Pengusir(an) Sumuk

Di ruang buku, Zoetmulder memilih embusan angin dari jendela dan pintu. Ruang tanpa mesin pendingin udara. Ia mungkin tak betah dingin meski berasal dari Belanda. Di negeri tropis, ia memilih berkeringat atau ikhlas menikmati andai  sumuk (gerah) saat membaca buku-buku atau membuat tulisan bertema bahasa dan sastra Jawa. Buku-buku mungkin juga sedih jika harus kedinginan oleh mesin diproduksi di negeri-negeri asing. Pembaca dan buku bermufakat tanpa udara dingin buatan dengan mesin meminta ongkos di listrik. Di sela sumuk, Zoetmulder merenung keberuntungan orang-orang Indonesia hidup bersama angin dan matahari, tak seperti nafsu orang-orang Eropa mencari panas ke negeri-negeri agraris. Renungan tak bermaksud mengingat cerita memukau di novel berjudul Anak Bajang Menggiring Angin. Di situ, angin belum diolah dalam mesin menjadi dingin di ruang tertutup.

Sebulan lalu, penulis dolan ke Universitas Ahmad Dahlan untuk sinau bersama para dosen. Sinau menulis artikel-artikel enteng dan wagu. Pagi, perjalanan dari Solo ke Jogjakarta naik bus dingin. Di perjalanan, ia duduk tenang membaca buku bergambar Dewi Maria, pohon, dan burung. Sampul buku berjudul Nggayuh Gesang Tentrem (2004) itu dikerjakan oleh Hari Budiono. Buku persembahan Sindhunata. Di sela membaca buku dan melihat pemandangan di jalan, ia mengingat pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan. Ajaran Islam berterima di Nusantara dengan “sejuk”. Buku berbahasa Jawa itu pun memberi “sejuk” dan mengesankan ada angin religi, bukan badai masalah. “Sejuk” itu teringinkan ketimbang dingin diumbar dalam bus.

Dua hari, penulis berada di ruangan memiliki mesin pendingin udara. Di ruangan, ia seperti merasa di “Eropa”. Dingin, dingin, dingin. Ia sengaja “melawan” dengan sering bergerak dan minum Tolak Angin. Malam, ia diinapkan di hotel. Kamar dengan mesin pendingin udara. Semalaman, ia terkapar:  merindukan sumuk dan angin dari jendela. Dua hari dingin ditanggapi dengan keesokan pagi berjalan ke kampung. Ia emoh makan di hotel. Malu. Di kampung, ia sarapan bubur lemu dan dua kerupuk. Nikmat.

Ia perlahan melamun ingin seperti Zoetmulder menikmati peristiwa membaca dan menulis kadang sumuk. Kini, buku-buku terlarang sumuk. Di pelbagai perpustakaan, buku-buku merasa kedinginan oleh mesin-mesin dipasang di ruangan. Konon, dingin itu perlu bagi buku. Pembaca buku di ruangan dingin diharapkan kerasan. Orang berpikiran “abad XIX” mungkin repot dengan dingin buatan. Di Jakarta, ada perempuan sering meringis bernama Mutim mengaku pusing dan mual selama berada di perpustakaan termegah dan tertinggi di Indonesia. Ia rutin masuk angin sepulang dari perpustakaan. Di situ, ia sedang mengerjakan riset-riset bermutu tentang Islam, pers, perempuan, dan perbukuan masa lalu.

* * *

Pada masa 1970-an, Indonesia dipaksa memiliki definisi negeri panas atau negeri sumuk. Mesin-mesin mahal mengolah udara jadi dingin berdatangan dari pelbagai negara. Kantor, rumah, restoran, hotel, dan bioskop digoda memiliki mesin pencipta dingin. Ruang-ruang sering ditutup rapat. Ada pintu dan jendela tapi jarang terbuka. Di ruang tertutup, lampu harus terang. Hidup di ruang-ruang dingin terhitung mahal. Pilihan dingin memiliki dalih-dalih selera Eropa dan Amerika. Imajinasi ke negara-negara Asia memiliki dingin dan salju pun termiliki orang-orang Indonesia di kota.

