Pendidikan Seperti Apa yang Kita Inginkan?

Sebelum era teknologi digital muncul, pada zaman dahulu, pengetahuan adalah komoditas yang sangat mahal sehingga harus dihargai, dijaga dan ditimbun. Sekolah-sekolah pertama kali didirikan oleh gereja-gereja untuk melatih para biarawan dan biarawati muda. Berbagai universitas di belahan dunia melahirkan para sarjana dari tahun ke tahun. Buku-buku yang dianggap langka disimpan secara khusus di perpustakaan. Buku-buku langka itu menjadi sumber pengetahuan primer para ilmuwan. Pendidikan, pada awalnya hanya untuk kaum bangsawan, kemudian mencakup semua orang kaya, kalaupun muncul kalangan dari kaum bawah, itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Mereka-mereka ini bisa belajar agama, filsafat, hukum, atau kedokteran. Ilmu pengetahuan yang dipelajari, didalami kemudian dibawa para sarjana dan ilmuwan ke segala penjuru dunia. Bidang-bidang keilmuan makin bertambah. Para sarjana dan ilmuwan datang dari berbagai disiplin ilmu yang menyebar itu kemudian melahirkan lebih banyak disiplin ilmu baru. Pendidikan tradisional, seperti calistung (membaca, menulis, dan berhitung) termasuk sains, sastra, sejarah, filsafat, dan hukum mulai dikenal semua kalangan.

Dari kota ke kota lahirlah universitas-universitas baru. Tidak hanya kaum borjuis, kaum proletar juga mulai semakin banyak menikmati manisnya buah pengetahuan di universitas. Dari kota dan desa, dan bahkan ke semua negara berkembang hingga tingkat yang berbeda-beda. Universitas-universitas baru itu lalu mulai merangkak naik mendekati universitas-universitas prestisius dengan memamerkan penelitian, melahirkan ilmuwan segudang prestasi, dan penemuan-penemuan terbarukan. Penyebaran itu kemudian tumbuh secara vertikal, dan orang-orang yang mau belajar semakin bertambah banyak. Mulai dari taman kanak-kanak sampai tingkat pascadoktoral. Pendidikan telah diklasifikasikan dan diatur secara rumit. 

Melalui sistem pendidikan yang telah dirancang itu, kita mengambil semua pengetahuan yang telah dipelajari umat manusia dalam beberapa abad terakhir, menyingkirkan kesalahan, kegagalan, mitos dan takhayul, mengatur semua elemen dan komponen dalam kerangka komprehensif dan struktur berlapis-lapis, merangkum semuanya menjadi studi-studi 10 atau 30 tahun, dan menawarkannya kepada generasi sekarang. Orang-orang yang mendaftar di sekolah memiliki kesempatan yang adil untuk mempelajari semua pengetahuan secara akumulatif. Bagi mereka yang memiliki kecenderungan untuk mengejar pendidikan lebih lanjut hingga perguruan tinggi, dimungkinkan untuk mengkhususkan diri dalam satu atau lebih topik. Mempelajari semua yang dapat dipelajari tentang subjek tertentu, dan melakukan penelitian-penelitian lebih mendalam.

Menggali Pengetahuan

Namun, betapapun hebatnya sistem pendidikan yang telah dirancang, banyak guru dan siswa yang tidak terhubung dengan itu dan mereka tidak mendapatkan apa yang lebih mereka butuhkan di masa depan. Apa masalahnya? Birokrasi rigid dan normatif, yang tujuannya hanya memenuhi kewajiban administratif belaka sehingga tidak ada waktu untuk membangun “curiosity” dalam belajar serta menghasilkan “rational people” dalam pembelajaran. Mereka yang pergi ke sekolah hanya berpikir untuk lulus dari sekolah, mendapatkan ijazah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, dan tentu saja dengan banyak rintangan yang mesti diselesaikan di sepanjang jalan. Daya tarik penelitian, penemuan dan kegembiraan dalam belajar tidak lagi nyata bagi banyak orang.

