Mimpi, Berahi, Prostitusi

Mimpi, Berahi, Prostitusi

Dongeng sebelum tidur mengingatkan pada buku dan kasur. Ibu membacakan buku pada bocah di kasur empuk. Dongeng menjadi pengantar bocah ke tidur. Bermimpilah indah! Di kasur, bocah mendapatkan limpahan imajinasi. Di pengembaraan impian, ia seperti meninggalkan kasur menuju padang, taman, jalan, pantai, dan sungai. Kasur terlupakan di pengisahan sulit teringat semua, setelah membuka mata di pagi hari. Pada kasur, bocah mungkin “singgah” ke dunia lain, ingin terulangi dengan cerita-cerita berbeda.

Perkara dongeng dan kasur bagi bocah itu berbeda dengan ingatan lagu sering ditambahi jadi lucu: Bangun tidur kuterus mandi/ tidak lupa menggosok gigi/ habis mandi kutolong ibu/ membersihkan tempat tidurku. Bocah-bocah di kampung memiliki lirik tambahan: bantal guling mambu pesing diompoli…. Di lirik tambahan, bocah diceritakan mengompol di kasur. Hukuman bagi bocah adalah mengangkut kasur ke luar rumah. Kasur harus dijemur agar pesing berkurang. Seharian, kasur berhadapan matahari. Kasur pun mendapatkan pukulan-pukulan dari tebah. Teman-teman si bocah lekas menuduh jika ada kasur di depan rumah memiliki bekas “peta sembarangan” menandai ada si tukang ngompol.

Kasur di pengalaman bocah masih sederhana, belum diperumit dengan urusan-urusan asmara, kapitalisme, pornografi, dan imajinasi manusia global. Kasur itu terpandang untuk tidur atau belajar. Kasur dibuat dengan isi kapuk atau busa. Di kasur, tidur menjadi pengesahan bocah beritirahat: siang dan malam.

Dulu, kasur-kasur cenderung diisi dengan kapuk atau kapas. Kasur-kasur dirasa empuk dan enak di raga. Perawatan kasur dengan penjemuran dan penggebukan agar debu-debu menghilang. Kegiatan paling menjengkelkan adalah melindungi kasur dari kedatangan kutu. Di desa, orang-orang menjuluki “tinggi”. Orang nekat tidur di kasur berkutu bakal memiliki teater garuk-garuk dan misuh-misuh. Pengertian lama itu mengandung pengajaran dari orang tua ke bocah tentang memiliki dan merawat kasur. Pewarisan kasur itu kelaziman. Sekian orang kadang mengimbuhi makna mistis.

* * *

Kasur masa lalu diterjang keinginan orang-orang Indonesia memiliki kasur seperti orang-orang di Eropa dan Amerika Serikat. Kasur tanpa kapuk. Kasur memiliki per-per. Warna-warna kasur sering norak. Ketebalan kasur tiada terkira. Kasur-kasur berdatangan dari negeri-negeri asing digunakan tidur orang Indonesia. Kemewahan kasur perlahan ditiru dengan kemunculan industri perkasuran lokal. Indonesia tak lagi selalu memikirkan jalan tol, swasembada pangan, pemilu, dan wajib belajar 9 tahun. Kasur masuk ke tema memajukan Indonesia, sejak masa Orde Baru sampai sekarang.

Kita mendapati kasur itu tema sulit terurai dengan selusin cerita. Kasur terlalu ramai pemaknaan. Kita mulai dulu dengan mengutip kalimat-kalimat sedih berasal dari novel berjudul Therese Raquin (2014) gubahan Emile Zola. Novel telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu mengantarkan pembaca ke rumah dengan tempat tidur atau kasur kemurungan. Kasur berada di Paris, tak ada di Jakarta, Bandung, Solo, atau Semarang. Zola menulis: “Therese, yang tinggal di tempat gelap, lembap, suram, dan hening ini merasa bahwa masa depan yang terbentang di hadapannya sungguh hampa. Setiap malam yang menunggunya hanyalah tempat tidur dingin yang sama, dan setiap pagi sebuah hari yang monoton.” Pengakuan itu berubah sejak bertemu dengan lelaki bernama Laurent. Kasur menjadi berahi. Perempuan belum menua tak memiliki dongeng pengantar tidur dan lagu bocah seperti diajarkan di TK-TK seantero Indonesia.

