Pengetahuan Baru Umat Manusia

nilsedits.tumblr.com

Suatu ketika, dunia berjalan dengan cara yang aneh. Tiap manusia mendapat mimpi tentang hari kematian mereka. Pengetahuan tentang maut, yang jauh sebelum masa saat dinosaurus berkelana di muka bumi akan selalu dirahasiakan, tiba-tiba saja menjadi cara bagi umat manusia untuk menentukan masa depan masing-masing.

Maut bukan lagi sesuatu yang paling ditakuti. Bahkan, kadang-kadang maut adalah teman sejati, jika kau dapati di sebuah mimpi seorang gadis kecil berbisik di telingamu dan yang kau dengar adalah angka seratus dua puluh, misal. Berapa banyak manusia di bumi ini yang mati pada usia seratus dua puluh?

Sebagian orang merasa sangat tidak beruntung, andai yang harus dihadapi hitungan hari. Beberapa hanya melamun jika mautnya datang hanya dalam beberapa jam, menit, atau bahkan beberapa detik ke depan. Orang-orang yang mendapat pengetahuan bahwa mereka akan mati dalam hitungan hari akan mencari tempat berdamai atau kadang juga membuat kekacauan yang sangat parah, dengan asumsi dia tak bakal mendapat perkara, meski terang-terangan meledakkan pusat perbelanjaan, misal.

Memang yang seperti itu terjadi. Beberapa nyawa yang harusnya mati jauh dari itu, harus ikut tewas lebih awal demi orang-orang frustrasi yang masih tak dapat menerima jika tidak lama lagi mereka harus hengkang dari dunia fana. Bagi yang dapat berdamai, pergi ke tempat yang cukup jauh menjadi pilihan terbaik; benar-benar menjauh dan pada suatu tempat yang bisa saja rahasia, seseorang akan membiarkan dirinya mati tanpa ada yang mengganggu.

Hanya saja, pergi dari kehidupan lama yang sarat rutinitas agaknya juga menggoda bagi seorang lelaki paruh baya, sebut saja Ali Sudarwin, yang setiap hari bekerja di pom bensin, sebagai pembersih toilet dan tukang sapu, yang bermimpi pada suatu malam dia sedang mengendarai balon udara. Di puncak suatu awan, seorang bocah berkata dengan begitu terang: “Dua puluh tahun lagi kamu akan mati.”

“Benarkah?”

“Ya, betul,” kata bocah itu.

Begitu bangun dari mimpi, Ali Sudarwin tiba-tiba ingin pergi sejauh mungkin dari kamar kostnya yang busuk. Benarkah dia mendapat jatah hidup dua puluh tahun lagi? Tidakkah mimpi semacam ini harusnya hanyalah sebuah bunga tidur? Sebuah hiburan di tempat yang tak pernah memberinya ketenangan?

Sebagaimana manusia-manusia lain, pada mulanya, di tengah malam yang terasa aneh itu, Ali Sudarwin bertanya-tanya apakah betul mimpinya berdasarkan sesuatu yang akan terjadi? Tentu saja ia sangat ingin itu terjadi. Dua puluh tahun agaknya lebih dari cukup untuk membuatnya pergi sejauh mungkin dari sini. Berbuat apa saja tanpa takut mati; bahkan ia bisa menghibur dirinya sendiri dengan cara-cara sebebas mungkin tanpa bekerja. Jika dulu bekerja adalah cara untuk tetap hidup. Mendapat pengetahuan tentang maut yang akan tiba dua puluh tahun lagi, hidup tanpa bekerja selama itu tidaklah jadi masalah, bukan?

Mimpi-mimpi ini, entah bagaimana, memang datang menyergap setiap manusia di muka bumi pada suatu malam. Tentu saja anggapan bahwa mimpi ini adalah nyata tidak muncul begitu saja; pada suatu hari seseorang ditemukan mati di atas kasur tanpa ada penyakit atau sebab-sebab kekerasan. Hanya mati saja. Seseorang menemukan catatan di kamar si mayat bahwa dia bermimpi aneh dan dalam mimpi tersebut dia diberi tahu oleh bocah kecil, jika mautnya datang empat hari lewat beberapa menit dari saat dirinya bermimpi itu. Catatan itu mungkin dibuat persis setelah orang tadi bangun akibat mimpi anehnya. Kejadian lain menunjukkan bahwa mimpi tentang pengetahuan kematian juga benar-benar merenggut nyawa seseorang. Seorang public figure berkelakar di hadapan awak media, bahwa dia akan mati dua hari setelah wawancara terkait album terbarunya ini digelar.

