Perempuan, Seks, dan Gender

tsukiko-kiyomidzu

 

Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf jika judul tulisan ini dipandang tabu, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk membahas hal-hal yang tidak senonoh dan jorok dalam kultur ketimuran kita, tulisan ini lebih pada empati dan apresiasi saya terhadap makhluk yang begitu sulit dipahami bernama perempuan. Dalam diskursus tentang perempuan kita akan bertemu dengan ideologi feminisme sebuah pemahaman yang sangat komprehensif sehubungan dengan keadilan berbasis gender, kata “keadilan” di sini perlu dipertegas sebab banyak yang salah mengartikan feminisme dan beranggapan bahwa feminisme menuntut kesamarataan antara perempuan dan laki-laki.

Ada apa dengan perempuan sehingga muncul ideologi feminisme yang mau tidak mau harus kita akui banyak ditentang oleh laki-laki dengan argumen perempuan memiliki kodratnya sendiri yang berbeda dengan laki-laki? Feminisme muncul akibat adanya ketidakadilan yang dirasakan oleh perempuan atas ketidaksamaan kedudukan dan derajat antara perempuan dan laki-laki, ketidakadilan ini sering menyebabkan perempuan dieksploitasi demi kepentingan laki-laki juga diperlakukan lebih rendah dari laki-laki dan ironisnya perempuan sendiri sering kali tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban eksploitasi, kesadaran akan adanya ketidakadilan dan eksploitasi inilah yang kemudian menjadi nyawa bagi feminisme. Feminisme sendiri berasal dari bahasa Latin dari kata “femina” yang artinya memiliki sifat keperempuanan. Feminisme dapat juga diartikan sebagai gerakan emansipasi wanita yang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan menolak perbedaan derajat antara wanita dan pria.

Argumen bahwa perempuan memiliki kodrat yang berbeda dengan laki-laki memang tidak dapat dipungkiri dan merupakan sebuah keniscayaan, hanya saja pandangan tentang kodrat inilah yang sering disalahpahami. Kodrat perempuan sering dipahami dalam ranah gender yang bersifat kultur, bentukan dan ajaran sosial yang menghasilkan konstruksi sosial bahwa perempuan hanya memiliki peran dalam urusan memasak, mencuci, merawat atau mendidik anak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menjadikan perempuan sebatas pelengkap bagi laki-laki. Padahal apa yang dimaksud dengan kodrat perempuan tidaklah terletak pada ranah gender yang sifatnya dapat diubah karena merupakan konstruksi sosial, melainkan terletak pada ranah seks, biologis yang tidak dapat diubah seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam ranah ini perempuan niscaya memiliki kodrat yang berbeda dengan laki-laki tapi dalam ranah gender perempuan sebenarnya memiliki hak untuk menuntut keadilan terhadap kesamaan kedudukan dan derajat dengan laki-laki, jika laki-laki diberi hak untuk mengenyam pendidikan begitu pula perempuan.

Apa yang ingin saya sampaikan dari uraian di atas adalah bahwa feminisme bukan ideologi yang menuntut kesamaan kodrat antara laki-laki dan perempuan tapi kesamaan dalam mendapat keadilan gender, agar perempuan tidak selalu diposisikan sebagai makhluk setengah manusia seperti yang dikatakan oleh Aristoteles. Juga agar perempuan bukan saja tidak menjadi objek eksploitasi tapi juga sadar bahwa dirinya dieksploitasi. Untuk memahami itu saya kira penting untuk membahas tentang feminisme ini lebih jauh lagi, baik itu problematik maupun sumber problematik dari gender. Setidaknya terdapat lima problematik gender yang menyebabkan ketidakadilan terhadap perempuan yaitu, marginalisasi, burden, subordinasi, stereotip, dan violence. Sedangkan sumber dari problematik itu setidaknya sampai saat ini masih bersumber dari ideologi patriarki.

Marginalisasi gender terhadap perempuan adalah peminggiran dari dunia pendidikan, politik, ekonomi, dan sebagainya terhadap perempuan. Dalam pendidikan, misalnya, sosial masyarakat kita masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan tidak terlalu perlu mengenyam pendidikan tinggi sebab kiprah perempuan pada akhirnya hanya akan berakhir pada urusan rumah tangga seperti memasak dan mencuci bahkan dalam realitas kita, masih banyak kita temui ketakutan jika perempuan mengenyam pendidikan tinggi akan sulit mendapatkan jodoh. Misalnya jika perempuan memiliki gelar sarjana strata satu maka yang diharapkan adalah laki-laki yang memiliki gelar strata dua atau minimal juga strata satu, ditambah lagi marginalisasi yang dilakukan oleh laki-laki yang cenderung memilih perempuan yang strata pendidikannya berada di bawahnya.

