Muna Mencari Surga

“Untuk masuk surga apa harus menyimpan rasa sakit dan pedih begini?”

Muna terus mengoceh, kalimat demi kalimat berhamburan begitu saja, dibawa getar sinyal hingga di telinga saya. Sembari melanjutkan peninjauan ulang atas satu kasus pelecehan seksual yang sedang kami tangani di kantor, saya tak kuasa untuk tidak mendengarnya suara yang berapi-api dari sahabat lama.

“Bukankah surga itu adalah menifestasi dari keridaan dan kebahagiaan?” Suara Muna terus mengalir deras. Saya sepintas melenguh dan mengernyitkan alis, belum bisa menangkap hamburan kata-kata Muna.

Curahan hati Muna ini mengingatkan saya pada suatu peristiwa di masa lalu kami yang cukup jauh: sebuah demonstrasi. Ah, lebih tepatnya aksi kecil-kecilan. Karena kami hanya berlima, perempuan semua. Mau dibilang demo malu juga, karena kami tidak mampu membayar massa, juga tidak ada niat membakar ban bekas untuk mencari simpati media dan menyedot perhatian orang-orang. Saat berdemo, belasan tahun silam, teman saya menulis kalimat ini di atas kertas karton warna putih: “Kenapa kita tidak menciptakan surga sejak di dunia?”

Saya sendiri tidak peduli arti poster itu pada waktu itu. Tapi sekarang, tulisan itu begitu jelas hadir—terasa sangat dekat—khususnya setelah saya mendengar cerita Muna. Kalau memang bisa menciptakan surga sejak di dunia kenapa harus menunggu kelak ketika dunia ini runtuh, lalu dibangkitkan di Padang Mahsyar, ditimbang amal baiknya, dan setelah itu baru mencicipi surga? Itu pun kalau masuk surga, bukan? Lagian siapa yang punya otoritas mengklaim masuk surga?

Tapi, saya tidak mungkin menasihati Muna untuk menciptakan surga di dunia, dan sudah pasti penafsiran tentang surga berbeda-beda. Saya sempat menimpali kenapa tidak mencari titik temu, perdamaian bersama, atau menyusun rencana-rencana indah ketimbang saling menyakiti. Maksud saya, Muna bisa mengupayakan agar kebahagiaan dan kedamaian itu disusun sejak di dunia, menjadi keluarga yang surgawi. Nanti setelah mati, seperti yang diyakini suaminya, surga bisa didapat lagi, plus bonus-bonusnya. Indah, bukan?

Surga di dunia dikayuh, surga di akhirat pun direngkuh!

Sebagai sahabat dekat, sebenarnya saya bisa berbicara apa saja kepada Muna, memberi pandangan-pandangan yang tepat dan mungkin berguna berdasarkan pada pengalaman advokasi terhadap korban kekerasan seksual selama ini. Tapi itu dulu, saat kami masih sama-sama bujang dan berteman akrab sekali. Sekarang nasib sudah berubah. Saya berubah, Muna juga. Tapi perubahan Muna sangat signifikan. Semua orang  yang pernah mengenal Muna sebelum lulus kuliah tentu terperangah melihat Muna sekarang. Ya, penampilannya yang berubah. Sekarang sudah sering bercadar. Sedang proses hijrah, begitu pengakuan Muna. Sejak bercadar, Muna seperti mulai menjaga jarak. Mungkin ini hanya pikiran saya saja. Pendek kata, saya sudah tidak intens berkomunikasi dengannya, sekali dua kali saya bertegur sapa. Selama ini saya lebih nyaman melihat aktivitas berdakwah yang dilakukan Muna di beranda Facebook. Kita memang sudah mempunyai jalan hidup masing-masing. Muna ikut suaminya yang bekerja di Samarinda, saya bersama suami pindah ke Lombok karena pekerjaan saya yang mengharuskannya.

