Nenek Ingin Menjenguk Kakek di Bukit Surga

Nenek sudah bersiap di teras rumah. Aku masih mengumpulkan segenap tenaga untuk sekadar melangkah ke kamar mandi guna membanjur kepala dan rambutku yang bau apak.

“Mandinya jangan lama-lama, Luhut. Satu jam lagi kereta kita berangkat.” Suara Nenek sayup-sayup masuk melalui daun pintu yang terbuka satu.

Hari ini adalah hari Minggu pertama di awal bulan. Nenek punya agenda rutin, menjenguk suami tercintanya.

Biasanya, ia akan pergi sendiri menemui Kakek. Tapi, setelah setahun yang lalu Nenek jatuh di kamar mandi dan kini harus berjalan dibantu tongkat sebagai kaki ketiganya, Nenek memberikan kode kepadaku untuk menemaninya.

“Luhut, jadi mahasiswa itu sibuk tidak?” kata Nenek suatu sore.

“Ya lumayan sih, Nek, paling sibuk dibikin sendiri. Ada apa, Nek, tumben nanyain kuliahku?”

“Nenek pengin ketemu Kakek. Tapi takut pergi sendiri. Luhut bisa carikan Nenek teman untuk pergi ketemu Kakek?”

“Gampang, Nek. Nanti Luhut temenin. Setiap hari Minggu pagi, awal bulan. Betul itu jadwalnya?”

“Betul. Tidak terpaksa kan, Luhut?” Mata Nenek berbinar menuai secercah harap.

“Apa pun untuk Nenek,” kataku.

****

Kami sudah tiba di stasiun. Nenek hanya membawa tas selempang ringan. Aku menduga isinya minyak angin, bedak yang tinggal sedikit, dompet yang isinya beberapa lembar uang cash dan selembar foto pernikahan Nenek. Selebihnya Nenek mengisi tas selempang itu dengan udara hampa.

Ini adalah kali pertamaku pergi berdua dengan Nenek. Selama kuliah di Jogja, memang aku tidak tinggal di kosan. Aku menempati rumah Nenek, menemaninya yang tinggal sendiri. Waktu Nenek jatuh setahun yang lalu, aku baru menginjak kuliah tahun kedua. Saat itu aku masih di kampus. Seorang tetangga di samping rumah meneleponku. Ia bilang Nenek jatuh dan dibawa ke rumah sakit.

Cederanya tidak parah. Selama masa pemulihan, Nenek tidak ke mana-mana. Ia absen dulu menjenguk Kakek. Sebetulnya Nenek khawatir karena pasti Kakek menunggunya. Tapi demi bisa selalu bertemu Kakek, Nenek memilih untuk pulih dahulu.

Di dalam kereta, aku sengaja memilihkan Nenek tempat duduk di samping jendela, supaya ia bisa melihat pemandangan di luar. Kereta api tidak sepi. Gerbong yang aku tempati hampir penuh terisi.

Di depanku duduk dua orang yang sepertinya tidak saling kenal. Laki-laki di sebelah kiri, yang duduk tepat di depan Nenek matanya dari tadi terpejam. Seperti sedang tidur. Telinganya disumpal headset tanpa kabel. Entah ia benar-benar tidur atau sedang berpura-pura tidur demi menolak ajakan bicara penumpang lainnya.

Di hadapanku tepat seorang laki-laki juga. Ia tampak lebih tua beberapa tahun dariku. Matanya juga terpejam, tapi, tanpa penyumpal di telinganya. Kepala laki-laki itu sedikit menengadah ke atas mengakibatkan mulut berbibir tebal miliknya yang diliputi kumis aduhai rimbunnya menganga cukup lebar. Melihat mulut menganga macam begitu aku jadi teringat blackhole di pelajaran fisika.

Dua anak kecil berlarian sepanjang gerbong. Sepertinya mereka kakak-beradik. Disusul seorang perempuan, yang kuduga adalah ibunya, lari kepayahan mengejar mereka yang hampir menuju pintu keluar. Seorang laki-laki di ujung gerbong menangkap anak kecil tadi. Mencegahnya menembus pintu gerbong kereta.

“Terima kasih, terima kasih,” ucap si perempuan sambil sedikit membungkuk.