Burden adalah pemberian beban kerja lebih panjang dan lebih berat terhadap perempuan. Hal ini akan kita temui jika mengamati realitas sosial kita sendiri, seperti beban kerja yang diberikan kepada istri yang bekerja di rumah. Jika kita kalkulasi beban kerjanya jauh akan lebih panjang dan lebih berat daripada beban kerja suami. Namun meski demikian, istri tidak mendapatkan porsi dan apresiasi yang adil jika ada pencapaian dalam rumah tangga itu. Semisal si anak meraih ranking kelas, maka yang akan disebut pertama adalah nama ayahnya. Padahal peran pendidikan dalam keluarga lebih banyak dipegang oleh ibunya yang dua puluh empat jam bekerja di rumah.

Problematik selanjutnya adalah subordinasi, yaitu perempuan sebagai pelengkap dan stereotip yaitu pelabelan negatif terhadap perempuan. Keduanya memiliki akar pandangan yang sama, yaitu pada penciptaan Adam dan Hawa. Tuhan menciptakan Adam sebagai manusia pertama lalu menciptakan Hawa sebagai pelengkap kemudian keduanya dibuang ke Bumi karena memakan buah terlarang dan pelanggaran itu dilakukan sebab Hawa membujuk Adam.

Dan yang terakhir adalah violence atau kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan saya kira bukan hal baru lagi sebab sejak berabad-abad lalu perempuan sering dijadikan sebagai pelampiasan kemarahan laki-laki dan sayangnya sampai saat ini hal itu masih bertahan.

Dari kelima problematik gender di atas, jelaslah bahwa meski kita telah memasuki era yang disebut dengan era milenial ternyata keadilan bagi perempuan masih belum sepenuhnya didapat dan yang lebih ironis perempuan sendiri kadang tidak sadar atau bahkan tak acuh terhadap problematik itu dan membiarkan dirinya terus menjadi setengah manusia yang dieksploitasi. Problematik-problematik itu pun tidak muncul dengan sendirinya, seperti telah dikatakan di awal problematik itu bersumber dari ideologi patriarki.

Ideologi bisa kita sebut dengan “nilai”, atau apa yang kita harapkan atau bisa juga kita sebut dengan “norma”, apa yang harus dilakukan dan bisa juga disebut dengan “kepercayaan”, sedangkan patriarki merupakan bentuk organisasi sosial di mana laki-laki mendominasi perempuan. Sederhananya, ideologi patriarki adalah pandangan yang menempatkan laki-laki sebagai superordinat dari perempuan sedangkan perempuan dalam hal ini bersifat subordinat. Ideologi ini melahirkan stratifikasi gender, yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan, dan privilese antara laki-laki dan perempuan.

Ideologi patriarki itu pula yang membuat perempuan dieksploitasi dengan atau tanpa sepengetahuan perempuan. Dengan dominasi laki-laki sebagai landasan ideologi, perempuan dipaksa hidup sesuai dengan keinginan laki-laki. Kita dapat mengambil contoh sederhana tentang kehidupan perempuan selama ini, apa yang dikatakan menjadi cantik bagi perempuan pada dasarnya bukan untuk perempuan sendiri melainkan untuk kepentingan laki-laki dan akhirnya perempuan hanya menjadi objek untuk memenuhi kebutuhan seksual.

Perempuan mencoba banyak cara untuk sekadar disebut sebagai perempuan dan diakui keperempuanannya. Lalu apa yang disebut dengan perempuan? Dengan eksploitasi yang dilakukan laki-laki, perempuan kehilangan jati diri mereka dan mengikuti definisi yang dibuat oleh laki-laki tentang perempuan. Laki-laki mendefinisikan perempuan sebagai sosok anggun, cantik/seksi, pintar memasak dan lain-lain. Dan untuk mengejar definisi itu, perempuan mencoba banyak cara untuk dapat dikatakan sebagai perempuan. Kita dapat mengambil banyak fakta sebagai contoh, misalnya, berapa banyak perempuan yang rela melakukan operasi plastik untuk memancungkan hidung atau memperbesar payudara yang tujuannya sebenarnya tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk laki-laki, agar laki-laki mau menganggap dia sebagai perempuan, atau contoh yang paling mudah ditemui yaitu dari cara berpakaian perempuan dengan rok mini atau pakaian yang serbaketat dan terbuka. Untuk siapakah semua itu? Tentu bukan untuk perempuan karena jika untuk perempuan, pakaian seperti itu tentu sangat tidak nyaman untuk dikenakan.