Muna betul-betul seperti tidak ingin berhenti berbicara. Berkali-kali dia bilang, “Ini kesempatan saya mengeluarkan unek-unek.” Saya mencoba untuk mendengarkan semua curhatan yang mengalir bak air hujan itu.

“Di sebuah acara keluarga, aku bertemu kerabat perempuan, yang karena satu almamater, kami mengobrol sangat asyik di tengah acara ramah tamah. Aku juga mengingatmu ketika itu, Arlin. Tapi entahlah, mata suamiku melirik tajam, mungkin tidak suka aku mengobrol asyik. Dia memberi isyarat dan aku mendekat ke sebuah sudut ruangan. Rupanya dia menyimpan rasa kesal karena aku tidak sempat menyetrika bajunya, karena si kecil sedang rewel hari ini. ‘Istri tidak bisa diandalkan, istri durhaka, istri tak tunduk suami….’ Dan sumpah serapah tumpah ruah di depan banyak orang. Aku menunduk, malu dan sakit.”

Suara Muna tersengal tiba-tiba. Seperti tertahan di tenggorokannya.

“Aku hingga sekarang tidak mendapatkan rasa seperti pernah saya rasakan bersama Hasbi,” lanjutnya kemudian.

Rasa dan selera adalah perkara yang kompleks. Ini tentang proses memaknai, memanfaatkan momentum dan menikmatinya. Sekecil apa pun pengalaman yang dinikmati secara mendalam dengan penghayatan dan pemaknaan, dia akan menjadi pengalaman yang hebat. Selalu dikenang, bahkan bisa sepanjang hidup. “Hasbi tahu cara membuatku terpukau,” lanjut Muna.

Tapi harus sadar bahwa setiap pengalaman, apalagi melibatkan orang lain yang berbeda, akan mempunyai makna dan pendalamannya masing-masing. Ada yang sekadar hinggap sebentar lalu menghilang; ada pula yang bertahan lama meski itu hanya dalam kenangan. Wujudnya sudah enyah pergi entah ke mana. Begitu berlaku pula pada perasaan.

Saya kembali mendengar suara Muna serak. Ada tekanan mendalam yang membuat suaranya terdengar terpatas-patah, dan beberapa kali sesenggukan. Saya tidak bisa melihat air matanya. Tapi suaranya meyakinkan saya bahwa Muna tidak sedang baik-baik saja. Dia menangis tapi ditahan.

Muna bercerita seperti tidak ada tedeng aling-aling. Saya merasa dia seperti Muna yang dulu. Saya tidak ragu untuk mengatakan satu hal, “tundukkan dia di ranjang!”

Apa mau dikata, dengan cara begitu agar laki-laki tidak lagi berpaling, para lelaki banyak polah dan bertingkah aneh karena kebutuhan seksnya. Coba tuntaskan hasrat mereka, bahkan dengan cara serampangan pun, tandaslah mereka! Terkulai lemas seperti anak kecil yang lelah usai bermain.

“Aku sudah melakukan segalanya yang diminta,” lanjut Muna.

Betapa brengseknya laki-laki ketika bersenggama hanya mementingkan dirinya sendiri. Oh, nasibmu, Muna. Saya tidak membayangkan hidupmu serumit ini. Ah, sebenarnya tidak rumit juga jika mau diselesaikan bersama dengan keterbukaan komunikasi.

“Seorang istri harus sabar, menerima dan tunduk kepada suami demi mendapatkan surga.” Kalimat ini berkali-kali diulang oleh Muna. Saya hanya mengangguk, antara tercengang dan terpana.

“Ya, aku terus belajar untuk menerimanya. Memang begitulah yang aku dengar dari petuah-petuah para ustaz kami. Diminta bersabar dan bersabar.”