Laki-laki tadi menelungkupkan tangannya, salam namaste.

“Namanya anak kecil hanya tahu rasanya bersenang-senang, Luhut. Itulah yang membuat mereka tidak pandai menyembunyikan kesedihan. Anak kecil adalah makhluk paling jujur.” Nenek bicara tanpa melihat ke arahku.

Kereta kami berhenti di beberapa stasiun. Kali ini pemberhentian cukup lama. Aku turun dari gerbong kereta untuk sekadar menghirup udara segar. Di stasiun ini pula penumpang di gerbong yang sama denganku semuanya turun. Hanya tersisa aku dan Nenek.

Aku segera kembali ke dalam gerbong. Kereta sudah penuh oleh penumpang baru. Termasuk kursi yang kududuki di samping Nenek. Seorang wanita muda duduk di sana sambil bertukar tawa dengan Nenek.

“Maaf, ini kursi saya.” Aku mencoba memberi paham kepadanya. Mata kami saling bertatap.

“Ah iya, saya hanya mampir sebentar. Sudah lama sekali saya tidak bertemu Nenek. Kau tahu, nenekmu adalah penyelamatku.” Ia tidak melanjutkan kata-katanya dan segera meninggalkan kursi milikku.

Tidak lama setelah wanita muda tadi pergi, beberapa penumpang di gerbong mulai menghampiri Nenek. Aku menoleh kepada Nenek hendak bertanya ada apa. Tapi sebelum mulutku lepas bicara, Nenek sudah tersenyum dan mengatakan, mereka adalah kawan lama.

Dahsyat. Banyak sekali penumpang di gerbong ini yang mengenal Nenek. Seorang perempuan paruh baya mengaku pernah ditolong Nenek, ketika ia lupa tidak membawa uang saat hendak membayar di sebuah warung. Bocah berusia enam tahunan turut pula mendekati Nenek. Ia berterima kasih karena Nenek pernah membantunya menyeberang jalan.

Laki-laki empat puluh tahunan yang mengaku anggota dewan mengulurkan tangan mengajak Nenek bersalaman. Diciumnya tangan Nenek yang penuh urat kehidupan itu. Anggota dewan menatapku.

“Kalau bukan karena nenekmu, aku sudah dibui sebab korupsi.” Nenek tersenyum dan bertanya bagaimana kabarnya sekarang.

“Lebih baik dari yang terbaik, Nek.” Kemudian anggota dewan itu kembali ke kursinya.

Berita bahwa Nenek mulai naik kereta lagi terdengar hingga ujung kereta. Pengendali lokomotif menitipkan kendali laju kereta kepada asistennya demi bertemu Nenek.

“Terima kasih karena telah menahan anak saya menyeberang rel ketika ia hendak menghampiri saya. Jika Nenek tidak ada di sana waktu itu, anak saya sudah dihantam kereta yang melintas setengah meter dari posisinya.” Lagi-lagi Nenek hanya tersenyum.

“Putramu sehat?”

“Lebih sehat dari siapa pun, Nek.” Masinis itu pergi untuk menjalankan tugasnya kembali.

Beraneka macam orang datang menghampiri Nenek. Selain mereka yang aku sebutkan tadi, ada seorang laki-laki yang rambutnya putih semua. Tapi ia belum bisa disebut tua karena wajahnya yang kencang dengan alis tebal bak artis India. Ia datang membawa sebuket bunga. Katanya bunga itu untuk Kakek.

****

Setelah mengetahui Nenek kembali naik kereta, para penumpang yang mengenal Nenek bersepakat bahwa mereka kini hanya punya satu tujuan, tidak lain adalah mengantar Nenek menjenguk Kakek. Tiada tujuan lain selain ke sana. Keperluan apa saja bisa ditunda. Tapi menemani Nenek bertemu Kakek adalah kewajiban di atas kewajiban.

Aku memang belum pernah ikut Nenek menjenguk Kakek. Tapi Nenek bilang Kakek ada di sebuah bukit. Bukit Surga namanya. Untuk menuju ke sana, biasanya dari stasiun, Nenek akan diantar oleh kenalan Nenek dengan sepeda motor roda tiga. Kendaraan yang kalau di Jakarta disebut bemo.

