Orang Kalah

Paint The Future by Andrew Judd

Pagi belum tinggi. Udara baru bersih dari serbuk embun. Ali Akbar berjalan pincang menembus jalan yang masih sepi. Mata kirinya yang cacat semenjak lahir terpicing. Sinar matahari terasa hangat menyentuh wajah dan kulit lengannya yang tidak tertutup kemeja putih berlengan pendek yang ia kenakan. Seekor tikus got sebesar kucing remaja yang kesiangan berlari gopoh menyeberang jalan, berpindah dari satu got ke got lain. Ali Akbar menyepak kaleng minuman bersoda di depannya. Ia agak menepi begitu mendengar derum mobil dari belakang. Sebuah minibus melintas dan melambat begitu melewati Ali Akbar. Kepala pengendaranya muncul dari kaca jendela yang diturunkan. Ali Akbar tersenyum dan melambai. Si pengendara menjulurkan tangannya dan balas melambai. Mereka kawan semenjak masa kecil, sama-sama merantau ke Surabaya selepas lulus SMA, namun nasib selalu berbeda atas tiap kepala. Minibus itu kembali mempercepat lajunya. Perjalanan ke kedai tak lama, bahkan sekalipun kaki Ali Akbar pincang dan itu membuat perjalananan lebih terhambat. Asap dari minibus membubung – hitam dan bergumpal-gumpal. Ali Akbar sering pusing melihat minibus tersebut. Seharusnya, pikir Ali Akbar, ia tidak menyerah seperti yang dikatakan Wili Kucing, si pengendara minibus, bertahun-tahun lampau ketika mereka baru menginjakkan kaki di Surabaya yang keras dan ganas.

“Tapi aku picak,” kata Ali Akbar waktu itu.

“Justru bagus. Orang-orang akan takut melihat tampangmu. Kau hanya perlu menumbuhkan cambang dan kumis yang lebat. Sudah, beres,” jawab Wili Kucing.

“Aku tidak sepertimu.”

“Kau hanya harus mencobanya. Percayalah. Kita kan kawan baik.”

Seminggu setelah percakapan itu, sewaktu uang sangu dari kampung sudah menipis sementara pekerjaan belum juga didapat, dengan ragu, Ali Akbar mengetuk kamar kos Wili Kucing, tepat di sebelah kamar kosnya.

“Aku mau mencoba,” katanya begitu kepala Wili Kucing yang bulat dan berminyak muncul dari celah pintu. Tatapan mata laki-laki itu tajam. Wili Kucing tersenyum seraya menyisir rambutnya yang sebahu ke belakang.

Percobaan itu jelas tidak berhasil. Malaikat kesialan sedang merentangkan sayap-sayap hitamnya ke kepala Ali Akbar dan Wili Kucing sewaktu perempuan paruh baya itu berteriak dan seorang tentara berdiri tak jauh dari mereka, lepas dari pengamatan mereka karena terlindung di balik angkot yang parkir sembarangan. Ali Akbar dan Wili Kucing berlari. Ali Akbar dengan ketakutan yang luar biasa, sementara Wili Kucing dengan tas perempuan di tangan kiri. Panik, mereka terpisah. Pada waktu itulah, malaikat kesialan mesti memilih, menjaga sayap-sayapnya tetap menaungi Ali Akbar atau mengikuti Wili Kucing. Malaikat kesialan jelas tidak menyukai kepengecutan di kota macam Surabaya. Maka ia beri kesempatan kepada Wili Kucing dan menimpakan tulah buruknya kepada Ali Akbar. Si tentara memilih mengejar Ali Akbar seraya mulutnya terus mengeluarkan teriakan copet. Ketakutan dan kecemasan, alih-alih membuat Ali Akbar kian gesit dan cepat berlari, justru membuat tenaganya berkurang. Terdorong oleh teriakan si tentara, beberapa orang di jalan berusaha menghalangi dan menangkap Ali Akbar. Susah payah Ali Akbar berkelit dan terus memaksakan kakinya berlari. Namun itu semua hanya perkara waktu. Setelah satu kilometer yang seakan sepanjang separuh bumi, Ali Akbar terjatuh dengan napas hampir putus di seruas jalan yang lumayan ramai. Di sanalah si tentara menghantarkan kepalan dan tendangannya. Lantas, orang-orang yang kebetulan lewat, begitu melihat seragam si tentara, langsung saja turut andil dalam peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh Ali Akbar. Tak terhitung berapa kali Ali Akbar mengucapkan permohonan ampun. Tak terhitung pula makian si tentara yang terus-terusan menyebutnya maling dan jambret terkutuk. Makian itu mengundang semakin banyak orang. Mereka baru berhenti menimpakan penderitaan pada Ali Akbar setelah pemuda itu jatuh pingsan dan dua orang polisi datang untuk melerai. Ali Akbar dibawa ke rumah sakit dan dokter mengatakan ia akan segera pulih, namun kaki kanannya tidak akan berfungsi normal sebagaimana sebelumnya. Tiga hari di rumah sakit, Ali Akbar dipindah ke kamar sempit penjara. Sebulan di balik jeruji, ia dibebaskan.

