Oscar 2019 v Pemuda Antah Berantah

Oscar 2019 - 1 timfoleyillustration dot com
timfoleyillustration.com

Februari kali ini jadi bulan yang dinantikan oleh khalayak, sebab ada beberapa momen yang harus dirayakan. Semisal bagi para budak cinta, jadi bulan kultus untuk mengungkapkan kasih sayang kepada seseorang yang dicintai. Bagi budak-budak akhirat, Februari jadi bulan yang dianggap mengganggu ketenangan karena gerah melihat kelakuan para budak cinta.

Di kubu politik, bulan ini dinantikan sebab debat kedua calon capres digelar. Ini bukan hanya menarik bagi pemerhati negara namun juga para konten kreator untuk segera membuat meme-meme segar setelah debat yang berakhir dengan salah satu calon tidak paham unicorn itu apa.

Bagi para penggemar film, Februari 2019 jadi hal yang dinanti sebab pengumuman pemenang Academy Awards ke-91 digelar. Academy Awards tahun ini menjadi ajang Oscars paling aneh, semisal dari deretan nominasi hingga keputusan pihak panitia yang ingin penganugerahan editing terbaik dan sinematografi terbaik digantikan oleh slot iklan akhirnya menuai kecaman dari pelaku industri perfilman.

Bicara mengenai nominasi, seorang pemuda dari antah berantah—ia sendiri mengakui dirinya adalah orang yang gemar menonton film—berbicara lantang kalau nominasi tahun ini adalah yang terburuk. “Jadi begini, Bung, selain pemilihan film-film yang absurd khas panitia, ada hal-hal tidak subtil membuat film yang diajukan tidak mewakili para penggemar film seperti saya ini.”

Maka, penulis memberi kesempatan bagi pemuda ini memberikan pandangan, film-film apa yang layak menang andai ia jadi panitia Academy Awards ke-91. Dengan gempita, ia memberikan penulis secarik kertas berisi judul film dan beberapa nama aktor yang layak menang. Tak ketinggalan, ia juga memberikan sedikit komentar tanpa perlu ditanyai kenapa ia memilihnya.

Catatan penulis: beberapa nominasi tidak ia cantumkan karena ia hanya mengambil garis besar dan yang penting-penting menurut dia. Dan penulis juga kesulitan mendapatkan nama asli pemuda ini.

Pemenang kategori lagu orisinal terbaik: Run the Jewels-Let’s Go

Saat lagu ini diputar ketika menunggu after credit scene film Venom, kaki saya tiba-tiba terentak. Dari lirik dan musiknya, pas menggambarkan suasana film. Saya heran kenapa orang-orang lebih memilih lagu Lady Gaga dan si Rocket Racoon. Hentikan perasaan sentimental, mari bergoyang dengan lagu ini!

Pemenang kategori musik score orisinal terbaik: Mandy

Score kan tentang nuansa. Jadi nuansa lagu-lagu yang dihasilkan Johann Johannsson sungguh memberikan atmosfer berbeda. Sangat menyatu dengan adegan yang ditampilkan. Jika yang menang adalah Black Panther, tidak ada nuansa yang pas dihadirkan dari scoring film tersebut. Sebenarnya agak berat saat memilih Mandy atau Suspiria karena jauh lebih layak daripada yang ada di daftar nominasi.

Pemenang kategori efek visual terbaik: Aquaman

Avengers katamu? Pfftt… jika Anda menonton film ini dan tidak merasakan dinginnya Atlantis dan berbasah-basah ria bersama Ratu Mera, maka salahkan bila Avengers yang sering membawa orang-orang ke luar angkasa kalah dengan tipuan kamera film First Man. Bagi saya cukup untuk menggambarkan kelamnya dunia bawah laut daripada angkasa luar dan film ini mewakili semuanya.

Pemenang kategori animasi terbaik: Dragon Ball Super: Broly

Sayang negara ini telat menayangkannya. Jikalau DBS: Broly tidak termasuk film keluaran 2018, maka saya akan memberikan penghargaan ini kepada Batman Ninja. Keduanya memberikan animasi indah ketimbang Spider-Man: Into the Spider-Verse. Agak ironis, Spider-man kartun lebih berkuasa dari live action-nya.

Pemenang kategori film asing terbaik: Heavy Trip

Oh, saya menemukan film ini secara tidak sengaja. Awalnya saya mencari film Lord of Chaos—tentang Black metal, namun malah kesasar dengan trailer film ini dan akhirnya benar-benar menyentuh kegelapan musik metal yang pernah saya dengar dan lihat. Saya tidak peduli dengan film Roma yang harusnya diberi tagline: pentingnya penggunaan kondom. Film Norwegia ini jauh melampaui ekspektasi. Saya ingin memberikan penghargaan ini kepada Sebelum Iblis Menjemput dan One Cut of the Dead. Tapi Heavy Trip benar-benar berat dan hitam.

Pemenang kategori skenario adaptasi terbaik: Mortal Engines

Tidak terlalu buruk dan tidak terlalu baik. Namun saya tidak punya gambaran tentang adaptasi itu seperti apa. Mungkin diangkat dari buku atau kejadian seperti BlacKkKlansman yang menurut saya juga pantas.

