Pembuat(an) Nama

in Memorabilia by

Sapardi Djoko Damono, nama besar tercatat di sastra Indonesia, sejak masa 1960-an. Ratusan puisi telah digubah. Usia menua tapi buku puisi terus terbit tiap tahun. Nama tercantum di buku baru, teringat oleh para pembaca dan penggemar. Nama berselera Jawa. Nama telah terbaca juga oleh orang-orang di pelbagai negeri setelah sekian puisi diterjemahkan ke bahasa-bahasa asing. Nama penggubah puisi bergerak jauh. Nama-nama di puisi turut teringat dan bergerak jauh?

Di buku terbaru berjudul Perihal Gendis (2018), Sapardi Djoko Damono masih berselera Jawa. Ia lahir di Solo, menghirup dan menatap Jawa, hari demi hari. Nama-nama perempuan di Jawa terpilih di gubahan teks sastra. Sekian tahun lalu, ia menulis novel dijuduli Suti. Nama itu mungkin lekas terlupa, setelah nama Pingkan berada di novel dan film. Sapardi Djoko Damono sulit bersaing dengan siasat para pengarang lain  mengabadikan nama-nama di prosa dan puisi. Sejarah sastra di Indonesia mencatat nama terpenting adalah Sitti Nurbaya pada masa 1920-an. Nama buatan Marah Rusli untuk tokoh menderita itu melegenda. Sekian nama ada di belakang, berebutan urutan. Ia perempuan di Sumatra. Nama perempuan Jawa agak terawetkan di ingatan pembaca sastra mungkin Sri Sumarah dan Bawuk di prosa gubahan Umar Kayam.

Sapardi Djoko Damono dalam puisi berjudul “Percakapan di Luar Riuh Suara” memperdebatkan nama di bait-bait masih liris. Kita mengutip dua bait di belakang: GENDIS: Oke, tapi siapa namamu?/ Aku suka nama/ yang kalau diucapkan/ menjelma percikan api/ menjelma makna/ menghangatkan malam.// BURUNG: Tidak tahukah kau, Gendis,/ bahwa burung tidak memerlukan nama?/ Tidak tahukah kau sebabnya, Gendis?/ Nama selalu bergeser-/ geser tafsirnya/ kalau diucapkan. Filsafat nama sodoran lelaki sepuh. Gendis dan Burung di percakapan beradu pemikiran nama. Keinginan mengenali nama terjawab peringatan lupa mendapat tanda seru. Kita boleh mengingat dua larik terakhir: “Nama selalu bergeser-geser tafsirnya kalau diucapkan.” Nama dituliskan dan diucapkan memiliki nasib berbeda. Si pujangga itu menulis berbekal dari bacaan sastra Jawa atau penelusuran di adab pemberian nama mengacu ke filsafat Jawa?

Sapardi Djoko Damono enteng menulis dua bait, sengaja tak mengajak pembaca membuka lagi buku-buku lama atau para pemikir nama di Jawa (Indonesia). Dulu, filosof nama tenar di Jawa adalah Ki Ageng Suryomentaram. Pembuat politik-nama paling berpengaruh di Indonesia adalah Soekarno. Di pelbagai pertemuan atau rapat, Soekarno sering marah-marah pada para orang tua menamai anak dipengaruhi nama-nama Belanda atau berkiblat ke Eropa. Pemimpin revolusi itu menuntut pemberian nama mengambil dari keberlimpahan sejarah dan makna di Nusantara, setelah dipengaruhi peradaban-peradaban asing, sejak ribuan tahun lalu. Keranjingan mencantumkan nama-nama pena atau samaran mungkin ditentukan kebijakan Tirto Adhi Soerjo selama menggerakkan Medan Prijaji. Pembaca menemukan nama-nama aneh selaku penulis artikel atau reportase.

* * *

Kita mengingat lagi nama-nama memicu industri penerbitan buku. Di Jawa, pembicaraan nama di kalangan orang tua bereferensi alam, kejadian, bisikan, pengharapan, wasiat, silsilah, dan tanda-tanda mistik. Tata cara perlahan berubah dengan penerbitan buku-buku mengenai nama, sebelum terlalu “ramai” di akhir abad XX. Di Indonesia, buku bertema nama tercatat sebagai pemula mungkin buku berjudul Nama-Nama Indonesia susunan Ki Hadiwidjana, terbitan Spring, Jogjakarta, 1968. Buku berukuran saku, kertas buram, 200 halaman. Buku bersejarah, langka, dan bergelimang makna.

