Parlente dan Lestari

Dolanlah ke Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta! Di depan, orang melihat patung. Penghormatan untuk seniman sering menggubah lagu-lagu mengisahkan asmara dan kebangsaan. Ia bernama Ismail Marzuki. Patung itu diam. Orang-orang mungkin lekas melewati atau melihat sepintas. Sekian orang agak mendekat ingin mengetahui wajah si seniman. Orang mengerti ketokohan dan masa lalu bisa memotret diri bersama patung. Pada 1985, patung itu diresmikan oleh para petinggi dan seniman di Jakarta. Patung menjadi “saksi” pelbagai acara pernah diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki. Patung sudah melintasi tahun-tahun memiliki hujan, panas, debu, dan bising.

Ismail Marzuki, lelaki parlente menjalani hidup sebagai seniman. Biografi tak panjang tapi memancarkan sejarah. Keparlentean dan pengabdian di seni melumrahkan ia dipilih untuk nama ruang seni di Jakarta. Orang-orang lazim mengucap TIM. Pengucapan lengkap jarang. Keinginan mengetahui si seniman sering tertunda atau tertinggal jauh di belakang. Acara-acara seni terus terselenggara agak “meninggalkan” ketokohan Ismail Marzuki di musik untuk bertaut dengan sastra, teater, seni rupa, tari, dan lain-lain. Nama tenar mungkin tak lagi diceritakan ke para pengunjung atau pelaku seni di Taman Ismail Marzuki, dari tahun ke tahun.

Seniman kelahiran 11 Mei 1914 itu memiliki masa gairah bermusik sejak masa 1930-an. Ia bergabung dengan perkumpulan musik Lief Java. Ismail Marzuki sudah rajin menggubah lagu. Panggung demi panggung, ia tampil mengisahkan diri sebagai seniman tulen. Pada 1936, ia menaksir perempuan pujaan. Keparlentean dan kemahiran di musik jadi bekal ingin memiliki kekasih. Sang pujaan agak cuek, berpikir dampak dicintai seniman cakep. Perempuan itu bernama Eulis Zuraedah. Pada masa remaja, Eulis Zuraedah pun menempuhi musik. Pemilik suara merdu itu sudah menghasilkan 15 buah piringan hitam, sebelum memilih hidup bersama Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki nekat menggubah dan memainkan lagu untuk melamar sang pujaan. Lagu berjudul Panon Hideung membuktikan kesungguhan mencintai, tak cuma menggoda dan menggombal. Lagu belum manjur. Pada 1937, Ismail Marzuki maju lagi dengan gubahan lagu berjudul Bila Anggrek Mulai Timbul. Sepenuh perasaan, ia menginginkan Eulis Zuraedah. Kita mengerti lirik-lirik khas lelaki kasmaran terasa usang dan menggelikan: Mengapa kau muram saja/ Tersenyumlah padaku/ Engkau seakan permata/ Terbungkus lumut hijau// Aku akan menghibur dirimu/ Hilangkan hati duka/ Tetapi kau membisu saja/ Tak menghiraukan diriku. Di panggung musik, ia “menangan”. Di hadapan perempuan, Ismail Marzuki tak malu menjadi pengharap asmara.

Lagu itu memberi kepastian bahwa Ismail Marzuki tak sedang mengumbar bualan. Eulis Zuraedah menerima dengan ketulusan. Mereka pun menikah pada 1940. Keluarga seniman itu mengontrak rumah di Jakarta, hidup bersama bapak mertua dalam kesederhanaan. Eulis Zuraedah di majalah Kartini, 23 Desember 1991-5 Januari 1992, mengingat episode memilih menjadi ibu rumah tangga, meninggalkan panggung musik dan studio rekaman. Ismail Marzuki terus berseni dengan bekerja di Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM, Jakarta) dan memimpin Orkes Medio Bandung. Kerja keras seniman menghasilkan rezeki cukup untuk membeli rumah kecil di Tanah Abang. Pengisahan sang istri: “Setiap malam, setelah tetangga tidur, dia mulai mengunci diri di kamar depan. Ditemani biola, gitar, dan akordeon serta sepiring kacang goreng dan segelas teh manis, dia betah mencorat-coret dan memainkan alat musik sampai subuh.” Di rumah kecil dan membahagiakan, Ismail Marzuki tercatat mampu menggubah 250 lagu. Istri menjadi pelantun awal untuk lagu-lagu, sebelum dibawa ke panggung atau studio rekaman.

Di rumah, santapan kesukaan Ismail Marzuki adalah “beefsteak lengkap dengan kacang polong dan salada” atau “sayur asam dengan empal goreng, tahu tempe goreng, dan sambel terasi serta lalap lengkap.” Seniman makan “enak” demi bisa menggubah lagu-lagu “enak” dan “mengabadi”. Kita bisa meniru asal kecukupan duit dan terhindar dari bosan. Menu itu termasuk lezat di masa lalu. Ismail Marzuki berhak manja di makanan, timbal balik dari kerja keras. Keparlentean tetap berlaku. Kegagahan dibuktikan dengan naik sepeda motor bermerek Ariel asal Inggris. Ia memang seniman tenar.