“Dua hari dari sekarang saya akan pergi sejauh mungkin dan tak kembali, Kawan! Ya, itulah yang saya dapat dari mimpi semalam,” katanya seraya tertawa begitu keras.

Lucunya, seluruh wartawan yang berkumpul di sana tak tertawa secuil pun. Setiap orang yang berdiri di sana atau sekadar lewat atau duduk atau bahkan tak peduli di situ ada acara peluncuran sebuah album penyanyi yang terkenal lewat YouTube, yang tidak sengaja mendengar kata-kata sang artis, diam dengan cara yang ganjil. Inilah pertanda bahwa setiap orang memang mendapat mimpi soal itu.

Entah siapa yang benar-benar memulai. Pada sebuah siaran di radio lokal, seorang pria paruh baya bersumpah bahwa mimpi tentang pengetahuan kematian harus menjadi perhatian setiap orang. Dari siaran radio itu, lalu beralih pada tulisan-tulisan pendek di koran tentang kematian artis YouTube setelah wawancara anehnya, dan media sosial juga mulai mengangkat isu ini. Tak berapa lama, televisi menyusul, dan demikan isu tentang mimpi ini tersebar luas dan mulai diyakini setiap orang. Awalnya ada yang menolak, namun kejadian dan bukti-bukti yang turut menyertai, membuat para penyangkal tidak bisa berbuat banyak selain meyakininya.

Akibat pengetahuan kematian yang sudah tidak lagi jadi rahasia bagi setiap orang, dunia jadi sedikit berbeda. Di belahan dunia tertentu, peperangan yang masih berjalan, mendadak dihentikan. Di kota-kota yang terkenal damai, ada berita-berita teror terbaru yang didasari oleh kepanikan sebagian orang. Situasi menjadi tak menentu. Toko-toko banyak yang hancur. Gedung-gedung dan seluruh kawasan industri, tempat perputaran uang di seluruh dunia, dioperasikan dengan tanpa maksimal, karena banyak para pekerja dan bahkan petinggi perusahaan-perusahaan itu yang memilih berhenti bekerja atau ada juga yang sudah mati terlebih dulu.

Ali Sudarwin, si pembersih di sebuah pom bensin di Pulau Jawa, Indonesia, merasa semua ini adalah berkah. Ia tak seperti kebanyakan orang yang berbondong-bondong ke inti kekacauan. Ia malah minggat dengan mencari tempat tersunyi yang dapat dituju di suasana seperti ini. Tak ada yang Ali Sudarwin pikirkan selain pergi terlebih dahulu ke rumah seseorang yang sudah lama disukainya, lalu mengungkapkan cintanya, dan tidak lupa pula bertanya berapa lama waktu yang tersisa untuk perempuan itu.

“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanya Ali Sudarwin mendapati wajah perempuan di depannya justru terlihat ingin menerkam dan menelan sesuatu yang hidup dan kurus dan tak berguna macam dirinya.

Sebelum jawaban yang ditunggu keluar, seorang lelaki berbadan kekar menggasak wajah Ali Sudarwin sampai dia terguling ke halaman depan, dan hidungnya berdarah. Ia tahu inilah suami si perempuan yang selama ini ditakutinya, yang terkenal mempunyai bisnis-bisnis kotor kelas teri di pinggiran ibu kota. Dengan tenang, Ali Sudarwin berdiri dan membalas dengan tendangan persis di selangkangan pria itu sampai lelaki yang tak ada bedanya dengan pegulat itu tersungkur tak sadarkan diri. Ali Sudarwin tertawa puas dan berkata dengan suara lantang: “Aku sangat mencintaimu sepenuh jiwaku. Dan kini, aku harus pergi, karena aku tahu kamu tak mungkin membalas cintaku!”