Pemenang kategori skenario orisinal terbaik: Mandy

Skenario adalah tulang punggung sebuah film. Visual yang baik mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Bagi saya skenario film ini sudah menggambarkan seperti apa kelak ketika difilmkan. Kalau Green Book ternyata menang, bagi saya agak mengecewakan. Nominasi yang lain, The Favourite, jauh lebih kuat.

Pemenang kategori aktris pendamping wanita terbaik: Julie Estelle

Buat apa dijelaskan lagi? Tonton saja The Night Comes for Us. Perannya sebagai The Operator, tak perlu banyak bicara, aksi, bakbikbuk… pantaslah ia. Sebenarnya ada calon lain, Zoe Kazan dalam film koboi-koboi arahan Coen Brothers. Julie terlalu cantik untuk dilewatkan saat tubuhnya menggasak lawan-lawannya di TNCFU.

Pemenang kategori aktor pendamping pria terbaik: Adam Driver

Baik peran yang ia mainkan sebagai polisi Yahudi di BlacKkKlansman atau di The Man Who Killed Don Quixote adalah peran minor yang berkembang baik. Itulah kenapa saya selalu menunggu kelanjutan akhir dari saga Star Wars yang tayang tahun ini.

Pemenang kategori aktris terbaik: Emma Stone

Tonton saja ia tampil di The Favourite. Ia bagai bayangan yang culas namun ditutupi oleh parasnya. Sangat pantas juga jika Olivia Colman—yang menjadi Ratu Anne, partner ranjangnya—menang, sebab chemistry mereka berdua susah ditaklukkan.

 Pemenang kategori aktor terbaik: Nicholas Cage

Nicholas Cage adalah aktor buruk. Beberapa film yang ia bintangi adalah film-film kelas B. Namun apa yang ia hadirkan dalam Mandy mengubah itu semua. Ia menjadi seorang bintang seperti yang ia perankan di Con Air. Jika ia lebih memilih film-film dengan kualitas skenario baik, Cage masih layak diperhitungkan ketimbang Rami Malek yang terus-terusan terbawa sosok Mercury ke mana pun ia pergi. Menyebalkan. 

Pemenang kategori sutradara terbaik: John Krasinski

Asing dengan namanya? Pantas saja. Namun jika Anda melihat A Quiet Place—ia juga menjadi pemeran prianya—mungkin saja Anda kagum atas kepiawaian meracik horor bertema keluarga yang menuai pujian meski beberapa orang lebih memilih Hereditary di kategori serupa. Hanya saja yang ia lakukan di film—di mana istrinya juga berperan sebagai istri—memberi kualitas bahwa ia layak mendapatkan proyek film besar berikutnya.

Sebelum memberitahukan siapa pemenang film terbaik, saya akan memberikan dua nominasi tambahan yang saya buat sendiri. Yaitu penghargaan untuk film horor terbaik—di mana horor adalah genre favorit saya—yang dimenangkan oleh Hereditary namun sutradaranya kalah dengan A Quiet Place. Serta penghargaan untuk film serial terbaik yang jatuh kepada SSSS Gridman. Mungkin agak aneh memasukkan film anime Jepang tapi kenapa saya harus memberikan dua penghargaan tambahan, karena keduanya berhasil membuat saya terngiang-ngiang. Pilihan saya agak snob dan wibu? Percayalah jika Anda menontonnya, Anda akan paham maksud saya. 

Pemenang kategori film terbaik: The Ballad of Buster Scruggs

Saya merasa dikhianati saat ingin memilih antara Mandy atau The Ballad of Buster Scruggs. Namun setelah dipertimbangkan, film koboi ini benar-benar mengubah segalanya. Formatnya antologi. Terdiri dari beberapa cerita terpisah dan tidak menyambung, namun yang dihadirkan oleh Coen Bersaudara sungguh memikat. Dari alur cerita, komedi gelap, serta pesan moral ditampilkan sebagai sebuah balada.

Jika yang menang di penghargaan asli adalah Green Book, saya sendiri sudah merasa cukup puas. Meski mencantumkan film superhero yang lemah, film tentang penyanyi legendaris yang cocoknya jadi film dokumenter, film tentang rasisme, film tentang ratu angkuh, atau film remake, sudah cukup membuktikan panitia Academy Awards tidak tahu bahwa di antah berantah, orang semacam saya ini juga punya kekuatan untuk membuat nominasi yang tidak akan didengar, kecuali oleh bantuan penulis.

Jadi, siapa pun yang membaca nominasi ini dan berpikir bahwa selera saya terlalu buruk, bahkan lebih buruk dari penghargaan Razzie, ketahuilah bahwa pemuda dari antah berantah semacam saya ini tetap punya suara! Apalagi saat pemilu mendatang.

Tabik!

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian

Comments

  1. Iron Man Reply

    Untuk kategori efek visual.. Penulis sedikit kurang paham nih.. Yang menang itu Black Panther. Coba deh lihat visual yang digambarkan. Bagaiman keindahan wakanda divisualisasikan dengan baik bak nyata. Seakan wakanda emang ada di bumi pertiwi. Dan sentuhan CGI yang tidak terlalu menohok.

Leave a Reply

Your email address will not be published.