Nietzsche, Marjane, dan Mas Pur Menyapa Para Bucin

Lukisan: Karen Tarlton

 

“Kita memiliki dunia yang berbeda, hampir satu tahun kita bersama namun selama itu pula dalam setiap harinya saya merasa hidup dengan harapan untuk bersama yang kian memudar. Saya kurang mendapatkan kebahagiaan dalam hubungan ini. Perpisahan yang mungkin saja pahit namun itulah jalan terbaik untuk saat ini. Demi kita berdua.”

 

Welcome to the new world, My friend, dunia perayaan kesedihan dan kesunyian. Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari mulutku setelah mendengarkan kawan karib menceritakan segala perkara perpisahannya dengan sang kekasih. Seorang kawan tengah merasakan patah hati yang ganas namun tak tahu kenapa, saya juga merasa turut andil dalam merasakan kesedihannya, mungkin inilah yang dinamakan seorang kawan sejati, yah mungkin saja. Atau mungkin saya merasakan demikian karena merasa senasib dan sepenanggungan dengannya tapi yah sudahlah.

Mungkin benar apa yang diutarakan Marjane Sastrapi dalam film “Persepolis” bahwa lebih baik sendiri daripada menjalani hubungan dengan orang yang mengganggu. Saya tahu betul, Kawan, bagaimana kekasih tercintamu itu yang memutuskan untuk pergi. Selama kalian bersama, saya pun sebenarnya merasakan sedih kehilangan sosok kawan yang tengah dimabuk asmara. Kau pernah tidak punya waktu untuk saya, begitu kan, Kawan? Saya masih ingat dulu kita selalu menghabiskan waktu bersama, merasakan kelaparan bersama di rumah kontrakan hingga berpikir bersama untuk menumpang di piring kawan-kawan yang lain, masalah kampus hadir dan kita menyelesaikannya secara bersama. Ternyata dulu, kita pernah seromantis itu yah. Namun, semenjak kehadiran sosok lawan jenis di kehidupanmu, tak ada lagi cerita yang sering kita ukir bersama, kau seolah jauh setiap harinya. Hanya beberapa jam biasanya kau habiskan tinggal di rumah kontrakan, itu pun sekadar untuk mengganti pakaianmu dan setelah itu kau bergegas dengan menunggangi Merpati Birumu (nama untuk motormu kala itu).

Setelah kepergianmu yang entah ke mana, saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan kumpulan “benda mati” itu (saya menamai mereka, yang berjejer di rak dengan “benda mati” namun bukan berarti mereka tidak berguna bagi saya yang tengah merasakan kehilangan, malahan mereka membuatku jatuh hati sampai sekarang hingga akhirnya saya secara pelan bergerak tak terlalu merisaukanmu lagi, Kawan). Dan betul, ternyata kita pernah saling melupakan di masa lalu. Kau jahat dan saya pun begitu. Dasar kita ternyata para pelaku kejahatan di masa lalu!

Sekarang kau kembali menetap di rumah kontrakan setelah kekasihmu itu memilih pergi. Berbulan-bulan kau meratapi kesedihan yang akut, kau begitu bahagia merayakan kesedihanmu itu. Dan asal kau tahu, saya pun pernah mengalami hal seperti itu saat kau masih bersama dengan pujaan hatimu hingga saya memutuskan untuk bersedih pula dengan beberapa koleksi di rak dan sesekali menonton film hasil download-an. Memang betul apa yang dikatakan Nenek Marjane Sastrapi dan kita berdua merasakannya. Kau pernah terlalu mencintai dan berharap pada pujaan hatimu sehingga kau “buta” dengan kondisi dan seolah diperbudak oleh perasaan cinta. Dan perkara itu merupakan “gangguan” dalam kehidupan. Kehadiran sosok yang dicintai seharusnya menjadikan kita lebih mencintai kehidupan bukan menjadikan kita buta akan segalanya.

