Motif Subjektif dalam Ide Revolusioner Nela

pinterest.com

 

AKU tercangkul di Beardland. Menyebalkan sebab aku melulu ingin bersibuk di perpustakaan: melengkapi ide dengan telaah literatur tentang konteks era kolonial dari novel yang akan ditulis. Tapi Selasa sore aku harus berangkat, untuk melengkapi hasil liputan khusus di edisi Minggu Gloriaville Daily, dengan esei ihwal kontroversi usaha pendirian pabrik gula di Beardland. Yang gencar dikampanyekan sebagai upaya untuk mengoptimalkan tebu rakyat Beardland, yang selama ini melalu dijual ke luar daerah, ke penggilingan di Zefgraf.

        Sayang terkendala oleh keterbatasan pasokan air, untuk prosesi pendingin mesin, selama proses penyulingan (tetes) tebu—selain untuk menggelontor limbah cair buangan. Analisis dampak lingkungan, yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda—sekitar enam puluh tahun lalu—menunjukkan kalau operasi pabrik akan terlalu memakan sadangan pasokan air telaga Mercinhoff ke lahan pertanian lokal. Bisa memicu keresahan, meningkatkan kemiskinan, dan akan membuat konstelasi keseimbangan sosial dalam damai hegemoni kolonialistik terganggu. Hingga isu pendirian pabrik dianggap kontroversial, bahkan sangat ditentang petani setempat, karena itu pemodal mencoba memenangkan opini legislasi dulu.

           Masuk ke struktural birokrasi: aktif membiayai pemilihan kepala daerah supaya jagoan yang disponsori jadi wali kota Beardland—agar aura kekuasaan bisa mengooptasi opini petani. Tapi jalan berputar itu tidak menyebabkan kesadaran para petani tertohok dan jatuh ke dalam ketakberdayaan. Mereka tetap keras menentang. Terus meneriakkan tuntutan agar Negara memihak rakyat. Dan itu menyebabkan terlecut asumsi: Apa itu hasil kecambah kesadaran dari persemaian ide revolusioner kiri Primusio Nela—dan ayahnya, Aurumino Nela? Aku tidak tahu. Tapi ada yang berkepetingan agar teriakan penolakan petani itu diketahui banyak orang, dipahami banyak orang, apa bahayanya bagi etos Pembangunan, dan (karenanya) keseimbangan politik harus terkendali agar Pembangunan terus belangsung.

            Opini petani itu—yang tak jelas asalnya—sebenarnya, terus digali oleh lawan politik wali kota Beardland, dan karena itu aku diminta Gloriaville Daily serta Partai Aksi Rakyat untuk mentersuratkannya lagi—buat sekadar uthak-athik-gathuk memopulerkan gerakan Partai menjelang Pemilu mendatang. Dengan uang transpor, akomodasi, serta draf bertendens esai pesanan—yang akan jadi pelengkap laporan utama—aku pun naik kereta malam, agar tiba pagi hari di Beardland. Celakanya, kereta api dari Gloriaville ternyata berhenti di Sud Zwarte—jarak sekitar 40 km tidak bisa ditempuh karena jembatan putus.  Dan aku harus ke Beardland dengan bus, yang di pagi itu lama ngetem menunggu penumpang di terminal lengang—sesuai kodrat kota di pedalaman. Sekitar jam 10-an baru sampai di Beardland, serta menghubungi nara sumber yang direkomendasi Partai Aksi Rakyat—mereka juga telah dihubungi Gloriaville Daily—yang telah siap dengan opini bertendens tertentu itu.

        Sekitar jam 14.00, atas usul Juan Xaverius, berimprovisasi mewawancarai Lessly Jobs—bukan kader Partai Aksi Rakyat—aktivis di LSM Water for Argiculture, yang paling vokal menentang pendirian pabrik. Wawancara yang asyik, sebab setelah itu ia mengajak aku bertemu dengan Justisio Nela, yang memberi aku pengetahuan tentang latar sosial Beardland dari kacamata kiri revolusioner. Menjelang malam aku masuk Deja vu Café, memilih kursi pojok untuk menulis esai 5.000 cws. Selepas jam 22.00—meski banyak bahan tak tereksplorasi karena sifat tulisan yang pesanan: esai tuntas terkirim. Aku beranjak. Bertanya cara ke terminal, tapi si penjaga kafe itu bilang, tak lagi ada bus yang ke luar dari Beardland, baik ke timur ke Halzberg serta bermuara di Crocodella, atau yang ke barat ke Primoburg sebelum memilih apa ke Cest la Mar di pesisir utara atau apa ke Solituda di pedalaman selatan, ataupun yang langsung utara ke Obscura lewat Zefgraf untuk mencari bus malam yang melintas di jalur utara.

