Nelayan Boleh Berhenti Melaut, Penulis Tidak

Judul : NELAYAN ITU BERHENTI MELAUT
Penulis : Safar Banggai
Penerbit : Pojok Cerpen, Yogyakarta
Tebal : vi+70 halaman
Terbit : Maret, 2019
ISBN : 9786025350337

‘Buku-buku terbaik di seluruh dunia’ hampir semua terbit di tangan penerbit kecil, penerbit independen, setidaknya pendapat ini diukur dari penghargaan Man International Booker Prize di 2019. Saat Guardian menurunkan berita tersebut, daftar panjang pemenang sudah menguatkan pendapat spektakuler yang harusnya menambah energi pada pegiat penerbitan independen. Dari tiga belas judul, hanya ada dua judul yang diterbitkan oleh penerbit nonindie. Sebelas judul tersebut muncul dari penerbit indipenden seperti Fitzcarraldo Editions, Sandstone Press, Granta, dan Other Stories and Scribe. Maureen Freel—penulis, penerjemah, sekaligus salah satu panel juri dalam penghargaan tersebut, berujar dengan santainya, “Penerbit besar harus berusaha lebih.”

Di luar penerbit independen (kita tidak akan membahas bagaimana yang independen dan tidak independen) teruji memiliki taji dalam percaturan literasi dunia. Namun bagaimana dengan Indonesia, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa “semua orang bisa menerbitkan buku dan punya penerbitan”? Lantas, mampukah buku terbitan penerbit independen yang hendak dibahas ini menunjukkan taji?

Sudah menjadi pengetahuan publik, penerbitan buku secara independen atau secara istilah sederhana adalah tiras yang tidak begitu banyak. Yang sedikit itu tetap diharuskan berkancah dalam rimba judul buku yang terbit setiap minggunya. Secara serampangan penerbit independen luar negeri yang mampu menyuguhkan judul-judul yang diperhitungkan dalam penghargaan sastra, pastilah bukan sekadar beralasan “dicetak sendiri, disesuaikan jumlah modal kita saja.” Itu terlalu remeh. Bisa dipastikan kurasi, penyuntingan, pengemasan, dan pemasaran independen mereka jauh-jauh-dan-sangat-jauh bila dibandingkan dengan sistem independen milik kita.

Selain harus mampu memberi warna baru yang tidak biasa, yang tidak jamak, yang tidak pasaran, penerbitan independen tidak boleh melewatkan ketatnya kurasi, primanya penyuntingan, dan jempolnya pengemasan. Karena bak makanan, mau di emperan, mau di swalayan, makanan enak tetap menuai pujian.

Buku Nelayan Itu Berhenti Melaut (2019) adalah karya perdana Safar Banggai, salah satu nama yang lebih saya kenal sebagai kerani di Radio Buku. Kumpulan cerpen perdananya ini sekaligus menunjukkan kemampuan dan keberanian menjajal sebagai pencerita. Pembahasan penerbitan indipenden di awal adalah terkait dengan pilihan Safar Banggai untuk hadir lewat penerbit independen. (Karena indie, buku ini takkan ada di toko buku kebanyakan, harus berburu secara daring).

Selepas membaca buku Safar Banggai, kita akan merasakan bahwa indie Indonesia masih di kelas seperti ini. Meski harus diakui masih banyak judul bagus dan mendapatkan perhatian besar dari pembaca yang terbit dari penerbit independen. Buku Safar Banggai, terutama dalam hal konten, masih tampak terburu-buru dan “asal jadi-asal terbit”. Banyak cerita yang nanggung, yang diakhiri dengan begitu saja.

Cerpen pembuka, yang kemudian dijadikan judul buku, Nelayan Itu Berhenti Melaut, dibuka dengan paragraf megah. Yang paling dibenci pria adalah sikap diam wanita. Yang dibenci wanita adalah ketidaktegasan pria. Yang paling dibenci dua kaum ini tidak adanya komunikasi. (hal.1)

Namun, cerita dijalin dengan biasa saja dan bahkan diakhiri dengan berengutan yang kurang memuaskan. Hal paling mengecewakan untuk cerpen ini adalah Banggai harus menautkan cerita dengan agama, sedangkan sejak awal tak sekali pun Banggai menyitir hal tersebut. Seolah babak akhir adalah kelokan paling tajam dan membuat kecewa penikmat ceritanya.

“Bagaimana caranya menjadi muslim?” (hal.9)

Kisah nelayan ini bisa menjadi lebih dramatis, bisa lebih menikam dengan akhir yang subtil, bila penulis tak membelokkan soal beda agama. Meski sebenarnya bukan hal yang keliru, tapi bisa lebih kaya lagi andai tidak diakhiri demikian. Pilihan tokoh lelaki yang seolah lemah, tidak punya keajegan pilihan, dan membuat membaca seperti di-skak-mat, tidak ada pilihan lain.