Pada kasur, derita ditaruh dalam pesimisme. Ia menganggap mustahil mendapatkan terang dan bahagia di kasur. Tidur pun jarang memberi mimpi indah. Ia terlalu mengalami rutin gampang mematikan. Novel klasik itu mungkin pernah terbaca orang-orang Indonesia dalam edisi bahasa Inggris pada masa 1980-an. Para pembaca tak ingin meniru atau menjadi Therese. Mereka memutuskan membeli dan memiliki kasur bukan kemurungan.

Di majalah Kartini, 23 Maret-5 April 1987, mereka membaca iklan menggembirkan bagi ikhtiar jadi penidur. Bujukan sejak mula: “Dunlopillo Tropical, pengantar Anda ke dunia mimpi…” Di bawah kalimat, foto kasur megah berwarna jambon. Orang tergesa mengira itu kasur khusus bagi perempuan gara-gara warna dan motif flora. Kasur berkhasiat: “Indah. Nyaman. Menyehatkan, anti kuman selama-lamanya, membantu menyembuhkan asma dan alergi, memberi topangan yang tepat dan nyaman bagi tubuh Anda.” Kasur itu dibuat sesuai iklim tropis di Indonesia. Belilah kasur, bermimpilah indah! Kasur besar itu berganransi. Penidur di kasur boleh dua orang.

Eh, ingat dua orang di kasur ingat dengan pengantin baru. Di kasur berhiaskan kembang dan memiliki aroma wangi, mereka mencipta kenikmatan di detik-detik menjadi suami-istri. Pengantin baru jangan tidur sembarangan cuma di selembar tikar di atas lantai dingin. Tidurlah di kasur! Tidur mereka sering teringat sebagai “malam pertama.” Kita tak pernah paham pengenalan “malam pertama” itu mulai menjadi bisnis memilih tempat di hotel. Orang-orang dibujuk mengadakan resepsi pernikahan di hotel, mendapatkan paket malam pertama di kamar romantis. Pengantin kadang mendapat bonus bulan madu ke tempat-tempat terindah. Mereka pergi pelesiran untuk sampai ke kasur lagi.

Malam pertama kadang teranggap sakral. Malam itu pula memberi takut dan kenikmatan. Kita mengutip saja pemaknaan malam pertama di kasur di buku berjudul Lelucon Intim (2000) susunan Darminto M Sudarmo dan Martono. Di cerita dijuduli “Doa Pengantin Baru”, pembaca ngekek. Bacalah: “Pak Sabur yang sudah berumur enam puluh lima tahun, menikah dengan gadis berumur tujuh belas tahun. Di malam pertama, ia bicara dengan istrinya, ‘Semoga perkawinan kita diberi kekuatan dan bimbingan….’ Istrinya masih muda itu memotong, ‘Mas, peliharalah kekuatanmu saja, aku yang akan membimbingmu.” Pembaca lekas ke imajinasi berahi.

Lelucon itu terbit setelah rezim Orde Baru runtuh. Perkara berahi kadang mendapat kemarahan dan demonstrasi berdalih agama dan moral. Di Indonesia, “kasur” pernah laris melalui novel-novel dan film-film. Pada masa 1970-an dan 1980-an, para pembaca novel berkemasan sederhana dengan gambar sampul “menggiurkan” pasti membaca cerita-cerita kasur. Para penonton film Indonesia masa 1990-an telat bosan melihat adegan para tokoh di kasur. Ingatan kita pada rezim Orde Baru sulit memusnahkan imajinasi kasur.

Imajinasi itu milik Gitanyali. Pengarang memilih menggunakan nama samaran di novel berjudul Blues Merbabu (2011) melakukan perlawanan atas rezim Orde Baru dengan peristiwa di kasur. Si tokoh adalah anak dari keluarga dicap PKI. Pada masa Orde Baru, ia memiliki trauma. Keinginan bersekolah dan bekerja sering ditakuti dengan operasi bersih atau razia oleh aparat demi menuntaskan perintah-perintah penguasa. Tokoh bernama Gitanyali memilih “menanggapi” pertarungan ideologi dengan kelonan. Di kasur-kasur, ia mengeloni sekian perempuan. Ingatan buruk pada malapetaka 1965-1966 digantikan dengan adegan mencipta ketagihan di kasur. Puncak selebrasi berahi itu berupa ucapan: glek. Ia tinggal di kota kecil. Ia mungkin menginginkan kota itu adalah kasur besar bagi petualangan dan pelupaan masa lalu buruk.