Betapa kayanya ilmu pengetahuan di dunia ini, yang perlu digali lebih jauh lagi. Ketika semua pengetahuan yang telah dikumpulkan umat manusia selama ribuan tahun disajikan kepada setiap generasi baru dalam satu atau dua dekade, itu harus diringkas dan diatur secara rumit. Pengetahuan dipecah menjadi bagian-bagian yang berbeda, yang disebut sebagai mata pelajaran di sekolah. Kata-kata lisan dan tulisan-tulisan puitis menjadi sastra. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kehidupan dan organisme kita sebut biologi. Ilmu yang mempelajari dunia dan fenomena alam adalah geografi. Ilmu yang mempelajari tentang angka dan perhitungan disebut matematika. Ilmu menyelidiki perkembangan-perkembangan mengenai peristiwa dan kejadian di masa lampau disebut sejarah. Dalam setiap mata pelajaran, para ilmuwan lalu mengklasifikasikan pengetahuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih kompleks. Bagian geografi yang mempelajari bumi adalah geologi, cuacanya diklasifikasikan dalam meteorologi, dan studi luar angkasa menjadi astronomi, serta ada banyak pengetahuan yang dipecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil yang lebih kompleks lagi.

Oleh karena itu, untuk memahami setiap bagian, kita perlu memahami keseluruhan dan hubungan bagian dengan keseluruhan. Dengan kata lain, kita memahami sesuatu ketika kita melihatnya dalam suatu konteks. Yang nyata dan terlihat oleh mata; yang kita rasakan dan kita alami sendiri. Yang didapatkan dari proses belajar. Puisi dan seni dapat diapresiasi lebih baik jika dimungkinkan seseorang mengetahui periode penciptaannya. Sastra dapat dipahami secara lebih mendalam ketika lingkungan tempat si pengarang ketika menulis diketahui. Memahami ledakan populasi penduduk membutuhkan pengetahuan tentang realitas ekonomi dan sentimen keagamaan masyarakat. Polusi dapat diperiksa ketika kita memahami semua tentang industrialisasi. Diskriminasi dapat dihilangkan ketika orang-orang saling memahami dan mengutamakan kemanusiaan. Fundamentalisme hanya dapat ditanggulangi jika akar penyebabnya, seperti buta huruf, pengangguran, kemiskinan, dan marginalisasi dapat diatasi. Jadi, semuanya perlu dilihat dalam konteks. Dengan cara yang sama, pendidikan kita akan memperoleh makna dan menjadi hidup ketika kita membuatnya secara kontekstual.

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual sangat dibutuhkan dalam proses belajar dan mengajar di era sekarang. Pembelajaran kontekstual didasarkan pada teori konstruktivistik. Siswa mengaktifkan pengetahuan, memperoleh pengetahuan, memahami pengetahuan, menerapkan pengetahuan, dan mencerminkan pengetahuan. Intinya, bagaimana cara membangun pemahaman siswa sendiri tentang dunia yang mereka tinggali. Informasi disajikan sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengonstruksi makna berdasarkan pengalaman mereka sendiri. Semuanya dipelajari dalam keadaan fisik, sosial, budaya, politik, ekonomi dan pribadi yang mencirikan situasi kehidupan nyata mereka, proses mental dan emosional mereka yang kemudian mendorong mereka untuk kreatif dalam proses kesadaran kolektif. Siswa mampu memproses informasi atau pengetahuan baru dengan mengacu pada ingatan mereka, pengalaman yang mereka rasakan dan pengetahuan yang sudah diperoleh dari sekitar mereka. Pendapat dan perspektif siswa dihargai, begitu pula konteks kehidupan siswa dan pengetahuan sebelumnya.

Kita ambil contoh: cara belajar siswa di pedalaman Papua berbeda dengan cara belajar siswa di Pulau Jawa. Siswa-siswa di pedalaman Papua mungkin tidak dekat dengan kemajuan teknologi dibandingkan siswa-siswa di Pulau Jawa yang lebih dekat dengan kemajuan teknologi. Para siswa di pedalaman Papua belajar tentang bagaimana berburu, bagaimana mengolah buruan dan bagaimana cara bertani. Berbeda dengan para siswa di Pulau Jawa, yang belajar tentang bagaimana menciptakan desain dan gambar melalui perangkat komputer, yang selalu terhubung dengan kecepatan teknologi digital. Jadi, guru harus melihat bahwa pembelajaran harus dilihat konteksnya.

