Mereka Pernah Hidup di Masa Lampau

Lintang bersandar pada pohon karet yang baru selesai ia sadap. Pikirannya dipenuhi aroma pesing dan air liur. Delapan hari lalu, sebelum bel pulang berbunyi, Pak Burhan, guru agama Lintang, menariknya ke kamar mandi. Dalam ruang kecil bau pesing, penisnya digerayangi. Ancaman tinggal kelas buatnya tak berdaya. Lintang merelakan penisnya tertanam dalam mulut Pak Burhan. Tubuhnya bergetar seperti tersengat listrik. Yang dilakukan Pak Burhan pada dirinya seperti deja vu.

Keesokan harinya, ketika Lintang berangkat sekolah, tersiar kabar dari mulut para ibu sedang belanja di kedai Emak Maridot. Pak Burhan ditemukan mati di belakang kandang babi. Kemaluannya putus. Pelirnya hilang satu biji. Bapak-bapak sedang minum kopi di kedai, mengatakan Pak Burhan bunuh diri dengan memotong kemaluan sendiri. Lintang tetap pada pemikirannya. Kemaluan Pak Burhan putus bukan karena dipotong. Namun digigit induk babi baru beranak, hendak ia sodomi.

Dengan pemikiran anehnya, Lintang jadi tahu apa akan terjadi ke depan. Ia meramalkan hidup Pak Muji, juragan kambing super pelit tetangganya itu, akan mati tertimpa tiang listrik. Ramalannya terbukti.

“Dari mana tahu kalau Pak Muji akan mati. Apa kamu belajar ilmu kebatinan?” ujar Keno teman satu kelasnya. Mereka baru pulang dari pemakaman Pak Muji.

“Kamu percaya reinkarnasi? Aku dan Pak Muji pernah hidup bersama di masa lampau.”

Perkataan Lintang dianggap Keno bualan belaka.

**

Di sebuah desa, hidup satu keluarga dengan dua orang anak beranjak remaja. Kemarau panjang membuat tanaman padi mereka mati kekeringan. Mereka dibayangi bencana kelaparan. Datuk Leman, si tetangga kaya raya tidak akan sudi memberi pertolongan. Datuk Leman senang melihat rakyat miskin, lalu memberi pinjaman dengan bunga mencekik leher. Anak paling sulung keluarga itu duduk berpangku tangan di pintu rumah. Ia malas pergi belajar silat, takut penisnya digerayangi guru silatnya.

Lintang terbangun. Keringat bercucuran baluri seluruh tubuh. Satu jam lebih ia tertidur di bawah pohon karet. Dari mimpinya, ia tahu bila Datuk Leman adalah Pak Muji di masa lampau. Namun bukan itu buatnya ketakutan. Anak remaja dalam mimpi mirip dengan dirinya. Anak itu telah lima kali mengganggu tidurnya. Hari hampir gelap. Ibunya pasti cemas menunggunya di teras rumah.

Jalan pulang mesti melintasi gedung sekolah. Lintang memandangi bangunan sekolah sejenak. Pikirannya bermekaran bagai jamur kuping di musim hujan. Di suatu masa, dalam pikiran Lintang, lokasi sekolah itu tempat berdiri sebuah perguruan silat. Di sana, ratusan tahun silam, Lintang pernah belajar silat. Seratus meter di belakang perguruan ada semak belukar. Bila malas berlatih, Lintang sembunyi di balik semak itu. Suatu hari, ia bersembunyi di balik semak rimbun. Guru silatnya kembali menggerayangi penisnya. Untuk bunuh rasa bosan di tempat persembunyian, Lintang menanam sebatang pohon di tengah semak belukar.

Lintang berlari ke belakang gedung, memastikan apa yang ia pikirkan adalah benar dan nyata. Lintang menemukan sebatang pohon beringin berukuran besar, berjarak seratus meter dari gedung sekolah. Dari tekstur kulit batang, beringin itu pasti berumur ratusan tahun. Masih kurang percaya bila pohon beringin itu adalah pohon kecil yang ia tanam di masa silam.

“Apa kamu lakukan di sini. Pohon itu ada penunggunya.” ujar seseorang dari belakang. Suara serak itu milik Kakek Gumira, orang paling tua di kampung Mojong. Ia baru pulang dari ladang.

“Kakek percaya dengan reinkarnasi?”

Kakek Gumira menatap Lintang lekat-lekat.

“Hidup ini adalah pengulangan. Manusia sekarang pasti pernah hidup di masa lampau. Tolong jangan lagi mendatangi pohon itu.”

“Mengapa, Kek?”