Penjelasan penerbit: “Sesungguhnja sudah amat lama terkandung maksud dalam hati untuk mewudjudkan buku Nama-Nama Indonesia ini. Adapun timbulnja hasrat jang besar itu disebabkan kami menjelami masjarakat kita, dari pedesan sampai kota-kota. Ternjata tiap-tiap kelahiran sang baji, selalu menimbulkan pertanjaan bagi ajah dan ibunja, ‘Akan kami beri nama siapa anak kami ini?’ Selain itu sering terdjadi kegandjilan-kegandjilan dalam masjarakat kita jang disebabkan belum adanja nama kaum.” Penerbitan buku penting bermisi mengurangi penat, bingung, dan perdebatan di kalangan orang tua dalam pemberian nama. Buku itu berkhasiat.

Di halaman-halaman awal, Ki Hadiwidjana membuat daftar nama bisa dipilih dengan janji itu nama baik dan bermakna. Kita mengutip acak contoh nama dan arti bagi anak lelaki: Budi (persesuaian rasa dan pikir), Djaka (belum beristri), Giman (ahli pidato), Handaka (banteng), Krama (langkah, sopan, tjara), Kusna (tampan), Mintardja (membagi kekuasaan), dan Surat (sinar). Sekian sering kita ketahui meski lupa makna. Budi telanjur nama milik Depdikbud di masa Orde Baru. Budi bertebaran di buku pelajaran memberi pengaruh seantero Indonesia. Giman adalah tokoh andalan di iklan-iklan Blue Band masa 1950-an dan 1960-an. Handaka milik Suparto Brata dalam penulisan novel detektif. Nama agak aneh itu Surat. Di Pare (Kediri) masa lalu, perempuan asal Amerika Serikat bernama Hildred Geertz melakukan riset. Hidup bersama manusia-manusia Jawa memicu pilihan nama ingin berterima. Ia pun bernama Suratinah. Nama mengesahkan kebiasaan setiap hari menulis di kertas. Orang-orang melihat ia pasti sedang menulis surat. Nama itu milik perempuan, tak cuma milik lelaki.

Contoh nama-nama perempuan di buku gagal mendapat arti. Penulis cuma menata saja. Pembaca boleh bingung dan menebak arti. Sekian contoh: Sarinah, Sarijem, Marsidah, Ginah, Gijem, Marni, Parni, Lestari, Sundari, dan Surti. Di situ, kita tak menemukan nama Gendis. Kapan orang Jawa berani menamai anak dengan Gendis? Di pinggiran Solo, ada bocah perempuan mendapat nama Gendis Jawi. Nama manusia, bukan nama dagangan di warung. Kita menduga Sapardi Djoko Damono tak memerlukan membuka buku berjudul Nama-Nama Indonesia, sebelum menggubah puisi-puisi untuk terbit menjadi buku dijuduli Perihal Gendis. Sapardi Djoko Damono dengan novel memiliki tokoh bernama Soekram pun tak wajib membuka buku-buku mengenai nama.

* * *

Penerbitan buku di masa 1960-an memiliki kaitan erat dengan politik nama di Indonesia. Pengaruh India, Islam, dan Eropa mulai mengubah kebiasaan memberi nama bereferensi adat atau mengikut ke alur nasionalisme. Kebijakan-kebijakan politik pun “memaksa” atau “menganjurkan” ke perubahan nama-nama. Di Indonesia masa lalu, perubahan nama berjumlah ribuan orang dialami para peranakan Tionghoa. Politik jadi penentu. Mereka mengubah nama ingin sesuai selera Indonesia. Sekian orang tetap dengan nama semula. argumentasi-argumentasi saling bertempur demi identitas, sejarah, keluarga, nasib, dan ideologi. Di luar politik, perubahan nama kadang sebagai tata cara membentuk biografi di Indonesia di pergaulan politik, literasi, agama, dan sosial-kultural.

Kita membaca lagi penggalan biografi tokoh tenar dengan penerbitan Gunung Agung. Tokoh berpredikat sahabat Soekarno, serius mengobarkan revolusi dengan buku-buku. Ia mengubah nama. Perubahan diumumkan di majalah Djaja edisi 2 Februari 1963. Pengumuman atau pemberitahuan ke publik. Ia memiliki niat mulia ketimbang berurusan gengsi atau kemonceran.

Kita baca pemberitahuan: “Bertepatan dengan kundjungan ke Irian Barat beberapa waktu jang lalu dalam rangka persiapan penjebaran buku-buku Indonesia, dimana selama berada dikota baru (Wisma Harlina) chususnja, ditengah-tengah pelbagai kesibukan, kami telah dianugerahi nama baru oleh Bapak-Bapak dari Perwakilan RI semasa UNTEA, jaitu: Mas Agung. Dengan perasaan terima kasih kami terima anugerah nama tersebut, bahkan nama isteri serta anak-anak kamipun telah disesuaikan. Semoga para relasi dan kawan-kawan mengetahui adanja.” Si pemberitahu adalah Mas Agung, dulu bernama Tjio Wie Tay: Presiden Direktur PT Gunung Agung. Pemberitahuan tercatat: 13 Desember 1962.