Peristiwa proklamasi, 17 Agustus 1945, mengubah lakon Ismail Marzuki dalam revolusi dan seni. Ia turut merasakan derita perang. Suasana perang demi kemuliaan Indonesia membuahkan lagu-lagu bertema heroisme dan nasionalisme. Ismail Marzuki mempersembahkan lagu-lagu berjudul Saputangan dari Bandung, dan Bandung Selatan di Waktu Malam. Lagu jadi rekaman sejarah. Ismail Marzuki mengerti lagu memiliki kekuatan mengobarkan perlawanan demi Indonesia tetap merdeka. Tahun demi tahun, Ismail Marzuki menggubah lagu-lagu bakal menjadi dokumentasi atau referensi sejarah di masa berbeda. Ia semakin dihormati dengan gubahan lagu berjudul Rayuan Pulau Kelapa dan Gugur Bunga di Taman Bakti. Kita sering mendengar lagu-lagu itu dalam setiap peringatan Hari Kemerdekaan dan Hari Pahlawan. Mendengar lagu belum tentu kebablasan penasaran mengenali si penggubah dan latar lagu dicipta di masa lalu.

Pada akhir 1957, Ismail Marzuki menggubah lagu asmara berlirik sedih: Padamu, Dik, kuberikan kasih mesraku/ Padamu, Dik, kuberikan janji suciku/ Seiring jalan setujuan sehidup semati/ Sempurnalah asmara, kau dian insani. Sang istri merasa ada keanehan dengan lirik dalam lagu berjudul Kasih Putus di Tengah Jalan. Adegan mengharukan: “… kembali rebahan di pangkuan istrinya. Ia minta kepalanya diusap lagi dan kalau bisa, ia ingin Eulis menyanyikan lagu Kasih Putus di Tengah Jalan. Sekitar pukul 14.00, Eulis yang lelah memangku kepala suaminya berusaha membangunkan Ismail dan memintanya pindah ke kamar saja. Namun, seniman terkenal itu tak bisa bangun lagi. Ia meninggal di pangkuan istri tercinta yang mendendangkan lagu kesayangannya.” Peristiwa terjadi pada 25 Mei 1958. Bermula dan berakhir dengan lagu asmara.

Pada peringatan 100 tahun Ismail Marzuki, Ninok Leksono suguhkan buku berjudul Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman (2014). Buku semakin menguatkan ketokohan Ismail Marzuki dalam sejarah seni dan revolusi di Indonesia. Pada awal 2014, Rolling Stone (Indonesia) membuat daftar 100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik. Ismail Marzuki berada di urutan pertama. Ia memang pantas mendapat kehormatan. Orang-orang di abad XX mungkin lekas mengingat Ismail Marzuki jika mendengar lagu berjudul Aryati dan Juwita Malam. Lagu gubahan Ismail Marzuki sanggup melintasi tahun-tahun. Kita tak kaget jika Slank melantunkan lagi Juwita Malam dengan sentuhan musik berbeda. Sekian lagu terus dimainkan para seniman, mengawetkan warisan lagu-lagu dari Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki tercatat memulai keampuhan dengan bergabung ke Lief Java (1936) sudah moncer memaikan musik keroncong. Di situ, Ismail Marzuki membentuk kesenimanan dengan membara. Ia dianggap mampu meninggikan derajat keroncong. Ketekunan bermusik menghasilkan lagu-lagu terkenang sepanjang masa. Ninok Leksono menulis: “Ismail Marzuki memiliki perhatian yang amat luas terhadap pelbagai hal. Yang pertama tentu pada kehidupan, berikutnya terhadap alam, dan yang kental menjadi ciri khasnya adalah cinta tanah air, dan upaya untuk mencapai negara merdeka dan mempertahankan kemerdekaan.” Kita ingin mengetahui sejarah Indonesia bisa mendengar lagu-lagu gubahan Ismail Marzuki sambil membuka buku-buku untuk mengetahui situasi 1930-an sampai 1950-an. Lagu itu sejarh terdengar.

Tempo edisi 10 Mei 2014 memuat tulisan panjang untuk perintatan 100 tahun Ismail Marzuki dengan judul “Seorang Maestro dengan Paru-paru Basah”. Ismail Marzuki berakhir saat masih muda, 44 tahun. Ia masih mungkin menjadi mumpuni meski menerima keberakhiran di pangkuan istri. Tempo mencatat pujian Franki Raden untuk Ismail Marzuki: “Keistimewaan Ismail Marzuki terletak pada kepiawaiannya membuat melodi yang indah dan menawan. Melodi-melodi yang diciptakannya dengan mudah merasuk dan bertahan di ingatan pendengar.” Lagu-lagu bertema nasionalisme dan lagu-lagu pop asmara warisan Ismail Marzuki terus lestari.

Ketenaran Ismail Marzuki tak lolos dari kritik. Kita memiliki kritikus sakti bernama Remy Sylado. Protes dan ralat diberikan atas pengisahan biografi dan pengakuan lagu-lagu dianggap gubahan Ismail Marzuki. Ralat penting adalah lagu berjudul Halo-Halo Bandung. Lagu itu gubahan gubahan Lumban Tobing, bukan Ismail Marzuki. Lagu berjudul Panon Hideung pun dituduh bukan gubahan Ismail Marzuki. Lagu asli berasal dari Rusia. Judul dalam bahasa Inggris adalah Dark Eyes atau Black Eyes. Lagu di biografi asmara Ismail Marzuki dan Eulis Zubaedah. Kritik pedas Remy Sylado diakhiri dengan alinea gampang memicu polemik: “… apakah nama Taman Ismail Marzuki masih terus diabadikan ataukah perlu dipikir untuk ditukar dengan nama Raden Saleh, yang empunya tanah wakaf tersebut?” Kita masih penikmat lagu-lagu saja, belum memilik bekal besar menjadi kritikus seni dan mafhum sejarah berdurasi panjang. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.