“Pohon itu telah dikutuk. Orang yang berhubungan dengan pohon itu selalu bereinkarnasi. Mereka bereinkarnasi di tanah yang sama.”

“Di kampung Mojong ini juga?”

Kakek Gumira mengangguk.

**

Anak beranjak remaja itu menanam sebatang pohon di tengah semak-belukar. Ia tidak mau lagi belajar silat. Tidak suka bila penisnya digerayangi guru silatnya itu. Semak-belukar bergerak-gerak. Ia menunduk. Barangkali guru silatnya tengah mencarinya. Sesosok tubuh hitam dan bungkuk muncul di hadapannya. Sosok itu bukan guru silatnya.

“Kakek siapa?”

Wajah si anak pucat pasi.

Aku seorang pemahat. Bulan depan, istriku ulang tahun. Ia sangat menyukai patung.”

Kakek tua itu menyumbat mulut si anak….

Lintang terbangun. Napasnya memburu. Matanya nanar ketakutan. Anak itu muncul kembali dalam mimpinya. Menjadi sangat yakin bila anak dalam mimpi itu adalah dirinya sendiri. Lintang tak ingin hidupnya berakhir seperti hidup anak dalam mimpinya. Banyak hal belum ia kerjakan. Ia ingin tumbuh menjadi lelaki dewasa, pacaran, menikah dan punya anak. Pun ingin mewujudkan impian ibunya untuk naik haji.

Lintang ingin mengubah jalan cerita mimpinya. Teringat ucapan Kakek Gumira perihal pohon beringin besar itu. Orang berkaitan dengan pohon itu selalu bereinkarnasi. Itu artinya kakek bungkuk pembunuh dirinya di masa lampau berada di kampung Mojong juga.

Berbulan-bulan sudah Lintang keliling kampung Mojong. Setiap rumah ada kakek tuanya pasti ia sambangi. Tak seorang pun kakek tua yang ia jumpai sesuai dengan sosok dalam mimpinya. Di suatu siang sedikit mendung, Lintang melihat Kakek Gumira memahat patung di halaman rumahnya. Selain mencari kayu bakar di hutan, Kakek Gumira seorang pemahat andal. Juga pintar membuat boneka dari kain perca. Boneka dijual ke pengepul. Uangnya bisa digunakan membeli beras. Patung dan boneka paling bagus ia simpan buat koleksi. Berharap Kakek Gumira ikut membantu temukan kakek tua dalam mimpinya itu.

“Kakek Gumira…!” teriak Lintang dari jendela warung. Ia keluar menghampiri.

“Ajari aku memahat patung, Kek!” lanjutnya sekadar berbasa-basi.

“Bagaimana kakek mengajarimu. Matamu mengisyaratkan kebohongan.”

Kakek Gumira hentikan pekerjaannya. Ia melangkah menuju rumah.

“Aku tidak bohong, Kek! Hanya tidak yakin kalau aku bisa memahat.”

“Silakan lihat-lihat dulu hasil pahatan Kakek.”

Lintang menoleh ke ruang yang ditunjuk Kakek Gumira. Sangat kagum melihat berbagai patung hasil pahatan Kakek. Sebuah patung terletak di sudut ruang mencuri perhatian Lintang.

“Patung di sudut ruangan bukan pahatan Kakek. Itu warisan leluhur telah berumur ratusan tahun.” ujarnya

Pipi Lintang basah oleh air mata. Patung itu mirip pada anak remaja dalam mimpinya. Patung itu adalah dirinya di masa lampau. Bahu Lintang terguncang tak mampu menahan tangis. Lintang tak menyadari bila kakek Gumira telah berada di belakangnya. Ia berjalan hati-hati sekali agar tak menimbulkan suara. Kakek Gumira menggenggam sebuah belati. Matanya pancarkan kelicikan bagai iblis pencabut nyawa. Kejadian ratusan tahun silam akan kembali terulang. (*)

Dody Wardy Manalu

Guru bidang studi ekonomi di SMA Negeri 1 Sosorgadong, Tapanuli Tengah.

Latest posts by Dody Wardy Manalu (see all)

Comments

  1. Kal Reply

    Busyett

    • Anonymous Reply

      ini baru cerita josss

  2. Dun Reply

    I like it!

  3. S Reply

    Mantap

  4. Anonymous Reply

    Premisnya menjanjikan. Bisa dikembangkan menjadi cerita panjang.

  5. Mas Penan Reply

    Wooow … menikmati sekali dan puas
    Saya suka gaya ceritanya

  6. Keong Reply

    Keren sih parah

  7. doyok Reply

    meski sudah dapat mengira-ngira endingnya tapi cerita ini luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published.