         ”Tak ada bus lagi …,” katanya. Aku tahu. Sisa malam harus dihabiskan dengan menginap, atau menunggu pagi sebelum bergegas ke terminal mencari bus ke Cest la Mer: mencari pijakan untuk pulang ke ibu kota—tidur di bus di sepanjang perjalanan. Untuk itu—karena amat ingin mendengar banyak cerita tentang Primusio Nela serta ayahnya Aurumino Nela—aku memilih Town Square, yang ramai sampai pagi. Buat makan, merokok, mengopi, dan menguping cerita apa saja dari siapa saja sebelum pulang dengan ide penulisan cerpen atau puisi, yang akhir-akhir ini sulit didapat. Lantas sadar, bila Gloriaville Daily itu sengaja mengirimku ke Beardland agar mendapat udara segar, selingan agar leluasa menulis di luar obsesi menulis novel ber-setitng masa kolonial Belanda, yang terlalu menghunjam itu. Menarik kesadaran keluar dari obsesi dan kembali kreatif menulis cerpen dan puisi—selain esai yang menopang hidupku.

         Tapi keunikan budaya apa yang bisa dikorek, selain keunikan suku Indian Same yang terlupa di rawa-rawa tepian Rio de Solituda di dekat perbatasan Bambina? Apa harus ke sana? Lalu, pulang dengan kereta malam? Menyandar dan tidur di kabin AC? Menikmati ironi sebagai penulis kiri yang berkelimpahan fasilitas? Turis kritis?

***

         MENJELANG pagi aku masih di Town Square Beardland, masih abai menyesap kopi sambil membuka bungkus rokok baru. Mendengarkan cerita tentang rumah hantu di kelokan, sebelum seluruh bus dari timur itu lurus dan masuk ke terminal. Rumah yang diterlantarkan, dan lama diterlantarkan sebab di rumah itu lahir salah satu tokoh revolusioner Glorialand—sulung dari tiga bersaudara Nela itu. Klan revolusioner yang dilumpuhkan dengan pemenjaraan tanpa pengadilan terbuka selama dua puluh tiga tahun. Kemudian konstelasi politik berubah, mereka—tujuh tahun lalu—dibebaskan meski diawasi. Secara fisik dibebaskan, dengan asumsi daya ledak agresivitas revolusioner kiri mereka memudar, dan ide politik mereka telah diakomodasi Partai Aksi Rakyat—meski begitu radikalitas mereka tetap dianggap berpotensi bisa memobilisasi massa, hingga mereka harus (terus) dimata-matai.

         Bahkan, menurut Justisio Nela, ia masih dibayan-bayangi pengucilan sosial dan pembunuhan karakter. Bentangan jarak beku, yang tetap menghadang meski ia leluasa mendekat nyaris bersinggungan dengan orang Beardland tidak seideologi, hingga si orang kiri menggumpal di Partai Aksi Rakyat pun ikut menjaga jarak—terkucil. Mereka tetap sepakat buat mempertahankan kesempatan menaiki mesin mobilitas politik di jalur legal procedural dengan demokrasi pemilihan, dan tak mau luluh dalam aksi massa demi kepentingan langsung rakyat. Karena itu jadi si terhukum meski secara fisik telah bebas menghuni rumah keluarga—dan hidup di level vegetatif—di bawah pengawasan intel yang amat cermat, hingga mereka nyaris tak bisa mengembangkan potensi dengan aktualisasi bakat dan intelektualitas. Dan dengan keterampilan subsistensi primitif itu Justisio Nela bertahan di rumah yang tak pernah didatangi orang lagi itu—sejak pemberontakan revolusioner yang gagal itu semua anak itu diselimuti gosip yang melarang bermain di sana—meski pekarangannya luas.

