Nh. Dini Menghadapi Takdir

in Esai by

Bila saya berjalan ke ujung gang, seratus langkah dari rumah, berhenti dan menghadap ke barat, tampak rumah kosong yang dulu pernah ditempati Nh. Dini. Beliau baru saja berpisah dari Yves Coffin, hidup sebatang kara, dan  menetap di Griya Pandana Merdeka, Semarang. Di rumah itulah beliau mendirikan Pondok Baca Nh. Dini. Saat peresmian Pondok Baca dulu, tamu-tamu berdatangan, menyantap mie kopyok, gudeg, atau soto ayam kesukaan mereka di pelataran rumah itu.

Hanya setahun Nh. Dini menempati rumah di ujung gang Griya Pandana Merdeka, dan segera meninggalkannya. Rumah itu kosong sampai hari ini. Beliau memilih tinggal di Bukit Permata Puri, sempat tinggal di Graha Wredha Mulyo, Sendowo, Yogyakarta, kemudian menempati Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik, Semarang. Saya pernah diajak Pak Yudiono KS, dosen Undip, menengok Nh. Dini di rumahnya yang mungil dan asri. Beliau sedang menyiram bunga-bunga kesayangannya, dan mengajak bercakap-cakap bunga-bunga itu. Ketika pulang, kami beruntung memperoleh beberapa pot bunga dari beliau.

Pertemuan saya dengan Nh. Dini yang paling serius berlangsung 5 Maret 2007 di Undip, ketika membicarakan La Grande Borne (Gramedia Pustaka Utama, 2007). Beliau berkenan dengan analisis saya dalam diskusi itu, dan keesokan harinya berkirim kabar, “Maturnuwun, Mas Pras. Analisis penjenengan cespleng” (Terimakasih, Mas Pras. Analisismu tepat benar). Apa yang saya bicarakan dalam forum diskusi itu saya tulis sebagai esai pendek “Kenangan Dini, Pencerahan Spiritualisme” (Kompas, 25 Maret 2007).

                                                                       ***

Sejak awal mula penciptaan cerpen-cerpennya, Dua Dunia, Nh. Dini mengangkat tokoh-tokoh perempuan. Akan tetapi, bukan berarti ia seorang feminis. Dalam pandangan Ajib Rosidi, pada cerpen-cerpen Nh. Dini tak ada protes-protes yang berpusat pada soal-soal kewanitaan, yang dirinya merasa terjepit dalam dunia laki-laki. Kalaupun ada itu adalah suara seorang wanita yang tahu harga diri. Ia juga mempunyai perhatian pada kepincangan sosial. Perhatiannya kepada masalah kepincangan sosial menunjukkan bahwa Nh. Dini bukan seseorang yang terlalu sibuk dengan kewanitaan dalam arti kekenesan belaka. Dunianya tak hanya dunia yang sempit dalam kamar, namun dunia yang luas terbuka di hadapannya. Ia memiliki pengamatan sosial yang boleh dikata tajam.

Setelah menikah dengan diplomat Prancis, Yves Coffin, ia mengikuti tugas suami ke Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Ia produktif  mencipta novel dengan tokoh perempuan dengan berbagai latar peradaban. Novelnya yang paling ternama Pada Sebuah Kapal. Dalam novel ini ia mempertanyakan takdir kematian. Terjadi perbenturan nalar dan spiritualisme. Peristiwa   kematian Saputro, calon suami Sri, dihadapi dengan keteguhan hati. Tokoh Sri tidak ingin berlemah hati seperti perempuan-perempuan lainnya. Akan tetapi, tokoh Sri kehilangan selera terhadap pekerjaan, mengajukan cuti, mengurung diri, menyendiri, dan jarang menemui orang-orang yang datang padanya. Kematian masih dihadapi secara paradoks: ingin dijalani dengan tabah, tetapi belum sepenuhnya sanggup menerima takdir itu.

Setelah bercerai dengan Yves Coffin, di hari tuanya, Nh. Dini masih produktif  mencipta karya sastra. Ia cenderung mencipta seri kenangan, penggalan otobiografi, yang ditulis berdasarkan catatan-catatannya yang rinci, dengan jujur, dengan kemurnian nurani, tanpa imajinasi. La Grande Borne, misalnya, bukanlah sebuah novel, melainkan sebuah kisah kenangan, yang ditulisnya dengan kekuatan style sebagai seorang penulis novel.

