Orang-Orang Asing

Sumber gambar: revi.us

Vina dan Gerald, dua ponakan saya, akan pindah kota. Ayah mereka yang memutuskan itu bersama istrinya, dengan begitu banyak pertimbangan, di antaranya masa depan dan karier. Labuan Bajo akan jadi tempat tinggal mereka yang baru.

Dari Ruteng ke Labuan Bajo waktu tempuhnya hanya sekitar tiga jam perjalanan darat. Tidak jauh. Misalkan merasa sangat ingin bertemu Vina dan Gerald, dalam sehari saya bisa melakukannya. Berangkat pagi dari Ruteng, tiba di Labuan Bajo menjelang makan siang, menikmati waktu makan siang bersama mereka, lalu kembali ke Ruteng pada sore hari. Semua baik-baik saja.

Tetapi masalahnya ternyata tidak sesederhana itu.

Ketika tinggal sekota saja, saya jarang bertemu mereka. Sekali sebulan jika sempat. Seperti umumnya manusia-manusia modern, yang menganggap “sibuk” sebagai kata yang tepat dan mampu menyelesaikan pertanyaan “kenapa tidak pernah mampir?” dengan segera, saya menggunakannya (juga) sebagai alasan setiap kali dihampiri pertanyaan: “mengapa sebagai Bapatua saya tak pernah berkunjung?”

Sehari sebelum Vina dan Gerald pindah, kami makan malam bersama. Tidak ada yang istimewa. Rana dan Lino saya ajak serta. Sebagaimana biasanya acara makan malam, anak-anak bermain bersama dan orang tua ngobrol ngalor-ngidul. Semua berlangsung baik-baik saja. Lalu kami pulang.

Dalam perjalanan, saya ceritakan pada Rana, anak pertama saya, bahwa saya bersedih. Tidak jelas di bagian yang mana kesedihan itu bertempat dengan tepat. Apakah karena mereka akan pindah jauh atau karena saya tidak sering bertemu mereka ketika tinggal sekota? Tidak siap kehilangan atau menyesali kekosongan? Rana ikut bersedih dan saya menjadi semakin bersedih karena telah menularkan kesedihan. Ah ….

Saya tiba-tiba ingat Ben. Seorang barista yang menghabiskan begitu banyak waktu berkeliling dunia untuk menemukan resep meramu kopi dengan rasa paling hebat. Perjalanan jauhnya berhasil membantunya menciptakan Ben’s Perfecto, kopi dengan cita rasa paling tinggi di kedai kopi yang dikelolanya bersama Jody.

Oh iya, Ben adalah lelaki di “Filosofi Kopi”, sebuah cerpen yang ditulis Dee pada tahun 1996 dan diterbitkan dalam kumpulan cerpen berjudul sama pada tahun 2006. Sembilan tahun setelahnya, cerpen ini diangkat ke layar lebar oleh Angga Dwimas Sasongko.

Mengapa saya tiba-tiba mengenang Ben ketika berhadapan dengan peristiwa Vina dan Gerald pindah ke Labuan Bajo? Entahlah. Mungkin seperti hendak menyambung-nyambung cerita agar menjadi tepat, mungkin juga sedang berjuang memaksa diri mengait-ngaitkan apa saja agar setiap peristiwa atau pepatah lama atau apa saja terdengar masuk akal, atau, mungkin bukan untuk apa-apa.

Yang pasti, perjalanan Ben mencari resep-resep kopi terbaik dari seluruh dunia (tempat-tempat yang jauh) dan keberhasilannya menciptakan Ben’s Perfecto membuatnya melupakan tiwus. Ya, kopi tiwus.

Lupakan dulu tentang kegandrungan Ben pada filosofi yang membuatnya menangkap “walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya” dari kopi tiwus yang dihidangkan Jody, dan lihatlah rentangan jarak pencarian Ben. Begitu jauh. Resep dari tempat-tempat kopi terbaik di seluruh dunia padahal di Jawa Tengah ada kopi tiwus; begitu dekat dari Jakarta tempat dia dan Jody membuka kedai kopi.

Kemudian saya ingat teman-teman saya yang jauh. Di Jakarta, di Passau-Jerman, di Bajawa, di Makassar, dan kota-kota lainnya. Hampir setiap waktu berinteraksi. Melalui media sosial kami bertanya kabar, saling memuji latar di foto profil yang tampak lebih hebat dari wajah pemilik akun, bahkan merancang gerakan bersama—berjuang menjadi filantropi.

