Penerjemah…

Di sepucuk surat ke Bahrum Rangkuti, ada pemahaman mengenai kitab suci dan sastra. Di lembaran kertas, Ali Audah menulis: “Taha Husein sebagai tokoh besar pernah mengatakan bahwa bahasa Qur’an itu tak dapat dikatakan puisi, juga bukan prosa. Tetapi itu adalah suatu nada musik yang belum dapat kita dapat notnya.” Penulis surat adalah penerjemah buku-buku berbahasa Arab, Inggris, dan Prancis ke bahasa Indonesia. Ia pun rajin menulis cerita pendek, esai, dan novel. Pada kitab suci, ia membincangkan sastra dan bahasa berlatar di Indonesia. Di akhir surat, Ali Audah berharapan: “Dengan adanya terjemahan Qur’an dalam bahasa Indonesia yang dapat lama-kelamaan akan jadi sumbangan yang besar terhadap perkembangan bahasa kita. Dan dari sanalah kelak dapat digali sesanggup kita dan mencari bentuk dalam suatu ciptaan sastra yang bertema kepada Qur’an.”

Dulu, para pengarang saling berkirim surat itu lazim. Mereka berbahasa untuk memberi kabar, cerita, tanggapan, atau bantahan tetap mempertimbangkan adab. Surat-surat tersimpan dan terbaca mengabarkan persoalan-persoalan masa lalu. Ali Audah dalam surat-surat pendek memang sulit untuk dimengerti oleh pembaca mengenai biografi dan pilihan jalan keaksaraan. Di surat-surat, kita memastikan ia memiliki acuan pokok ke kitab suci, sebelum berkelana ke sastra, biografi, filsafat, sejarah, dan lain-lain. Kebiasaan menulis surat itu belum bisa menandingi Iwan Simatupang, HB Jassin, dan Ajip Rosidi.

Kita mungkin jarang mengingat surat-surat. Ali Audah cenderung teringat dengan buku terjemahan terus mengalami cetak ulang sampai sekarang. Ia menerjemahkan buku M Husain Haikal mengenai biografi Nabi Muhammad. Buku berjudul Sejarah Hidup Muhammad (1972) dibaca ribuan orang, dari tahun ke tahun. Hasil terjemahan Ali Audah mengantar pembaca ke pengenalan, pendalaman, pemahaman, penghormatan, dan pemuliaan ke Nabi Muhammad. Buku disusul dengan terjemahan biografi Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan lain-lain. Deretan buku hasil terjemahan Ali Audah adalah buku-buku biografi, agama, novel, drama, dan cerita pendek. Ketekunan itu sempat menjadikan pengelanan utama ke Ali Audah adalah penerjemah, sebelum dikenali sebagai sastrawan.

Penerbitan buku berjudul Dari Khazanah Dunia Islam (1999) berisi tulisan-tulisan dan terjemahan Ali Audah juga menguatkan selera ke tema-tema agama dan kesusastraan. Pilihan menulis sejak masa 1950-an membuat Kuntowijoyo kaget dan kagum. Sejarawan dan sastrawan itu mengira Ali Audah mendapatkan tempat di lakon keaksaraan Indonesia masa 1960-an. Sekian tulisan Ali Audah menjadi sejenis catatan pelbagai hal. Kuntowijoyo menjuluki “dokumen hidup” bagi kita ingin mengerti peradaban Islam, dunia, dan Indonesia. Buku itu terbit menandai kiprah Ali Audah selama puluhan tahun, sebelum berpamitan dengan kerja-kerja keaksaraan belum selesai.

Di majalah Kiblat edisi 28 Agustus-10 September 1989, pembaca simak tujuh halaman wawancara dengan Ali Audah. Kita perlahan mengenali ketokohan dan segala kerja sudah diwujudkan. Ali Audah dilahirkan di Bondowoso, 14 Juli 1924. Ia cuma mampu belajar di madrasah. Ali Audah berhasil sampai kelas II, tak mampu sampai ke kelas akhir dengan mendapat ijazah. Kita mengandaikan di masa sekarang, ia putus sekolah dan tercatat sampai di kelas II. Ali Audah gagal di wajib belajar tapi meluapkan gairah dengan jalan membaca dan membaca ketimbang menghabiskan hari-hari di sekolah. Dulu, ia mendapat pujian sebagai autodidak tulen. Masa lalu pendidikan itu tak menghalangi Ali Audah menjadi intelektual dan pemimpin di Universitas Ibnu Khaldun.

Hasil wawancara dijuduli “Al Qur’an Adalah Puncak Selera Sastra.” Di Indonesia, Ali Audah memberi pujian ke Hamka dan Armijn Pane. Dua pengarang itu berhasil mengungkapkan perkara-perkara agama dalam novel berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Belenggu. Para pembaca mungkin lekas berterima novel Hamka mengandung pesan-pesan keagamaan. Sejak novel-novel Balai Pustaka diajarkan di sekolah dan universitas, kita masih jarang mengakui muatan keagamaan dalam novel Belenggu. Di mata Ali Audah, novel itu representastaif untuk mengerti agama dan keindonesiaan di zaman “kemadjoean”. Pembacaan dan studi Ali Audah memang harus tekun dan jeli. Studi itu mengiringi kebiasaan menerjemahkan dan menggubah sastra.