Tak bisa dipungkiri, mencintai seseorang merupakan hal yang wajar saja. Leo Tolstoy dalam Anna Karenina pernah berujar bahwa jatuh cinta adalah bentuk komunisme mungil dan upaya melawan kapitalisme, setidaknya ego kapitalis masing-masing. Di balik kehancuran hatimu itu, tentu masih ada harapan yang menopangnya. Harapanmu untuk dia yang pergi meninggalkanmu dengan ketidaknyamanannya. Nietzsche, sosok yang dikenal dengan “sang Pembunuh Tuhan” mengklarifikasi bahwa hal yang paling berbahaya dan mampu membawa derita yang berkepanjangan terhadap manusia adalah harapan. Bagaimanakah harapan itu sebenarnya? Dalam sebuah cerita yang terangkum dalam mitologi Yunani yang diperankan oleh Zeus dan Pandora, konon terdapat sebuah kotak yang dipercayai menyimpan segala bentuk kejahatan. Suatu hari, Pandora menemukan kotak itu dan membukanya. Spontan, kejahatan yang selama ini terkurung dalam kotak tersebut bebas terbang dalam kehidupan manusia dan di antara banyaknya kejahatan di dalam kotak itu, ada satu kejahatan yang tergolong sangat lemah dan tidak bisa keluar dari kotak. Kejahatan itu bernama Elpis, sebuah kejahatan yang sangat lemah di antara kejahatan lainnya. Namun, banyak orang kala itu memburu kotak kejahatan itu dan menganggapnya sebagai kotak keberuntungan sehingga Pandora memutuskan untuk kembali membuka kotak tersebut, dengan penuh perjuangan akhirnya satu kejahatan yang masih tersimpan dalam kotak, Elpis keluar dan terbang ke dalam jiwa manusia. Elpis inilah yang kita kenal dengan “harapan”.

Harapan adalah sebuah kejahatan dan membawa penderitaan pada manusia. Harapan inilah yang selalu menjadi latar perayaan masa-masa patah hati karena ia selalu terbayang hingga terus mengakumulasi perasaan mendung dalam diri dan manusia yang merasakannya akan sangat merasa terpukul. Yang memutuskan pergi dalam sebuah hubungan adalah ia yang berhasil melawan sebuah harapan dan yang tak ikhlas menerima kepergian adalah ia yang merasakan kejahatan dari sebuah harapan. Tak ada salahnya bagi yang meninggalkan begitu pula yang ditinggalkan, apalagi “waktu yang salah” yang justru keliru adalah mencintai tanpa sebuah alasan. Setidaknya landasan ideologis pun kita perlukan dalam mencintai seseorang. Mencintai hanya bermodalkan perasaan mendalam dan ditambah lagi jika sang pujaan bertanya perihal apa alasanmu mencintaiku? Dan tentu kita tidak bisa menjawabnya secara rasional dengan beberapa pertimbangan, salah duanya adalah kita tidak ingin dikatakan mencintai karena sesuatu. Lantas mencintai karena apa? Mencintai karena kata yang sering diucapkan kebanyakan “pokoknya saya cinta dan solusinya adalah khilafah”?

Cinta tanpa alasan dikategorikan tindakan impoten dan secara otomatis dalam cinta yang tanpa alasan mengandung harapan yang bias. Sebuah harapan seharusnya memiliki muatan ide/gagasan sehingga berorientasi dengan kejelasan. Pertautan hubungan antara perempuan dan laki-laki harus memiliki visi dan misi yang sama sehingga lahirlah sebuah asa atau harapan atas sebuah cita-cita. Yang jelasnya bukan hanya menjalani sebuah hubungan dengan harapan hidup bahagia berdua dan saling menyayangi, menikah dan mempunyai anak, hidup sampai kakek-nenek dan maut yang memisahkan hingga lupa semua itu berjalan dalam skenario dunia. Apa kontribusi kita terhadap dunia sebagai bentuk terima kasih? Memiliki dunia dengan anggapan “dunia milik kita berdua”? Bangunlah, Duo Ferguso! Wajar saja harapan itu adalah kejahatan, kita jarang bersedekah sosial pada dunia hanya bersedekah dengan uang dan itu pun kita menuntut pahala dengan harapan selamat di dunia tapi bukan untuk dunia yang kita tempati sekarang ini.

