Pengarang “Girang” dan Religius

Novel dengan sampul berwarna kuning. Gambar lelaki sedang duduk melamun. Ia tampak sedih. Gambar berukuran besar adalah perempuan cantik dan mata berkilau. Rambut agak pirang. Gambar ingin bercerita. Novel pada masa 1960-an pernah laris. Pada masa 1980-an, novel itu cetak ulang bersaing dengan novel-novel bercerita asmara dan kelonan. Gambar lelaki dan perempuan di sampul itu lambat bercerita, kalah dengan dampak judul novel: Tante Girang. Novel gubahan Ali Shahab. Novel memberi kehebohan dalam sastra dan pembuatan sebutan diributkan dalam bahasa Indonesia. Dulu, orang-orang fasih mengucap “tante girang” tanpa ada kewajiban membaca novel sampai khatam. Novel pop penting meski tak mendapat ulasan dari para kritikus terhormat di Indonesia. Singgungan dan suasana novel pop masa lalu agak terasa di buku Jakob Sumardjo berjudul Novel Populer Indonesia (1982).

Tante Girang diterbitkan lagi oleh Gultom Agency, 1986. Semula, novel terbit pada 1967: mencipta sejarah industri cerita bergelimang asmara picisan. Ali Shahab, lelaki gagah dan ganteng tapi bukan “om senang”. Di foto sampul belakang novel Tante Girang, ia semakin berwibawa dengan kacamata. Ali Shahab dilahirkan di Jakarta, 22 September 1941. Kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Jogjakarta. Pada masa 1960-an membentuk biografi di jagat teater. Episode mendasari kelak ia tampil sebagai sutradara sinetron dan film tercatat dalam sejarah perfilman Indonesia. Novel berjudul Tante Girang adalah novel pertama. Ali Shahab mengatakan itu “terlaris” di masa 1960-an.

Pengarang memberi peringatan ke pembaca: “Janganlah pembaca berlaku seperti ‘tukang intip’… Memang sastra bertaraf internasional sekalipun, seperti Woman of Rome (Italia) oleh Alberto Moravia, Therese Raquin (Prancis) dari Emile Zola, atau Room at the Top (Inggris) oleh John Braine, bisa menjadi buku cabul belaka jika dibaca secara ‘tukang intip’, tanpa memperhatikan segi lain yang jsutru merupakan apa yang sesungguhnya hendak dikemukakan pengarang-pengarang itu. Sekali lagi, kami harap anda tidak jadi ‘tukang intip’ dalam mengikuti Tante Girang.” Dulu, peringatan itu mungkin dilanggar. Murid-murid di SMA biasa membawa novel-novel “aduhai” ke sekolah untuk dibaca bareng. Lipatan-lipatan di halaman-halaman novel sudah mengartikan bakal ada kalimat-kalimat mengarah ke imajinasi cabul. Di laci meja, para pembaca itu biasa cekikikan atau menelan ludah. Posisi duduk kadang tak keruan. Mereka terkena wabah menjuluki orang-orang berdandan menor atau berlaku genit dengan sebutan “tante girang”. Duh, mereka itu kurang ajar!

Novel itu memberi referensi bagi kalangan remaja dan dewasa mengalami masa 1960-an sampai 1980-an dalam “kegirangan” cerita terimajinasikan ke cumbuan dan percakapan-percakapan mendebarkan. Tante Girang, novel mengawali sebutan-sebutan sering terucap oleh publik selama puluhan tahun. Judul novel jadi pemicu polemik kebahasaan berkaitan jenis kelamin dan kemesuman. Pasangan tercipta dari masa lalu: “tante girang” dan “om senang”. Pada 1990, terbit novel berjudul Anak-Anak Singkong. Novel terbitan Gultom Agency itu jadi imbuhan bagi pengidam novel-novel pop. Novel tak terlalu laris dan berpengaruh. Publik telanjur memilih Tante Girang. Masa demi masa, Ali Shahab itu pengarang, tak melulu dikenali sebagai orang sinetron-film seperti dimengerti oleh publik saat membaca sekian obituari. Ali Shahab meninggal pada 25 Desember 2018. Ingat, Ali Shahab mula-mula besar sebagai pengarang!

Seniman berpamitan dari dunia kadang menimbulkan kerepotan bagi para wartawan, penggemar, dan penulis dalam membuat obituari. Kelengkapan data mendesak diperlukan tapi selalu sulit dicari. Ali Shahab itu tokoh besar tapi pengenalan kita berkadar kecil. Orang-orang cenderung mengingat ke sinetron dan film. Kemunculan tulisan berkaitan dengan lakon menulis novel-novel agak tersingkirkan. Di kalangan sastra cap “serius”, Ali Shahab mungkin belum mendapat pengakuan untuk mendapatkan acara penghormatan. Ali Shahab itu pantas dibicarakan dalam diskusi kesusastraan dan penerbitan ulang sekian novel memungkinkan ada penghormatan pantas.

