Omnivora dan Pil Hitam

(Rumination by xetobyte on DeviantArt)

 

Jika mengingat atau teringat pelajaran biologi tentang jenis-jenis binatang aku bisa tertawa sendiri. Aku baru merasa ngeh ketika menyadari bahwa aku dan juga manusia lain ternyata termasuk dalam kategori omnivora, pemakan segala. Ah, terkesan betapa serakahnya manusia itu. Salahkah bila memakan segala? Manusia punya akal untuk mengolah apa saja menjadi layak dimakan. Bukankah begitu?

Kuanggap dan kugunakan itu sebagai lucu-lucuan sekaligus pembelaan diri, selanjutnya tidak. Aku tak lagi berani menggunakannya sebagai bahan bercanda ataupun pembelaan diri sebagai manusia yang punya akal. Ini soal harga diri sebagai manusia. Demikian itu bermula pada suatu hari, lebih tepatnya pada suatu siang.

Aku bangun pada siang itu dengan perasaan aneh. Bagiku semua tampak terbuka dalam kesan inderawiku. Cecak yang merayap di dinding kamar bergumam mengejekku yang baru bangun saat matahari sudah terik. Lalu, dua ekor kecoa lari terbirit-birit dan berteriak ‘Harus lari! Harus lari! Bisa mampus kita kalau terinjak manusia serakah itu! Kita bisa dimakannya nanti!’ ketika aku turun dari tempat tidur. Aku tak pedulikan itu. Aku mengira itu hanya halusinasi belaka. Ternyata tidak.

Ketika aku hendak ke kamar kecil dan melewati dapur, kulihat istriku ada di sana sedang masak dengan pembantunya. Aku bangga dengan istriku itu karena meski sudah ada pembantu dia masih tetap mau memasak. Itu tak bisa kupungkiri. Namun, mendadak langkahku terhenti ketika tampak olehku apa yang dipikirkan mereka. Kupandang istriku yang sedang mengiris bawang merah sedang berandai-andai memotong kelaminku karena kesal setiap hari aku minta jatah bercinta. Pikirannya itu membuatku hampir saja marah. Tapi aku segera menginsafi diri, aku memang keterlaluan minta jatah hampir setiap hari. Sesaat kemudian dia membayangkan bercinta dengan artis ganteng idolanya. Ini membuatku sungguh kesal. Ingin rasanya memarahinya, tapi sudahlah, daripada kelaminku dipotong sungguhan saat aku tidur, misalnya.

Lantas, kupandang pembantunya yang sedang mengulek bumbu. Terbaca dengan jelas apa yang dia pikirkan tentangku. Yang dia pikirkan sungguh membuatku geli dan tergoda. Dia membayangkan bisa bercinta denganku setiap hari dan menjadi nyonya di rumah ini. Ah, sialan. Ternyata mereka sama saja.

Kuabaikan pikiran itu dan bergegas ke kamar kecil. Aku duduk nongkrong di sana beberapa lama sambil merenungkan yang terjadi padaku. Aku memang sudah sejak dulu ingin menguasai kemampuan membaca pikiran orang lain. Bertahun-tahun aku belajar itu pada banyak orang yang katanya sakti, namun nihil. Baru kemarin lusa, aku berjumpa dengan seorang tua yang tiba-tiba bertanya padaku apakah aku ingin bisa membaca pikiran orang lain. Dengan agak heran dan terkejut kuiyakan saja pertanyaannya.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Seharusnya Kakek sudah tahu. Sebab Kakek bisa baca pikiranku.”

“Kau khawatir dengan ketulusan anak buahmu, kan?”

Eh, benar lagi. Aku pun mengangguk. “Maukah Kakek mengajariku?”

“Kau akan menyesal.”

“Kenapa?”

“Kau tak akan bisa tenang karenanya.”

“Kenapa?”

“Sebab sesuatu yang harusnya tak kau tahu dari orang lain akan kau ketahui.”

“Bukankah itu menyenangkan sehingga aku bisa berantisipasi seandainya orang lain ingin berbuat jahat padaku?”

“Tidak. Itu tidak benar.”

“Kenapa?”

“Ah, sudahlah. Kebanyakan ‘kenapa?’ kau ini. Mungkin sebaiknya kau rasakan sendiri saja.”

“Itu artinya Kakek mau mengajariku?”

Dia mengangguk. “Tapi, jangan salahkan aku.”

“Tak akan.”

Kemudian, dia memberiku sebutir pil hitam dan memintaku menelannya. Rasanya aneh. Serupa rasa tanah, tapi agak asin.

“Ini pil terbuat dari apa sih, Kek?”

“Dari dakiku,” jawabnya seraya terbahak-bahak.

Aku terkejut. Seketika perutku terasa mual mengetahui ternyata yang kutelan adalah daki. Ingin kumuntahkan, tapi sama sekali tak ada yang mau keluar. Kakek itu bergegas pergi dengan masih terbahak setelah mengatakan bahwa aku akan segera bisa mendapat yang kuinginkan. Dan, siang ini ucapannya terbukti. Aku senang, namun juga khawatir jika yang diucapkannya ternyata benar bahwa aku akan menyesal dan diriku tak akan tenang lagi. Ah, tidak mungkin. Buktinya kakek itu masih tampak tenang dan bisa tertawa-tawa senang.

