Perempuan Peramal dan Bencana

studiofineart.com

Sebenarnya ia tidak mau lagi menggunakan kemampuan meramal. Perempuan itu memang terkenal sebagai cenayang, ahli membaca kartu tarot dan melihat masa depan melalui garis tangan atau tanda-tanda alam tertentu ketika ia melakukan meditasi. Ia memutuskan berhenti dari aktivitas ramal meramal setelah beberapa penglihatannya benar-benar terjadi baik untuk dirinya sendiri, orang lain maupun bagi dunia, khusus Indonesia selama 15 tahun terakhir ini. Ia meramal orang yang ia kenal maupun tidak, tanpa diminta, tanpa dibayar.

            Ia merasa gembira saja apabila seseorang berbahagia karena ramalannya berfaedah, misalnya seseorang akan mendapat jodoh, lalu menikah dan mendapatkan keturunan. Ia juga merasa senang apabila ia meramal seseorang meskipun hal buruk akan menimpa orang tersebut, paling tidak ia bisa memberikan informasi kepada orang itu agar melakukan tindakan preventif. Agar terhindar dari sakit seseorang harus mengubah gaya hidup atau mengatur pola makan, agar terhindar dari kecelakaan seseorang memilih waktu yang tepat untuk bepergian, atau agar terhindar dari bencana alam, manusia harus memelihara lingkungan dan keseimbangan alam. Namun ia selalu memegang prinsip bahwa semua ramalannya menjadi kenyataan karena kehendak Tuhan, bukan karena dirinya. Ia juga sangat yakin bahwa segala sesuatu di masa yang akan datang akan berubah menjadi baik atau buruk tergantung kepada manusia yang melakoni hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini.

            Dulu, perempuan ini menjadi peramal secara tidak sengaja, ketika ia telah memasuki kepala empat tetapi ia belum beroleh jodoh meski ia memiliki wajah yang manis, tubuh yang proposional, dan karier yang bagus di perusahaan televisi berita di mana ia bekerja kala itu sebagai reporter. Mungkin akibat tuntutan pekerjaan yang begitu tinggi, ia jatuh sakit. Sakit yang aneh, ia sering merasa jantungnya berdebar-debar, berkeringat dingin ketika menjelang senja hingga malam hari, ia pun menderita insomnia. Terkadang ketika sedang melakukan reportase, tiba-tiba ia merasakan dunia seperti berputar-putar dan ia pernah terjatuh saat siaran langsung di depan Istana Negara menjelang pelantikan presiden. Ia pun merasakan kupingnya berdenging, dengingan yang begitu mengusik dan menusuk, sehingga apabila suasana hening hanya suara denging yang panjang yang ia dengar sepanjang hari. Keadaan ini benar-benar menyiksanya. Hingga akhirnya ia memutuskan mengambil cuti dan melakukan pemeriksaan medis terhadap kesehatannya.

            Dokter menyarankan pemeriksaan medis dilakukan dengan tindakan rawat inap agar ia benar-benar beristirahat total dari rutinitas pekerjaan dan tidak terganggu oleh teman-teman kerjanya, atau kerabatnya, atau ibu dan ayahnya, yang selalu saja bertanya hal itu-itu melulu, “Kapan kamu mencari jodoh dan menikah?”

            Mungkin saja persoalan pertanyaan kapan menikah begitu mengerikan baginya. Pertanyaan itu bagaikan hantu-hantu menakutkan yang mendadak muncul di hadapannya. Sehingga ia merasakan kecemasan, kegelisahan, dan rasa khawatir akan masa depan yang berlebihan. Ia sadar apa yang diharapkan dan dicemaskan oleh orang tuanya memang cukup beralasan atas dirinya yang masih hidup sendiri.

            “Mungkin kamu harus berhenti bekerja, agar kamu punya banyak waktu untuk bersosialiasi dengan orang-orang, terutama dengan lelaki,” begitu ayahnya pernah menasihati.

            “Bagaimana laki-laki berani mendekati kamu, apabila kamu terlihat maskulin seperti ini,” begitu ibunya pernah mengomentari soal penampilannya.

            “Siapa yang akan urus kamu, saat kamu tua nanti, jika kamu tidak punya pasangan hidup dan keturunan? Kasihan orang tua kamu, mereka juga ingin punya cucu dari kamu!” begitu tantenya, adik ibunya pernah dengan penuh kenyinyiran menyampaikan pendapat secara terbuka.

            “Susah kalau pilih-pilih, tidak akan dapat-dapat,” begitu teman-temannya berkomentar. Perkataan dan pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya merasa tertekan.