         Justisio Nela pun hidup sebagai petani. Menggarap lahan pekarangan. Menanam jagung, pisang, ubi jalar, dan singkong—dan berharap pada terung. Di masa luangnya, Justisio Nela—S 3 Ekonomi dari sebuah universitas di Uni Soviet—ke luar, berkeliling buat memulung, menyortir, dan menjualnya. Kerja yang sangat menyakitkan bila dikaitkan dengan fakta riil jenjang pendidikannya. Sekaligus pekerjaan itu membuatnya mual karena tetap diawasi, meski tak terlihat diawasi secara berterang sebagai revolusioner yang kalah—hingga merasa kagok buat (sekadar) bertamu ke kawan lama. Ada handicap membentengi, ide keamanan produksi kaum oligarkis antek Amerika sukses diinternalisasi rezim. Karenanya, terkadang, ia suntuk di pekarangan. Tapi apa semua itu harus terus dipikirkan? Tapi apa semua itu harus diprotes dengan teriak aksi unjuk rasa? Atau mengeluyur tak peduli, bernostalgi sambil mencari rongsokan?

         Terkadang Corectio Nela—kakak Justisio, ahli bahasa lulusan sebuah universitas

di Uni Soviet—datang buat mengoyak hari-hari sepi setelah Primusio Nela meninggal, mendiskusikan teks terjemahan sastra Rusia klasik. Terutama setelah Primusio Nela memutuskan merehabilitasi rumah keluarga yang nyaris rubuh itu. Sesuai asumsi pada buku biografi politiknya, Nela’s Beard, yang diterbitkan tiga tahun sebelum meninggal –dan amat laku secara internasional:  Hakikat dari rumah itu dapur—meja makan—tempat seluruh anggota keluarga berkumpul buat sarapan dan makan malam,  sambil berbincang, dan dapur—baca: meja makan—yang ditinggalkan oleh anggota keluarga akan menyebabkan rumah rubuh, ikatan persaudaraan akan buyar terburai. Dan rumah tropik model kolonial berdinding bata dan berpilar julang itu, yang memiliki lantai marmer baru itu kini memiliki kamar mandi dan jamban modern—aku tahu hal itu sebab saat wawancara dilakukan aku diajak meninjau dan lantas memotretnya.

         Karena itu Justisio Nela pulang dari Gloriaville. Meninggalkan rumah sempit di slum Neymarita Negra dan menghuni rumah tropik ala kolonial itu. Mulai bertani dan tak lagi jadi tukang yang mengerjakan apa saja asal mendapatkan upah 20.000 glori—sementara itu biaya sekali makan 5.000 glori. Dan karena itu pula:  aku ada di Town Square, menyerap cerita lisan, memahami hal apa yang melatarbelakangi kelahiran revolusioner besar, Primusio Nela. Meski aku merasakan semacam ironi, setidaknya saat—setelah pamitan—sekilas memandang rumah di kelokan itu, sehingga sekali lagi menyawangnya dari jauh. Ironi ngilu saat teerpikir bahwa, dulu, pada momenti pertama kali didirikan Aurumino: rumah itu merupakan properti si kelas menengah. Kini, menjelang pagi, di kursi kafe terbuka ini, aku teringat momen keremajaan: menyantap ubi mentah, sisa yang tumbuh liar setelah tertinggal kala panen dan tergesa digali.

         Teringat akan momen Justisio Nela bilang, kalau ayahnya lulusan Sekolah Guru di era kolonial Belanda setelah lulus mengajar di Tobasco—di selatan—dengan backing posisi ayahnya yang pendeta gereja utama Tobasco. Tapi Aurumino merasa malu menebeng dan menjauh dari fasilitas khusus kaum menengah itu: Menghindar dari jalan tol kelas menengah. Gelisah tak ingin mapan secara instan, ogah meniti kompetensi status sosial itu mendorong Aurumino mengembara ke Beardland—terpanggil oleh imbauan wali kota Beardland yang ingin memajukan putra daerah dengan mendirikan Sekolah Rakyat, sesuai anjuran Komitern. Dengan backing wali kota Beardland Aurumino ia melobi dan meraih kepercayaan pengusaha Beardland—yang membolehkannya belanja secara kredit—Aurumino berhasil membangun gedung sekolah yang dilengkapi staf pengajar idealis, relawan yang dibayar seadanya dan hampir gratisan.

