Pada Peperangan Terakhir

yoskhaz.com

Di Padang Pasir Ibzar, saat pasukan pemerintah terus merangsek ke depan dengan gerakan yang tak terhindarkan, Yusuf Al Khariji menyadari peperangan kali ini akan berakhir dengan kekalahan. Ia melihat anak buahnya telah mundur dan meninggalkannya sendirian. Namun Yusuf tak juga beranjak, ia justru termenung di balik batu besar, mengingat Camelia Cela, penari ular berdarah Andalusia yang baru dinikahinya tiga bulan lalu….

“Apakah jika sebuah peperangan kita menangkan, itu artinya kita bisa menciptakan cinta dan kedamaian?”

Yusuf Al Khariji mengenal Camelia ketika mengambil cuti selama seminggu dari medan perang. Saat itu, pasukannya telah menguasai beberapa distrik di Hajin, ia menyerahkan sementara pimpinan militer pada Abu Kalbun. Yusuf kemudian mengajak beberapa anak buahnya ke Darul Muflisin dalam rangka meminta nasihat guru-gurunya dan arahan tentang strategi selanjutnya. Dalam perjalanan itulah, ketika sedang singgah di Majaz, tepatnya di sebuah kedai yang terletak di tepi Sungai Eufrat, ia melihat sesosok perempuan yang sedang menari ular. Maka berkenalanlah Yusuf dengan penari itu, namanya Camelia Cela, perempuan dengan kecantikan eksotis khas kota-kota lama Andalusia.

Perlu diketahui bahwa Yusuf telah menjadi komandan perang hampir enam tahun lamanya. Dengan itu tidak pernah sempat untuk dekat dengan perempuan. Kalaupun dekat, ia hanya memanfaatkannya untuk kepentingan perang, perempuan-perempuan dinikahi untuk kemudian menjadi martir, tak pernah ada cinta yang mendalam. Namun, sebagaimana segala hal di dunia ini selalu ada pengecualian, Camelia Cela adalah pengecualian tersebut. Pertemuan itu kemudian memberikan sebuah pengalaman cinta yang irasional. Sepulang dari Darul Muflisin untuk kembali ke markas di Hajin, Yusuf menyuruh seluruh pengawalnya untuk berangkat lebih dahulu, sedangkan ia singgah kembali di Majaz selama satu pekan, melanjutkan pertemuannya dengan Camelia, yang diakhiri dengan sebuah pernikahan pada malam ketujuh, satu hari sebelum ia melanjutkan perjalanannya.

“Bawa aku ikut,” kata Camelia pagi hari ketika suaminya hendak berangkat.

Yusuf Al Khariji hanya memeluknya, mengusap kepala istrinya. “Kau terlalu berharga untuk pertaruhan dalam perang.”

Ini adalah kali pertama Yusuf berkata seperti itu. Sebelum ini, ia selalu membawa istrinya hingga ke medan pertempuran yang penuh hujan peluru. Sikapnya yang berubah drastis membuat anak buahnya cemas.

“Cinta wanita telah membutakannya dari perjuangan yang sejati. Ia kini tak lebih dari seorang pengecut.”

“Seharusnya ia diturunkan pangkatnya.”

Peperangan dengan tentara pemerintah masih terus berlangsung, Yusuf masih menjadi komandan militer yang mengatur setiap pasukan. Namun yang ia ingat bukan lagi tentang kemenangan atau mengalirnya darah demi sebuah perjuangan yang—menurutnya—mulia, melainkan Camelia, yang mungkin sedang menunggunya di tepi Sungai Eufrat untuk duduk menikmati senja.

Demi mengobati kerinduannya, Yusuf Al Khariji menulis surat dari medan perang. Tentu bukan karena ia tidak punya ponsel. Tapi jika telah berada di markas, ia mematikan ponsel untuk menghindari pelacakan radar. Ia pun menulis pada berlembar-lembar kertas, mengabarkan kisah-kisah keberaniannya. Ia menitipkannya pada kurir yang bertugas menyuplai bahan makanan dan senjata. Sebenarnya ia ingin menulis keindahan taman klasik di kota-kota Timur Tengah, atau hamparan kebun kurma yang merayu untuk dipetik tatkala matahari menghangatkan bumi. Tapi di sini ia hanya bisa melihat kekeringan, hamparan pasir seperti pemanggang raksasa, dan desing-desing peluru.

Sibuknya Yusuf Al Khariji memikirkan Camelia, membuat ia mengabaikan perkembangan strategi. Taktik-tatiknya berangsur usang, pasukannya mulai jenuh. Ia tidak menyadari bahwa pasukan pemerintah terus memperbarui strategi, sementara Yusuf sibuk memperbarui surat cinta.

Akhirnya, ketika suatu pagi terdengar bunyi letusan tak jauh dari markas persembunyiannya, tahulah Yusuf bahwa tentara pemerintah berhasil melumpuhkan barisan penjaga perbatasan. Ia segera menggerakkan seluruh pasukan yang ada ke medan pertempuran yang berada sekitar tiga puluh kilometer dari Hajin. Medan itu berupa gundukan pasir dengan tekstur berbukit yang memiliki banyak batu-batu besar sehingga setiap orang bisa berlindung dengan mudah. Seperti biasa, Yusuf menempatkan barisan penembak jitu di beberapa gundukan tanah yang strategis, sementara ia berada yang terdepan bersama pasukan lainnya, membentuk barisan berlapis. Pasukan penembak jitu adalah kartu as, jika mereka tumbang, maka kekalahan di depan mata. Hal itulah yang selanjutnya terjadi, satu demi satu pasukan penembak berguguran, karena tentara pemerintah telah mempelajari medan pertempuran itu selama beberapa hari, tepatnya di mana titik-titik para penembak jitu biasanya ditempatkan. Tumbangnya kartu as membuat pasukan lain gentar, mereka mulai panik, tapi Yusuf sudah tidak fokus lagi….

