Nasi Tanpa Api

in Memorabilia by

Jawablah dan raihlah hadiah, setelah beruntung memberi jawaban semua benar dan terpilih di pengundian! Hadiah tercatat mewah pada masa 1980-an. Hadiah dinamai rice cooker merek Toshiba. Dulu, benda itu masih susah mendapatkan padanan kata atau terjemahan dalam bahasa Indonesia. Kemauan menjawab diperlukan kepintaran dan waktu senggang. Semua ada 4o jawaban di kotak mendatar dan menurun.

Kenangan ingin meraih hadiah rice cooker itu ada di rubrik “Teka-Teki Silang” di majalah Sarinah (5-18 Agustus 1985). Keterangan besar di atas: “Berhadiah 5 buah rice cooker Toshiba untuk 5 pemenang.” Dulu, jumlah pembaca Sarinah itu ribuan. Anggaplah pengisi TTS cuma 500 orang. Mimpi mendapat rice cooker tentu bermutu modern. Orang tak lagi mengimpikan kendil dan dandang berada di dapur berasap. Benda itu diimpikan orang kota, masih wagu ada di imajinasi orang desa?

Para sejarawan dan kolektor benda dapur belum mengumumkan seratus halaman berisi sejarah rice cooker masuk ke Indonesia. Benda itu mungkin mendadak datang, digandrungi tiada henti sampai sekarang. Benda ajaib! Kedatangan rice cooker pelbagai merek mencipta upacara menanak nasi tanpa api. Listrik menentukan detik-detik beras menjadi nasi. Proses menjadi nasi menggunakan kabel. Nasi itu disantap keluarga-keluarga memiliki tokoh ibu selalu sibuk atau enggan bersabar dalam tata cara menanak nasi tradisional alias ngliwet.

Kita lacak saja sembarangan segala hal mengenai benda berlakon nasi tanpa api melalui majalah-majalah wanita. Lacakan tak dilengkapi penjelasan para narasumber dari masa 1980-an. Tulisan juga tak bergantung harus mendapatkan foto-foto dari para kolektor rice cooker, sejak masa 1980-an sampai sekarang. Kita mungkin meragu ada orang seantero Indonesia memenuhi kepuasan batin dengan menjadi kolektor rice cooker berjumlah ratusan. Kita berharap orang itu ada tapi bermisi mulia: koleksi untuk riset bertema kedapuran dan wanita Indonesia.

* * *

Di majalah Ayahbunda edisi 12-19 Agustus 1980, pembaca mendapat pembinaan dari Yayasan Lembaga Konsumen sepanjang 4 halaman. Tulisan itu berjudul “Dapur Anda, Bagaimana?” Penjawab cenderung ibu-ibu di kota atau ibu-ibu di kalangan menengah-atas. Mbok Jinah di Blulukan, desa pinggiran Solo, tentu dilarang menjawab. Selama puluhan tahun, Mbok Jinah menghidupi tujuh anak dan keponakan dengan kendil dan dandang. Nasi masih berapi. Di keren atau tungku, peristiwa ngliwet menjawab lapar keluarga. Matahari belum terbit, Mbok Jinah sudah mengadakan api di tungku. Adegan menaruh kendil disertai doa. Ngliwet memberi hadiah berupa tajin. Di mata bocah desa, tajin itu susu putih gadungan. Lezat! Mbok Jinah bukan pembaca majalah Ayahbunda. Sejak bocah sampai tua, ia tak pernah bisa membaca.

Pembaca dibimbing dalam memberi jawaban. Indonesia sedang ingin memberi kebahagiaan pada kaum ibu. Mbok Jinah berada di luar daftar resmi meski tabah menghidupi anak dan keponakan dalam miskin berkepanjangan. Mbok Jinah mencipta bahagia kecil dengan melihat anak-anak bersekolah. Kini, semua anak sudah memiliki lakon-lakon menjauh dari nasi berapi. Mereka berpasrah pada penanak nasi listrik. Sebutan itu mungkin terjemahan belum tepat. Dulu, Anton M Moeliono menerjemahkan rice cooker adalah penanak nasi. Di belakang, tak ada penulisan listrik. Terjemahan itu mendapat pengakuan melalui institusi kebahasaan dan peran Anton M Moeliono selaku pengasuh rubrik kebahasaan di majalah Selera, majalah mengenai upaboga.

