Perempuan, dengan Bola Mata Seperti Langit Malam

pinterest.com

 

Sudah setengah jam kasur itu terus menandak-nandak. Bergoyang seperti gelombang, ditingkahi bunyi reyot besi ranjang dan derit per-per tua. Kasur itu terus bergerak dengan semangat, sementara tetes keringat berjatuhan di atasnya, melembabkan. Di sana, dua manusia bergoyang, bergerak seirama. Tak ada yang mengganggu, tak ada yang menginterupsi. Keringat membasah, libido tumpah.

Akhirnya lima belas menit setelahnya, kasur itu terdiam. Berhenti. Membiarkan dua orang di atasnya berbaring menatap langit-langit. Istirahat. Mengatur napas yang terengah-engah. Melepas uap keringat pergi seiring embusan angin dari lubang di dinding.

Kemudian, lelaki dan perempuan itu berhadapan, saling pandang. Mata mereka bicara. Perempuan di depannya tampak begitu sendu. Ia memandang lelaki itu dengan tatapan mengharu biru.

Sebaliknya lelaki itu memandangi perempuan di depannya. Jarak mereka sedemikian dekat sehingga lelaki itu bisa melihat bulu mata yang lentik dan basah, juga bola mata yang kelam seperti langit malam.

Dalam sekejap, lelaki itu langsung merasa bahwa ia bisa menyelami kepasrahan di mata perempuan itu. Sebuah kepasrahan yang terencana. Perempuan baik-baik ini… perempuan baik-baik yang kuseret masuk ke duniaku yang gila. Perempuan ini memberiku cinta, sementara aku memberinya kebencian. Demikian lelaki itu berpikir.

“Jadi bagaimana rencana kita?” Suara perempuan itu memecah keheningan.

Lelaki itu tak segera menjawab. Ia menunggu. Ia selalu menunggu. Ia adalah jenis laki-laki yang tidak bisa memberi keputusan cepat. Terkadang itu menjengkelkan, tapi lelaki itu bertahan karena sering kali dengan kebiasaan tersebut ia justru bisa menimbang-nimbang jawaban atau keputusan hingga menghasilkan pilihan yang tepat. Lebih baik terlambat daripada celaka di jalan. Demikian pandangan hidupnya.

“Kenapa diam saja! Kamu sudah janji!” Perempuan itu merajuk, atau setidaknya ada nada merajuk dalam suaranya.

Lelaki itu masih memilih diam. Sebenarnya ia agak bosan. Karena sungguh pembicaraan tentang janji ini sudah berulang-ulang mereka lakukan. Perempuan itu selalu saja mengutarakan pertanyaan yang sama dan lelaki itu selalu menjawabnya dengan kalimat yang sama. Itulah mengapa ia merasa ada baiknya sesekali mendiamkan pertanyaan tadi, pertanyaan yang sudah menderanya berkali-kali dalam beberapa bulan ini.

“Kamu masih pegang janjimu, kan?” Perempuan itu mengeraskan suaranya dan memandang tajam. Lelaki itu masih tidak menjawab, hanya mengangguk.

“Kamu betul-betul mencintaiku, kan?”

Ah, cinta… cinta. Apa lagi yang dibutuhkan dalam hidup ini kecuali cinta? Siapa yang kita perlukan dalam hidup ini kecuali sosok yang mencinta dan dicinta. Semua orang keluar di pagi hari dan pulang sore hari, mencari hidup yang bergelimang cinta. Termasuk lelaki itu, termasuk perempuan itu. Cinta meski berbeda nama, namun bentuknya tetap sama.

Terjadi jeda yang cukup lama, perempuan itu berangsur kesal. “Kalau ditanya itu jawab! Kamu kira aku mau terus menerus begini? Memangnya kamu anggap aku ini apa?”

Lelaki itu kali ini benar-benar menatap wajah perempuan itu. Menikmati bola mata yang kelam seperti langit malam.

“Ya, aku masih pegang janjiku.”

“Tadi pertanyaanku bukan itu!” Suara perempuan itu mengeras, tidak sebanding dengan desahan lembut yang meluncur dari bibirnya sekitar tiga puluh menit yang lalu.

“Ya, aku mencintaimu….”

Mendengar jawaban tadi, perempuan itu tersenyum. Lihat, betapa hebatnya efek kata-kata cinta pada seseorang. Perempuan yang tadi menyentak-nyentak pun langsung luluh dan berubah jadi lembut.  “Aku percaya padamu. Karena itu aku memilihmu sebagai suami.”

Perlahan, perempuan itu lalu memberi kecupan. Tersenyum.

Lelaki itu ikut tersenyum, membelai rambut perempuan itu, memberinya kecupan yang sama. Tapi ternyata gigitan-gigitan kecil di bibir bawah membuat ciuman itu berlangsung lebih lama dari yang mereka rencanakan. Sepanjang berciuman, mereka terpejam, namun sesekali ada waktu di mana lelaki itu merasa tenggelam dalam keindahan warna langit malam, sesuatu yang gelap namun indah karena penuh cahaya bintang. Benar-benar sesuatu yang memabukkan.