Saya biarkan potongan-potongan kalimat yang keluar dari mulut Muna tumpah ruah di sini. Saya ingin menceritakan kepedihan hidup teman saya ini kepada kalian, pembaca semua. Saya semakin terhenyak mendengar cerita Muna bahwa meski dirinya belum siap sudah terburu-buru dibanting dan dilumat di atas kasur. Tepat pada kalimat itu, tubuh saya berdenyut merasakan nyeri dan perih. Apa pun yang berubah pada diri Muna, dia tetap teman saya. Darah saya mendidih sebagai aktivis pembela korban kekerasan terhadap perempuan. Mata saya mulai ikut gamang, kadang berkunang-kunang. Pengalaman begitu terus bertumpuk-tumpuk dalam hidup Muna. Tidak ada kehendak untuk memberikan kesempatan Muna menikmati surga dunia yang sudah halal baginya.

“Aku pernah membayangkan sosok Hasbi ketika bermain dengan suami. Apa boleh, ya?”

Fantasi dari masa lalu yang pernah memberikan keindahan dan kenyamanan tentu sangat susah ditepis dari ingatan, dari perasaan-perasaan yang datangnya liar begitu saja. Sekuat apa pun membuang dan melupakan masa lalu, ia akan tetap bersemayam yang kapan saja bisa datang, menyapa, dan mengghantui. Muna mengingat dengan baik bagaimana indahnya ciuman pertama dengan Hasbi. Ingatan dan sisa rasa yang pernah dialami itu pernah Muna yakini akan berlanjut meski dengan orang berbeda. Ternyata tidak. Sangat berbeda. Rasa yang diingatnya dulu hambar ketika bertemu bibir suaminya.

“Untuk masuk surga apa harus menyimpan rasa sakit dan pedih begini?”

Muna mengulang kalimat tanya yang sama. Saya masih bergeming terhadap pertanyaan ini. Ingatan saya tetap pada sebuah kertas karton berwarna putih yang kami bawa saat aksi. Apakah Muna betul-betul tidak mengingat kata-kata yang ditulisnya sendiri?

“Aku ingin dia memukulku agar terlihat jelas bukti-bukti fisik kekerasan yang dilakukannya. Aku tidak ingin kekerasan verbal dan psikologis terus merundungku. Ini lebih menyiksa dan aku tidak bisa apa-apa.”

Kekerasan? Saya terperangah dengan satu kata ini. Saya mencermati lebih awas. Saya tidak terima kalau sampai terjadi kekerasan, khususnya terhadap kaumku. Kekerasan harus dihentikan!

“Aku sudah biasa dibodoh-bodohin, dianggap seperti sampah, sampahnya sampah, tidak becus, dan segala macam umpatan dan sumpah serapah.”

Ada suara rengekan yang dalam ketika mengucapkan kalimat itu. Seperti menahan godaman yang teramat berat di batang lehernya, sehingga suaranya lebih banyak bungkam.

“Sudah tidak bisa dihitung aku menjadi objek dan pelampiasan kemarahan dan sumpah serapahnya di depan umum, bahkan pernah di depan teman-temannku sendiri!”

Saya mulai berpikir keras, bagaimana pernikahan Muna yang sudah menginjak tahun kelima ini terus bertahan di tengah segala macam masalah yang menimpanya. Saya tidak tahu bagaimana Muna mengenal laki-laki ini. Saya hanya tahu Hasbi, pacar pertamanya yang sekaligus terakhir, seperti diakui Muna. Karena setelah itu mereka lulus, Muna pernah mencoba bekerja dan lalu menghilang cukup lama. Tiba-tiba sudah menikah lima tahun silam. Katanya di-taaruf-kan oleh organisasi barunya.

“Karena tidak kuat betul, aku pernah pulang ke rumah Ibu di Bandung selama seminggu. Aku juga sudah curhat ke ibunya agar ia bisa memberi nasihat kepada suamiku. Tapi belum ada tanda-tanda berubah.”