* * *

Kita perlu pula mengingat kasur di kehidupan remaja masa Orde baru. Novel garapan Hilman berjudul Bangun Dong Lupus! (1988) pantas jadi referensi. Bocah atau remaja bangun telat alias kesiangan adalah aib di keluarga. Bocah atau remaja itu bakal mengalami hari buruk dengan serbuan marah dan pemberian hukuman. Bangun telat, sampai sekolah telat. Ia dirundung masalah gara-gara tidur lelap di kasur empuk.

Boim datang ke kamar Lupus. Eh, Lupus masih kerasan di kasur! Pagi belum sakti mengajak Lupus menatap dunia. Hilman mahir memberi cerita bertokoh lupus sedang bertarung sikap dan makna dengan kasur. Ia harus memilih tetap atau angkrem di kasur. Kita mengutip kalimat-kalimat bernasihat: “… Lupus yang masih asyik bersembunyi di balik selimut tebal. Ya, pagi ini udara memang dingin sekali. Hujan semalaman membuat pagi ini begitu dingin. Begitu enak buat tidur. Tapi tak boleh begitu. Pagi, tak boleh diisi dengan tidur. Pagi adalah saat kita bangun.” Hilman menulis sekian kalimat mengajak kaum remaja di Indonesia gemar bangun pagi. Mereka bangun pagi agar berguna bagi bangsa dan negara. Pembaca agak kaget membaca kalimat susulan mengenai Lupus dan kasur: “Sekali dalam hidup, kata penulis besar Pramoedya, orang mesti menentukan sikap.” Nah, sikap itu pilihan: melanjutkan tidur atau bersegera meninggalkan kasur.

Kita mengimajinasikan saja kamar dihuni Lupus. Kamar mungkin berukuran tak luas. Di kamar, ada kasur, kursi, meja, rak, lemari, dan sekian benda. Kamar bagi bocah atau remaja memiliki perbedaan khas dari kamar berpenghuni orang sudah berusia 50-an tahun. Keluarga kelas menengah-atas dulu belajar menata kamar tidur bagi bocah dengan membaca makalah Laras, majalah interior dan arsitektur.

Kita berkunjung ke majalah Laras edisi Juli 1993. Ada tulisan-petunjuk berjudul “Menjenguk Ruang Tidur Anak.” Di situ, kita melihat gambar-gambar untuk kamar tidur anak lelaki dan perempuan. Petunjuk penting di tulisan: “…segi kepraktisan karena kamar itu diciptakan tidak sekadar untuk tempat beristirahat.” Di kamar, kasur ada untuk tidur. Di kamar, bocah pun ingin belajar dan bermain. Kamar tak boleh cuma ada kasur. Kamar tidur dianjurkan memberi hak bagi bocah mengejawantahkan diri di pembentukan raga, nalar, dan imajinasi. Kamar pun identitas.

* * *

Cerita-cerita kasur dari masa lalu tersimpan di iklan dan novel. Kumpulan cerita untuk remaja tak sungkan mengingatkan kasur dan janji menjadi manusia berguna bagi nusa-bangsa. Sekian cerita itu remang-remang teringat di abad XXI. Kita tinggalkan cerita-cerita di belakang menuju ke berita di Solopos, 16 Februari 2019. Berita tanpa masa lalu ideologis tapi membawa sejarah prostitusi di Indonesia. Judul berita jangan ditertawakan: “Diduga Operasi Bocor, Satpol PP Hanya Sita Kasur.” Judul mengandung misteri melebihi novel-novel permesuman masa lalu?

Satuan Polisi Pamong Praja Solo melakukan razia di Gilingan, Banjarasari, 14 Februari 2019. Razia itu dilakukan pada malam hari dengan mengerahkan 12 personel. Keterangan dari pihak Satpol PP: “Tidak ada yang dijaring, karena mereka (PSK) sudah kabur terlebih dahulu. Mereka sudah takut saat melihat Satpol PP datang. Jadi, kami hanya mengamankan kasur tempat mereka melakukan praktik prostitusi.” Wah, kasur disita dengan sangkaan itu membuktikan telah berlangsung adegan glek atau prostitusi. Kasur itu tak bakal dihadirkan di gedung pengadilan. kasur itu dimusnahkan di tempat pembuangan akhir Putri Cempo, Mojosongo, Solo.

Duh, kita jadi gelagapan mengartikan kasur, prostitusi, ketertiban kota, dan tempat sampah. Kita mungkin menanti ada razia lagi dengan mengangkut puluhan kasur. Pembaca jangan mengira itu operasi pemberantasan kasur. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.