            Selama menjalani rawat inap di rumah sakit demi mendapatkan hasil pemeriksaan medis yang akurat atas kondisi kesehatannya, atas rekomendasi dokter ia diberikan obat tidur setiap malam. Ia pun merasa nyaman meminum obat tidur, karena sangat membantunya untuk tidur lelap dan dalam. Namun setiap ia tidur lelap, ia malah bermimpi, dalam mimpi ia terjaga dari tidurnya. Ia berjalan di koridor rumah sakit yang sepi. Sepanjang ia bermimpi dengan takjub ia melihat sosok hitam tinggi besar yang berada di koridor itu juga, atau terkadang sosok itu berdiri di depan pintu-pintu kamar rawat inap. Ia ingin menegur sosok itu, tetapi urung karena ia tahu, ia sedang bermimpi. Ia akan terbangun setiap harinya ketika perawat yang bertugas di pagi hari memeriksa kondisinya. Dan saat itu pula ia mengetahui bahwa ada pasien yang meninggal dunia, dan pasien yang meninggal itu adalah penghuni yang menempati ruang di mana sosok hitam itu berdiri di depan pintu ketika ia bermimpi. Begitu setiap malam yang dialaminya ketika tidur dan bermimpi. Akibatnya ia merasa kelelahan ketika terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

            Karena rasa penasaran yang begitu besar, saat ia bermimpi, mimpi yang sama, ia terbangun dari tidur lantas ia berjalan menyusuri koridor, ia bermaksud menegur sosok hitam yang sering ia lihat berdiri di depan pintu ruang rawat inap di rumah sakit ini. Dan ketika ia mendekati sosok hitam itu, suasana menjadi sedemikian mencekam, saking mencekamnya tiada hal yang paling mencekam di dunia ini saat ia menegur sosok hitam yang sedang berdiri di depan kamar nomor 12. Sosok hitam itu berpaling dan lantas menatapnya dengan sangat tajam. Ia hendak berteriak tapi ia percaya ini hanya mimpi sehingga ia memberanikan diri balas menatap sosok hitam itu, sosok hitam itu tanpa wajah apalagi mata, hanya gelap yang ia lihat dari wajah yang memancarkan aura pekat kegelapan. Tak ada rupa. Tapi dari kegelapan itu, ia bagai melihat sebuah titik terang. Titik terang ini bagaikan membuka tabir pengetahuan atas segala isi pemikirannya. Ia tidak begitu mengerti. Lalu ia terbangun dari tidurnya lagi-lagi dengan perasaan lelah. Perawat yang bertugas pagi itu tengah memeriksa kondisinya. Lantas ia bertanya kepada perawat yang mengukur tekanan darahnya.

            “Suster, apakah pasien kamar 12 meninggal dunia tadi malam?”

            Perawat itu tampak terkejut, lalu mengangguk mengiyakan.

            “Dari mana Anda tahu?”

            Ia tidak pernah menjawab.

            Setelah 7 hari rawat inap, hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh atas dirinya menyatakan bahwa ia tidak menderita sakit serius, ia dalam kondisi sehat. Dokter yang marawatnya hanya menyarankan agar ia lebih banyak berolahraga, selalu berpikir positif, dan melakukan aktivitas hobi. Dokter yang merawatnya kebetulan mendalami yoga, kungfu dan ilmu pernapasan juga menyarankan agar ia rajin bermeditasi, sekaligus berdoa, apabila ia malas sembahyang.

            Selepas dari rumah sakit, ia memiliki masa cuti seminggu lagi. Ia memutuskan mengikuti kursus yoga. Entah bagaimana caranya, ia begitu cepat menguasai semua gerakan yoga hanya dalam waktu 2 hari latihan. Bahkan saat ada teman yoganya terkilir, ia membantu meringankan sakit akibat terkilir dengan memegang bagian yang terkilir mendadak teman yoganya itu merasa baik-baik saja, tidak sakit lagi. Sejak saat itu, teman-temannya sering memintanya untuk mengobati bagian tubuh yang kurang nyaman atau sakit, lalu ia cukup mengusap atau memijat bagian tubuh temannya yang sakit, lalu rasa sakit itu sirna. Ia sendiri merasa terpukau dengan kemampuannya menyembuhkan.

            Ia beroleh kepercayaan diri lagi, sehingga pekerjaan sebagai reporter kembali ia lakoni dengan baik, ia meliput siaran langsung pelantikan Presiden Indonesia ke-6. Acara ini sangat penting, namun ia tiba-tiba merasa sangat kedinginan ketika siaran langsung, tubuhnya menggigil bagaikan ia berada di tengah-tengah padang salju. Ia meminta juru kamera menghentikan pengambilan gambar. Ia berusaha menguasai dirinya dengan berdoa dan bermeditasi, dalam kondisi meditatif ia melihat tanah berderak-derak seolah-olah akan terbelah, lalu tiba-tiba air laut yang entah dari mana datangnya menyapu daratan yang telah terbelah itu, dan melibas semuanya. Setelah meditasi ia merasa kondisi tubuhnya tidak menggigil lagi. Ia pikir apa yang ia lihat saat bermeditasi adalah peristiwa mimpi saja.

            Ia benar-benar memutuskan menjadi seorang peramal ketika peristiwa bencana alam gempa dan tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi. Ia sangat menyesal mengabaikan penglihatannya, seandainya ia cukup paham dengan apa yang akan terjadi, tentu ia bisa memberikan peringatan dini agar korban jiwa tidak begitu banyak.

            Hari berganti hari, waktu pun melesat secepat peluru. Pelbagai peristiwa terjadi. Ia dapat melihat peristiwa kegembiraan sekaligus kesedihan. Ia pun mengasah kemampuan meramal dengan mempelajari kartu tarot dan membaca garis tangan. Ia juga belajar teknik akupuntur dan totok aura sebagai pelengkap.