Sampai kemudian perempuan itu melepaskan pagutannya.

“Jadi kapan?”

Lelaki itu menatap balik. “Kapan apa?”

Perempuan itu terbelalak, dia menyentak, “Ya rencana kita! Kamu kebiasaan kalau bicara berputar-putar! Seperti ingin mengalihkan topik bahasan, dan itu salah satu yang aku tak suka darimu! Lelaki di mana-mana sama saja!”

Lelaki itu kembali terdiam. Ia merasakan sebuah perasaan yang campur aduk, antara cinta, kegeraman, perasaan bersalah, dan ketegangan. Hidup yang seperti sebuah petualangan. Pikir si lelaki.

 “Ingat, ini semua idemu! Kamu yang memaksaku berpikir begitu.”

“Ya aku tahu… kamu tenanglah dulu.” Lelaki itu merenung-renung, menatap bola mata perempuan di hadapannya. Meyakinkan diri bahwa dia memang benar-benar mencintainya. Lelaki itu merasakan perasaan cinta yang meletup-letup. Dia selalu ingin berada di sisi perempuan itu.

“Mana bisa aku tenang, sementara aku tidak mendapatkan jaminan apa-apa darimu? Kamu selalu saja janji dan janji. Padahal ini semua kamu yang mulai!”

Perempuan itu terisak, lelaki itu merasa malas merayu, dia sebenarnya ingin membiarkan perempuan itu terisak terus sepuasnya, tapi ia tahu perempuan yang menangis kadang bukan berarti benar-benar menangis. Apa pun artinya. Begitu banyak kode dan simbol yang dimiliki oleh seorang perempuan hingga rasanya perlu jutaan tahun untuk mempelajari semuanya. Begitu juga perempuan yang tengah terisak di depannya ini. Lelaki itu yakin perempuan ini besar kemungkinan hanya mencari perhatian. Bukan benar-benar terisak.

Dalam jarak mereka, lelaki itu kembali bisa melihat bulu mata yang basah, Sejenak lelaki itu sedikit merasa bersalah. Dia selalu memegang teguh pemahaman bahwa lelaki sejati tidak akan membuat perempuan menangis sedih. Karena itulah ia merasa harus bicara, menenangkan.

“Ya aku tahu, ini semua aku yang mulai. Aku yang pertama melihatmu di tempat kerjaku, aku yang pertama mendekatimu, aku yang pertama menyapamu, aku yang pertama mengatakan sayang, aku yang pertama mengajakmu menikah, dan aku yang pertama kali mengajakmu menyusun rencana-rencana ini! Aku bukan tidak tahu semua risikonya. Aku tahu dan aku siap mengambil semua risiko itu semata-mata karena aku mencintaimu!”

Perempuan itu menatap dengan pandangan nanar. “Kalau begitu lakukan sesuatu! Kita tidak mungkin begini-begini terus!”

“Semua perlu waktu, Sayang….”

“Aku tidak mau kamu ingkar janji! Aku trauma pada janji laki-laki.”

“Sekarang kutanya padamu, apa selama ini aku pernah sekali saja ingkar janji padamu?” Lelaki itu bertanya lembut. Perempuan itu tergugu.

“Memang belum….”

“Tidak akan!”

“Janji?”

“Ya!”

Perempuan itu beringsut maju dan memeluk dengan pelukan yang begitu gemetar. Dia sudah tidak terisak lagi, tapi pelukannya benar-benar keluar dari sebuah hati yang merasa kehilangan.

Lelaki yang dipeluknya bukan tak tahu itu, karena itulah dia balas memeluk dan membiarkan perempuan itu menyalurkan kegelisahannya. Sekali lagi lelaki itu tenggelam dalam kepungan warna langit malam, sebuah warna yang memabukkan.

Setelah beberapa jenak perempuan itu pun tidak gemetar lagi, dia mulai lebih tenang. Namun mereka terus berpelukan. Berpelukan dan merasakan napas masing-masing. Berpelukan dan saling menghitung detak jantung masing-masing. Begitu sepi, begitu lama, begitu tenang, sampai perempuan itu mengendurkan tangannya dan menempatkan wajahnya hanya beberapa sentimeter di depan wajah lelaki. Hidung mereka bersentuhan.

“Aku mencintaimu,“ ujarnya lirih. “Aku sangat mencintaimu, aku ingin terus ada di sampingmu, menjadi istrimu. Aku siap menyerahkan semua untuk mendampingimu.”

Lelaki itu tersenyum. Membelai rambut perempuan itu untuk kesekian kalinya, “Iya Sayang… aku tahu… aku tahu.”

“Kalau begitu lakukan segera!”

“Tidak semudah itu.”

“Kenapa tidak?”

“Kamu kan tahu, antrean di tempatku bekerja panjang sekali. Seolah semua perempuan di kota ini sedang mengajukan gugatan cerai. Ayolah, bersabar. Kehidupan saat ini bukan hanya membawa kematian, juga kemiskinan! Ah aku tidak mau berpuisi! Intinya, bukan kamu saja yang punya masalah seperti ini!”