Setelah peristiwa tersebut, Ali Akbar memutuskan menjaga jarak dengan Wili Kucing. Berulang kali Wili Kucing menemuinya dan mengatakan bahwa waktu itu mereka sedang sial saja. “Kau harus mencoba lagi, jangan menyerah,” kata Wili Kucing.  Ali Akbar menggeleng. Ketika Wili Kucing terus mendesak, ia hanya menjawab lemah, “Kini kakiku sudah pula pincang. Dengan kaki normal saja aku tidak bisa meloloskan diri, apalagi dengan kaki seperti ini.”

Hubungan mereka nyaris beku setelah itu. Mereka tak pernah lagi bercakap-cakap meski mereka masih saling menyapa dengan senyum atau lambaian tangan setiap kali berjumpa. Untuk menebus rasa bersalah, Wili Kucing kerap menyelipkan uang ke celah bawah pintu kamar kos Ali Akbar selama Ali Akbar belum mendapatkan kerja. Ali Akbar menyadari dari mana uang yang sering ia temukan itu berasal. Ia menerimanya dan mempergunakannya bertahan hidup sebagaimana mestinya. Namun ia tetap merasa risih bila harus bercakap atau mengucapkan terima kasih kepada Wili Kucing. Ketika kemudian Ali Akbar mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah kedai makan dengan gaji mingguan dan memutuskan pindah kos yang lebih dekat ke tempat kerjanya, asupan uang dari Wili Kucing berhenti. Namun Ali Akbar juga tahu bahwa Wili Kucing juga memutuskan pindah kos, dekat dengan kosnya yang baru untuk kemudian – bertahun-tahun setelahnya – mengontrak rumah di lingkungan itu juga. Ia merasa Wili Kucing berusaha memastikan keamanannya. Dengan kondisi seperti itu, mereka masih sering berpapasan atau berjumpa. Dan seperti sebelumnya, mereka juga hanya saling menyapa.

Mungkin, pikir Ali Akbar, jika ia tidak segera menyerah seperti yang dikatakan Wili Kucing dan mengambil kesempatan kedua yang ditawarkan kawan baiknya itu, ia kini sudah bisa membeli mobil seperti Wili Kucing dan tak harus susah payah mengajukan protes kepada pemilik kedai demi kenaikan upah yang tak seberapa, meski tak menutup kemungkinan pula riwayatnya akan berakhir dengan sebuah lubang peluru di dada atau meringkuk bertahun-tahun dalam ruangan pengap penjara. Sebuah motor berknalpot blong melintas dan Ali Akbar tersentak dari lamunannya. Kedai tak jauh lagi. Plang aluminium besar bertuliskan nama kedai tersebut sudah terlihat. Ali Akbar mempercepat langkah. Dua orang pegawai berdiri di muka kedai.

“Kenapa kalian tidak masuk?” Ali Akbar menyapa.

Dua orang itu saling pandang. Madjuki, tukang masak dengan kumis melintang dan kepala botak licin, menghela napas besar sebelum menjawab. “Aku merasa tidak enak,” katanya. “Agak canggung.”

“Kenapa? Ini sudah berakhir,” jawab Ali Akbar.

“Tapi bagaimana, ya….” Rusman Hadi, pencuci piring, menggantungkan kalimatnya di udara.

“Yang lain belum datang?” Ali Akbar menengok sekeliling. Tiga palem ratu masih berdiri kokoh. Dua laras palem kering teronggok di halaman, berbagi tempat dengan rumput-rumput liar yang menyembul dari sela-sela paving. Beberapa puntung rokok juga terserak, bertetangga dengan kantong plastik hitam yang dibawa angin entah dari mana. Pintu kedai masih tertutup. Selain pemilik kedai, Rusman Hadi adalah satu-satunya orang yang memegang kunci kedai. Di samping bertugas mencuci piring, ia juga mesti menyapu dan mengelap kaca dan karena itu ia selalu menjadi orang pertama yang tiba di kedai.