Kepekaaan pun dipengaruhi dengan bekerja sebagai wartawan dan menggerakkan penerbitan. Ali Audah pernah jadi direktur di Penerbit Tintamas (1961-1978). Para pembaca buku-buku lawas pasti mengingat ada dua buku bermutu terbitan Tintamas. Buku berjudul Manifestasi, memuat puisi-puisi gubahan para pengarang beragama Islam. Buku memukau adalah hasil terjemahan dari kuliah-kulaih M Iqbal. Ali Audah menerjemahkan bersama Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail. Langkah keaksaraan Ali Audah berlanjut di Dewan Kesenian Jakarta dan organisasi penerjemah di Indonesia. Ali Audah terlarang minder meski secara akademik ia bukan orang berlimpahan gelar akademik.

Puluhan tahun berlalu dari lembaran-lembaran di Kiblat, pembaca disuguhi halaman-halaman bertokoh Ali Audah di Tempo edisi 31 Agustus 2014. Judul tulisan memiliki selera mirip dengan di Kiblat. Foto Ali Audah bertubuh sepuh dipasang dengan iringan judul: “Sastrawan Kesayangan Allah.” Sebutan berasal dari keranjingan menerjemahkan biografi, buku agama, dan menulis buku-buku sastra. Penberi julukan adalah Gerson Poyk, pengarang tenar dengan novel berjudul Sang Guru. Julukan dari pengarang juga sudah sepuh tapi melarang diri pensiun dari kerja keaksaraan di Indonesia.

Pada usia 90-an tahun, masa lalu saat bocah dan remaja terbuka sepeti judul novel gubahan Ali Audah: Jalan Terbuka (1971). Ia mengingat memang tak tertarik sekolah. Ali Audah semasa bocah memilih main koboi-koboian di sawah, layangan, dan main gundu. Sekolah itu membosankan. Orang-orang menduga Ali Audah bukan pencari ilmu tapi pencari jangkrik. Ia hampir setiap hari saat memutuskan tak sekolah, menikmati waktu dengan mencari jangkrik. Si pencari itu masih ingusan, belum bisa membaca dan menulis. Berhitung pun sulit.

Sejak 1946, Ali Audah nekat menulis, imbangan dari kebiasaan memilih sendirian ketimbang bergaul. Tahun itu menandai ia menang dalam lomba menulis naskah sandiwara. Masa 1950-an menjadi masa pembuktian bahwa ia itu penulis. Kaum sastra menikmati tulisan-tulisan Ali Audah di majalah Mimbar Indonesia, Kisah, dan Sastra. Ia semakin bergairah di sastra, bergerak terus sampai tua. Ali Audah mengenang: “Walau saya jungkir balik mengirim tulisan ke mana-mana, uang untuk hidup tak pernah cukup. Melamar pekerjaan sudah kapok. Syukurlah, pada 1961, penerbit Tintamas datang melamar saya agar bekerja di sana. Rupanya, Direktur Utama Tintamas pada saat itu, M Zen Djambek, suka membaca tulisan-tulisan saya di koran. Saya ditawari bekerja di sana, dan saya terima. Awalnya saya bekerja menjadi asisten, seterusnya diangkat menjadi direktur.” Bocah sering dolan ke sawah mulai harus duduk di kantor memikirkan perbukuan.

Keputusan menjadi penerjemah akibat kejenuhan mendapat buku-buku terjemahan dari bahasa Arab dijual di toko-toko melulu buku agama. Buku-buku sastra masih jarang diterbitkan dan beredar di Indonesia. Jadilah ia penerjemah dengan sekian buku sastra masih bisa kita baca di masa sekarang: suasana Bergema (1959), Peluru dan Asap (1963), Kisah-Kisah Mesir (1977) dan Di Bawah Jembatan Gantung (1983). Ia pun menerjemahkan buku-buku dari khazanah sastra Prancis. Di kalangan sastra dan peminat tema-tema keagamaan, Ali Audah adalah penulis dan penerjemah mumpuni. Tempo (1981) membahasakan: “Keras dalam otodidak, peranakan Arab kelahiran Bondowoso ini mengangkat namanya dalam kesusastraan Indonesia dengan cara yang tidak meletup-letup. Popularitasnya ajeg.”

Biografi Ali Audah mungkin kuat di peran sebagai penerjemah. Jakob Sumardjo dalam buku berjudul Dari Khazanah Sastra Dunia (1985) memberi penghormatan atas ketekunan Ali Audah dalam menerjemahkan dan memberi komentar-komentar mengenai kerja penerjemahan sastra dunia di Indonesia. Dulu, Ali Audah prihatin bahwa Indonesia memiliki masalah “kemiskinan” dalam penerjemahan. Catatan dimiliki Ali Audah: “Kerja terjemahan di Indonesia pada tahun 1969-1970 ternyata tak melebihi dari sekitar 200 buku.” Prihatin dijawab dengan rajin membuat terjemahan dan menerbitkan. Ia memang penerjemah tak pernah mutung dan kapok.

Kini, kita memberi halaman untuk Ali Audah di album kesusastraan dan perbukuan Indonesia. Nama bakal selalu terbaca jika orang-orang terus membaca buku-buku garapan Husain Haikal dan tafsir Al Quran oleh Yusuf Ali. Kerja belum selesai. Dua puluhan buku dianggap Ali Audah masih sedikit. Kita malah bingung dengan keinginan terus menulis dan menerjemahkan meski harus “surut” gara-gara usia mendekati 100 tahun, sebelum berpisah dengan kita. Penerjemah itu pamitan, 20 Juli 2016. Kita berjanji terus membaca dan menjadikan kerja penerjemahan itu perlu. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.