Mongso Rumongso: Refleksi Diri di Zaman Kontestasi

in Esai by

Dunia tengah dilanda politisasi dan ekonomisasi di segala bidang, termasuk moral, pada tahap yang paling massif. Jika pada masa Perang Dingin terjadi rivalitas antar ideologi (komunisme dan kapitalisme) dalam rangka memperebutkan pengaruh dan sumber daya, pada masa sekarang terjadi rivalitas antarkelompok dengan idiom dan budaya yang berbeda. Dalam skala kecil, rivalitas tersebut dapat berupa politisasi dan komodifikasi etnis dan agama, dan dalam skala besar berupa persaingan antarperadaban yang bekerja secara transnasional. Munculnya radikalisme agama dan etnis, menguatnya politik populisme sayap kanan dan persaingan dagang antar aliansi global merupakan bagian dari fenomena ini.

Seni rupa kontemporer bekerja dalam ruang sejarah yang sama. Di satu sisi ia bisa tertelan semata menjadi komoditas atau bahkan menjadi bagian dari persoalan sebagai instrumen rivalitas antar-kelompok sosial, namun di sisi lain ia juga bisa menjadi jembatan bagi mereka atau kuil tempat permenungan lewat kehadirannya yang refleksif, kritis, dan menggugah. Dalam konteks ini, seni rupa dapat menjadi wahana persemaian kesadaran dan etika kosmopolitan, dengan mengudar universe menjadi multi-verses, benda-benda menjadi makna-makna, dan ruang pameran menjadi arena pertukaran pemahaman serta visi hidup bersama.

Pameran bertajuk “Mongso Rumongso” ini berangkat dari semangat seperti disebut atas. Judul tersebut berusaha membuka wajah mental masyarakat saat ini ketika nilai-nilai telah mengeras menjadi komoditas dalam jaringan pasar hingga jarak antara—meminjam istilah psikoanalisa—ego (kesadaran diri) dan super-ego (kesadaran bersama) dikonversi semata sebagai id (kebutuhan dasar, material-biologis). Dengan demikian, tingkat pemahaman seseorang mengenai siapa diri, masyarakat, dan dunianya bergantung pada naik-turunnya neraca ekonomi sebagai ukuran rasionalitas dalam pasar pergaulan sosial. Semakin makmur dan berpengaruh, seseorang akan dianggap semakin waras, normal dan bahkan bijaksana—ketika negara dan agama, adat-istiadat dan seni, yang seharusnya menjadi wahana pembentukan kesadaran hidup bersama (super-ego), dianggap bernilai sejauh membantu akumulasi kebutuhan dasar (id).

Namun, judul tersebut tidak hanya menandai fenomena sebagaimana dijelaskan di atas. Lebih jauh lagi, ia berusaha membuka ruang permenungan yang lebih dalam. Dalam budaya Jawa, rumongso berarti “merasa” atau “sadar diri”—kondisi psikologis ketika seseorang mengetahui hakikat diri dan siapa diri. Dalam keadaan refleksif, rumongso mengacu pada renungan esoterik di mana seseorang mengetahui posisi dan makna dirinya di tengah realitas sosial dan kosmologisnya. Dalam keadaan non-refleksif, rumongso mengacu pada masa atau keadaan ketika seseorang menunjukkan siapa dirinya—status, peran, kemampuan dan kekuatannya. Mongso rumongso, dengan demikian, mengacu pada dua pengertian di atas: ia menandai kondisi objektif masyarakat yang sedang penuh rivalitas dan kontestasi, sekaligus menawarkan pentingnya refleksi diri di tengah kondisi tersebut.

Mengikuti tradisi seni kontemporer, ketiga seniman yang berpameran (Erica Hestu Wahyuni, MA Roziq, dan Bambang Heras) menggunakan berbagai medium sebagai kosakata visual untuk menyampaikan gagasan. Masing-masing seniman memiliki tekanan yang berbeda (sesuai latar belakang kultural, spesifikasi teknik yang dikuasai, model penalaran, dan pesan yang hendak disampaikan), sehingga sebagaimana orkestrasi dari cara kerja kehidupan ini, terdapat beragam benda, nada, nuansa, dan makna yang ditampilkan sebagai perluasan dan pendalaman dari tema yang disepakati bersama: Mongso Rumongso.

Erica Hestu Wahyuni, sebagaimana biasanya, mengajak kita bertamasya menuju kemurnian masa kanak-kanak, ketika kehidupan dialami layaknya teater fantasi sesuai pengalaman masa kecilnya yang akrab dengan sandiwara tonil. Seperti Nabi Sulaiman, ia bisa bicara dengan para binatang, menjalani lakon dalam panggung kehidupan yang sama dengan mereka. Dalam masyarakat bersahaja, dunia yang ditampilkan oleh Erica itu mungkin merupakan kewajaran, manusia dan ternak mereka tinggal dalam satu rumah dan bahkan menjalani siklus hidup yang sama. Namun, bagi manusia modern saat ini, pengalaman tersebut teramat sulit dilakukan, terlebih bagi orang dewasa yang telah semakin tegas membedakan batas antara berpikir dan mengalami, serta antara fantasi, imajinasi, dan ilusi.