Yang lebih ironis saat ini, perempuan sendiri mulai kehilangan definisi dari kecantikan sebagai sesuatu yang seharusnya dapat menjadi surplus bagi perempuan. Cantik saat ini menjadi cantik menurut mereka bukan lagi cantik menurutku sebagai perempuan, definisi cantik kemudian berkembang mengikuti keinginan laki-laki yang notabene lebih pada seks dan yang lebih miris dari semua itu, perempuan mengikuti/menjadi produk kepentingan industri. Jika kita jujur dengan realitas yang ada, tentu kita akan mengakui bahwa banyak perempuan-perempuan Indonesia yang mendefinisikan cantik adalah berwajah, berkulit seperti artis Korea, untuk itu mereka mencoba berbagai cara untuk membuat dirinya menjadi cantik, dengan melakukan operasi atau sekadar membeli make up dan berpakaian layaknya artis Korea. Lalu dari semua itu, siapa yang diuntungkan? Tentu yang paling diuntungkan adalah laki-laki, sebab laki-lakilah yang mengeksploitasi. Selain itu, yang sangat diuntungkan juga adalah industri baik itu industri hiburan yang menayangkan artis-artis mereka ataupun industri tekstil yang memasok pakaian-pakaian mereka. Lalu siapa yang dirugikan? Perempuanlah yang dirugikan sebab dengan berusaha menjadi cantik mereka telah kehilangan jati diri, cantik bukan untuk dirinya malah terkadang menyiksa dirinya.

Seperti yang saya katakan di awal, tulisan ini saya buat karena rasa empati saya terhadap perempuan, saya tidak mengatakan bahwa feminisme sepenuhnya benar sebab feminisme fase ketiga yang dimulai sejak tahun 1990 sampai saat ini telah menjelma feminisme ekstrem yang melegalkan seksual lesbian. Saya sependapat dengan feminisme selama itu untuk keadilan gender bagi perempuan. Dan penting rasanya dikemukakan bahwa feminisme (karena dari awal tulisan ini saya mengatakan bahwa laki-lakilah yang mengeksploitasi perempuan), tidaklah membenci adanya laki-laki. Pembahasan tentang feminisme rasanya tidak dapat disederhanakan dengan tulisan ini, sebab pembahasan utuhnya akan melewati tiga fase, fase awal 1848–1915, fase kedua 1960–1990, dan fase ketiga 1990 sampai sekarang. Tiap fasenya memiliki gagasan tersendiri. Fase pertama tentang kesetaraan di hadapan hukum atau legal recognition, fase kedua tentang kesetaraan di dalam bidang sosial, politik, ekonomi, pekerjaan, upah, hak reproduksi, dan lain-lain. Sedangkan fase ketiga lebih pada tekanan terhadap hak-hak kultural dan keragaman. Tapi setidaknya, tulisan ini berusaha untuk menyadarkan perempuan agar menjadi perempuan sesuai definisi yang perempuan ciptakan sendiri dan sadar akan eksploitasi yang selama ini dialaminya.

Pamekasan, 12–01–2020

Moh. Cholid Baidaie
Latest posts by Moh. Cholid Baidaie (see all)

Comments

  1. Larka Reply

    Saya sangat setuju dengan isi artikel ini kecuali untuk satu hal tentang laki-laki yang mendefinisikan kecantikan itu seperti apa. Bukan sekedar laki-laki yang mendefinisikan cantik itu seperti apa, tetapi kulturlah yang mendefinisikannya, dan kultur itu tentunya tidak hanya dari sudut pandang laki-laki. Terlebih untuk pemilihan berpakaian, kurang pantas jika dikatakan bahwa perempuan berpakaian terbuka hanya untuk menyenangkan laki-laki, pun perempuan juga tidak membencinya, toh untuk urusan berpakaian masing-masing perempuan punya gayanya masing-masing, dan juga perempuan menikmati bagaimana mereka berpenampilan. Perempuan berpenampilan ‘seksi’ karena menurutnya ia cantik berpakaian demikian dan ia pun puas dengan itu.
    Jika kemudian menggunakan diksi perempuan melakukan itu agar dilirik dan dianggap cantik oleh lelaki, harus diingat juga bahwa lelaki berpenampilan sebaik mungkin, mencoba menjadi tampan ‘yang didefinisikan oleh perempuan’ agar dilirik pula oleh perempuan. Dalam kasus ini saya rasa netral, tidak terlalu terkait dengan gender perempuan yang terbentuk karena kultur.

