Paris: Ras Pekerja dan Minuman Keras

Judul               : L’Assommoir (Rumah Minum)

Penulis            : Emile Zola

Penerjemah     : Lulu Wijaya

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetak               : Pertama, 2018

Tebal              : 660 halaman

ISBN               : 978-602-06-1357-4

Kemiskinan memang menakutkan, tapi yang lebih bedebah mengancam adalah minuman keras yang memabukkan ras pekerja kelas bawah Kota Paris. Dengan gaya naturalis, kita disajikan satu lagi roman ampuh Emile Zola sebagai dokumentasi kemanusiaan tentang masyarakat Prancis abad ke-19. L’Assommoir (2018) terbit pertama pada 1877, satu dari 20 jilid Les Rougon-Macquart yang mengambil ketemaan alkohol. Minuman keras penjerumus orang-orang yang semula penuh dedikasi pada kerja keras menantang kemiskinan menjadi pemalas-pemabuk keparat. Zola menganalogikan dengan dramatis, “…udara Paris yang jalanannya pun berbau brendi dan anggur.”

Zola memilih perempuan muda beranak dua, Gervaise, semacam sebagai tokoh kunci di L’Assommoir. Gervaise sejak awal memang bernasib sial, terdampar di Paris dan dicampakkan oleh kekasih sekaligus bapak kedua anaknya, Lantier, seorang nirmoral dan nihil tanggung jawab. Gervaise adalah satu dari banyak orang didampak revolusi industri yang melanda Prancis, menggeret orang-orang ke kota demi sesuap hidup lebih layak. Dari nasib sial, Gervaise menangguhkan diri sebagai ibu sekaligus pekerja di rumah cuci. Gervaise menikah dengan tukang pembenah atap bernama Coupeau, lelaki pelengkap atas mimpi-mimpi kemapanan meski akhirnya turut membenamkannya ke kubangan minuman keras.

Kita bisa cerap bagaimana Gervaise menata hidup di tengah Paris yang terus bersolek, “Meskipun harus menghidupi dua anak, keluarga Coupeau berhasil menyisihkan dua puluh atau tiga puluh franc setiap bulan. Ketika tabungan mereka mencapai angka total enam ratus franc, wanita muda itu terobsesi impian ambisius dan tidak bisa lagi tidur, dia ingin berbisnis, menyewa toko kecil dan mempekerjakan beberapa gadis. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Setelah dua puluh tahun, kalau bisnis lancar, dia akan mampu membeli asuransi dana pensiun dan mereka bisa pindah ke pedesaan.” Gervaise menjangkarkan perubahan dari ras pekerja menjadi majikan rumah cuci dan penatu.

Impian Gervaise hampir gagal saat tabungannya menipis karena habis untuk perawatan Coupeau yang jatuh dari atap. Goujet si tukang besi berani memberikan pinjaman 500 franc yang langsung semakin merekahkan impian memperbaiki nasib. Di sinilah, sekali lagi Gervaise menunjukkan kekukuhan sebagai perempuan yang berani mengambil risiko. Rumah sekaligus toko penatu serta perkakas menjadi kebanggaan di antara pergunjingan penuh rasa iri dan kagum. Di kawasan Rue de la Goutte-d’Or, Gervaise memulai hidup sebagai perempuan terhormat. Dikatakan, “Dari jauh di deretan hitam toko-toko lain, tokonya tampak penuh cahaya, begitu ceria dan baru, dengan papan biru muda ditulisi CUCI BAJU BERMUTU dengan cat kuning dalam huruf besar-besar.”