Demikianlah, dia benar-benar pergi tanpa peduli reaksi si perempuan dan suaminya yang pingsan. Ali Sudarwin hanya membawa tas berisi pakaian seadanya, tanpa bekal apa pun selain sedikit uang. Gajinya baru akan cair beberapa hari lain, tapi ia tak peduli. Ia hanya mau pergi sejauh mungkin ke sebuah gunung, atau hutan atau pantai atau ke mana pun dia mau. Ia tak mau lagi bekerja membersihkan kotoran orang-orang. Sudah cukup hari-harinya untuk masa yang kelam itu. Kini, segala yang cerah telah menanti di depan. Dua puluh tahun, tentu, bukan waktu yang singkat. Akan ada banyak waktu bagi Ali Sudarwin untuk mendapatkan cintanya yang paling sejati. Itu bisa dicari ke mana pun dia pergi. Dan itu akan dimulainya hari ini.

Suatu ketika, dunia berjalan dengan cara yang aneh. Tiap manusia mendapat mimpi tentang hari kematian mereka. Ali Sudarwin, si pembersih di sebuah pom bensin kecil di Pulau Jawa, Indonesia, memutuskan pergi ke sebuah hutan. Tanpa bekal apa-apa, selain pengetahuan bahwa dia tidak akan mati hingga dua puluh tahun mendatang. Tidak ada yang dapat menghentikannya, bahkan lapar sekalipun. Lapar tak akan membuat dirinya mati, karena dua puluh tahun lebih dari cukup untuk membuatnya mencari apa-apa yang bisa ditelan. [ ]

Gempol, 17 Desember 2018

Ken Hanggara

lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Freelance editor yang belajar jadi wiraswasta. Juara 2 kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writer Award 2014 dan menjabat Unsa Ambassador 2015.
Ken Hanggara

Latest posts by Ken Hanggara (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Rasanya Ken kelewat produktif dalam menulis, dan ini membuat karya-karyanya makin kendor. Ide yang sebetulnya menarik tapi tidak ditopang gaya penceritaan yang menarik juga. Cerpen ini bertele-tele (dampaknya buat saya pribadi bikin ngantuk dan memicu pembaca buat skip-skip) dan penghadiran tokoh yang digarap asal-asalan dan terkesan sekadar dihadirkan saja.

    Saya sarankan Ken istirahat dulu dalam menulis barang sebulan atau seminggu, lalu waktu istirahatnya dipakai untuk membaca. Agar setelah istirahat karya-karya barunya Ken lebih fresh dan dapat asupan baru dari bacaan-bacaannya itu.

  2. anonimus (2) Reply

    Saya hampir sependapat dengan komentar Anonymous. Saya tahu Ken punya banyak energi dan “bahan cerita” yang banyak. Tetapi cerita-cerita Ken saking banyaknya sudah mirip cetakan pabrik, senada, suaranya hampir sama, sudah mirip pabrik cetakan saja.

    Saya juga sepakat dengan Ken, agar cerita-cerita Ken lebih kuat, mungkin menyepi sebulan dengan banyak membaca Marquez, Steinbeck, Orwell, Chekov, dll, agar ada gaya baru, agar ada suara baru, siapa tahu kan sebulan dengan banyak membaca itu bisa nulis novel yang kelak diperhitungkan dalam khazanah sastra Indonesia.

    Tapi, apa ya Ken membaca komentar hamba sahaya di sini? Saya selalu beranggapan semakin mudah barang didapat, maka barang itu akan semakin kurang spesial, biasa, dan umum saja. Dan cerpen Ken sudah di posisi itu sekarang.

    Case yang berbeda mungkin di SGA, di buku “Senja dan CInta yang Berdarah” kita dapat lihat hampir tiap bulan ada cerpennya di Kompas, tapi coba lihat gaya, suara, SGA di sana. Ahhhh, aku terlalu banyak komentar. Ken nulis tiap jam, aku komentar tiap menit.

  3. anonimus (2) Reply

    Saya juga sepakat dengan Ken–> salah ketik, maksudnya sepakat dengan Anonymous.

  4. Dimas Reply

    Sepertinya cuma saya yang menganggap cerpen ini keren :D. Mantap mas. Semangat terus. Saya jadi ada ide untuk menulis setelah melihat cerpen mas nya

    • Esvi Reply

      Kalau boleh tahu cerita yang biasa dimuat media ini genrenya apa?

  5. Anonymous Reply

    Tampaknya mas Ken sendiri memang sudah sangat ingin menepi sejenak. Kalau dilihat dari gaya bahasa cerpenya. Ada kesan bosan menulis. Tapi itu hanya penafsiran saya saja. Pun begitu masih tetap oke.! 👍

Leave a Reply to anonimus (2) Cancel Reply

Your email address will not be published.