Harapan adalah kejahatan, begitulah Nietzsche menyebutnya. Berkat sebuah harapan, manusia kerap kali berlaku jahat baik pada dirinya sendiri maupun yang lain. Dalam dunia hubungan asrama asmara misalnya, dua sejoli hidup bersama dengan sebuah harapan. Yah yang jelasnya harapan, entah harapan untuk hidup berdampingan tapi yang terpenting bukan hidup saling tindih-menindih yang bergantian pada posisi atas dan bawah apalagi kalau bergantian untuk membelakangi meskipun terkesan saling memberikan kenyamanan tapi metodenya kurang tepat karena di antara keduanya pasti akan ada yang merasa “capek”, yah jelas capek sudah ditindih tentu tidak memiliki kekuatan lagi untuk menindih. Seharusnya, hubungan berjalan beriringan tanpa saling mendominasi sehingga sebuah hubungan menciptakan nuansa yang dialogis, ada pertarungan ideologi dari keduanya. Keduanya yang terlibat dalam adu gagasan akan tampil lebih dewasa dan tentunya harapan hubungan dari keduanya menjadi lebih hidup bukan hanya dunia dimiliki oleh mereka berdua melainkan mereka berdua hidup bersama dengan dunia. Sekiranya begitulah mekanisme percintaan yang ideal, dua insan yang memutuskan menjahit hubungan dengan sebuah asa untuk mencintai kehidupan. Meskipun dinamika dalam sebuah hubungan merupakan ihwal yang niscaya, misalnya hubungan kandas (putus) tapi setidaknya alasan untuk putus bukan karena merasa tidak nyaman lagi atau salah satunya terlibat permainan serong-menyerong melainkan karena pergulatan ideologi tentang sebuah pemikiran misalnya. Meskipun hubungannya kandas, tapi kandasnya elegan dan bernilai dan tidak menutup kemungkinan, keduanya akan rujuk kembali dengan alasan ideologis pula.

Kisah lain dari “harapan adalah kejahatan”, ini mengingatkan kita pada kisah Purnomo, salah satu pemeran dalam sitkom “Tukang Ojek Pengkolan” yang pernah marak diperbincangkan di permukaan hingga dijadikan semacam candaan. Purnomo memang lucu baik dari segi perawakannya maupun kisah cintanya. Dan yang lucunya juga, banyak yang menjadikan kisah cinta Purnomo sebagai bahan candaan dalam obrolannya dan itu sebenarnya hanya semacam penekanan atau paradoksal bahwa orang yang sedang menjadikan kisah Purnomo sebagai bahan candaan merupakan orang yang telah atau sedang merasakan kisah yang sama atau bahkan lebih parah daripada kisah Purnomo. Parahnya di mana? Purnomo merasakan itu hanya di dalam dunia sitkom sementara orang yang sedang memperbincangkan kisah Purnomo merasakannya dalam dunia nyata. Atau mungkin saja cerita Purnomo, yang ditinggalkan oleh kekasihnya yang lebih memilih menikah dengan orang lain sementara Purnomo menyadarkan harapan besar pada si perempuan itu, sengaja dinarasikan dan ditampilkan di layar kaca hanya untuk mengejek orang-orang yang sedang atau telah mengalami hal demikian.

Melalui tagar yang pernah beredar #KamiBersamaMasPur telah sedikit melegitimasi bahwa banyak orang dalam dunia nyata pernah berada dalam posisi Purnomo yakni mencintai dan menaruh harapan besar terhadap pasangannya namun nahasnya, pasangannya lebih memilih pergi. Fenomena inilah yang sering dibahasakan dalam dunia kekinian sebagai fenomena ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya dan bahkan banyak di antara mereka yang pernah merasakannya memutuskan untuk mendirikan sebuah komunitas bayangan, seperti Kopi Panas (Komunitas Pria Ditinggal pas sementara lagi sayang-sayangnya) dan komunitas-komunitas lainnya yang mungkin saja malu menampakkan diri tapi tenang saja bagi yang belum punya komunitas, Kopi Panas selalu menggelar open recruitment di saat korban harapan berjatuhan, silakan bergabung dan jangan malu-malu karena Kopi Panas menjunjung tinggi rasa senasib dan sepenanggungan!