Saya tahu Muna bukan orang bodoh. Pengalaman belajar di kampus terbaik di Yogyakarta dengan kegiatan-kegiatan komunitas, diskusi dan literasi yang masif telah membentuk Muna menjadi pribadi yang cerdas dan aktif. Di awal cerita ini, saya memang sempat tidak terlalu responsif terhadap Muna. Tetapi kata “kekerasan” tadi mau tidak mau telah membakar perhatian saya. Anjing itu suami! Laki-laki keparat! Saya tidak perlu menceritakan semua isi curhatan Muna kepada pembaca di sini. Nanti di lain kesemptan pasti saya ceritakan dengan lebih detail—adegan-adegan kekerasan begitu utuh dalam pikiran saya. Umpatan anjing untuknya sudah pas. Saya merasakan betul Muna frustrasi dan tertekan.

“Aku selalu diceramahi bahwa membangkang terhadap suami balasannya adalah neraka. Kalimat ‘surga istri ada pada rida suami’ selalu diulang-ulang.” Suara Muna semakin sesenggukan. Saya tidak tahu seberapa deras air matanya.

“Bahkan ibunya pun dimarahi agar tidak ikut campur urusan ini. Kepada ibunya saja dia membentak, apalagi kepadaku….”

Saya mulai berancang-ancang untuk membalas komentar Muna. Tapi sedari awal suara Muna sulit untuk dipotong, dia seperti ingin menumpahkan semua bebannya sederas mungkin. Tapi sebelum suami Muna pulang kerja, yang kata Muna tinggal hitungan menit, saya ingin memastikan dengan memberinya jawaban-jawaban lewat telepon yang kita gunakan mulai tadi.

“Muna, saya bukan ahli ibadah, dan juga tidak mengerti banyak tentang agama,” jawab saya.

“Kita tidak punya hak untuk mengklaim kadar keimanan seseorang.”

“Ya, saya paham.”

Muna diam sejenak.

“Tapi, apakah surga yang diyakini suamimu itu akan dia temukan di telapak kaki ibunya yang juga dilawannya?”

Noot… nooooot….

Sambungan telepon gengam yang mulai panas terputus. Suara Muna sudah lenyap, tapi karton bertuliskan “Kenapa kita tidak menciptakan surga sejak di dunia?” itu masih jelas saya ingat, sebuah kalimat yang ditulisnya sendiri ketika kami berlima memutuskan melakukan aksi damai melawan bentuk kekerasan terhadap perempuan belasan tahun silam.

Dear pembaca semua, kenapa saya mengatai laki-laki itu anjing? Ini bahasa spontan saya ketika mendengar, “Suamiku sudah ada calon baru dan aku akan dimadu. Jika aku tidak setuju, maka jalan penceraian akan ditempuh,” suara Muna gemetar! Yogyakarta, 10 Agustus 2020; 02:39 WIB.

Bernando J. Sujibto
Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)

Comments

  1. Sakti W. Reply

    Terasa akrab dalam keseharian. Cerita yang bagus😍

  2. Ruby Reply

    Realita di tengah masyarakat Indonesia yang (lebih sering pura-pura) BUTA dan BODOH.

    • Arizu Kafa Reply

      Ciamikkk

  3. Muhammad Iqbal Ravsanjani Reply

    indah sekali ceritax. saya sangat senang manakala muna mengeluhkan tentang kdhidupan seksualx yg buruk.

    penulis pandai menyampaikan hal yg sebnarx bisa frontal, tapi dgn cara yg halus.

    • Admin Reply

      terima kasih baxk 🙂

  4. Yas Reply

    Seorang isteri memang harus tunduk dan taat pada suami, tapi seorang suami itu harus bisa memuliakan isteri. Saling… saling… saling.

    Mudah-mudahan Allah melindungi Muna selalu dan memberi Muna sekuat-kuat hati.