“Kalo naik ke Bukit Surga jalan kaki, lutut Nenek bisa-bisa amblas, Luhut.” Nenek menepuk-nepuk lutut kanannya.

Kami tiba di stasiun tujuan. Benar saja, para penumpang yang mengenal Nenek di gerbong kami turun semua. Gerbong menjadi setengah kosong. Masinis pun minta diganti. Ia ingin menemani Nenek melepas rindu dengan Kakek. Jadilah kami satu gerbong kereta menjadi satu bus. Nenek bersamaku di kursi depan. Masinis kini menjadi sopir.

Waktu menunjukkan pukul empat sore. Di bukit, kalau tepat waktu kita akan disambut senja, kata Nenek. Tidak seperti di dalam gerbong kereta, para penumpang tadi menggelar sunyi di dalam bus. Jika ada salah satu saja yang kentut di sini, pastilah heboh tidak kepalang, batinku.

Akhirnya kami tiba di sebuah bukit. Tidak ada manusia lain selain kami. Betul kata Nenek, di bukit ini kita akan disambut senja. Sinar hangatnya memeluk kami erat sekali.

Nenek tidak pernah cerita kenapa Kakek bisa berada di bukit ini. Aku juga tidak pernah bertanya, khawatir membangunkan memori masa lalunya. Seperti dapat membaca pikiranku, Nenek memandangku dan berucap lirih.

“Kakekmu menolak untuk korupsi dan mengancam akan melaporkannya. Namun, belum sempat ia melapor, nyawanya sudah dihabisi di bukit ini.”

Senja mulai memudar. Bulir air mataku menetes entah sudah yang keberapa. Bukit yang menjulang ini juga turut merasakan kesedihan Nenek. Meski tidak ada air mata yang keluar, hati Nenek pasti sedang menangis tak keruan. Kebanggaan terhadap Kakek tiba-tiba merayapi tubuhku.

“Luhut, kamu lihat Kakek di sana? Ia melambaikan tangan ke arah kita.” Nenek menunjuk sesuatu di tepi bukit.

“Iya, Nek, gagah seperti Luhut ya.” Aku berbohong kepada Nenek atas penglihatanku.

“Nah, sekarang malah Kakekmu memanggil Nenek. Kamu dengar itu?” Nenek perlahan menjauh dari jangkauanku dan berjalan menuju tepian bukit.

“Nenek tunggu!” Tanganku mencoba meraihnya. Namun celaka, tubuhku tak bisa bergerak. Para penumpang itu. Sial, mereka berusaha menahanku. Anggota dewan mengunci bagian tubuhku sebelah kiri, masinis itu menahan tubuhku sebelah kanan.

Aku bergerak di tempat. Nenek semakin dekat dengan tepian bukit. Tangan kanan Nenek memegang bunga yang ia dapat di kereta tadi. Ada jurang yang menantinya di sana. Nenek harus berhenti melangkah.

“Neneeekk!” Suaraku memecah hening. Para penumpang itu sungguh kini terasa asing. Mereka melambaikan tangan ke arah Nenek dengan senyum tersungging.

Cilacap, 5 Juli 2021

Latest posts by Wildan Kurniawan (see all)

Comments

  1. Nadya Tifa Reply

    akhir yang membingungkan, apakah orang-orang yang ditolong nenek itu jahat atau bagaimana? membuat banyak pertanyaan.

    • M Z Reply

      Mungkin karena menimbulkan pertanyaan jadi bagus. Ending cerita jadi terasa surealis, entah si Nenek meninggal turun dari jurang, atau hanya simbol, analogi, atau metafora yang selalu berusaha ditebak.

  2. Dee Azzah Reply

    Bagus banget,,
    Endingnya membuat saya sedikit sakit hati

    Poor my heart

  3. Naufal Reply

    Lah

  4. Luthfi Reply

    Nenek itu siapa???!!

  5. M Z Reply

    Jadi pengen ketemu Nenek.

  6. Reyn Riena Reply

    Ayo kita bikin teori

    • M Z Reply

      Teori Nenek bahagia?
      Kurasa Nenek sudah bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.