Penggerak Sastra dan Pers

Kaum remaja di masa 1980-an diajak berkenalan dengan tokoh bukan artis di musik atau film. Ia bernama Adinegoro (14 Agustus 1904-8 Januari 1967). Ribuan remaja mungkin melongo jika diminta menjelaskan Adinegoro dan Indonesia. Remaja masih menginginkan mengenali artis-artis kondang ketimbang tokoh-tokoh yang sering milik ingatan kaum tua. Di majalah Gadis edisi 6 Desember 1981, kaum remaja membaca halaman berisi biografi ringkas Adinegoro. Foto hitam-putih pun dipasang. Remaja mau membaca tentu beruntung ketimbang remaja melewati halaman biografi dan menganggap Adinegoro tak ganteng. Adinegoro pernah diperkenalkan ke kaum remaja meski menimbulkan sangsi penokohan atau pengidolaan.

Di situ, Adinegoro ditampilkan sebagai wartawan. Sejak masa 1920-an, Adinegoro adalah sastrawan dan wartawan. Pengenalan di pers menguat ketimbang di penggubahan novel. Kita buka saja buku lama agar predikat sebagai pengarang sastra tak dilupakan. Buku itu berjudul Kesusasteraan Baru Indonesia: Dari Abdullah Bin Abdulkadir Munsji Sampai Kepada Chairil Anwar (1957) susunan Zuber Usman. Bacaan untuk murid-murid di SMA alias bacaan remaja mau bercumbu dengan sastra “baru”. Kaum remaja masa 1950-an beruntung diperkenalkan dengan sastrawan bernama Adinegoro. Si pengarang masih hidup dan menunaikan pelbagai pengabdian di sastra, jurnalistik, perkamusan, dan perpetaan.

“Adinegoro diantara pengarang-pengarang jang seangkatan dengan dia mempunjai kedudukan jang istimewa. Dialah jang mula-mula mengakui dengan terus terang perkawinan inter-insulair. Soal jang dikupasnja sudah lebih luas, soal kesatuan bangsa  djauh melampaui soal adat kedaerahan. Hal itu dapat dimaklumi sebagai seorang wartawan ia dapat melihat soal jang pokok-pokok bagi bangsanja dan apa jang terasa dalam hatinja dengan berani dikeluarkan dan dihidangkannja kepada masjarakat. Soal berbahasa, berbangsa dan bertanah air satu sedang hangat diwaktu Adinegoro menjusun bukunja itu. Ia telah memilih soal jang tepat pada waktu itu,” tulis Zuber Usman. Dulu, Adinegoro menulis novel berjudul Darah Moeda (1927) dan Asmara Djaja (1928).

Warisan dua novel belum mendapat keberuntungan dengan cetak ulang atau mendapat ulasan panjang. Kita masih bisa menuju dua novel lama gubahan Adinegoro dengan membaca buku susunan Zuber Usman, dilengkapi membaca Buku dan Penulis (1957) susunan Amal Hamzah dan Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (2007) oleh Maman S Mahayana, Oyon Sofyan, dan Achmad Dian. Dua novel Adinegoro terbit di masa kaum muda bergairah mendefinisikan Indonesia melalui Kongres Pemoeda I (1926) dan Kongres Pemoeda II (1928). Adinegoro turut di Kongres Pemoeda I. Pada 1928, ia absen tapi memberi persembahan berupa Kamoes Kemadjoean. Kini, kita kesulitan menemukan Kamoes Kemadjoean, kamus dikerjakan bernalar kemodernan bagi tanah jajahan.

Pada abad XXI, penerbitan buku dari tiga penulis masih memungkinan nama Adinegoro tercatat, belum tentu masuk dalam ingatan remaja. Sejak puluhan tahun, nama-nama sering diajarkan di sekolah dan mendekam di kepala remaja melulu Marah Rusli, Merari Siregar, Abdul Muis, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Adinegoro jarang dicantumkan di buku pelajaran atau diceritakan dengan memikat oleh guru. Ulasan atau ringkasan anggaplah mencukupi ketimbang terlupa.

Pengenalan ke remaja bergantung ke kurikulum atau kemampuan guru dalam mengenalkan sastra dan para pengarang. Pada masa Orde Baru, kita meragu Adinegoro masuk daftar novel paling sering dibaca murid atau mahasiswa seantero Indonesia. Di perpustakaan, koleksi paling utama tentu Sitti Nurbaya, Azab dan Sengasara, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang. Sekian novel masih dicetak ulang dalam jumlah ribuan oleh Balai Pustaka. Novel-novel mendapat cap milik negara alias buku dilarang diperdagangkan. Novel-novel itu masih sulit mendapat pembaca gara-gara kaum remaja malas dengan hidangan bahasa lama dan tema “kedaluwarsa.” Dua novel Adinegoro tak turut dicetak ulang. Murid-murid semakin tak mengenali Adinegoro.

