Nasib Dilan dan Milea Dipengaruhi oleh Rezim Pemerintahan saat Kisah Cinta Mereka Bersemi

(Sumber gambar: www.brilio.net)

 

Nasib asmara Dilan dan Milea banyak dipengaruhi oleh rezim pemerintahan saat kisah cinta mereka bersemi: Orde Baru. Dilan sebagai panglima tempur geng motor bisa berbuat nekat, mungkin karena merasa aman punya beking ayah yang seorang tentara. Namun, ternyata ayah Dilan tidak membela anaknya yang bersalah.

Dari trailer, kita tahu ayah Dilan tidak memanfaatkan posisinya sebagai tentara. Sebab, ketika mendatangi anaknya yang ditahan di kantor polisi, beliau berkata, “Saya di sini karena anak saya, tapi kalau dia bersalah, hukum dia sesuai hukum berlaku.”

Padahal saat itu tentara dan polisi masih satu kesatuan dalam tubuh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), tapi beliau tidak serta-merta mengintervensi polisi dengan berkata, “Saya di sini karena anak saya, tapi kalau dia bersalah, damai saja. Bebaskan.”

Namun, tamparan ayah Dilan kepada Dilan menandakan kondisi sosial saat itu. Ketika hukuman berupa kekerasan kepada anak masih lumrah dilakukan. OK Boomer.

Dalam setiap sekuel filmnya, Dilan selalu ditampar. Pertama, Dilan ditampar Suripto, guru BP, karena tidak tertib saat upacara. Kedua, Dilan ditampar Milea karena tidak menuruti permintaan sang pacar untuk nonaktif dari keanggotaan geng motor. Terakhir, Dilan ditampar ayahnya karena kedapatan membawa senpi saat hendak menyerang musuh.

Pipi Iqbaal Ramadhan ditabok sampai hatrick.

Kalau zaman sekarang, guru cubit murid saja bisa viral. Di era reformasi dan informatika seperti saat ini, masyarakat sepakat bahwa mendidik anak tidak perlu pakai cara kekerasan.

Dilan sendiri menyadari jika kondisi sosial politik memengaruhi kisah cintanya. Alasan utama dia mengajak Milea pacaran di kuburan ziarah ke makam pahlawan. Sebab tanpa pahlawan, Indonesia bisa saja masih dijajah dan Dilan tidak akan ketemu Milea karena sibuk gerilya di hutan.

Kisah cinta Dilan dan Milea pun bakalan sedikit berbeda alurnya jika terjadi di era pemerintahan presiden setelah kejatuhan Orde Baru:

 

BJ Habibie

Akew yang meninggal karena dikeroyok orang tak dikenal adalah salah satu penyebab renggangnya hubungan Dilan dan Milea. Sebab Milea takut Dilan mengalami hal yang sama. Di zaman kegelapan itu, nyawa hilang tanpa tahu siapa pelakunya kerap terjadi. Apalagi terlibat dalam perseteruan antar-geng motor.

Jika Dilan dan Milea bertemu di era transisi Orde Baru ke Reformasi, mungkin Dilan adalah seorang aktivis. Konfliknya, Milea melarang Dilan demo, “Aku nggak suka ya kalau kamu ikut demo. Bilangin ke kawan-kawan aktivismu, aku nggak suka mereka.”

Ketika ditanya alasan mengapa Milea tak suka pacarnya unjuk rasa, Milea lugas menjawab, “Jangan bilang nggak suka dengan Soeharto, besoknya kamu bisa hilang.”

Namun, ketika perjuangan Dilan dan kawan-kawannya berhasil menggulingkan Soeharto, Milea ikut menikmati hasilnya juga. Sebuah kebebasan berpendapat tanpa takut diculik.

 

Gus Dur

Gus Dur meliburkan sekolah selama bulan Ramadan. Jadi, Dilan dan Milea memanfaatkan satu bulan penuh itu untuk pacaran. Namun, karena mereka puasa, terjadilah dialog berikut:

“Sun (cium) dulu,” pinta Dilan.

Milea tampak bingung. “Sekarang?”

“Nggak. Nunggu buka,” kata Dilan.

 

Megawati Soekarnoputri

Sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia, Bu Mega menjadi inspirasi perempuan Indonesia. Bahwa wanita juga bisa jadi kepala negara dan memimpin sebuah negeri. Mereka menyebutnya emansipasi wanita.

Dengan semangat emansipasi, nantinya yang jadi anggota geng motor adalah Milea. Lalu Milea jugalah yang mendekati siswa baru bernama Dilan.

Dengan naik motor sport, Milea menghampiri Dilan yang jalan kaki. Milea menyapa Dilan duluan, “Kamu Dilan ya? Boleh aku ramal? Aku ramal, nanti kita ketemu di kantin.”

Dilan berujar, “Kayaknya nggak deh. Soalnya aku bawa bekal.”

 

Susilo Bambang Yudhoyono

Pada zaman Orde Baru, Dilan harus pakai telepon umum atau telepon rumah untuk menghubungi Milea. Kadang yang ngangkat telepon bukan Milea, melainkan mamanya, adiknya, atau si Bibi.

Di rezim SBY dengan Menkominfo Tifatul Sembiring, komunikasi Dilan dan Milea lancar jaya. Masing-masing orang punya telepon genggam. Walaupun internet belum cepat-cepat amat, tapi Dilan bisa bertukar kabar dengan Milea lewat media sosial.

Ketika putus pun Milea bisa mengungkapkan perasaannya di media sosial. Sehingga Dilan bisa tahu bahwa Milea masih sayang, sama seperti dirinya yang sulit melupakan Milea. Kesalahpahaman pun bisa terhindarkan. Dilan dan Milea bisa balikan seperti halnya Kekeyi dan Rio Ramadhan.

Namun, kemudahan komunikasi ini justru membuat hubungan percintaan bisa menjadi semakin ribet. Zaman dulu komunikasi memang terbatas, tapi memudahkan proses putus dan move on. Sekarang? Yang putus bisa gampang nyambung lagi. Yang mau move on bisa mengurungkan niatnya karena disapa mantan.

Dengan berbagai distraksi di era digital, Dilan dan Milea pun bakalan jadi plinplan dan labil. Saking rumit hubungannya, seri film Dilan bisa beranak-pinak sampai ada spin off segala kayak waralaba Fast & Furious.

 

Joko Widodo

Di era revolusi mental ala Jokowi, kepolisian sedang naik daun. Bahkan punya acara realitasnya sendiri bertajuk 86. Ketika Dilan milenial bersama geng motornya berencana menyerang musuh, Tim Prabu bentukan Polrestabes Bandung dan juru kamera bakalan mengepung mereka.

Sebelum diringkus ke kantor polisi, Dilan selaku pemimpin pasukan ditanya-tanyai dulu oleh polisi dan disorot kamera. Dilan pun curhat ke polisi dan direkam untuk jadi konten. Akhirnya kisah cinta Dilan pun terekspos dan viral. Namun, tidak ditayangkan di bioskop, melainkan di Net TV.

Haris Firmansyah

Comments

  1. Barkah Azhari Reply

    Segar dan menyegarkan! 😀

  2. Haris Firmansyah Reply

    Makasih, kak! 😀

  3. Anonymous Reply

    Peraduan epik basabasi dan mojok. Co

  4. Anonymous Reply

    Cocokologi. Hebat kuratornya.

  5. justshil_20 Reply

    Kok kereen😂 Selamat, Kak!

  6. Muhajir N. H Reply

    Kece badaiiii :v

  7. Lambertus Reply

    Endingnya pecah

Leave a Reply

Your email address will not be published.