliarisasi tiga burung sawunggaling itu menunda begitu banyak tindakan, kata-kata atau objek yang tampak dalam keseharian, sebagai sugesti transendensi yang tak terjangkau nalar.

Pertama, burung sawunggaling itu menjadi saksi batin Surti akan pertempuran pasukan gerilyawan melawan Belanda dan pembantaian-pembantaian yang dilakukan Belanda. Ketiga burung sawunggaling itu menjadi mata batin Surti yang bisa mengikuti semua peristiwa peperangan yang melingkupi ruang waktu di sekitar latar kisah, tentang pertempuran, gerakan gerilyawan, dan pergerakan Jen, suami Surti.

Kedua, burung sawunggaling itu menyingkap rahasia takdir manusia. Burung sawunggaling itulah yang terbang malam, bertemu hantu perempuan, yang mewartakan bahwa Jen akan mati tak lama lagi. Ketiga burung sawunggaling itulah yang membuka jatidiri Jen. Surti menikahi lelaki itu, tanpa mengenal asal-usulnya dengan pasti. “Terus terang aku tak kenal betul laki-laki itu, Jen, yang kadang-kadang aku panggil Mas Jen. Kami menikah tak lama setelah ia keluar dari penjara di Mager. Itu tahun 1936, ketika umurku sudah 20 dan dia 27” (hal. 22).

Ketiga, burung sawunggaling itu menyingkap dunia magis-mistis yang melingkupi kehidupan  Surti, yang bisa menggambarkan dunia batin Jen, suaminya, yang suka pergi ke makam Pekuncen Sunan Jero. Suami Surti senantiasa mencari “wisik”, “wangsit”, yang memberi jalan spiritual dari kesimpangsiuran konflik politik yang kacau. “Aku ingat Jen mengatakan, yang menemui mimpi, akan membentuk mimpi” (hal. 53).

/4/

Goenawan Mohamad juga mencipta motif mengenai tokoh Narto yang membiaskan struktur narasinya menjadi kompleks, dibayangi teka-teki yang meminta perenungan kita. Sejak kemunculan tokoh ini sampai akhir novel,  berkembang tiga motif mengenai tokoh Narto. Pertama, motif Narto  seorang guru. Kedua, motif Narto seorang mata-mata Jen. Ketiga,  motif Narto sebagai mata-mata Belanda, bahkan menjadi petunjuk pengepungan rumah Surti, untuk menangkap dan membantai Jen. Berkali-kali tokoh Narto dikabarkan ditembak mati, tetapi ia masih hidup, dan tetap tak tersingkap jatidirinya sampai novel ini berakhir. Ia menjadi teka-teki, yang memberi makna novel ini dalam kompleksitas penafsiran. Goenawan Mohamad menghadirkan defamiliarisasi tokoh manusia yang penuh dengan kedok, berlapis-lapis dusta, dan permainan peran.

Bagi saya, tokoh Surti hadir bukan sebagai saksi pergolakan peperangan di kota kecil pantai utara Jawa. Akan tetapi, sesungguhnya, yang diekspresikan Goenawan Mohamad adalah pergulatan batin perempuan. Tokoh Surti dilakonkan dengan segala pengembaraan mata batinnya. Ia tetap tegar dalam badai peperangan, tetap memandang segala peristiwa dengan bening dalam situasi yang keruh, tetap murni dalam kepungan kedok-kedok kepalsuan.  Tokoh Surti menjadi ruh perkembangan struktur narasi novel sebagai  teks jamak, teks dengan penafsiran plural. Saya tak bisa melukiskan bahwa obsesinya pada akar tradisi, membawanya pada penulisan teks “lama” sebagaimana dikatakan Soebagio Sastrowrdoyo. Nilai  transenden, estetika dan penafsiran simbol-simbol novel Goenawan Mohamad menyempurnakannya sebagai teks yang lazim mengatasi ruang-waktu.

S. Prasetyo Utomo

Dosen Universitas PGRI Semarang, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.