“Aku tidak pernah memikirkan dunia ini, karena hal itu membuat kita menjadi sangat kecil. Padahal dengan cinta kita, dunialah yang begitu kecil, berada di bawah kaki kita.”

Karena tidak ada perintah yang jelas, sisa pasukan mulai bergerak mundur, menaiki truk-truk yang terparkir. Sementara Yusuf masih saja menembakkan peluru yang sia-sia. Truk mulai bergerak meninggalkan medan pertempuran, tinggal Yusuf Al Khariji seorang diri  di padang pasir berdarah itu. Tiba-tiba saja ia sangat takut dengan kematian, terutama ketika kematian itu telah terpampang jelas di hadapannya, berupa suara senapan serbu dan langkah kaki serdadu dari pihak pemerintah. Ia takut kematian tidak bisa membuatnya kembali kepada Camelia….

Dan hal yang paling dicemaskan benar-benar terjadi. Ketika salah seorang tentara pemerintah telah berada sangat dekat, Yusuf mencoba mengisi ulang senjatanya dengan panik, tapi terlambat. Ketika tembakan pertama mengenainya, Yusuf teringat hari pertama ia beradu pandang dengan Camelia. ketika tembakan kedua mengenainya, ia teringat sebuah pergumulan dahsyat di malam yang dipadatkan udara. Ketika tembakan ketiga mengenainya, ia teringat betapa berat meninggalkan Camelia hanya untuk berperang. Ketika tembakan keempat bersarang, ia menyesali segala yang menjadi pilihannya selama ini.

Ketika tembakan kelima bersarang di dadanya, Yusuf Al Khariji pun tewas.

***

Terbunuhnya Yusuf Al Khariji adalah kemajuan penting. Para tentara pemerintah bersukacita dan mengumumkannya ke seluruh media.

“Yusuf Al Khariji sangat licin dan mahir strategi. Kematiannya adalah kemajuan besar bagi pemerintah, sekarang pemberontak itu telah tersudut, ketua mereka tewas, strategi pasti berantakan, mental pun jatuh. Pasukan kita hanya tinggal melakukan pembersihan terakhir. Pemberontak dipukul mundur, ambil alih distrik-distrik yang hancur, selamatkan tawanan dan pengungsi. Kemudian kita hidup bahagia seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Semua bisa menjalankan aktivitas kembali, yang ingin berdagang silakan, yang menulis cerita pendek juga silakan….”

Camelia, sang intelijen wanita, kemudian mendapat penghargaan atas jasa dan pengorbanannya. Namun ia menolak. Untuk apa sebuah penghargaan bagi sesuatu yang memang itu menjadi tugasnya?

Ia kemudian meminta cuti selama sebulan. Ia pergi ke Majaz, mengunjungi kedai tempatnya dahulu bertemu Yusuf. Tentu ia tak lagi menari ular, karena ia berlatih hanya untuk sebuah tugas: menjebak Yusuf.

Ya. Kabar bahwa Yusuf sangat menyukai penari ular pertama kali diketahui dari salah seorang pemberontak yang tertangkap. Sebenarnya bisa saja Yusuf langsung ditangkap saat berada di kedai itu, tapi salah satu penasihat militer mengusulkan sebuah upaya pelemahan secara perlahan, yakni dengan memberinya umpan seorang wanita. Dan memang, Camelia berhasil melemahkan seluruh pertahanan pemberontak di Hajin.

Jelas, untuk yang seperti ini ada imbalan begitu besar, tapi toh Camelia tidak membutuhkannya. Dalam masa liburnya, ia menghabiskan waktu di kedai, setiap sore ia melamun sambil memandangi  Sungai Eufrat (Demi Tuhan, adegan seorang perempuan yang melamun, adalah adegan yang tak tergantikan oleh apa pun). Ditatapnya aliran sungai itu, seperti gejolak hati yang tak mampu dijabarkan lagi….

Tak diketahui, apakah Camelia hanya sedang terbawa buih arus perasaan. Ataukah ia memang mencintai Yusuf Al Khariji, dengan cara yang memang sangat disadarinya.***

Follow Me

Sungging Raga

pernah kuliah di jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Buku kumpulan cerpennya Sarelgaz (Indie Book Corner, 2014).
Sungging Raga
Follow Me

Latest posts by Sungging Raga (see all)

Comments

  1. Andalusia Reply

    “Medan itu berupa gundukan pasir dengan tekstur berbukit” … Tekstur? Kontur kali.

  2. Kal Reply

    Gaya lain dari penulisnya. Seperti tak membaca cerpen SR.

  3. Pro-Fanny Reply

    Ceritanya kok pendek ya? Sayang sih,

    • Anonymous Reply

      cerpen cuk

Leave a Reply

Your email address will not be published.