Namun, tidak sebagaimana biasanya, kali ini Erica menampilkan para binatang sahabat karibnya tidak dalam bentuk lukisan, melainkan berupa patung logam berjudul The Glory of the Silver Tiger, Childhood Pig, Platinum Dragon, dan Tree Guard Monkey dengan latar karya-karya batiknya berjudul Sari Barokah, Jago Woh Apel, Gajah Samudra, dan Muru Naga. Batik merupakan tradisi seni rupa yang paling dini dikenal Erica lewat keluarga. Lewat patung, para binatang dapat hadir lebih tegas dan nyata di tengah kita, seakan menegaskan kembali bahwa mereka memiliki hak dan cara hidup yang baik kendati mereka tetap sebagai binatang ketika manusia berevolusi jauh menjadi homo sapiens yang menyadari dirinya (rumongso) lebih sebagai putra-putri surga daripada sejenis kera yang beruntung dikaruniai rasio. Dalam dunia imajinasi Erica, sebagaimana masa kecil kita semua, terdapat kemurnian dunia yang belum ternoda oleh berbagai hasrat dan kepentingan, sebuah fase kehidupan yang konon masih dekat dengan firdaus—tatanan ideal yang banyak didambakan itu.

Karya tersebut merefleksikan potret kosmopolitan yang murni dan naif, lebih menyerupai dongeng daripada sejarah—meski kita semua pernah mengalaminya. Tampil bersama karya batiknya, para binatang karib itu menemukan wajah mereka dalam potret visual yang mengakar kuat dalam tradisi Jawa, ketika selembar kain mengandung beragam motif, corak, pola, dan makna. Seakan Erica sedang menjadikan dan mengembangkan tradisinya sebagai basis etis dalam menjalani kehidupan di masa selanjutnya. Ketika semua telah menjadi komoditas, bahkan benda-benda tradisinya, ia masih menyimpan cetak biru nilai-nilainya sebagai fondasi dan struktur bagi realitas kosmopolitan masa kini. Tanpa cetak biru nilai-nilai tradisi itu, manusia hanya akan mengenal dan menjalani satu realitas yaitu berupa komoditas (kendati nama, wujud, dan bobotnya bermacam-macam), sehingga ia tidak memiliki cukup super-ego untuk mengenal (apalagi menerima) realitas-realitas lain di luar pasar.

Berbeda dengan Erica, MA Roziq menghadirkan karya eksperimental dengan karakter tegas, kuat dan solid. Bagi Roziq, dimensi temporalitas dan proses sangat penting dalam kerja kreatifnya. Pada karya-karya sebelumnya, ia menampilkan foto dan instalasi berbagai hal yang membeku di dalam es. Umumnya, yang kita anggap penting adalah proses air menjadi gumpalan es. Namun, bagi Roziq, yang dianggap penting justru ketika es meleleh kembali menjadi air dan musnah. Tepat ketika proses alami itulah kerja seni Roziq bekerja dengan memindahkannya ke dalam foto, sehingga momen dan waktu yang berlalu dapat dibekukan menjadi benda dalam bentuk gambar.  Dengan cara itulah Roziq mengubah alam (nature) menjadi budaya (culture), benda-benda (things) menjadi makna-makna (meanings), dan waktu alam (natural process) menjadi waktu-kesadaran (psychological process)—vice versa. Di tengah perubahan itulah, bagi Roziq, seni itu berada.

Dalam pameran kali ini, ia menampilkan karya seni dari sampah bahan seni berupa bungkus-bungkus cat yang diolah menjadi instalasi modern. Bagi kebanyakan seniman, bungkus-bungkus cat yang telah habis merupakan akhir riwayat dari manfaat mereka. Namun, bagi Roqiz, hal itu justru permulaan dari karyanya. Ia memberi kelangsungan cerita, sebuah babak sejarah baru, bagi benda-benda yang sudah tak berarti dan menjadikannya sebagai metafor bagi masyarakat kontemporer saat ini yang semakin homogen dan tunggal (uni-verse) berkat pengaruh media, model komunikasi dan orientasi hidup yang saling dipertukarkan satu sama lain. Namun, manakala bentuk dan struktur modern dan solid tersebut dibedah lebih dalam, sebagaimana karya Roqiz, terdapat beragam warna dan jenis—kendati telah sama-sama bernasib sebagai entitas industrial.

Eksperimen tersebut sekaligus menunjukkan jalan pikiran Roziq yang esoterik, yaitu perlunya refleksi dari luar ke dalam, sebagai proses permenungan menemukan beragam wajah batin lewat “laku rumongso”. Jadi, jika Erica merenung ke dalam dengan kembali (atau bertahan) pada kemurnian masa kanak dan tradisi, Roziq merenung ke dalam untuk menemukan warna-warni wajah mental manusia yang beragam sekaligus industrial. Singkatnya, dalam realitas ekonomistis yang sama terdapat bermacam latar budaya dan mental yang berbeda-beda. Renungan tersebut tampak paling jelas dalam instalasi Deep Revealed 1 & 2 dan Green in Roses, serta Year and Note yang menambah renungan tentang waktu dan temporalitasnya. Bagi Roziq, bahkan dalam keserentakan jaringan pasar yang menggerakkan realitas-sosiokultural, terdapat atau diperlukan bermacam jenis manusia di dalamnya, agar nadi sejarah terus berlangsung dan manusia tetap hidup sesuai kodratnya.