  2. Anonymous Reply

    Tanda baca titik komanya berantakan. Membaca paragraf pertama aja dah males.

    • Admin Reply

      oke.

    • Wanda Anggara Reply

      Artikel yang menarik dan cukup bagus. Saya setuju akan gagasan besarnya. Namun saya rasa ada beberapa hal yang mungkin sedikit mengganjal. Pertama, sepemahaman saya bahwa untuk dewasa ini gagasan mengenai “keadilan” atau “kesetaraan” rasanya sudah lampau dibicarakan. Kemudian narasi mengenai feminisme gelombang ketiga yang dikatakan “feminisme ekstrem– lesbian” bagi saya kurang tepat. Feminisme gelombang ketiga, sepemahaman saya membawa nuansa “balancing” atau keseimbangan. Nuansa keseimbangan inilah yang menurut saya seharusnya dibicarakan, tidak lagi membicarakan mengenai kesetaraan ataupun keadilan. Kedua, bagi saya seorang perempuan menjadi “cantik” tidak hanya untuk laki-laki saja melainkan untuk perempuan lain juga. Harus disadari bahwa femininitas sangat ketat. Bagi perempuan yang tidak menerapkan praktik-praktik disiplin femininitas tidak hanya dihukum oleh laki-laki, melainkan oleh perempuan juga. Sebagai ilustrasi misalnya, seorang ibu akan memarahi anak perempuannya yang tomboy atau seorang ibu akan memarahi anak perempuannya lebih memilih untuk bermain layang-layang dibandingkan bermain boneka. Dengan ilustrasi tersebut, saya menyimpulkan bahwa perempuan pun menghakimi perempuan lain yang tidak menerapkan praktik-praktik feminitas. Ketiga, sekitar tahun 2003 seorang peneliti gender terkemuka bernama Anthea Taylor mengemukakan gagasan mengenai femininitas baru. Dalam gagasannya tersebut, Taylor mengemukakan bahwa dewasa ini perempuan yang tampil cantik atau seksi tidak semata-mata untuk melegitimasi ideologi patriarki, melainkan hanya berekespresi sesuai apa yang ia inginkan.

  3. Anonymous Reply

    Saya hanya ingin tahu, bagaimana cara si penulis mengaplikasikan idenya, memposisikan dirinya ini, dalam kehidupan di masyarakat. Dan wabilkhusus, dalam ranah domestiknya. Semoga ada tulisan lanjutan, yang bisa dijadikan teladan oleh para pembaca yang sepakat.

  4. Bandot Reply

    Setiap paragrafnya memaksa saya gugling

  5. Anonymous Reply

    saya suka isi artikelnya. tapi, ada beberapa hal yang saya tidak setuju bahwa perempuan ingin cantik dengan make up atau treatment perawatan lainnya. seorang perempuan itu suka akan keindahan. lingkaran pekerjaan yang itu-itu saja setiap harinya bagi seorang ibu rumah tangga. terkadang perempuan BUTUH sesuatu yang lebih untuk memanjakan dirinya agar lebih fresh dan juga enak dipandang oleh dirinya sendiri. definisi cantik bagi sebagian perempuan itu berbeda. mungkin beberapa laki-laki menganggap definisi cantik dengan bagian dari fisik. kalau dilihat secara real di dunia nyata laki-laki akan menyukai seorang perempuan dari fisiknya. akan tetapi, semakin sering intens hubungan itu dan semakin dewasanya mereka akan lebih memilih perempuan yang merasa nyaman dan juga smart.

    tidak dipungkiri di zaman ini memang masih ada yang memandang laki-laki yang dianggap ‘lebih’ unggul daripada seorang perempuan mungkin karena masih ada pengaruh norma agama, riwayat pendidikan, dan juga adat yang berlaku di setiap daerah. yang lebih mengutamakan seorang laki-laki dibandingkan perempuan. contoh kasus di beberapa daerah ketika anak perempuannya mulai menstruasi berumur 13 tahun dan keluarganya menikahkannya. tetapi, jika dibandingkan dengan kota besar perempuan jauh lebih memikirkan karir mereka terlebih dahulu. memuaskan hasrat mereka untuk memenuhi keingingan mereka agar tidak bergantung sepenuhnya dengan laki-laki.

  6. Anonymous Reply

    Sepertinya tulisan ini lebih tepat masuk di rubrik esai

  7. aziz ahlaf Reply

    masih edisi nyimak. kayaknya seru nih untuk dibaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.