Musik dan Perempuan dalam Hidup Seorang Penggemar Band Ahmad Dhani

Hari Perempuan Internasional dan Hari Musik Nasional berdekatan di kalender, tanggal 8 dan 9 Maret. Di kehidupan nyata, perempuan dan musik memang selalu beriringan. Pesona perempuan sering kali menjadi inspirasi para musikus dalam menciptakan tembang. Perempuan juga bisa mendorong laki-laki untuk bermain musik dan bernyanyi. Secara harfiah, saya sendiri pernah disuruh menyanyi di depan kelas oleh ibu guru yang mengajar mata pelajaran kertakes.

Menurut kalender, Hari Perempuan Internasional lebih dahulu dirayakan sebelum Hari Musik Nasional. Hal itu bisa bermakna bahwa perempuan adalah awal dari segala musik yang mengalun di dunia ini. Cinta kepada perempuan adalah musik yang tidak pernah berhenti berputar di hati laki-laki. Itulah mengapa, di film komedi romantis, ketika gadis pujaan masuk frame, mendadak mengalun lagu cinta.

Mungkin ini akan terasa subjektif, tapi menurut saya, musik nasional sedang lucu-lucunya ketika album Kisah 2002 Malam baru saja keluar dan kebetulan masa pubertas saya terjadi di tahun itu. Pemilihan judul album yang cukup cerdas, memelesetkan Kisah 1001 Malam dengan mengganti tahun saat itu. Di album kompilasi tersebut, ada lagu Mimpi yang Sempurna dari Peterpan. Inilah awal kebangkitan sang Casanova bernama Ariel, yang nantinya bisa menaklukkan hati cewek-cewek dengan lagu-lagu puitis dan nakal.

Setelah itu, mengikuti Peterpan yang baru merilis album perdana Taman Langit, muncul band-band dengan nama tokoh fiksi seperti Samsons dan Lyla. Lagu-lagu dari band tersebut booming saat saya duduk di bangku SMP. Saat duduk di bangku itulah saya bernyanyi lagu Naluri Lelaki sembari menabuh meja, mencari perhatian perempuan di kelas. Inilah yang dinamakan senandung masa puber.

Entah mana yang lebih dulu terjadi di kehidupan seorang remaja putra, menyukai musik atau cewek. Yang jelas, seorang cewek bisa membuat saya bernyanyi dengan sepenuh hati dan penghayatan tinggi di kamar mandi. Bahkan ketika kelas 3 SMP, saya pernah menuliskan surat cinta untuk seorang cewek memakai lirik lagu Dewa 19 – Perasaanku tentang Perasaanku Kepadamu. Yang mana dari lirik pertamanya saja sudah menyeramkan: “Hai, cinta, dengarkanlah, aku ingin bicara. Tentang aku dan kamu, tentang cintaku padamu.”

Wajar saja saat itu saya ditolak mentah-mentah. Nuansa surat penembakannya saja om-om banget. Lirik tersebut hanya berhasil jika digunakan oleh Ahmad Dhani untuk nembak Mulan Kwok sehingga membuat Wulansari berevolusi menjadi Mulan Jameela, Makhluk Tuhan Paling Sexy.

Beranjak SMK, D’Masiv menjadi band yang lagu-lagunya dinyanyikan oleh pelajar yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Konon, sebelum dinamakan D’Masiv, band tersebut memakai nama D’Terstruktur dan D’Sistematis. Saya adalah penggemar berat D’Masiv dan tak segan bila di nama belakang Facebook memakai embel-embel Massiver. Lagu Cinta Ini Membunuhku benar-benar mewakili perasaan saya setelah ditolak cinta oleh Kembang STM.

Di kamar, saya memutar lagu D’Masiv sealbum dari pemutar MP3 di ponsel Nokia Sabun. Menghayati pedihnya unrequited love zaman sekolah. Persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan merengek ke orang tua seperti ketika minta sepeda motor. Mana bisa kita meminta kepada orang tua untuk membuat seorang anak gadis membalas cinta kita?

“Mak, minta cewek! Satu aja dari jurusan TKJ. Nggak harus cantik. Asalkan belum pernah kesetrum pas praktik kejuruan.”

