Pendekar Bahasa dan Jurusnya yang Sederhana

 

 

Ulasan Buku Pendekar Bahasa oleh Adi Osman

Judul               : Pendekar Bahasa

Penulis             : Holy Adib

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : Pertama, November 2019

Tebal               : 176 halaman

ISBN               : 978-623-7290-39-1

Ada pihak-pihak yang seharusnya menjadi pioner, teladan, proyek percontohan, atau model, justru menjadi pihak yang beroposisi biner terhadap hal-hal yang seharusnya mereka kampanyekan. Dalam esai berjudul “Mecelehkan Bahasa Indonesia” Holy Adib mengamati bahwa pihak-pihak yang seharusnya menjadi penjunjung bahasa Indonesia, seperti pemerintah, institusi pendidikan, media massa, pegiat literasi justru gemar memakai kosakata asing dalam konteks berbahasa Indonesia, antara lain dalam menamai program dan acara.

Holy Adib menyindir perilaku seperti itu dalam esai yang berjudul “Menolak Hari Valentine, Mencopot Buka Lapak” dalam buku Pendekar Bahasa,  “Budaya kita ialah gemar memakai kata asing dalam situasi berbahasa Indonesia dan malas mencari padanannya dalam bahasa sendiri.” (107-108).

Julukan pendekar bahasa pada judul buku ini merupakan istilah yang diambil Holy Adib dari definisi Harimurti Kridalaksana, linguis senior Indonesia yang masih hidup. Harimurti menjuluki orang-orang yang menyumbangkan pikirannya untuk bahasa Indonesia meskipun latar belakang pendidikan mereka bukan bahasa. Ada sejumlah pendekar bahasa di Indonesia yang menjunjung bahasa Indonesia dengan, salah satunya, memadankan kata atau istilah bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

Sikap seperti pendekar bahasa itulah yang dihadirkan oleh Holy Adib dalam sejumlah esainya dalam buku Pendekar Bahasa demi menghadapi berbagai persoalan bahasa di tengah masyarakat. Beberapa motivasi menulisnya dalam buku tersebut ialah semangat untuk menelusuri bahasa Indonesia, pencarian-pencarian padanan kata, serta mengkritik sikap yang melecehkan bahasa Indonesia.

Semangat menelurusi dan mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia merupakan sebuah usaha dalam menghadapi banjir bahasa asing yang dibawa oleh produk-produk teknologi terkini serta pengetahuannya, yang belum ada konsepnya dalam bahasa Indonesia. Hal itu disampaikan secara gamblang oleh Pendekar Bahasa melalui beberapa artikelnya yang terangkum dalam bab Asal-usul dan Usul.

Dalam bab Asal-usul, artikel berjudul “Sejarah Anda” dan “Sejarah Jomlo dan Perkembangannya” mengurai usaha-usaha untuk menggali khazanah bahasa daerah untuk menyediakan sebuah kata yang sesuai dipakai publik. Bab ini memberikan gambaran kepada pembaca bahwa bahasa daerah mempunyai pasokan bahasa yang kaya, yang dapat dieksplorasi dan memungkinkan untuk dipasarkan kepada masyarakat. Masih dalam bab itu, artikel “Pendekar Bahasa” menjadi semacam jurus andalan untuk memberikan contoh akan orang-orang yang mempunyai perhatian besar terhadap bahasa Indonesia meskipun latar pendidikannya bukanlah terkait bahasa.

Sementara itu, pada bab Usul, Pendekar Bahasa mengaplikasikan semangat pencarian yang digambarkan pada bab Asal-usul, dengan kata lain Holy Adib menjadi “Pendekar Bahasa”. Beberapa di antaranya, ialah mengusulkan tengaran kata sebagai padanan landmark, menganjurkan pemakaian kata mencopot daripada kata uninstal, dan memakai istilah Hari Valentine daripada Valentine’s Day—beberapa media bahkan salah menuliskannya, Valentine Day.

Jika Pendekar Bahasa diposisikan sebagai sebuah cerita heroik, tokoh antagonis yang dihadapinya ialah kalangan yang gemar menggunakan kosakata asing yang ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Benturan antara tokoh protagonis dan antagonis itu tampak pada bab Salah Kaprah dan Sikap terhadap Bahasa.

Artikel-artikel pada bab Salah Kaprah mengulas pemakaian kata dan istilah oleh media massa yang cenderung menyesatkan, tidak efektif, bahkan bertele-tele, seperti dibahas dalam tulisan berjudul “Caleg dan Pileg”, “Gagap Memahami Satuan”, “Judul yang Mengecoh Pembaca”, dan “DPT Dikira Pemilih, DPO Dikira Buron”. Tulisan-tulisan pada bab ini juga mengurai penggunaan kata pada berita-berita yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, kekeliruan pengertian kata, dan logika bahasa yang tidak wajar, kacau, dan rancu.

Adapun pada bab Sikap terhadap Bahasa, buku ini menyasar perilaku pemerintah provinsi, universitas, dan pegiat literasi yang dianggap sebagai lembaga yang punya pengaruh besar dalam “memprovokasi” masyarakat untuk mencintai bahasa Indonesia, yang sayangnya justru berlaku sebaliknya. Atas masalah tersebut, dengan tegas Pendekar Bahasa mengkritisi sikap tersebut dalam artikel “Melecehkan Bahasa Indonesia”, “Sikap Negatif Perguruan terhadap Bahasa Indonesia”, dan “Minangkabau Summit”. Tulisan-tulisan tersebut mengurai kecenderungan berbahasa oleh lembaga itu dalam judul acara atau nama gedungnya, pula menjelaskan landasan kenapa orang lebih suka memakai bahasa asing daripada bahasa sendiri, dan menegaskan berkali-kali untuk memperbaiki sikap negatif itu.

Sekali lagi, apabila Pendekar Bahasa adalah sosok hero dalam masyarakat, ia punya kehidupan sehari-hari layaknya manusia biasa yang butuh makan, minum, mandi, bercinta, memakai teknologi, dan lain-lain. Akan tetapi, dalam menjalani kehidupan sehari-hari itu ia tetap memaknai pemakaian bahasa di sekitarnya. Ia juga membahas pemakaian kata mengopi dan mengeteh dalam artikelnya “Mengeteh, Mengopi, Menggambir, Mencokelat”. Ia juga membicarakan hal yang berkaitan dengan teknologi mutakhir, yakni pada tulisan “Mendengarkan Buku”.

Meskipun begitu, Pendekar Bahasa bukanlah adimanusia dalam film-film populer. Pendekar Bahasa tidak punya jurus-jurus yang secara visual sedap dipandang, nama yang sedap didengar (eufonik), atau tampil dengan kostum seksi dan bahana. Ia hadir dengan jurus-jurus yang sederhana sehingga bisa dipahami oleh siapa pun.

Adi Osman
Latest posts by Adi Osman (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.