Kemalasan Baru

Gervaise belum menyadari bahwa wabah gaya hidup borjuis dan kebiasaan minum-minum Coupeau seiring penyembuhan, perlahan memerosotkan ekonomi dan moral. Assommoir milik Pere Colombe menjadi langganan pesta pora Coupeau menghabiskan uang dan martabat awal sebagai seorang pekerja tekun dan penyayang keluarga. Diceritakan, “Tetapi daya tarik sesungguhnya tempat itu, berdiri di balik pembatas kayu ek di pekarangan belakang yang dikelilingi kaca, adalah penyuling minuman yang bisa dilihat para pelanggan, dengan ketel-ketel berleher panjang dan slang-slang melilit turun ke lantai, seperti dapur iblis yang mengundang para pekerja duduk-duduk di depannya sambil minum dan melamun”

Gervaise terlalu besar menanggung ongkos mabuk-mabukan Coupeau seolah itu bagian dari kemanjaan. Di Paris saat itu, minuman keras dan bar-bar minum mewabah, apa yang dikatakan Andrew Hussey (Paris: Sejarah yang Tersembunyi, 2014), “praktik kemalasan baru”. Para pekerja hidup menenggak alkohol dengan intensitas tinggi. Mereka menjadikan tempat minum sebagai ajang melampiaskan lelah, berkumpul, menghabiskan upah, berkelahi, dan mabuk-mabukan. Sebagai efeknya, terjadi peningkatan kegilaan, bunuh diri, kekerasan, dan keterabaian-kehancuran keluarga.

Sekali bar minum dimasuki, penenggak rentang kecanduan sulit tersembuhkan. Zola menulis, “Pada malam hari, pipa-pipa tembaga itu tampak lebih suram lagi, hanya diterangi pantulan-pantulan besar, merah, dan berbentuk bintang pada permukaannya yang melengkung, dan bayangan alat itu di belakangnya menciptakan bentuk-bentuk tak senonoh, sosok-sosok berekor, monster-monster yang membuka rahang lebar-lebar, seakan hendak menelan dunia.”

Bagi kaum berkelas lebih necis seperti diwakili Lantier, bar sarat busa obrolan politik. Orang-orang berada di antara keberpihakan dan penolakan kebijakan Kaisar tentang kebijakan pembangunan kota dan masalah pekerjaan atau kesejahteraan. Namun, obrolan ini tetaplah omong kosong belaka. Para lelaki sok ini dengan licik menanggungkan hidupnya pada kekasih gelap, istri, atau perempuan-perempuan yang secara realistis bekerja berkejaran dengan upah kecil.

Zola pun masih menegaskan ambisi-ambini manusia Paris dengan diksi “gemuk” tidak saja dalam arti harfiah. Gemuk menganalogikan kemalasan, kerakusan, kelicikan, dan kemapanan borjuis. Muatan kegemukan ini dengan kentara diwakili oleh raga-raga tokoh yang kekenyangan dan semakin makmur keborosan meski kemiskinan merongrong. Ras pekerja Paris mungkin masih bisa menghadapi kemiskinan dalam rupa paling buruk, tapi tidak dengan minuman keras yang menghancurkan secara pelan nan sistematis.

Masuknya Paris ke era industri abad ke-19, begitu kentara mengajukan penderitaan besar terutama oleh perempuan dan anak-anak. Di tengah kebekuan musim dingin, kelaparan, mesin-mesin pengganti pekerja manusia, atau kekerasan para lelaki oleh efek minuman keras, mereka bertahan dengan raga nyaris remuk dan kewarasan yang tersisa di pikiran. L’Assommoir memang juga mengajukan melankolia kekalahan. Minuman keras tidak membunuh selayaknya dihajar dengan keras. Ia membunuh perlahan, mengendap dalam tubuh yang digigiti panas dan kegilaan.

Setyaningsih

Esais, penyapu di Bilik Literasi Solo, penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016).
Setyaningsih

Latest posts by Setyaningsih (see all)

Comments

  1. Anju Luis Reply

    Baru seminggu lalu sya slesai baca buku ini gam, trbersit jga mau ngirim rehal perihal Lassomoir ke sini. Tpi trlambat😕 Tpi Zola memang penulis realis hebat👍

    • Anonymous Reply

      Bisa lanjut membaca Nana. Sudah ada di toko buku. Nana tokoh di Rumah Minum yang dibuatkan cerita (novel) tersendiri oleh Emile Zola.

Leave a Reply

Your email address will not be published.