Di sisi lain, Mas Purnomo dalam sitkom menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang manusia yang sebenarnya yang tidak pernah hilang di tengah pudarnya harapannya pada sosok perempuan yang ia cintai. Betapa tidak, meskipun ia merasakan sakit yang luar biasa atas hancurnya sebuah hubungan yang sangat ia harapkan tapi peristiwa itu tidak ia jadikan sebagai hal yang tabu untuk kembali membangun asa terhadap sebuah hubungan. Pasca ditinggalkannya oleh sang pujaan, ia memutuskan untuk memberikan waktunya secara penuh untuk dirinya sendiri hingga kemudian kembali merasakan sebuah hubungan dengan perempuan yang berbeda dan tentunya pula dengan harapan yang memiliki corak berbeda dari sebelumnya. Masa kebangkitan Mas Pur pasca kejatuhannya ternyata memberi warna tersendiri bagi masa kehidupannya dengan perempuan baru. Mereka berdua lebih memilih jalan cinta seperti yang pernah dialami Simone De Beauvoir dan Jean Paul Sartre, Marx dan Jenny, bahkan Heidegger dan Hannah Arendt. Meskipun hanya sedikit segi dari kisah cinta para filsuf tersebut yang memiliki kesamaan dengan kehidupan Mas Pur yang sekarang. Tapi intinya, Mas Pur mampu bangkit dari keterpurukan harapan sebelumnya tanpa rasa benci terhadap kaum yang pernah menanggalkan harapan sucinya. Dan begitu pun kiranya yang harus ditempuh oleh mereka yang pernah merasakan pahitnya sebuah hubungan cinta di dunia nyata, mereka harus bangkit dengan harapan baru sebagai bentuk refleksi atas harapan di masa lalu dengan lebih ideologis tanpa harus takut membuka diri dengan sebuah dunia yang pernah menawarkan rasa pahit, begitu pula dengan dirimu, Kawan. Bukankah kita mampu merasakan manis setelah mengecap rasa pahit?

Nietzsche memang mengatakan bahwa harapan merupakan kejahatan begitu pula dengan Marjane Sastrapi yang mengatakan bahwa lebih baik sendiri daripada menjalani hubungan dengan orang yang mengganggu. Tapi dari kedua teori tersebut tidak menutup sebuah penafsiran baru. Harapan memang sebuah kejahatan yang membuat manusia kerap menderita jika harapan tersebut tidak tersusun dari serangkaian gagasan. Harapan adalah masalah sedangkan masalah adalah ketidaksesuaian antara keinginan dan kenyataan, harapan akan betul-betul ideal jika dijalankan dengan alas pemikiran yang jelas dan berusaha merasionalisasikan sebuah keinginan dengan dunia nyata serta tetap memperhatikan kinerja dunia nyata yang harus terus bergerak pada porosnya tapi jika sebaliknya maka sebuah keniscayaan pula untuk mendekonstruksi tatanan dalam dunia nyata. Harapan adalah kejahatan dan kejahatan yang lebih jahat adalah berhenti berharap. Harapan akan tetap hidup jika diiringi dengan proses pemikiran begitu pula “orang yang mengganggu” seperti dibahasakan oleh Marjane, ia akan hilang jika dalam sebuah hubungan didasari dengan pemikiran yang sehat.

Oleh karena itu, kejatuhan diri dari sebuah harapan dalam hubungan tidak seharusnya menawarkan ketakutan sehingga kita memutuskan untuk berhenti berharap dan merasakan hubungan cinta dengan seseorang karena jika hal demikian terjadi maka kita adalah pelaku kejahatan yang sebenarnya. Life must go on, kalimat terakhir yang ia utarakan sebelum bergegas mengakhiri kisah yang berjalan mendekati masa satu tahun dan betul yang ia katakan, kita harus tetap bergerak maju dan tidak memutuskan berhenti apalagi membenci menjalani hubungan cinta dengan seseorang yang baru. Terima kasih atas kalimat life must go on-mu dan kepada Nietzsche, Marjane Sastrapi, dan Mas Purnomo pula karena berkat mereka, kita diberi kesempatan untuk menyadari sekaligus menertawai diri masing-masing atas kisah bucin (budak cinta) yang pernah kita lakoni bersama.

Askar Nur

Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar. Penulis merupakan Presiden Mahasiswa DEMA UIN Alauddin Makassar Periode 2018. Instagram: askarnur1947.
Askar Nur

Latest posts by Askar Nur (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.