  5. Aldrich N Reply

    Keren sekali tulisannya, saya juga setuju kalau kita bisa menciptakan surga di dunia, mengapa harus menunggu di akhirat? Karena semuanya bisa dicapai bersamaan. Islam sendiri juga tidak memberatkan penganutnya untuk beribadah, banyak sekali rukhsah atau keringanan dalam Islam. Posisi perempuan di sini menang sangat rapuh, baik sebagai istri maupun seorang ibu. Dogma agama yang mereka percayai seperti surga istri pada suami pun mereka langgar sendiri ketika berurusan dengan wanita yg lain seperti ibu. “Surga seorang anak di bawah kaki ibu” juga mereka langgar dengan berbagai alasan karena sudah bisa membangun rumah tangga sendiri, sehingga seolah menciptakan standar ganda pada perilakunya sendiri. Mantap!

  6. Aulia R. Diah Reply

    Muna adalah sosok yang hebat sebab ia berani menyuarakan isi hati yang selama itu dibungkam. Apalagi tentang kekerasan yang dialami olehnya karena ulah suami yang seperti “anjing” kata penulis, saya pun sepakat. Realita seperti itu memang masih mengakar dalam kehidupan. Di mana ajaran agama hanya digunakan sebagai pegangan alias senjata jika istri tidak tunduk pada suami, bukan sebagai cara memanusiakan manusia. Terlihat jelas pula dalam alur cerita tersebut tentang makna dari judul yang disampaikan oleh penulis. Membungkus pesan moral tentang pentingnya memahami kesetaraan gender. Tulisan yang menarik!

  7. Muthaharra Reply

    Munaaa… relakan suamimu itu. Ganti kunci surgamu 😂

  8. Fikriyatul Ilmi Reply

    Menarik benar2 menasehati tanpa ada maksud menggurui. Bukankah berumah tangga adalah adanya kerja sama, saling ridho dan memahami. Semua ada perannya masing2. Dari cerpen ini nampak adanya laki2 yg mengandalkan superioritasnya. Menjadikan perempuan sebagai objek, Yang memang masih banyak kita temukan di sekitar dan kehidupan sehari2 kita.

    Semoga kita bisa membuat dunia lebih aman dan surga untuk semua makhlukNya.

  9. Arina Widda Faradis Reply

    Terimakasih sudah memperkenalkan salah satu problem yang sering terjadi di dalam hubungan rumah tangga. Sangat baik dibaca bagi yang belum berumah tangga agar bisa menjadi bahan ajar bahwa mengenal dengan baik karakter calon pasangan ialah point yang sangat penting. Agar tidak ada penyesalan dikemudian hari apalagi ketika berperan sebagai pihak yang wajib untuk patuh dan tunduk yaitu istri.

  10. Fathiya Reply

    Ih Keren. Soalnya memang masih banyak kok kasus kayak gitu. Hiks sedih ya. Padahal Pernikahan kan kesalingan. Kalau kata Bu Nyaiku Dalil itu Papan Empan. Harusnya suami tuh ya pakai dalil yg isinya kewajiban suami, bukan malah kewajiban istri. Kalau pakai dalil aja kebalik-balik ya kacau lah itu pasti pemikirannya. Nanti nuntut hak tanpa mau tau kewajiban.
    Makasih, Penulis.

  11. Amdya Hisyam Reply

    Wow, keren bang Bje! Banyak banget isu sosial, agama, dan budaya yang diangkat dalam satu tulisan ini mulai dari isu poligami, patriarki, hierarki keluarga, kesehatan mental perempuan, kuasa relasi, sampai seksualitas yang masih dianggap tabu oleh kebanyakan dari masyarakat Indonesia. Semoga tulisan ini hanya “muqaddimah” saja dan chapter selanjutnya sudah on progress. Looking forward to reading it, Bang Bje.