Karena yang ditulisnya merupakan penggalan otobiografi, Nh. Dini tak bisa menghindarkan diri dari kenangan-kenangan getir, yang memendam duka. Di halaman muka La Grande Borne, ia mengutip puisi “Sungai Musi” W.S. Rendra, “Makin banyak kami minum sepi kami pun makin ngerti/Maka sambil melayangkan pandangan yang jauh/ hanyalah segala rasa yang gelisah/ Burung-burung menempuh angin yang lembut serta lemah/ Aku menempuh duka yang kian lembut kian lemah”.

Nh. Dini mempertahankan harkat dan martabat sebagai seorang wanita Jawa di tengah badai rumah tangga. Ia melakukan keutamaan sikap sebagai wanita Timur, dan bukan dengan perlawanan ideologi feminisme. Dalam forum diskusi di Undip malam itu, 5 Maret 2007,  Nh. Dini dengan sangat jelas menolak anggapan bahwa ia seorang feminis, sebagaimana para novelis perempuan Indonesia mutakhir pasca-Ayu Utami.

Dalam La Grande Borne, ia hanya ingin jujur dengan dirinya sendiri, bahkan cenderung menyingkap hal-hal yang transenden, “Lalu muncul bisikan wahyu yang berupa kesimpulan dari pengalamanku di waktu itu. Tuhan menghendaki agar aku mengenyam aneka ragam kehidupan, tidak selalu sama, mendatar tanpa variasi. Jadi aku wajib mengikuti jalan yang digariskan untukku ini dengan kerelaan serta kepasrahan tanpa batas. Untuk meneruskan melangkah, pelita masih ada di dalam hatiku, walaupun nyalanya hanya merupakan kedipan lemah” (halaman 25-26).

Menolak sebagai seorang fatalis, Nh. Dini menuliskan seri kenangan hidupnya sebagai manusia yang dirahmati ruh dan akal. Yang Maha Kuasa, sebagai dalang, paling mengetahui jalan hidup yang sudah dan akan dijalani Nh. Dini. Cerita yang diperankannya diyakini pastilah yang terbaik bagi kehidupannya. Tentang kematian, ia mengalir sebagaimana kepasrahan terhadap takdir. Dalam La Grande Borne, ia menulis, “Betapapun ketatnya dilindungi atau dikerubuti (diselubungi kain), kalau memang sudah nasib atau tiba pada garis pepesthen (takdir),  manusia tidak dapat berbuat sesuatu pun untuk mencegahnya.” Nh. Dini mengutip senandung dalang wayang kulit: ana tangis layung-layung, digedhangana, dikuncenana, manungsa mesti mati (ada tangis memilukan, betapapun terlindung, betapapun terkunci, manusia mesti mati). Ia sangat yakin bila manusia tak dapat menghindarkan diri dari takdir.

                                                          ***

Bila saya berjalan ke ujung gang, seratus langkah dari rumah, berhenti dan menghadap ke barat, tampak rumah kosong yang pernah ditempati Nh. Dini. Hanya saja, kini perasaan saya ikut kosong, seperti menatap sangkar tanpa burung di dalamnya. Saya selalu menghidupkan kenangan saat Nh. Dini mendirikan pondok baca, membayangkan berdatangan pembaca mengunjungi rumahnya yang terpencil di sudut gang perumahan. Akan tetapi, rumah itu ditingalkannya, kini benar-benar kosong, tanpa pengharapan.

Tak akan saya temukan lagi seri kenangan yang ditulis dengan kekuatan spiritualisme wanita Timur yang kembali ke tanah leluhurnya: tak pasrah, tak memberontak. Dalam diksi, dalam style, ia tetaplah wanita Timur, yang tak menikam dominasi patriarki sebagaimana novelis-feminis Nawal el-Saadawi. Tak akan lahir lagi seri kenangan yang dijalinnya berdasarkan fakta, tanpa beban teori-teori feminisme. Ia yang mengembuskan spiritualisme Timur dalam kisah-kisahnya, dengan kesadaran transenden, kini telah menyempurnakan takdirnya di hadapan Sang Ilahi. Ia yang senantiasa lembut terhadap para sastrawan muda yang menemuinya, meninggalkan wasiat tentang kesetiaan, kecintaan, dan keberanian untuk menghadapi hidup sebagai penulis sampai akhir hayat.

S. Prasetyo Utomo

Dosen Universitas PGRI Semarang, doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Latest posts by S. Prasetyo Utomo (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.