Di majalah Ekspres edisi 8 Februari 1971, iklan mesin mendinginkan udara. Benda itu masih dinamai dengan bahasa asing: AC (air conditioner). Gambar mesin berlatar pegunungan mungkin bersalju. Ih, dingin! Pegunungan bukan terletak di Indonesia. Keterangan memikat: “Suara mesin terhalus dengan bentuk terindah. Hawanja sedjuk seperti di Puntjak. Memberi semangat kerdja dan istirahat lebih tenang serta kesehatan Anda lebih terlindungi.” Di ruangan dengan mesin bermerek Sanyo, orang merasa mendapat sejuk seperti di Puncak. Sejuk diadakan dengan mesin. Nah, mesin dibeli pakai duit. Mahal tak apa asal mesin berkhasiat.

Di halaman berbeda, merek itu muncul dalam bentuk kipas angin. Pengguna kipas angin tentu berada di ruangan masih memiliki jalur angin: pintu, jendela, atau ventilasi. Angin dari luar masuk untuk digerakkan oleh mesin memutar baling-baling. Mesin itu mengubah kebiasaan orang memegang kipas untuk kepet-kepet. Tangan jangan capek dalam memerangi sumuk. Mesin tinggal disetel, angin kencang berdatangan mengusir keringat di raga. Pesan bagi pengguna mesin kipas angin: “Bentuknja sangat indah dan kekuatannja djangan diragukan. Dengan kipas angin Sanyo, Anda selalu diberi kepuasan.”

Kita lekas mengingat kipas angin itu ditaruh dan dipasang di pelbagai tempat. Bocah-bocah rajin ke masjid di kampung-kampung mulai melihat ada kipas angin di atas. Konon, kipas angin membuat orang beribadah terhindar dari sumuk atau kemringet. Bocah-bocah nggumunan melihat kipas itu keren. Mereka sering duduk atau tiduran di bawah kipas angin meraih sejuk dan isis. Tahun demi tahun, mesin kipas angin ada di pelbagai tempat untuk peristiwa kerja di kantor, ibadah, dan menggampangkan pembakaran sate atau pitik bakar. Kipas angin seribu faedah.

Pada masa berbeda, orang-orang mulai mengganti mesin kipas angin dengan AC. Duit dan gengsi dipertaruhkan asal ruangan-ruangan dipasangi mesin membikin adem. Kipas angin sempat dapat “ejekan” atau turun derajat. Di Tempo, 22 Agustus 1922, kita melihat iklan lucu dan mengejutkan. Lihat, mesin kipas angin itu berpasangan dengan ember berisi tumpukan es batu. Angin dari mesin diharapkan mengenai es menjadi udara dingin. Hebat!

Perusahaan penghasil AC bermerek Carrier menjelaskan secara santun: “Cara di atas memang jauh lebih hemat, tapi mungkin kurang praktis. Coba bandingkan dengan AC Carrier. Konsep unik yang diterapkan pada AC Carrier menghasilkan pendingin ruangan yang hemat listrik, lebih lembut, dengan sirkulasi udara lebih baik.” Anjuran bijak ke orang-orang berpatokan ngiritisme dengan memasangkan mesin kipas angin dan ember. Pemandangan tak indah. Di mata orang, dua benda itu mungkin digunakan dalam pentas teater.

Persaingan bisnis AC semakin sengit di Indonesia. Penambahan jumlah bangunan mengartikan ada kebutuhan AC. Sekian merek AC jadi idola dengan sekian kelebihan dan pesona. Di Tempo, 15 Juni 1991, iklan AC berimajinasi Jepang. Simaklah: “Corona Split AC dari Jepang sangat canggih, karena menggunakan kompresor teknologi mutakhir. Bekerja lebih efisien sehingga udara menjadi lebih dingin.” Dulu, benda-benda berasal dari Jepang sering memiliki anggapan mutu terjamin.

Siapa pengguna AC asal Jepang? Kita mengandaikan mereka adalah para pembaca novel-novel garapan Yasunari Kawabata dan Yukio Mishima. Novel-novel mereka mengisahkan dingin di Jepang. Di Indonesia, buku-buku sastra Jepang mulai diterjemahkan dan terbit di Djambatan dan Pustaka Jaya. Dingin Jepang seperti terasakan bagi pembaca terlalu menginginkan berada di negeri memiliki tokoh Oshin. AC mengingatkan ke sastra? Mutu dingin di Jepang diduga berbeda dengan dingin di Indonesia. Ingat Jepang, ingat salju. Desa dan kota jadi puitis oleh salju.