Perempuan itu mengerutkan kening. “Percuma punya orang dalam kalau menyelak antrean saja tidak bisa! Kamu kan bisa mengaturnya hingga berkasku duluan yang diperiksa! Aku tinggal duduk manis menunggu hasil! Katamu, kamu bisa mengurus perceraianku! Iya, kan? Kamu mau menikahiku atau tidak, sih!”

“Iya, aku mau….”

Perempuan itu tersenyum. Lelaki itu merasa heran, betapa cepat seorang perempuan berpindah ruang emosi. Sesuatu yang selalu membingungkan. “Besok pagi, ya… aku tidak bisa menunggu lagi.” Perempuan itu memajukan wajahnya lagi, hidung mereka berdekatan lagi.

Lelaki itu tergagap, “Iya… satu lagi… kamu belum isi kolom alasan perceraian. Apa yang mau kamu tulis di formulir?”

“Kamu….” Perempuan itu membelai rambut si lelaki.

“Maksudmu?”

Perempuan itu menggeliat manja, lalu berbisik di telinga. Bisikannya demikian lembut hingga meremangkan seluruh kulit. “Aku akan bilang bahwa alasannya adalah kamu. Aku mencintai lelaki lain yang bukan suamiku, dan aku ingin hidup bersamanya.”

“Kamu tidak bisa memakai alasan seperti itu!”

Perempuan itu tertawa renyah. Dia lalu memberikan ciuman bertubi-tubi. Sementara lelaki itu melewatkan semua ciuman itu sambil mengingat tentang sebuah pertanyaan klasik: Bukankah aku dan dia saling cinta, tapi mengapa kita tidak bisa bersama? Sebuah pertanyaan klise membutuhkan jawaban yang klise juga. Tapi lelaki itu tak sempat mencari jawabannya. Ciuman perempuan itu makin lama menjadi makin panas.

Lelaki itu tentu saja tidak tinggal diam. Ia melayani ciuman yang datang padanya, tapi sambil terus berpikir: Mengapa warna bola mata semua perempuan yang akan bercerai selalu sama? Kelam, seperti malam yang gelap, tapi indah karena penuh cahaya bintang. Sebuah keindahan yang memabukkan. Selalu sama. Termasuk perempuan ini. Termasuk juga sembilan perempuan lain yang sudah datang padanya dalam beberapa bulan ini.

Awalnya hanya satu, lalu menjadi banyak. Mereka terus berdatangan dengan pertanyaan yang sama. Membuat lelaki itu melewatkan menit demi menit hidupnya berpikir: siapa di antara mereka yang harus didahulukan?

Ia tahu pada akhirnya sebuah keputusan harus diambil. Namun jelas sekarang bukan saatnya membahas pilihan karena di atasnya kini sedang ada sosok perempuan dengan ciuman-ciuman yang panas memabukkan. Maka perlahan semua pikiran di benak lelaki itu menguap. Ia pun tak memikirkan apa-apa lagi, melainkan terus berciuman sepanjang malam.

Bandung, September 2020

Hendra Purnama
Latest posts by Hendra Purnama (see all)

Comments

  1. Sisi Reply

    Duh bagus bgt

  2. Fathyazizah Reply

    Sebuah plot twist yg luar biasa 🙂

  3. Mahar Reply

    Rasa penasaran ku terjawab di akhir. Sedikit bisa tertebak, tapi tidak seluruhnya. Mantabb Bang. Selalu keren.

  4. Juniar Syah Reply

    Saya menikmati sekali membacanya.

  5. Karni Nggilu Reply

    Penasaran yang terpuaskan 😍 Keren Bang Hendra 👍👍👍👍

  6. Septi Wulandari Reply

    Bagus banget masyaAllah ❤️

  7. Vivere Reply

    Kunikmatiiii sepanjang kalimat-berderet kata dan simpul rasa yang membelitku selama 6 menit mataku terpaku di sini. Ouugh, bang Hen keren as alwez

    • Belajar Menulis Reply

      Mudah dipahami, kata2nya sederhana. OK.

    • Alivia Sasa Reply

      Pada paragraf ke entah, ketika sang perempuan menagiih janji dengan “Kalau begitu lakukan segera!” aku sepakat bahwa bukan hanya lelaki, perempuan pun dimana-mana sama saja 😂😂

      • Hyemi Reply

        Plot twist banget, seru rangkaian kata demi kata mudah dipahami.

  8. Hannah Reply

    Keren

  9. Eddy T. Reply

    Plotnya menggugah penasaran & ditulis dg apik. Keren!

    • Mpus Reply

      Keren, Bang Hen!

  10. Putri Aprilia Reply

    Keren!
    Setiap kata bisa dipahami dengan mudah. Plotnya juga bikin penasaran

  11. ARGA Reply

    sangat rilet dengan pengalaman dan kekelaman masa lalu .

  12. Fazri Suhada Reply

    Keren banget

  13. Re Reply

    homo homini lupus.. Begitulah..

  14. Pemula Reply

    OMG kerennn

Leave a Reply

Your email address will not be published.