Di majalah wanita, Adinegoro justru dikenang secara terhormat melalui kenangan si istri bernama Alidar Adinegoro. Tulisan dijuduli “Adingeoro di Mata Sang Nyonya dimuat di majalah Kartini, 2-15 November 1987. Adinegoro itu perintis pers di Indonesia. Nama Adinegoro diabadikan sebagai nama penghargaan oleh PWI. Dulu, ia idaman bagi kalangan wartawan, belum idaman bagi remaja dalam meniti nasib atau membentuk masa depan pada saat Indonesia berlakon pembangunan nasional.

Keterangan dihimpun dari kenangan-kenangan Alidar: “Adinegoro walaupun sibuk dengan dunia kewartawanan tidak berarti melupakan kehidupan rumah tangganya. Pada hari-hari libur mereka sering ke luar kota untuk berekreasi. Sedangkan sehari-hari ia melakukan olahraga tenis dan jalan pagi. Tetapi untuk menonton di bioskop, Adinegoro jarang sekali.” Tulisan di Kartini tetap tak memunculkan Adinegoro adalah sastrawan. Informasi agak mengejutkan justru mengenalkan Adinegoro sebagai pembuat buku peta atau atlas berselera Indonesia. Buku itu digunakan resmi di sekolah berdasarkan restu kementerian. Alidar mengatakan bahwa honor dari penulisan buku atlas itu bisa untuk membeli rumah.

Adinegoro telanjur disebut perintis pers, belum digenapi sebutan perintis sastra. Dua novel dari masa 1920-an terlewatkan saja dalam perbincangan sastra. Publik lumrah tak mengerti atau merasa perlu membaca di masa berbeda. Biografi Adinegoro di hadapan publik cenderung sulit lengkap. Kita masih mendingan membaca buku berjudul Adinegoro: Pelopor Jurnalistik Indonesia (1987) garapan Soebagijo IN. Judul buku sudah memastikan peminggiran pengenalan tokoh di kesusastraan.  Buku itu disusun oleh wartawan meski pernah pula menggubah sastra.

Adinegoro memang kepencut pers. Pada saat masih studi di STOVIA, ia menulis artikel, dikirim ke Tjahaja Hindia. Artikel itu dimuat dan disusul puluhan artikel. Dulu, ia menulis dengan nama Djamaluddin diinisialkan menjadi Dj. Adinegoro itu nama baru atau buatan. Sejak kecil, ia bernama Djamaluddin. Pemberian nama Adinegoro akibat keranjingan menulis di surat kabar.

Perkaran nama itu dituliskan oleh Soebahijo IN. Semula, Landjumin Datuk Tumenggung, penerbit Tjahaja Hindia dan Neratja, meminta Djamaluddin rajin menulis. Perkara harus diselesaikan adalah “mengelabui” pembaca agar menganggap tulisan-tulisan di Tjahaja Hindia dikerjakan oleh intelektual asal Jawa. Djamaluddin berasal dari Sumatra dianggap memiliki corak berbeda dari selera para pembaca, terutama di Jawa. Landjumin mengusulkan agar Djamaluddin mengubah nama samaran khas Jawa. Dipilihlah nama Adinegoro berargumentasi “memberi gambaran bahwa penulisnya memang masih keturunan bangsawan.” Nama itu malah langgeng ketimbang Djamaluddin.

Gairah belajar pers harus dipenuhi sampai mengembara ke negeri-negeri di Eropa. Adinegoro pun membawa raga ke Eropa dan memberi tulisan-tulisan bagi pembaca di Indonesia. Hari-hari dengan pelbagai peristiwa dan pengalaman di Eropa diterbitkan di masa 1930-an menjadi buku berjudul Melawat ke Barat. Pulang dari Eropa, Adinegoro sempat bekerja di Pandji Poestaka (Jakarta) berlanjut memimpin Pewarta Deli dan Abad XX di Medan. Adinegoro semakin tenar sebagai wartawan, bukan sastrawan.

Soebagijo IN mencatat bahwa tonggak sejarah dalam kehidupan Adinegoro di pers dan sastra dibuktikan dengan turut mendirikan majalah Mimbar Indonesia. Di situ, Adinegoro menulis artikel-artikel mengenai Indonesia dan dunia. Majalah itu memiliki ruang sastra diasuh oleh HB Jassin. Konon, Mimbar Indonesia dianggap majalah penting pada masa 1950-an dan menentukan arah kesusastraan Indonesia.

Pengabdian sastra dan pers sudah ditunaikan dengan pasang-surut nasib akibat situasi politik, sejak masa 1920-an sampai 1960-an. Pada 8 Januari 1967, ia berpamit dalam kesedihan. Soebagijo IN menulis: “Yang diwarikan kepada istri dan anak-anaknya bukanlah gedung megah atau mobil mewah, harta benda kekayaan lain, kecuali ribuan buku yang berisi aneka ragam ilmu dan ditulis dalam aneka ragam bahasa. Ada yang berisi ilmu filsafat, ilmu teosofi, ilmu publisistik, kebudayaan, politik, kesusastraan, geologi serta geografi dan lain-lainnya lagi. Ada yang bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan terutama Jerman.” Warisan itu mengukuhkan Adinegoro adalah manusia-buku, manusia berpahala dengan huruf-huruf. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.