Aku keluar kamar kecil. Saat melewati istriku dan pembantuku aku kembali menangkap yang mereka pikirkan. Istriku sedang merencanakan akan meminta dibelikan perhiasan dan bertemu dengan daun muda. Aku menarik napas dalam untuk menahan diri. Sedangkan pembantuku kembali mengkhayalkan bercinta denganku setelah melihatku melintas di sampingnya. Senyumnya menggoda. Dia memang masih muda, seumuran istriku dan lumayan cantik walau agak semrawut penampilannya. Kukibaskan tanganku di depan wajah mengusir bayangan pikiran mereka.

Di beranda, kulihat anak lelakiku sedang bermain ponsel. Terbaca olehku apa yang dia pikirkan. Dia sedang membayangkan bercinta dengan pacarnya dan mencari alasan yang tak benar untuk meminta uang padaku atau ibunya. Ini keterlaluan. Ingin rasanya aku memarahinya. Tapi, rasanya akan aneh dan orang lain akan menganggapku tak waras. Sebab, tak akan ada yang percaya bahwa aku mengetahui yang mereka pikirkan. Tak bisa dibuktikan. Aku memang tahu dan mengatakan apa adanya, tapi itu masih dalam pikiran mereka. Bisa saja mereka berkata yang tak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Aku menasihatinya sebentar dan dia mengiyakan meski kulihat rencananya masih seperti tadi.

Aku menjadi gelisah dan bergegas kembali ke kamar, tiduran, dan berusaha menenangkan diri. Tak bisa. Hatiku terus saja gelisah. Akalku terus saja mendera dengan gambaran kekhawatiran-kekhawatiran.

Lalu, aku bermain ponsel mencoba melupakan semua itu. Kubuka akun facebook, muncul pada lini massa akun seseorang yang dianggap baik dan suci. Dia menulis sesuatu yang menunjukkan nasihat ketaatan, namun aku melihat dia sedang berbohong sebab dirinya hanya ingin semakin dipuji banyak orang. Seorang elite politik menulis tentang rencana-rencana dan pandangannya mengatasi keruwetan negeri ini, tapi yang kulihat dia sedang berusaha menjaring massa untuk mendukungnya duduk dipucuk pimpinan sehingga bisa menjalankan rencana-rencana mengambil kekayaan negeri tanpa peduli pada rakyat jelata. Seseorang menulis tentang kebaikan, namun sebenarnya sedang memikirkan kejahatan. Seseorang yang menulis kisah lucu walau hatinya sedang tersayat. Orang menulis perihal kejujuran, namun merencanakan kebohongan. Orang menulis sesuatu seolah ingin menyudahi atau mencegah pertikaian, namun sebenarnya sedang memancing perbantahan yang semakin memecah belah. Ah, hampir semua berkamuflase belaka.

Seketika aku menjadi khawatir ucapan kakek tua itu benar adanya. Kurasakan ketakutan. Takut berhubungan dengan siapa pun, walau sekadar melalui akun dunia maya. Aku menjadi takut melakukan apa saja. Apa saja.

Segera kumatikan ponsel. Kukunci pintu dan kembali melemparkan tubuh ke tempat tidur. Kupejam mata dan kututupi wajahku dengan selimut. Masih saja tampak dalam anganku semua kebusukan sebagian besar mereka. Mereka yang bertanggung jawab memberikan bantuan ternyata mengambilnya sendiri. Mereka yang bertanggung jawab memperbaiki jalanan ternyata merusaknya. Mereka yang bertugas sebagai penegak hukum justru mengoyaknya. Mereka yang berjuang ingin mendidik calon generasi muda dengan nasionalisme dan kebangsaaan justru mencekokinya dengan peta-peta doktrin menuju kebencian dan kebangsatan.

Aku pusing memikirkan itu. Perutku menjadi mual tak tertahankan. Aku ingin keluar dan ke kamar kecil, tapi sungguh tak tahan. Kumuntahkan saja isi perutku pada lantai kamar. Terkesima aku dengan apa yang keluar: pasir, semen, batu, kayu, tanah, aspal, minyak, batubara, ikan, daging sapi, gas cair, pupuk, obat-obatan, jarum suntik, dan entah apa lagi aku tak tahu.

Aku tak tahu dan tak mau tahu. Yang kutahu, aku terus saja muntah dan melihat pil hitam yang kutelan dari Kakek tempo hari ikut keluar. Masih utuh. Ia menggelinding menabrak dinding, berpusing sebentar untuk kemudian diam. Rasanya aku tak mau makan apa pun kecuali seperti binatang yang makan makanan yang telah ditakdirkan sesuai ketentuan semesta.

Era Ari Astanto
Latest posts by Era Ari Astanto (see all)

Comments

  1. num Reply

    opoooo iki

  2. Vira Reply

    Bagus ini. Manusia memang omnivora. Segalanya dimakan, termasuk yg seharusnya tak dimakan.

  3. Muthiapp Reply

    Bagus dah. Aku nyimak atas smpe bawah:))

  4. Anonymous Reply

    keren di akhirya…

  5. Fakhrun Nisa Reply

    bagus dan buat ngakak! 😀

  6. Matang Dream Reply

    Gak bosan bacanya

  7. Langit Reply

    Temenku juga ada yang omnivora. Sampe-sampe gebetan temen sendiri di makan

  8. Yulayy Reply

    isi mutahane sanggar

  9. Arkhi Reply

    Menceritakan keserakahan manusia dalam bentuk sudut pandang tersiksa. Diksi ringan, tapi maknanya terasa sekali. Super!

  10. Arlin Reply

    Ngena banget

Leave a Reply

Your email address will not be published.