         “Di puncak kejayaan itu,” kata Justisio Nela, pelan, menerawang, ”tanah ini dibeli, rumah dibangun, dan sekaligus Primusio Nela dan Corectio Nela dilahirkan buat menikmati masa kanak yang menyenangkan.”

         Justisio Nela lahir di masa sulit, saat Aurumino bangkrut, dan (mungkin) ikatan solidaritas keluarga membuatnya tak berterang menyebut semua kenikmatan hidup itu sebagai surga kelas menengah. Ketika sebuah masa depan membentang, dan di dalam aura firdaus itu Aurumino bermimpi bisa menciptakan manusia Glorialand baru—yang bebas untuk mengaktualisasi potensi bakat dan intelektualitas. Tapi si wali kota wafat sebelum habis masa jabatannya, dan penggantinya tidak mau peduli akan ide Sekolah Rakyat. Bekas wakil wali kota itu malah menyatakan: ide Sekolah Rakyat itu memang berasal dari wali kota pendahulunya, tapi tanggung jawab ekonomi dari laku pendirian gedung dan biaya penyelenggaraan pendidikan sekolah bukan tanggung jawab si wali kota pendahulunya—terlebih dirinya.  Katanya, ”Semua itu, kini, jadi tanggung jawab Aurumino, bukan tanggung jawabku atau birokrasi kota Beardland, sebab—selama ini –semua konsekuensi ekonomi dari sekolah tidak mengalir ke kas kota Beardland.”

         Aurumino terbengong. Terpuruk dan tak bisa mengusahakan apa-apa karena tak punya backing politik. Banyak pihak di Beardland jadi enggan berhubungan dengannya, ogah dikaitkan dengan ideologi kiri, dan terutama Sekolah Rakyat yang tak disukai pemerintah kolonial Belanda. Ide merintis Glorialand baru dengan menciptakan generasi baru bermartabat itu kini ternyata mirip asap yang berkepulan dari mulut serta hidung di dingin salju. Lenyap di udara. Tak ketahuan perannya. Bahkan dengan konsekuensi ekonomi yang harus ditanggung sendiri. “Semua sudah tidak lagi terasa me-nyenangkan,” katanya getir, saat Aurumino, selain dipaksa mencecap kepahitan, pun harus menelannya. Kemudian hal itu, sesuai dengan pemerian di dalam bahasa Inggris lisan tak baku, Not Enjoying Life Again—Nela—, jadi identitas diri sebagai yang teraniaya. Identitas akronim revolusioner itu dilekatkannya di belakang nama diri dan anak-anaknya—mengganti nama keluarga yang Pasificio. Penanda kelahiran, pernyataan bila diri dan anaknya diperam kepahitan perjuangan.

         Ide agung manusia baru Glorialand yang solider sosialistik dan nasionalistik itu telah ditransedentalkan ke awang-awang oleh wali kota pengganti, yang memilih cari aman dalam kubah oligarki yang dilegalisasi politik evolusioner lewat mobilisasi pada jalan demokrasi pemilihan binaan kaum kolonialis Belanada. Si penguasa lokal yang memilih merdeka, terbang ke langit, dan bebas dari beban utang Sekolah Rakyat. Itu kini tanggung jawab Aurumino—mutlak tanggung jawab Aurumino Nela. Yang jadi energi sentripetal spiralistik yang mem-plintir kenyamanan kehidupan keluarga. Penagih kian gila—datang berganti.  Kehidupan berantakan.  Laju perjuangan sampai di jalan berlubang, licin menggelosorkan, licik menggelimpangkan ke dalam kemiskinan. Guru-guru mundur dan murid-murid menyusut. Kemelaratan menekuk. Aurumino dan keluarg jadi larva, dipaksa berdiet sebelum jadi kupu-kupu.