 Di Indonesia, nama itu berkibar. Orang-orang selalu mengingat nama, toko buku, dan penerbitan buku. Pada masa lalu, Mas Agung menggerakkan Gunung Agung mempersembahkan buku-buku biografi, sastra, pendidikan, dan lain-lain. Indonesia turut melek aksara dan bergairah mengenalkan para tokoh melalui Gunung Agung. Di mata para pembaca, elite, pedagang, dan intelektual, Mas Agung itu nama “harus” tercatat di lembaran sejarah peradaban literasi Indonesia. Orang-orang telanjur mengenali Mas Agung, berisiko lupa nama terdahulu.

* * *

Perkara nama sering dilema. Di Semarang, esais dan peresensi kondang dengan nama panggilan Wiwid menulis buku berjudul Perihal Nama (2018). Ia melakukan riset kesusastraan dan menulis serius. Buku sudah cetak ulang kedua. Bermutu dan laris. Ia pasti belum membaca cerita pendek berjudul Memberi Nama gubahan M Sunjoto, dimuat di majalah Tanah Air edisi Mei 1963. Cerita dilematis, membuat pembaca prihatin dan tertawa.

Cerita bersituasi Perang Dingin (Amerika Serikat-Uni Soviet) dan keramaian memikirkan Manipol-USDEK. Suami-istri bernama Lebai Alip  dan Sanijah bermimpi aneh, sebelum mereka bingung memberi nama bagi anak berjenis kelamin perempuan. Si pengarang mahir cengengesan tapi ideologis. Kutipan anggaplah kocak: “Kala itu Lebai Alip bermimpi. Ia pergi kebulan dengan satelit Amerika dan isterinja pergi ke Mars dengan satelit Rusia. Saban ada orang datang kerumahnja selalu ditjeritakan mimpinja itu.” Dua puluh hari setelah bermimpi bareng, lahirlah anak perempuan. Dilema sulit terjawab. Pemberian nama terlalu sulit.

Semula, anak itu bakal diberi nama Qomarijah berarti bulan. Usulan batal setelah dimarahi keluarga besar. Mufakat belum diperoleh. Tetangga datang ingin memberi usul. Ia pulang dari menonton film di bioskop. Ia melihat tokoh heroik asal Prancis bernama Jeane d’Arc. Lebai Alip menganggap pergi dan menonton film di bioskop itu perbuatan haram. Usulan nama itu sedikit melupakan haram. Nama apik bagi anak perempuan. Batal! Nama itu milik perempuan beragama Katolik. Dilema terus berlanjut.

Lebai Alip ingin memberi nama Zahra, berarti bunga. Usulan memberi bimbang dan gundah, setelah Lebai Alip membaca koran. Di situ, ia membaca berita mengenai pembesar di Surabaya tersangkut kasus memalukan gara-gara mengumbar nafsu dengan “P”. Di berita, “P” itu bernama Zahra. Lebai Alip kaget, malu menamai anak dengan Zahra. Ia takut anak bakal menjadi pelacur. Kepala semakin pening. Sekian nama bermunculan tapi ditolak: “Akan diberi nama Saudah, tetapi Saudah itu terkenal sebagai nama silintah darat dikampung Djamboran. Diberi nama Wilnijah? Wilnijah adalah nama pemain ronggeng. Semuanja serba sulit.”

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu berlalu. Si anak belum mendapatkan nama. Orang-orang susah untuk memanggil. Pada suatu hari, Lebai Alip ingat mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan. Hari demi hari terus berganti sampai ke Oktober untuk peringatan Sumpah Pemuda. Lebai Alip mulai berpikiran dengan lagak nasionalisme. Si anak bakal dinamai khas Indonesia. Nama itu ditemukan: Jamienah. Lebai Alip mendapat arti Jamienah adalah sumpah, berkaitan Sumpah Pemuda, peristiwa bersejarah di Indonesia. Nama itu hampir diberikan tapi diselingi suara bocah-bocah tetangga sedang menghafalkan segala pokok di Manipol-USDEK. Suara bocah terdengar: K dalam USDEK berarti Kepribadian Bangsa Indonesia. Pikiran berubah. Jamieneh berasal dari bahasa Arab, belum sesuai USDEK. Ia ingin si anak bernama asli Indonesia. Sial! Pada saat Lebai Alip berpikiran nama, buku berjudul Nama-Nama Indonesia susunan Ki Hadiwidjana belum terbit. Ia tak memiliki panduan dan contoh. Di akhir, anak diberi nama Dingin. Dalih pemberian nama Dingin: “Biar nanti bisa mendinginkan hatinja jang telah panas karena panasnja kepala untuk memberi nama itu.” Lebai Alip mencipta dilema bagi anak kelak dewasa. Perempuan bernama Dingin: puitis dan tragis. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.