“Aku tidak yakin mereka bakal datang,” Madjuki menjawab pelan. “Malu. Mereka pasti malu. Asal kau tahu, aku juga nyaris tidak berangkat tadi. Ah, seandainya ada pekerjaan di tempat lain untukku.”

“Kita kalah, bukan?” gumam Rusman Hadi.

“Ya. Kita kalah. Permintaan kita tidak dituruti bahkan sekalipun kita sudah empat belas hari mogok kerja. Dan kini kita kembali karena kita butuh kerja, kita butuh makan. Kita memang kalah. Dua minggu tanpa pemasukan benar-benar mengerikan,” jawab Ali Akbar. Sebutir keringat terbit di keningnya. Tenggorokannya terasa kering. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Saku yang bahkan lebih kerontang ketimbang tenggorokannya.

“Ia bahkan tak peduli pada bahan makanan yang mungkin saja kini sudah membusuk,” kata Madjuki.

“Ya. Kita belanja banyak sebelum mogok bukan? Daging dan sayur itu pasti sudah tidak enak dimasak. Kita berharap hal itu akan menjadi tambahan amunisi negosiasi kita. Tapi Albert itu… ah, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Ia mengambil resiko barang-barang itu rusak ketimbang menaikkan upah kita,” timpal Rusman Hadi.

“Sudahlah. Kita tak perlu membahasnya. Hanya bikin sakit hati. Yang jelas, ia menang. Dan di antara kita semua, aku yang mesti datang kepadanya mengemis-ngemis supaya kedai kembali buka dan kita bisa bekerja seperti sebelumnya hanya karena ide pemogokan itu berasal dari kepalaku. Albert sialan itu hanya tertawa dan mengatakan supaya orang-orang seperti kita ini jangan macam-macam,” Ali Akbar menerawang. “Ia bahkan tak menerimaku di ruang tamu rumahnya. Dia duduk di kursi teras dan ia tak mempersilakanku duduk. Ia benar-benar tahu cara menyiksa orang lain.”

Keheningan menggenang beberapa saat. Satu dua kendaraan mulai meramaikan jalan, mencegah keheningan itu memanjang.  “Ayo masuk. Kau masih bawa kuncinya, bukan?” kata Ali Akbar setelah menghela napas panjang dan mengembuskannya kuat-kuat seraya menoleh ke Rusman Hadi.

Rusman Hadi mengangguk. Udara yang lebih hangat menyentuh kulit mereka begitu pintu terbuka. Rusman Hadi membuka tirai. Sinar matahari menerobos melalui kaca jendela dan membuat debu-debu di lantai serta meja terlihat jelas.

“Inilah penjara bagi kita, penjara bagi orang-orang yang kalah,” Ali Akbar berteriak. Kedua kawannya menoleh. Ali Akbar tersenyum memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi. “Mau bagaimana lagi?” tambahnya.

Dalam hatinya, ia membayangkan dirinya Wili Kucing yang sudah bisa kontrak rumah dan punya minibus. Dan sebagai Wili Kucing, ia tidak akan ragu untuk mengancam Albert, si pemilik kedai. Dan ketika ancaman itu gagal, ia akan mengendap-endap di rumah Albert suatu malam, menyelinap ke dalam, dan menggasak apa saja yang bisa ia gasak.

Tapi ia memang tidak lagi punya cukup nyali.

Dadang Ari Murtono

lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Dadang Ari Murtono

Latest posts by Dadang Ari Murtono (see all)

Comments

  1. Kal Reply

    Termuat lagi di jawa pos.

    • Anonymous Reply

      Cerpen ini secara bersamaan dimuat juga di Jawa Pos? Jadi pihak redaktur kah yang mesti hati-hati atau penulis memang mengirimkan cerpen ini kedua media yang berbeda secara bersamaan?

  2. Yuni Bint Saniro Reply

    Nggak papa, Ali Akbar. Jadi orang baik mah nggak pernah mudah. Nikmati saja. Hehehe

  3. Cheryyyy Reply

    Mungkin ali akbar takdirnya menjadi orang yang susah karna kalah melawan ego diri sendiri.

  4. Mongek Reply

    Keknya pernah baca, dimana ya?

  5. Albert Reply

    Mirip cerpennya Albert Camus

  6. Albert Reply

    Albert Camus : Orang-Orang Terbungkam

Leave a Reply

Your email address will not be published.