Pembisik dari Dublin

(Turquoise Blue Green Gold Leaf by AmyNealArtStudio)

 

Awalnya aku ragu menjadi pemetik daun alur karena orang-orang akan merespons dalam dua tingkah, nyinyir atau salut. Suaeda maritima, nama latin tumbuhan air payau itu yang jika kau jilat badannya akan terasa asin, namun setelah kau godok dalam air mendidih, ia tak ubah seperti sayuran lain yang hambar dan biasa saja. Ia hidup di kaki bakau, di susur pantai, dan pematang tambak. Tak sedikit yang menghidupi diri dengan menjadi pemetik, namun yang gigih bisa dihitung jari. Tak banyak orang doyan makan sayur satu ini, kendati menyajikannya baru tarasa enak dengan parutan kelapa, itu karena warisan budaya.

Dua tahun lalu kutanggalkan jas almamater sarjanaku dari Dublin, kampus yang sama tempat James Joyce mengumbar pikirannya di sudut perpustakaan dan semenanjung Howth Head untuk “Dubliners” dan “Ulysses” sebelum tanah genting itu menjadi tempat wisata seperti sekarang. Dulu, di atas sana ditumbuhi bunga krokot yang mirip alur. Sebut saja bunga pukul sembilan, bunga cantik manis, rose moss, sun rose. Orang menimang-nimangnya di keranjang bayi berwujud pot gantung di beranda. Tetapi kelihatannya ia tetap tumbuhan biasa dan tak peduli dunia menamai siapa. James Joyce membaringkan badan di hamparan bunga krokot lalu menghadap ke langit. Merasai debur air di bawah sana, dan sayap elang yang berputar-putar menjarah angkasa. Konon, James Joyce tak hanya berbaring, ia menjamah tumbuhan itu lalu memasukkan kuntum bunga ke dalam mulut, mengunyahnya dengan gigitan yang sama seperti masturbasi. Aku tak sedang berkhayal. Alur yang membisikkannya padaku.

Barangkali beberapa orang menganggapku gila karena bercakap-cakap dengan tumbuhan. Aku tak pernah mempertontonkan kemampuanku di depan umum. Orang tahu karena tak sengaja. Hanya alur yang bisa, bukan yang lain. Mereka tak pakai bahasa manusia, akulah yang mengerti bahasa mereka. Bisikan-bisikannya serupa nyanyian paduan suara. Tak hanya satu batang yang jadi vokal, semuanya mengalun seperti melodi. Berbicara satu berbicara semua. Mereka beberkan muasal, menaksir perubahan cuaca, dan menghibur dengan dongeng-dongeng has Irlandia. “Kami lahir di Eropa. Dari seorang pria yang ingin jadi bir.” Aku terkekeh membayangkan pria yang mereka maksud, yang tak lain adalah James Joyce, yang bertengger di pub favoritnya menulis sebuah masterpiece yaitu mendamba jadi buih.

Spesies ini tak pernah meleset dalam menaksir cuaca. Apa yang akan terjadi jam enam sore selain matahari tenggelam. Seperti hujan misterius tahun lalu. Saat itu sebuah pabrik cokelat baru diresmikan. Mereka mengolah biji cokelat menjadi berbagai produk makanan. Bau asam yang keluar dari cerobong mencederai penciuman warga. Mereka mengeluh tak bisa apa-apa karena bau asam mematikan indra. Asam menyengat yang tercemari monoksida. Beberapa warga melaporkan secara detail keluhan yang tak masuk akal. Para suami kehilangan hasrat di ranjang karena istri yang baru mandi ternyata bau kecut. Sang istri sudah semprot parfum, sudah tabur bunga tujuh rupa, tak juga hilang bau. Saat hajat nikah, banyak tamu dari luar daerah yang kehilangan selera makan karena semua hidangan terasa basi. Aroma campur aduk mengepul di tenda-tenda hajatan, di rumah-rumah pengajian. Bau asam, bau terasi, bau pupuk ikan, hidung para warga pun sedikit-sedikit berevolusi. Jika sebelumnya hanya ada dua bentuk hidung di dunia yaitu mancung dan pesek, maka hidung warga itu jadi bengkok. Dan semua orang tahu apa artinya. Mereka sudah diintip kematian. Ajal akan beramai-ramai memberondong satu kampung.