         Semua berkhianat—dengan santun menjaga jarak. Dalam kemelaratan itu hanya tertinggal satu impian: kembali pulih. Berangan-angan berbagai cara untuk sampai ke level normal seperti dulu lagi, kondisi dan identitas kelas menengah yang berkecukupan. Dan Aurumino Nela tahu cara buat mencapai posisi puncak seperti itu:  pendidikan. Sekolah sampai level tertinggi, meraih gelar paling tinggi. Ijazah bisa jadi paspor untuk meraih jabatan. Karenanya Primusio Nela diproyeksikan jadi perintis untuk merealisasi angan-angan itu. Masuk ke kelompok revolusioner lebih intensif. Meraih po-sisi dengan kecemerlangan orasi politik, dengan tusukan kritis yang bertolak dari terperam dalam pengalaman dikhianati kelas menengah, yang cuma tahu cara mempertahankan posisi nikmat kelas menengah, dengan membuat persekongkolan dengan ka-um oligarki yang diayomi oleh politik kolonialisme (Belanda).

         Aktif mencari informasi: negara yang biasa memberi beasiswa, mau membiayai pendidikan dua adiknya secara gratis, meski buat itu harus menjual diri dengan menganut ideologi kiri revolusioner. Pseudo-ideologi sebenarnya, karena Primusio Nela itu radikalis yang memanfaatkan ideologi untuk merealisasi mimpi kelas menengah—seperti (dulu) Aurumino Nella merintis Sekolah Rakyat, serta bisa jadi kelas menengah. Dan Primusio Nela memang diproyeksikan Aurumino Nela jadi Mesiah. Dr. Faust dari Glorialand yang menjual diri kepada Iblis supaya adik-adiknya berpendidikan, jadi lebih berkualitas dari sembarangan orang—sesuai kodrat pernah mencecap surga kelas menengah. Corectio dan Justisio pun—dengan beasiswa—bisa belajar di Uni Soviet, sesuai bakat dan minat. Semuanya sangat menyenangkan. Metamorfosa yang diangankan Aurumino itu nyaris menjadi siklus sempurna: larva yang dihina oleh sikap aro-gan semau gue kaum oligarkis binaan kolonialis itu akan jadi kupu-kupu. Terlahir dan merasuki firdaus duniawi. Mencecap nikmat kelas menengah di negara yang dikelola secara sosialistis.

        Fatamorgana mekar sebelum momen pemberontakan revolusioner menggejala—terasa sangat riil, setidaknya saat konstelasi politik belum berbalik. Saat momen itu terjadi Primusio, Corectio dan Justisio Nela—Aurumino Nela dan istrinya telah keburu meninggal—diciduk sebagai bagian dari pihak yang kalah dalam Revolusi Sosial yang dimenangkan pihak kanan, yang dimenangkan kaum oligarkis yang bersekongkol dengan kapitalis Barat serta kolonialis Belanda, yang tetap mengendalikan ekonomi Glorialand meski dengan tak menguasainya secara nyata. Dipaksa buat balik lagi ke dalam kokon ragawi serta batini—dikondisikan menjadi larva lagi. Terpuruk. Menjadi tahanan politik—tanpa dibawa ke pengadilan terbuka. Dikurung. Dan meski (kini) tidak berkokon lagi, bisa berada di luar kokon fisikal lagi, tapi nyatanya Justisio Nela masih masih merasa diasingkan dalam ironi kebebasan tidak pernah memiliki kelelua-saan aktualisasi diri. Merasa menjadi terkutuk.

***

AKU tercangkul di Beardland. Sampai pagi tidak memenjamkan mata.  Berjaga sebab tak ingin melepaskan rasa ingin tahu, dari cerita banyak orang di Town Square Beardland, tentang Aurumino Nela—dan terutama revolusioner tragis dari Beardland, Primusio Nela. Membuat catatan. Menambahkan apa saja yang terlintas, dan termasuk ilusi yang mungkin muncul kalau mengiyakan tawaran Justisio Nela, yang menawari menginap di bekas kamar Primusio Nela. “Siapa tahu didatangi, mendapatkan ilham, tentang cara radikal buat memahami tatanan sosial-ekonomi yang amat oligarkik saat ini, lantas terdorong beremansipatori merubah keadaan,” katanya. Aku senyum. Tak percaya kalau hal yang muskil seperti itu ditawarkan oleh revolusioner kiri, lulusan S3 dari sebuah universitas di Uni Soviet, dan yang sampai kini tetap ditandai sebagai si revolusioner kiri.