    • Aminah Sri Prabasari Reply

      Permasalahan Muna dekat sekali dengan keseharian, satu-persatu perempuan yg kukenal baik bercerita tentang rumah tangganya yg bahkan tidak sanggup menyediakan sedikit ruang untuk seseorang berdamai dengan dirinya sendiri. Bukan hanya membenci pasangan, rasa sakit yg datangnya bertubi-tubi bisa membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Harapan akan surga di ujung jalan, seperti yg terjadi pada Muna, menjadi satu-satunya pegangan dan penghiburan. Bersyukur lah, Muna. Ada teman seperti Arlin yg bukan hanya punya pengalaman advokasi kasus kekerasan pada perempuan tapi juga mengenal Muna di masa lalu. Arlin adalah support system Muna, bukan hanya mendengar curhatan, tapi juga mengingatkan pada kenangan baik. Muna ingin, dan perlu kembali, ke dirinya sendiri. Di tengah lingkungan sosial yg toksik, pasangan yg bangsat, kenangan baik adalah pintu untuk kembali.

  12. Nadia Majda Reply

    Cerita ini ringan dan mudah dipahami, menarik seperti kenyataan pada umumnya. Entah ini kisah nyata atau bukan, bagi saya tidak begitu penting, namun saja makna yang terkandung begitu dalam, kenapa tidak menciptakan surga di dunia?~ kalimat itu bisa menampar orang-orang khususnya anak muda yang pengennya hidup sukses secara instan, bahwa menciptakan surga di dunia bisa kenapa kamu masih rebahan.
    Hanya saja, entah kenapa saya belum bisa menyelami perasaan sakit si tokoh, baik Muna maupun Arlin.
    Berharap cerita selanjutnya akan lebih mengena di rasa, pasti sangat menyenangkan jika dibaca dan diulas kembali.

  13. Arieka Reply

    Pengen baca terus lanjutannya. Dan sampai di mana akhirnya Muna bisa menemukan ‘surga’nya.

  14. m ingsun Reply

    Lanangan taek

    • Admin Reply

      sabar.

  15. Denis Reply

    Bahasa yang dipakai indah euy, jadi ikutan kesel pas baca -_-)

  16. Umi Lailatul Reply

    Cerpen Muna Mencari Surga meski dengan konflik yg sebenarnya sudah banyak kita temui, tapi caranya mengemas idenya bagus..ceritanya bikin kepo🤭😅

  17. Mira Arba Reply

    Oke,, ini keren sih. . Ini dr perspektif saya ya. Yang saya tahu dari realitas yg ada, banyak sekali baik dari laki2/perempuan yang menginginkan nikah muda sebagai jalan untuk melaksanakan sunnahnya. Nakun sunnah yg biasanya di tuju itu malah justru hubungan seks itu sendiri, yang saya liat juga kebanyakan justru dari “maaf” orang2 yang seperti di cerpen ini (mulai belajar bercadar, taat agama dls). Dan yang saya paham juga kebanyakan mengartikan surga itu terlalu sempit, setelah adanya penjelasan tentang keistimewaan (atau apa ya istilahnya?) yg diberikan Tuhan dan dimiliki oleh seorang Ibu, seorang Suami dan Istri namun dimaknai secara sempit ya alamat menghasilkan cara fikir yang seolah benar. Perihal rumah tangga saya kurang paham, jadi sedikit komentar .. perihal Muna yang ditampilkan itu juga keren, dan juga dia dilambangkan sebagai sosok yang seperti muda mudi saat ini, terkadang lupa apa yang ia tuliskan dan usulkan sendiri hehe. . Untuk kalimat dari Muna “Aku ingin dia memukulku agar terlihat jelas bukti-bukti fisik kekerasan yang dilakukannya. Aku tidak ingin kekerasan verbal dan psikologis terus merundungku. Ini lebih menyiksa dan aku tidak bisa apa-apa.” itu saya kurang setuju. Soalnya berbentuk apapun luka akan terus meninggalkan trauma,terlepas dari itu akan mengering jika luka fisik atau batin lebih membekas, namun saya sedikit tidak setuju dengan tulisan Muna tersebut🙏kadang apa yang dituliskan lebih mudah daripada saat dijalankan ya.

Leave a Reply to Aulia R. Diah Cancel Reply

Your email address will not be published.