Ketika guru menggunakan teori belajar konstruktivistik di kelas, mereka perlu tahu tentang ‘model mental’ yang digunakan siswa untuk memahami dunia, dan mencoba memanfaatkan ‘peta’ yang mereka gunakan. Dengan cara ini, konstruktivisme bukan hanya tentang menghafal jawaban dan memuntahkannya, tetapi tentang siswa menjadikan pembelajaran mereka sendiri, belajar sambil melakukan dan memecahkan masalah (problem-based learning). Guru juga perlu merangkul lebih banyak pertanyaan terbuka dan menawarkan dialog untuk mempromosikan pemikiran dan refleksi individu. Hal ini mendorong siswa untuk merestrukturisasi pembelajaran baru untuk diintegrasikan ke dalam ‘skema’ yang ada.

Pembelajaran kontekstual berfokus pada berbagai aspek dari setiap lingkungan belajar. Misalnya, tentang ruang kelas, laboratorium, laboratorium komputer, atau tempat kerja. Pembelajaran kontekstual mendorong pendidik untuk memilih atau merancang lingkungan belajar yang menggabungkan berbagai bentuk pengalaman dalam bekerja menuju hasil belajar yang diinginkan. Dalam lingkungan seperti itu, siswa menemukan hubungan yang bermakna antara ide-ide abstrak dan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata; konsep diinternalisasikan melalui proses menemukan, memperkuat, dan menghubungkannya dalam setiap pembelajaran.

Seiring dengan pengajaran mata pelajaran, ada penekanan konstan pada membangun hubungan antara mata pelajaran dan semua mata pelajaran lainnya, antara data dan keadaan yang sebenarnya, antara pelajaran dan siswa, antara guru dengan siswa dan antara pengetahuan dan kehidupan. Konsep pembelajaran kontekstual bukanlah hal baru atau tidak lazim. Pertanyaan matematika yang sering didengar, seperti: “Ada dua buah jeruk dan tiga buah apel di atas meja, ada berapa jumlah buah itu?” atau contoh lain dalam sejarah: “Siapa presiden pertama Indonesia?” adalah hal biasa yang dipelajari di sekolah.

Tetapi, pada pendidikan tinggi, pengajaran menjadi lebih abstrak dan terlepas dari konteks pelajar, dan dengan meningkatnya spesialisasi, menjadi terpisah dari semua disiplin akademis lainnya. Beberapa institusi mencoba mengontekstualisasikan pendidikan melalui kerja tim, diskusi, pembelajaran sejawat, pembelajaran berbasis proyek, magang, volunteering dan pengabdian masyarakat. Namun, pembelajaran kontekstual tidak tersistematis dalam kurikulum, dan tetap sangat tergantung pada kreativitas dan inovasi dari masing-masing guru dan lembaga yang ada. Diperlukan upaya kolektif yang terorganisir untuk menambahkan konteks pada setiap informasi yang disampaikan. Sistem pendidikan saat ini masih banyak menggunakan metode klasik berupa ceramah teori yang monoton dan membosankan. Pendidikan tradisional cenderung memberikan kesempatan bagi guru untuk tampil lebih dominan di dalam ruang kelas. Tidak ada umpan balik dari siswa. Pengetahuan selalu berpusat pada guru. Tidak ada kesempatan bagi siswa untuk menguji pengetahuan dari guru. Saya kira, untuk membuat siswa tetap terlibat, pendidikan harus mengambil pendekatan yang lebih langsung, dekat dengan pengalaman tiap siswa, lebih kontekstual dan menggunakan pembelajaran berbasis masalah atau proyek. Ini tidak hanya akan membuat siswa tetap terlibat, tetapi akan menunjukkan kepada mereka kegunaan praktis dari pengetahuan yang mereka peroleh selama belajar dan membantu retensi pengetahuan yang mereka peroleh untuk diaplikasikan di masa depan. Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang pembelajaran dan tentang bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan. Apabila tidak ada proses belajar dan penghormatan terhadap pengetahuan, maka pendidikan tidak akan terjadi.*

Roy Martin Simamora

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!