         Pada dasarnya, Justisio Nela itu—terutama Corectio Nela yang reflektif dan cenderung jadi sastrawan, atau si revolusioner Primusio Nela itu—kelas menengah dengan latar belakang Kristen kuat. Kakek di pihak ayah dan ibu merupakan pendeta di gereja protestan Jerman. Kelas menengah yang tahu kalau paspor ke masa depan itu bersekolah setinggi mungkin—bukan mengandalkan kompensasi oligarki, dengan pihak yang patuh pada binaan kolonialis. Ya! Tapi menjelang pagi kafé itu tutup, dan aku (harus) menjauh. Tidak mungkin pergi ke penginapan, untuk tidur dengan menenggak pil tidur. Catatan harus diselesaikan, sebelum pergi ke terminal mencari bus tujuan Cest la Mer paling pagi—shearusnya lepas tengah malam ini mencari perempuan, mengajak-nya kelon sampai terlelap dengan bertelanjang.

         Tapi sejak awal aku tidak berniat menginap di Beardland, hanya menyelesaikan

tugas, dan bergegas dengan bus ke arah Cest la Mer. Tidur. Dan dijagakan di terminal, pindah ke bus arah Gloriaville—aku biasa keluyuran, dan tidur di dalam bus. Tapi kini aku tercangkul. Apa haus keluyuran di rawa-rawa payau Rio de Solituda dan bertemu dengan Indian Same yang memencilkan diri itu, sebelum gegas naik kereta malam dari Sud Zwarte? Apakah mengeluyur ke Obscura, Acidella, atau Zefgraf—serta pulang dengan bus malam. Mustahil. Karenanya aku amat menyesal tak sejak awal mencari perempuan untuk lelap di penginapan—sebab tidak mungkin ada pelacur yang berjaja menjelang pagi. Tak sadar, dalam separuh pening mengantuk aku berguman, ”not enjoying life again”—tahu: tak akan ada yang datang menghibur dengan vaginanya.

         Aku sendirian—kafé tutup. Kota tertidur sementara pagi masih jauh tertanam dalam tanah, belum mengecambah diusik oleh sinar fajar paling samar. Tidak ada siapa pun, kini, selain malam yang tuntas menebarkan dingin dan sunyi. Aku ngungun tapi tidak mampu memanggil fajar agar menjelang. Aku mengantuk. Tercangkul di udara terbuka. Tak akan bisa tidur, sebab amat mustahil mendapat perempuan di jam mereka bergegas pulang—mencoba tidur dalam lapar tak punya penghasilan untuk sekadar segelas kopi dan sebatang rokok. Dan aku tak mau konyol menyelonong ke dasar kantuk tiada harapan mereka—dan pada titik itu, celakanya, orang kafé itu bilang terminal masih sepi dan pasti belum ada bus tujuan Cest de Mar yang datang, bahkan belum ada bus yang masuk dan berangkat. Benar-benar not enjoying life again.

         “Tunggu sampai matahari terbit. Mengeluyur saja, tapi tak akan betemu dengan apa pun dan siapa pun. Beardland ini kota mati. Kafe paling pagi di terminal baru buka jam sembilan. Sampai jam itu tidak ada bus masuk dari mana pun dan akan berangkat ke mana pun. Ini Beardland, Kawan,” katanya. Aku mengangguk. Menguap. Aku ternyata benar-benar tercangkul dan dipanggang kesepian. Dan karenanya—sekaligus—aku bisa memahami penderitaan Justisio Nela dalam pengucilan sosial kekal itu.***

Mei-Juni-September 2012-Agustus 2018-Agustrus 2019

Beni Setia
Latest posts by Beni Setia (see all)

Comments

  1. wi gung Reply

    Tebu dan tani. Ironi yang masih terasa. Kala tahun 80-an _90-an. Rasa pahit dengan sewa yang minim. Warisan Kolonial yang sampai kini sisa-sisanya masih terasa. Tebu!

Leave a Reply to wi gung Cancel Reply

Your email address will not be published.