“Ibu mana yang tidak ingin memiliki dapur yang bagus, ruangannya cukup luas, bersih dan rapi dengan peralatan yang serba lengkap? Semua tentu menginginkannya oleh karena dapur itu merupakan kelengkapan yang penting pada setiap rumah dari yang paling sederhana sampai yang paling mewah,” pembuka di tulisan tersaji di majalah Ayahbunda. Alinea membelok dari petuah Soeharto agar manusia Indonesia hidup secara sederhana. Godaan memiliki dapur bagus atau mewah pastilah berdampak ke menu dan pendapatan. Ambisi itu bisa memicu kesenjangan sosial, membuat orang-orang saling pamer dapur.

Kita menuju kalimat-kalimat mengandung kegampangan dan kerepotan memiliki rice cooker pada masa 1980-an: “Penggunaan alat dapur listrik memang sangat ideal, terutama bagi para ibu yang sibuk. Pemakaiannya sangat praktis dan menghemat waktu serta tenaga. Misalnya dengan rice cooker anda masukkan saja beras yang sudah dicuci ke dalam mangkuknya, tutup rapat, tancapkan steker dan beberapa menit kemudian nasi sudah masak.” Petunjuk itu bisa diamalkan asal ada listrik di rumah dalam hitungan besar. Semua itu bukan sulap tapi pembuktian dari kemajuan ilmu dan teknologi. Indonesia dituntut mengalami modernisasi atau pembangunan (dapur) berlistrik. Kaum ibu sibuk meraih tujuan-tujuan pembangunan nasional tercantum di pelbagai dokumen resmi pemerintah dan slogan-slogan fasih diucapkan para pejabat. Kehadiran rice cooker di dapur mengartikan ada nalar pembangunanisme, jangan dituduh kegagalan pewarisan ilmu ngliwet di tungku berapi dan berasap.

* * *

Beras menjadi nasi dalam hitungan menit bisa ditinggal dengan kesibukan-kesibukan di rumah? Benda itu membahagiakan. Ingat nasi, ingat beras. Kaum ibu dianjurkan memiliki ilmu beras, sebelum rutin mengadakan nasi di rice cooker. Petunjuk penting ada di majalah Kartini, 18-31 Mei 1987. Jawaban berupa iklan sehalaman berwarna. “Paling baik simpan beras dalam Cosmos! Karena Cosmos menyimpan beras lebih sempurna. Problem: Banyak ibu rumah tangga mengeluh karena nasi sering tidak sepulen yang diharapkan walaupun beras terbagus yang dibelinya.” Semua keluhan dijawab oleh Cosmos. Nasi bermutu dipengaruhi beras bermutu. Beras memerlukan Cosmos, disimpan secara aman: terhindar dari tikus dan kecoa. Iklan terlalu menggoda. Di Blulukan, Mbok Jinah tak pernah mengetahui ada alat bagus bernama Cosmos. Ia masih meneruskan tradisi lawas dalam menaruh beras meski tak seperti dalam dongeng-dongeng bertokoh bidadari sempat tertinggal di bumi. Pada masa lalu, urusan dapur dibina melalui iklan-iklan di majalah-majalah terkenal.

Benda idaman masih menguasai halaman-halaman majalah. Sembarang iklan dan lomba menjadikan rice cooker itu tema besar di hari-hari jutaan orang Indonesia makan nasi. Sarinah edisi 22 Juli-4 Agustus 1985 mengumumkan Sayembara Gelombang V: Menyongsong Ulang Tahun Majalah Sarinah. Hadiah-hadiah ditampilkan di dua halaman. Jenis hadiah di urutan terakhir: 50 rice cooker merek Toshiba untuk 50 pemenang. Pembaca berharap mendapat hadiah terakhir harus bisa memberi jawaban benar: “Negara Republik Indonesia terletak di benua… (1) Afrika; (2) Asia; (3) Eropa.” Bocah SD tentu bisa menjawab. Jawaban agak sulit atau menjemukan pun terpaksa dituliskan di lembaran kertas: “Keberhasilan pembangunan kita akan mencapai masa tinggal landas pada… (1) Pelita I; (2) Pelita VI; (3) Pelita X.” Jenis soal itu pernah muncul di ujian-ujian resmi di sekolah. Tinggal landas itu impian muluk.