Tentu kebiasaan baik itu tidak layak dituding sebagai satu-satunya sebab seorang Bapatua tidak sering bertemu ponakan-ponakannya, tetapi dapatlah dianggap sebagai salah satu soal. Soal lain adalah, seperti kecenderungan Ben, cukup banyak yang merasa bahwa sesuatu yang datang dari jauh selalu dianggap lebih istimewa.

Yang Asing

Telah berapa lama kita menjadi asing bagi orang-orang di sekitar kita—juga sebaliknya? Tahun 2016 silam, sebuah artikel di tirto.id berjudul “Apakah Media Sosial Membuat Kita Tidak Bahagia?” membahas tentang menurunnya kemampuan bersosialisasi para pengguna internet yang berujung pada perasaan kesepian. Dibuka dengan mengutip “Internet Paradox” (1998), jurnal yang dirilis Robert Kraut—telah mengalami beberapa kali revisi sejak pertama diluncurkan pada bulan September 1998—bahwa internet membuat penggunanya makin jarang berkomunikasi dengan keluarga dan teman. Seperti saya dengan Vina dan Gerald? Bisa jadi.

Bukan saya seorang barangkali. Hampir sebagian besar pengguna internet, yang di Indonesia telah berjumlah 65 persen dari total populasi pada tahun 2017 silam, yang setiap hari menghabiskan rata-rata 8 jam 44 menit di internet, yang dari rata-rata itu menggunakan 3 jam 15 menit di antaranya untuk mengakses media sosial, mestilah paham bahwa anekdot “media sosial mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat” adalah nyata adanya. Bandingkan relasi saya-Vina-Gerald dengan saya-Jakarta-Passau-Bajawa-Makassar atau relasi Anda dengan teman-teman maya dan nyata sekarang.

Astaga! Bagaimana kita ini? Mencari begitu jauh. Terlampau jauh, bahkan. Seperti Ben yang mengenal semua kopi terbaik di dunia tetapi tidak mengenal kopi tiwus, lantas menjadi sedih karena yang dia pikir telah sempurna ternyata tak lebih istimewa dari yang sederhana saja.

Sampai di bagian ini, saya tetap tidak tahu, pada tempat mana kesedihan yang saya ceritakan kepada Rana tadi tepat berada, tetapi saya menduga, mungkin karena keterasingan.

Dua ponakan saya akan tinggal di Labuan Bajo. Di kota itu ada banyak orang asing; para wisatawan yang hendak melihat komodo, Pulau Bidadari, Pulau Padar, Pantai Pink, Batu Cermin, dan tempat tujuan berwisata lainnya yang indah-indah. Banyak juga orang-orang kita yang meminta swafoto dengan orang-orang asing tadi, some random tourists, mengunggahnya di media sosial dan sepertinya mereka merasa begitu bahagia ketika melakukannya; bertemu teman baru yang selanjutnya akan menjadi teman-teman di media sosial.

Di media sosial pernah beredar gambar seorang perempuan mengemong bantal dengan satu tangan sementara seluruh perhatiannya tertuju kepada telepon pintar di tangan satunya. Di gambar yang sama, seorang bayi tertidur di lantai kamar. Beberapa orang menitipkan emoticon tertawa terbahak-bahak pada unggahan itu.

Di unggahan lain, seseorang menceritakan kesedihannya. Memajang foto anggota keluarganya yang telah berpulang lengkap dengan permohonan maaf karena tak banyak memberi perhatian ketika dia hidup. Kisah yang sedih sekali. Begitu?

Di Labuan Bajo, sebuah gerai kopi milik perusahaan multinasional dibuka beberapa waktu lalu. Begitu riuh orang menyambutnya. Seorang tokoh penting setempat menyebutnya sebagai salah satu ikon pariwisata baru di kota itu. Sebuah narasi, oleh karena datangnya dari orang penting, membuat saya berpikir bahwa kita memang akan tetap menjadi orang-orang asing, yang baru merasakan kehilangan ketika yang selama ini diabaikan akhirnya benar-benar pergi. Duh!

Armin Bell

Tinggal di Ruteng, bergiat di Komunitas Saeh Go Lino. Tahun 2018 menerbitkan buku cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”. IG: arminbell.
Armin Bell

Comments

  1. Fey Reply

    Mantavvvvv…. terus berkarya maju terus pantang mundur !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.