Apa yang kamu bisa lakukan ketika kamu tahu orang-orang yang kamu sayangi akan sakit dan mati?

            Buat apa kamu menanti hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, apabila masa depan sudah kamu ketahui sebelum peristiwa itu benar-benar terjadi?

            Dapat dipastikan, kamu bisa gila!

            Saat ia merasa menjadi gila ia berhenti meramal sampai saat ini.

Padahal ia tahu tentang sesuatu, sesuatu yang akan mengubah dunia selamanya. Seminggu menjelang tahun baru, tepatnya pada hari Natal 2019, tubuhnya tiba-tiba lemas, ia begitu cemas. Ia merasa bagai terkena serangan stroke, tetapi ia yakin ini bukan sakit, ini adalah tanda-tanda. Tuhan mengirimkan sinyal padanya, dengan segera ia melakukan meditasi. Saat konsisi meditatif tiba, ia melihat hamparan danau yang begitu luas, oh bukan danau tetapi lautan yang begitu luas. Lalu di mana daratan dan orang-orang? Dan gelap! Ia membuka matanya saat ia merasakan kondisi tubuhnya berangsur nyaman kembali.

Ia hendak menceritakan penglihatannya itu ke teman-temannya, tetapi ia sudah tak punya teman lagi, teman-temannya telah banyak yang mati muda meninggalkan dunia yang fana ini. Tercatat 50 orang yang ia kenal meninggal sepanjang 2019, yang lebih menyakitkan lagi ia mengetahui siapa saja yang akan mati di tahun itu.

Ia ingin sekali menghubungi media koran, televisi, atau mengabarkan tentang penglihatannya perihal hamparan air yang begitu luas di sosial media, tapi ia takut orang-orang akan menyebutnya sebagai si penyebar berita palsu atau hoax. Apalagi hal-hal seperti bencana bisa dipolitisasi untuk kepentingan penguasa. Ia pun memilih bungkam.

Tapi ia tak benar-benar bungkam, ia lantas menulis di secarik kertas, “Pada hari pergantian tahun akan terjadi bencana alam yang maha dahsyat, air akan menenggelamkan semuanya dan yang selamat akan hilang. Pesan ini kutujukan untuk diriku sendiri. Jakarta, 25 Desember 2019.” Kertas itu dimasukkan dalam sebuah botol minuman dalam kemasan.

Tanggal 2 Januari 2020, sekumpulan orang yang selamat menemukan dirinya telah menjadi mayat yang hanyut terseret banjir besar yang melanda Jakarta. Jasadnya ditemukan mengambang di sekitar Pantai Ancol beserta sebuah botol minuman dalam kemasan dan secarik kertas di dalamnya. Orang-orang yang membaca pesan tulisan pada secarik kertas itu merasa kesal, ternyata telah ada yang tahu musibah besar ini akan terjadi namun hanya mencatatnya di secarik kertas. Kekesalan mereka lantas sirna begitu saja, karena si penulis pesan sudah menjadi mayat. Setelah itu mereka sendiri kebingungan akan dimakamkan di mana jasad perempuan peramal itu, karena seluruh daratan Jakarta telah tenggelam, tiada lagi daratan yang tersisa. Jasad perempuan peramal tanpa nama itu akhirnya dibiarkan mengambang bersama ribuan mayat yang mengambang lainnya. Orang-orang yang selamat, kini melanjutkan hidup di atas perahu-perahu karet dan kapal-kapal kecil menuju tempat bernama Bukit Harapan.

Pada akhir Januari 2020 Bukit Harapan benar-benar ditemukan, orang-orang yang selamat bersorak-sorai. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, beberapa minggu kemudian orang-orang terserang demam yang hebat, sesak napas, dan mati begitu saja. Dunia kembali hampa, nihil dan kosong. Apa pun itu namanya, dunia tanpa manusia adalah bencana untuk tidak menyebutnya sebagai kiamat.***

Keterangan Penulis: Cerita ini fiksi belaka

Jakarta, 3 Januari – 28 Mare 2020

Bamby Cahyadi
Latest posts by Bamby Cahyadi (see all)

Comments

  1. Yasser Ratmidin Reply

    Merinding…. Hufttt

  2. Danan Jaya Reply

    peramal atau indigo

  3. Fauzan Labib Reply

    Saya ingin belajar menulis dan mengirimnya ke koran, namun belum tahu bagaimana caranya. Mungkin ada yang bisa & bersedia membantu bagaimana caranya?

    • Kal Reply

      Coba ke lakonhidup.com. bagian redaksi ada alamat2 email redaksi mas

  4. Fauzan Labib Reply

    Siap. Terima kasih infonya🤗

  5. @kuma Reply

    Keterangan Penulis : Cerita ini fiksi belaka

  6. M. Syafei Reply

    Bagus

  7. Pipit tsanniya Reply

    Keren kak👍

  8. feby Reply

    keren…

Leave a Reply to @kuma Cancel Reply

Your email address will not be published.