Berbeda dengan Erica dan Roziq, Bambang Heras menangkap mangso rumongso dengan menampilkan lukisan dari lelehan tinta. Karya-karyanya seperti Wajah-wajah Waktu, Eling lan Waspada, dan Kontemplasi menunjukkan cara Heras berpikir menyusun kerangka konseptual tak beda jauh dari cara dia melukis dengan tinta. Pada tahap awal, realitas merupakan fenomena yang kabur dan jauh, sebagaimana bentuk awal lukisannya yang hanya berupa bercak atau torehan tinta. Pada tahap berikutnya, Heras mencoba membaca kontur bercak atau torehan tersebut untuk direspons menjadi figur-figur tertentu—bisa berupa flora, fauna, benda-benda, manusia, atau beberapa dari semua itu sekaligus. Setelah itu diperdalam dengan memberi penegasan dan pengaburan pada beberapa bagian hingga tercipta bermacam wajah manusia yang asing namun syahdu di balik lelehan tinta yang jatuh menyerupai tirai dari realitas atau fenomena yang ditampilkan.

Jadi, jika Erica dan Roziq menjalani “laku rumongso” secara esoterik (menekankan aspek kedalaman, baik pada tradisi dan masa kanak, maupun lapisan mental), Heras justru menjalaninya secara eksoterik (menekankan penampakan dari fenomena atau realitas). Kontemplasi, bagi Heras, bukan membawa realitas objektif ke dalam permenungan diri, namun menggali dan menampakkan berbagai kekayaan dari alam bawah sadar ke permukaan sehingga dapat dilihat dan disaksikan. Tak heran jika apa yang ditampilkan bukan entitas-entitas yang jelas dan gamblang sebagaimana Erica dan Roziq, namun sebuah komposisi yang sureal menyerupai badai mimpi dan fantasi yang tak sepenuhnya terkendali.

Manusia, dalam kontemplasi artistik semacam itu, bukan makhluk yang sepenuhnya sadar dan rasional—bahkan ketika rekayasa teknologis dan ekonomis telah melakukan rasionalisasi, mekanisasi dan otomatisasi secara masif—melainkan entitas yang mengandung badai hasrat, mimpi, dan kegilaan yang irasional, supranatural, bahkan magis. Di alam bawah sadar sesekali kita menjumpai orang-orang asing, menyaksikan aneka benda, satwa, dan manusia tidak pada tempatnya, atau bahkan bertemu sosok suci tertentu seperti Buddha. Dengan kata lain, betapapun sejarah telah didesain secara rasional lewat beragam instrumen dan aparatusnya, manusia memiliki ruang bawah sadar yang ikut memengaruhi pikiran dan tindakannya.

Dalam pameran ini, imaji-imaji bawah sadar dari lelehan tinta Heras tersebut hadir, bersanding dan bercakap dengan karya Roziq yang rasional dan bahkan matematis serta karya Erica yang membawa kemurnian fantasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa di tengah arus sejarah yang bergerak mengikuti rasio teknologis dan ekonomis sebagaimana ditegaskan oleh Roziq, terdapat rasio-rasio lain baik dari tradisi dan masa kanak-kanak seperti dinyatakan oleh Erica dan arus figuratif yang keluar dari alam bawah sadar. Karena itu, di tengah realitas sejarah yang semakin seragam oleh pasar dan mesin jaringannya yang mengorvensi segala sesuatu menjadi komoditas, kita masih menemukan kemungkinan-kemungkinan sejarah yang lain, baik pola maupun orientasinya, melalui peran imajinasi yang ditawarkan oleh seni secara umum dan khususnya karya-karya dalam pameran ini.

Dengan cara itulah kita tetap dapat menjadi kosmopolit meski atribut identitas kultural kita telah diekonomisasi begitu rupa dalam politik “adu rumongso” (unjuk diri) demi memperebutkan sumber daya. Para seniman dalam pameran ini menunjukkan sekaligus membuka jalan bahwa kosmopolitanisme kita berakar lebih dalam daripada sekadar perbedaan agama, gender, etnis, dan kelas sosial, namun dari sedimen dan pola unik yang terdapat dalam diri setiap orang dalam membentuk dan menjadi dirinya—manusia. Jika hal itu disadari, kondisi sosial yang penuh rivalitas antar-budaya, jaringan pasar, dan kekuasaan sebagai manifestasi dari sisi agresif manusia akan segera menemukan keseimbangan dalam tatanan kosmopolitan yang baru sebagai manifestasi sisi kreatifnya untuk hidup bersama-sama.

 

Catatan Pameran di Indie Art House, Selasa, 27 November 2018

Faisal Kamandobat

Penyair dan peminat seni rupa, associate di Abdurrahman Wahid Centre Universitas Indonesia.

Latest posts by Faisal Kamandobat (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.