Cokelat memang nikmat, tapi siapa yang suka limbah? Warga protes kepada pemilik pabrik agar mencari solusi. Jika tidak, mereka akan membobol pom bensin untuk membakar pabrik. “Kami mati kalian ikut mati!” Mereka berteriak di depan gerbang. Terdiri dari ibu-ibu bermukena dan bapak-bapak berkaus dalam merek Angsa. Bupati akhirnya turun tangan. Ia mengajak warga kumpul di stadion lalu salawatan sama-sama. Ia juga menyawer warga yang bisa menirukan lirik salawat dengan sempurna. Lima puluh ribu, seratus ribu, melayang-layang di tangan kanannya. Awalnya damai tenteram, lalu ada bocah sialan yang kerasukan. Yang merasukinya adalah hantu penunggu pabrik cokelat. Bocah itu petentang-petenteng di depan Bupati bersuara merdu.

“Kau boleh tutup rumahku, tapi tutup juga rumah batu bara!” Ia menunjuk ke utara. Pabrik batu bara itu ada di km 7, tak jauh dari pabrik cokelat yang bau. Warga terperangah. Anak itu kerasukan jin buta. Sejak kapan ada pabrik batu bara di km 7. Sang bupati lebih terpesona. Mungkin ia melihat dengan mata batin. Dan pabrik itu sesungguhnya bikinan mereka, bukan manusia.

“Kalau protes masalah duniawi saja, kerajaan jin bukan urusan saya.” Sang Bupati menimpali dengan senyum merekah. Ia mengusir dengan santun hantu di dalam tubuh si bocah.

Monggo, silakan keluar. Sampeyan salah alamat.” Senyum itu jinak selaiknya orang Jawa bersopan santun pada tamu tak diundang. Bocah itu mendelik, lalu meludahi wajah sang bupati. Warga yang kalap hampir menendang si bocah  kerasukan. Sang bupati lagi-lagi mampu menguasai panas hati. Ia kembali mengajak bersalawat, lalu si bocah tidur lemas.

Selang beberapa hari, mendung membumbung di langit senja. Saat semua pegawai pabrik cokelat yang hampir seluruhnya dari desaku itu keluar berdoyong-doyong mengendarai motor mereka. Awan semakin suram. Hawa panas mengepul dari pusat Bumi. Udara seketika buram. Jalanan macet total karena semua mata mendadak katarak. Mata-mata dihinggapi ubur-ubur beracun. Belum pernah kami alami kejadian abnormal semacam ini. Alur yang membisikiku: Saat matahari tenggelam, akan turun hujan istimewa. Aku takut bukan main, jangan-jangan pabrik cokelat akan meledak dengan sendirinya lalu tumpahlah lelehan coklat memenuhi ladang gandum seperti iklan Koko Crunch.

Di sini tak ada gandum melainkan ratusan kepala buruh yang memadati jalan. Sebuah gemuruh seperti serdawa buto ijo terdengar dari arah pabrik. Orang-orang gusar menyelamatkan diri. Motor, mobil, dan truk bertabrakan. Tapi mereka tak peduli. Lima tabung raksasa meletus. Semburat cairan cokelat memancar ke langit, lalu jatuh ke Bumi berupa hujan permen bola-bola. Anak-anak kecil keluar dari rumah. Memungut bola cokelat sebesar kelereng langsung menyantapnya. Orang-orang yang tadi ketakutan terhibur. Langit gelap rupanya menyiapkan hujan istimewa. mereka buka mulut ke langit lalu mengunyah bola coklat dengan mata melek merem. Enak juga rasanya. Mereka bentangkan sarung, taplak meja, seprai, dan apa saja untuk menampung bola cokelat. Semua orang girang, para buruh yang tadi tunggang-langgang tak bisa berkata-kata. Tangan-tangan itulah yang biasanya mengurus bola-bola.