Dari kisah cinta masa akil baligh tersebut, saya memetik sebuah pelajaran. Jika seorang anak lelaki tidak bisa mendapatkan balasan cinta dari seorang perempuan, sebagai gantinya dia akan mendapatkan lagu yang cocok untuk didengarkan ketika patah hati. Jika perempuan membuatmu teraniaya sepi, biarkan musik yang menyelamatkan.

Pada tahun 2000-an, menonton TV menjadi aktivitas yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan untuk menunggu video klip dari band idola diputar. Acara musik favorit saya kala itu adalah Dahsyat dan On the Spot. Sebelum menjadi acara majalah berita, On the Spot adalah acara pemutaran musik. Begitu pula dengan Dahsyat yang kepanjangannya adalah deretan lagu hits teratas.

Sebelum dipegang oleh Raffi Ahmad untuk memperkaya diri, Dahsyat adalah alternatif dari MTV Ampuh yang mana akronim dari Ajang Musik Pribumi Dua Puluh. Jika di MTV Ampuh, band favorit tidak mendapatkan posisi jawara pada chart, bisa saja menjadi nomor satu di Dahsyat. Begitu juga sebaliknya. Saya bisa sangat senang ketika Ada Band menduduki tangga lagu pertama di MTV Ampuh. Mungkin sama senangnya dengan penggemar Manchester United saat klub favoritnya berada di urutan atas klasemen akhir Liga Inggris.

Lagu-lagu dari band pop angkatan 2000 mengisi masa remaja saya. Menemani saat saya jatuh cinta dan patah hati karena seorang perempuan. Apresiasi tertinggi yang bisa diberikan seorang penggemar kepada band idolanya ketika itu adalah dengan memasang nada sambung pribadi. Namun, karena saya adalah pengguna XL sejak SMP, saya pakai ring back tone. Saya rela berlangganan RBT (yang harganya sekian ribu per bulan) dari lagu yang mewakili perasaan saya. Kadang saya sampai kasih kode dengan cara miss call gebetan. Supaya dia balas miss call dan mendengarkan RBT saya. Ketika gebetan berhasil terpancing untuk miss call, rasanya hati senang sekali. Getaran ponsel sampai terasa di hati.

Kalau dipikir-pikir sekarang, konsep RBT macam itu terkesan ribet. Dewasa ini, kalau mau curhat, cukup bikin insta story bernuansa gelap diiringi musik sesuai currently mood, atau tinggalkan komentar pada video klip yang mewakili perasaan di YouTube. Banyak sekali ditemukan kisah pilu di deretan komentar tersebut: ditinggal nikah, putus karena tidak direstui orang tua, dan pengkhianatan cinta karena kehadiran orang ketiga. Namun, di YouTube ada juga yang merayakan cinta dengan cara membuat video berisi slideshow foto-foto perempuan tersayang diiringi lagu cinta bertema pemujaan berlebihan kepada kekasih.

Usaha yang lebih bermodal, saya pernah melakukannya, mengajak gebetan karaoke. Di sana, saya menyanyikan lagu Dewa berjudul Kasidah Cinta. Di mana di bagian reff Ahmad Dhani menyelipkan nama Maia pada liriknya. Sebagai ungkapan telah jatuh cinta, saya bernyanyi sepenuh hati sebagai persembahan kepada gebetan secara tidak langsung.

Oh mungkin

Hanya keajaiban Tuhan

Yang bisa jadikan

Hamba-Nya yang cantik

Menjadi milikku

Namun, apa yang terjadi? Gambarannya, kira-kira seperti scene karaoke di film Terlalu Tampan: ketika Mas Kulin nyanyi, Rere tidak mendengar, eh malah main hape, terus bercanda dengan Kibo.

Woy, ini ada orang curcol berbayar via lagu karaoke loh!

Sejak itu, saya trauma dengan tempat karaoke. Namun, untuk berjuang menyayangi perempuan, saya belum kapok.

Haris Firmansyah

Pengarang novel sepak bola Wrecking Eleven yang tidak pernah mau diajak main futsal. IG: harisfirmans
Haris Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published.