Ibu belum berduit gara-gara suami cuma memberi amplop tipis masih boleh bermimpi memiliki rice cooker dengan rajin mengikuti undian-undian dari belanja pelbagai kebutuhan keluarga. Mimpi tanpa memberi jawaban berkaitan geografi dan pembangunan nasional. Pada masa 1980-an, rice cooker masuk daftar hadiah mentereng tapi tetap berada di bawah mobil, sepeda motor, kulkas, dan televisi. Kebiasaan minum kopi bermerek Kapal Api memungkinkan ibu beruntung dengan mendapat hadiah rice cooker. Ibu wajib berdoa agar suami rajin minum kopi: pagi dan sore. Kebiasaan minum kopi menuntut ibu sering membeli kopi di toko. Hal terpenting adalah bungkus. Pengumuman di majalah Sarinah edisi 7-20 November  1988 memuat ketentuan bagi pemimpi rice cooker: “Kirimkan nama, alamat, nomor KTP…. dilampiri 1 lembar bungkus kosong Kopi Kapal Api 250 gram/200 gram atau 3 lembar bungkus Kopi Kapal Api yang lainnya.” Pengirim boleh bermimpi serial tiga hari sambil menunggu pengumuman di Kompas, 22 Januari 1989. Ia bermimpi mendapatkan rice cooker, bukan mobil. Mimpi terindah dan lugu bagi ibu-ibu menggandrungi listrik dan menghindari asap-asap menghitamkan dinding dan atap jika menggunakan api di tungku.

Semula, rice cooker itu hadiah. Pada kasus berbeda, perusahaan rice cooker merek Hitachi malah mengadakan undian berhadiah. Pembeli berharap mendapat hadiah Tabanas 25 juta rupiah? Hadiah menggiurkan dan membuka mata sepanjang hari. Merek-merek rice cooker bersaing sengit pada masa 1980-an sampai 1990-an. Siasat penentuan harga dan pemberian hadiah dimaksudkan menghimpun pembeli dalam jumlah ribuan.

Kita simak bujukan Hitachi: “Dilengkapi katup penahan uap membuat rasa & aroma nasi lebih enak. Makan jadi lebih nikmat karena nasi lebih enak. Rice cooker Hitachi berhasil menciptakan sistem unik, dengan katup penahan uap tidak ada aroma nasi yang menguap percuma. Nasi jadi matang sempurna dengan rasa dan aroma yang lebih enak.” Di samping gambar rice cooker, kita ngiler melihat nasi di piring. Nasi tak memamerkan lauk daging. Kita menduga “pemakan” itu orang sederhana, belum mau memanjakan lidah dengan pelbagai lauk. Nasi saja sudah cukup.

* * *

Kita cukupkan membuka masa lalu. Berita terbaru di Solopos, 7 November 2018, mengingatkan jutaan orang Indonesia menolak bosan makan nasi setiap hari, sejak bocah sampai mati. “Warga Solo diketahui suka makan karena rata-rata konsumsi nasi sebanyak 292,18 gram atau setara 150 gram beras per hari,” tulis di Solopos. Angka itu berdasarkan riset oleh Gita Pertiwi dan Unika Soegijopranoto Semarang pada tahun 2017. Orang Solo memiliki frekuensi makan 3-4 kali per hari. Fakta!

Laporan belum mengungkap kebenaran: warga Solo makan nasi berapi atau berlistrik. Warung-warung dan ratusan angkringan di Solo memang memiliki pelbagai menu andalan nasi. Kita terlalu sering mendapatkan nasi itu berlistrik. Tatanan rice cooker di meja atau gerobak  memastikan ada nalar seperti iklan-iklan dari masa 1980-an. Benda itu menjadikan urusan berdagang makanan berpedoman praktis. Mantra terbaru: ada listrik, ada nasi. Para penggemar menu angkringan pun mulai diajak terbiasa bersantap “nasi kucing” dari hasil aliran listrik, bukan api berwarna merah atau biru. Orang-orang tak lagi mau bertengkar masalah “kelezatan” nasi dari pemilihan tata cara memasak. Urusan terpenting adalah nasi masuk ke mulut dan turun ke perut. Nasi berpisah dari api bukan tragedi upaboga. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.