Sehari setelah hujan bola cokelat, semua orang yang ikut makan jadi penghuni kuburan. mereka mati tengah malam. Paramedis sampai dukun ikut memeriksa sebab musabab. Dokter mengidentifikasi perut korban berisi kerikil batu bara. Saintis tak dapat bukti bahwa bola cokelat itu berbahaya apalagi sampai berisi batu. Penjelasan dukun lah yang masuk akal. Mereka dikerjai mahluk halus. Orang-orang yang selamat duduk bersimpuh. Mengenang bocah lelaki yang kerasukan tempo hari. Di km 7 ada aktivitas tak kelihatan yang dikuasai para jin. Kini mereka percaya, pabrik batu bara itu benar adanya.

**

Panas terik jam dua siang. Suhu mencapai tiga puluh sembilan derajat di penunjuk waktu digital. Aku masih mencerabut akar alur dengan tabah. Orang-orang lewat, orang-orang melihat dengan tatapan abu-abu. Seorang sarjana beradab mengais rezeki orang kecil. Tak cukupkah gelar dan ilmu sampai kau doyan merampas jatah mereka? Orang lain berhenti, mungkin sama beradab denganku. Mereka berujar, “Yang penting halal, ya, Le?” kemudian berlalu dengan wajah iba.

Engkau tak pernah tahu, alur yang membisikiku. James Joyce mengunyah bunga kerokot sembari membayangkan nikmat masturbasi bukan demi novelnya. Bunga-bunga itulah yang meminta. Ia hidup selamanya dalam darah James Joyce, sampai jasadnya dikubur di pekarangan penuh tetumbuhan di kota Zurich. Mereka yang hidup tak pernah tahu, selain memperdebatkan jasad dan bersikukuh memindahkan tulang-belulang ke Dublin, kota kelahiran James Joyce. Padahal ia tidak mati, tidak hijrah ke mana-mana. Ia hidup dan terus tumbuh di jantung Howth Head. Tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Alur yang membisikiku.

***

Pramudya Utari

Latest posts by Pramudya Utari (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Saya mengira pengarang nya laki-laki, dari narasi dan penuturan ga ketebak kalau selera mengarang seperti ini milik perempuan. Salut

    • Pramudya Utari Reply

      Saya subyek gegar, Mas/Mbak. Bisa jadi laki2 juga LoL.

  2. Anonymous Reply

    mantap mbak.. ditunggu karya hebat selanjutnya

  3. Wahyudi Reply

    Membuka wawasan baru membaca karya ini. Selamat untuk penulisnya.

  4. aeerachan Reply

    Kalau ngga baca ini, kayaknya aku ngga bakal kenal james joyce wkwk

  5. Anonymous Reply

    Pintu imajinasi saya jadi terbuka lebar setelah membaca ini. Salut deh sama mbaknya

    • Pramudya Utari Reply

      Terima kasih agan-agan semua. Semoga bisa berkarya lagi dalam sekali duduk 🙂

      • Jihan Reply

        keren ceritanyaa mbakk.
        mau tanya dong kalo kita ngirim tulisan dan dimuat kan ada gambar-gambarnya tuh pas dibawah judul.ini penulis nyantumin sendiri atau pihak basabasi.co yang nyantumin ya ?. terimakasihh.

        • Admin Reply

          gambar dari redaksi.

      • Anonymous Reply

        Gresik ini

  6. Yuni Bint Saniro Reply

    Bagus Mbak… Suka sekali…

  7. Ria Reply

    Bagus mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published.