* * *

Pada abad XXI, kita dianggap tolol jika mengurusi AC dengan sastra. AC itu berkaitan tema pendidikan. Dolanlah ke pelbagai kota! Kunjungilah sekolah-sekolah! Bangunan sekolah terus meninggi, sulit melebar. Puluhan kelas diisi murid-murid. Ruangan kecil terasa sesak. Murid-murid jangan kemringet dan mampus saat sedang belajar, pagi sampai sore. Di SD, SMP, SMA, kelas-kelas mulai dipasangi mesin pendingin udara.

Bocah dan remaja sombong biasa pamer ke teman-teman di desa. AC jadi bukti sekolah mereka maju dan mentereng. Sekolah tanpa halaman luas dan pepohongan dianggap keren asal memiliki puluhan AC. Pasangan mesin-mesin itu pasti lampu-lampu wajib terang, dari pagi sampai sore. Sekolah itu boros listrik! Orang mulai beranggapan ongkos pendidikan mahal mungkin gara-gara sekolah memiliki fasilitas AC. Duh, AC itu fasilitas? Lampu juga fasilitas? Sejak ada AC, murid dikurung di ruangan dengan pintu dan jendela tertutup. Jendela diadakan tapi sengaja ditutup selama ratusan hari. Bocah asal desa bingung. Ia pernah mendapat penjelasan guru bahwa jendela itu berfungsi untuk sirkulasi udara dan masuk sinar matahari. Eh, jendela malah selalu ditutup.

Di kelas dingin, murid-murid betah belajar. Jadilah mereka pintar. Khasiat AC berarti sponsor untuk kepintaran bocah. Kesibukan membaca dan menulis di kelas dilarang diselingi kepet-kepet. Biarkanlah murid-murid di sekolah bercap ecek-ecek membuka dua kancing baju bagian atas dan menggunakan buku untuk kepet-kepet. Pelaku harus lelaki, jangan perempuan. Gagal menuntaskan keringat, mereka duduk dekat jendela atau pintu. Mereka berdoa minta kedatangan angin melintasi pepohonan di depan atau samping kelas. Keuntungan jendela terbuka juga cepat merampungkan bau kentut. Murid-murid pun sempat nginjen keluar jika bosan dengan pelajaran. Pemasangan AC mengubah biografi murid bersekolah. Mereka setiap hari diterpa dingin dan beradaptasi agar tak kebablasan masuk angin. Murid lugu mungkin mengatasi terlalu dingin dengan mengenakan jaket selama di kelas.

Di rumah, belajar untuk pintar bakal terbukti asal ada AC. Pengertian itu kita peroleh setelah menonton iklan Daikin di Tempo, 12 Mei 1984. Di iklan, foto ada bocah sedang belajar ditemani bapak dan ibu. Belajar di ruangan bersih, elok, dan dingin. Pokok iklan: “Lebih dingin, lebih tenang. Dengan penampilan lebih anggun.” Belajar di ruang dingin mengakibatkan bocah mungkin jadi pintar. Ia terhindar dari sambat sumuk. Bocah itu di keluarga berduit, bukan keluarga beratap ijuk atau berlantai tanah.

Pilihan membeli AC semakin dipusingkan dengan keunggulan-keunggulan. Orang-orang harus teliti mengamati iklan-iklan. Pembelian AC untuk kantor, sekolah, rumah, dan tempat ibadah mungkin berbeda jenis atau ukuran. Konsumen digoda membeli AC mengaku unik. Tempo, 11 Agustus 1984, memuat iklan dari Toshiba. Iklan bergambar AC seperti manusia, memiliki mata, hidung, mulut, dan tangan. Mesin itu berkata: “Saya AC mini Toshiba. Dingin, irit listrik, dan dapat dipindah-pindah. Saya AC sejati! Bukan uap air yang dihembus! Pasti tidak mengganggu kesehatan Anda.”

Segala iklan dan keampuhan AC itu belum menggoda penulis untuk lekas membeli dan memasang di rumah. Rumah memiliki sepuluh jendela masih memungkinkan angin berdatangan dan pergi. Di rumah dengan ribuan buku, dingin belum keharusan bagi orang-orang sedang keranjingan membaca dan menulis. Pilihan wajar sambil melihat rumah para tetangga sudah mulai dipasangi AC. Duh, hidup di desa, orang-orang menginginkan dingin seperti di Eropa, Amerika, Jepang, dan Korea Selatan. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.