Kesan ketergesa-gesaan juga tampak dalam beberapa judul lain. Cerpen Makan Mayat Manusia—lagi-lagi diakhiri dengan tergesa-gesa dan seharusnya tidak demikian. Dalam cerpen ini ada ketidakberanian penyunting memberi saran bagian yang “mengaburkan” cerita dan hanya menambah karakter saja. Adegan latihan renang tokoh dalam cerpen ini tidak signifikan untuk diceritakan cukup panjang.

Mungkin penulis harus diikat dikursi lebih lama untuk membaca berulang kali setiap ceritanya. Cerpen superpendek, misalkan, Ia Tak Sadar Air Matanya Jatuh justru menunjukkan kalau Safar belum selesai merampungkan cerita ini. Fragmen tidak berarti ini hanya sekadar membuat pembaca geram, seolah disuruh mencicip seujung sendok makanan, tidak memuaskan, tidak mengenyangkan.

Kalau fragmen ini diolah lebih tenang, lebih panjang, sangat mungkin pembaca akan meleleh air mata merasakan keharuan. Kalau yang ini, pembaca meleleh kegeramannya.

Selain kesan buru-buru yang sangat dipaksakan, banyak hal yang penulis salah menempatkan kamera sehingga hal yang menarik tidak dieksplorasi lebih. Seperti seorang perekam video atau juru foto tapi salah menempatkan moncong lensa. Misalkan satu kalimat dalam cerpen Makan Mayat Manusia, yakni “Kami terus menjaga laut seperti kami menjaga Ibu”, adalah kalimat kuat dan premis menarik yang justru diabaikan, Banggai sibuk soal “penangkapan penjual bahan peledak”.

Atau dalam cerpen Dua Perempuan untuk Satu Lelaki, ada premis menarik yang tidak sadar telah diabaikan oleh penulis. Seorang perempuan yang kawin kedua kali, karena suami pertama yang menjadi TKI tak ada kabar. Alangkah premis ini akan menjadi cerita yang lucu-satire bila dikembangkan tidak seperti yang di dalam buku ini. (Ini mengingatkan saya pada Nh Dini dalam “Jalan Bandungan”, istri yang menyambut suaminya pulang selepas tapol sedangkan dia telah dinikahi oleh adik kandung suaminya).

Salah menempatkan kamera juga bisa ditemukan dalam beberapa judul, Leppa, Mbo ma di Lao, dua cerpen ini menyimpan harta karun besar yang bisa dijadikan cerpen atau novel yang menarik. Lagi-lagi penulis terlalu terburu-buru dan tidak benar menempatkan mata kamera.

Buku telah terbit, ibarat kue telah dihidangkan kepada pembaca. Berhasil atau gagal kue itu “memuaskan” pembaca adalah pertaruhan kedua setelah keberanian penulis menjajal membukukan cerita. Banggai tidak seperti nelayan dalam cerpennya yang loyo, berpemikiran lemah. Banggai telah menunjukkan sikapnya sebagai pelaut-penulis yang berani melawan badai komentar pembaca.

Banggai punya kans untuk mengeksplor lebih dalam banyak hal yang dia miliki. Kekayaan lokal, pengetahuan akan budaya yang tak banyak orang tahu. Hal penting yang mungkin sekarang belum digali lebih. Tentu dengan tidak buru-buru dan jangan keliru menyorot cerita.

Kembali pada dua paragraf awal bahwa penerbitan independen memiliki peluang besar sebagai promotor karya-karya “aneh” yang patut dipertimbangkan. Tentu bukan yang seperti milik Banggai. Bila pilihan menerbitkan independen sebab terburu-buru asal jadi, asal punya karya, nasibnya pun akan sama saja tak dilirik.

Sebagaimana bentangan samudra, ide-ide Banggai bisa dipastikan mahaluas, dalam, sekaligus menyimpan bahaya yang mengancam. Namun, sebagaimana seorang nelayan yang mampu memperkirakan laut mana yang berombak tenang dan berikan banyak, Banggai juga harus memilah bagian mana yang potensial dikembangkan menjadi cerita, cara terbaik memanen kisah, dan tentu kapan harus melempar sauh dan layar. Jadi, hanya nelayan yang boleh berhenti melaut, penulis tidak. Tidak boleh berhenti menulis.

Kita tunggu buku Banggai kedua! [] Sumber gambar: Instagram.

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Baru kemarin kenalan Safar Banggai di MIWF 2019, eh tiba-tiba karyanya diulas di Basabasi

  2. Risah Reply

    Mengapa saya suka kritikan pedas di artikel ini, tapi disampaikan dengan bahasa halus dan indah. Salute buat pengulas dan penulis bukunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.