Di majalah Femina, 25-31 Juli 1991, suguhan 5 halaman mengenai Ali Shahab. “Dulu, orang mengenali Ali Shahab (49 tahun) sebagai penulis dan sutradara film-film panas,” awalan di tulisan Femina. Masa lalu itu berubah. Pada masa 1990-an, Ali Shahab mulai menempuhi jalan berselera nasionalisme, pendidikan, dan religius. Tante Girang itu masa lalu, tak mungkin dihapus atau disangkal. Awalan “panas” tapi memberi dalih menapaki jalan berbeda di usia bakal tua. Pada saat memberi pengakuan, Ali Shahab masih bujangan. Pada usia 49 tahun, ia masih sendirian.

Ada pengakuan mengejutkan: “Lalu, saya memimpin surat kabar Indonesia Jaya tahun 1966. Boleh jadi saya pemimpin redaksi termuda di Indonesia saat itu. Tahun 1967, saya terpilih menjadi karikaturis terbaik se-Indonesia.” Sejak muda, Ali Shahab terbukti tangguh. Ia itu lelaki terhormat dan memiliki kemauan bekerja keras. Pilihan bekerja di pers berlanjut dengan menulis novel. Tante Girang itu tanda awal bergairah menulis novel-novel. Ia mengaku sudah menulis 100 novel. Kita kagum tapi menunduk saat berpikir mengenai nasib novel-novel. Pihak keluarga mungkin masih memiliki koleksi lengkap. Kita bakal bertambah malu jika koleksi lengkap berada di Leiden, Cornell, atau Australia. Kita wajib berdoa novel-novel gubahan Ali Shahab disimpan lengkap dalam kondisi bagus di Perpustakaan Nasional atau Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Ali Shahab mengatakan: “Istilah-istilah ‘tante girang’ dan ‘om senang’ menjadi populer. Dan, memang saya yang mencetuskannya. Novel ini menceritakan kondisi sosial setelah peristiwa G 30 S-PKI. Waktu itu bermunculan bar, kasino, panti-panti pijat, dan klub malam.” Kita beralih ke film. Ali Shahab itu sering menjadi orang beruntung. Dua film pertama berjudul sangar: Beranak dalam Kubur dan Bumi Makin Panas. Dua film itu laris, menghasilkan untung besar. Industri film memberikan kegirangan. Ia sengaja membuat judul-judul bombastis, diniatkan berpamrih dagang alias komersial. Kita mengingat sekian judul film buatan Ali Shahab: Nasib Perawan, Nafsu Gila, Ranjang Siang Ranjang Malam, dan lain-lain.

Ingatan kita pun mengarah ke pembuatan sinetron-sinetron, jauh atau berkebalikan dengan masa lalu mengerjakan film-film dituduh “panas”. Pada masa 1980-an, ia mulai memikirkan tema-tema keluarga, pendidikan, kebangsaan, alam, dan lain-lain. Pembuatan sinetron dilengkapi penerbitan buku-buku. Pada 1986, terbit buku Ali Shahab berjudul Nenekku Manis, Jangan Menangis. Novel dalam serial Rumah Masa Depan. Novel diterbitkan Mizan. Para penggemar Ali Shahab di masa lalu berbeda dengan episode lanjutan saat bermunculan sinetron mengarah ke misi-misi mendidik dan keteladanan.

Ali Shahab melalui Focus Studio (Cianjur) mulai membuat ancangan masa depan. Di studio terbuka, Ali Shahab mengalirkan rezeki dari industri film dan buku untuk membangun masjid, mengadakan pengajian, dan mengongkosi sekolah bagi yatim piatu. Ia menginginkan kebaikan dalam sinetron atau film terbukti dalam amalan. Pada usia 50 tahun, ia menikah dan membuat hari-hari memiliki kehahagiaan terbagikan ke orang-orang dan menjadikan film-buku tebar kebaikan. Berita pernikahan dimuat di Femina, 2-8 Januari 1992: Ali Shahab (50 tahun) menikahi Aan Muznah Almunawar (24 tahun). Sang mempelai memilih mengenakan busana pengantin Eropa. Peristiwa itu pernikahan sakral, bukan bagian dalam sinetron atau film. Ali Shahab menempuhi lakon realis dan bergerak ke religius di masa tua. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Comments

  1. BestAthena Reply

    I see you don’t monetize basabasi.co, don’t waste your traffic,
    you can earn additional cash every month with new monetization method.
    This is the best adsense alternative for any type of website (they approve all sites),
    for more details simply search in gooogle: murgrabia’s tools

Leave a Reply

Your email address will not be published.