Perempuan yang Disiksa Hidungnya

avifahve

Sejak bukan gadis perawan lagi, daya ciumnya makin peka. Bahkan kadang ia cemas jika di kemudian hari hidungnya itu menjadi petaka baginya. Ia memang tidak suka bau, bau yang menyengat apalagi.

Di kamar mandi, ia habiskan banyak air untuk bau pesing dan muntahan yang terus-menerus mendesak dari perutnya akibat selalu mual. Di dalam kamar, kamar itu selalu bersih dan wangi. Tentu saja, di samping wewangi yang selalu ia semprotkan, aroma segar dari beberapa jenis mawar juga jadi penawar. Satu hal lagi yang terus melekat di hidungnya, yang kerap dihirupnya dalam-dalam, begitu dalam, tidak bukan aroma keringatnya sendiri dan lelaki pujaannya. Ia masih sangat hafal, sebab begitu khas, dan tanpa sadar sering membuatnya tersenyum geli.

Pagi itu ia berada di kamar setelah membereskan rumah yang dianggapnya kotor dan berantakan. Sesungguhnya pun ia ingin selalu berada di kamar bila saja tak ada hal lain yang mesti dikerjakan. Atau tidak perlu bangkit dari kursi muka cermin, berjalan keluar sebab telinganya mendengar klakson mobil di halaman.

Seorang perempuan muncul melewati pintu dan berkata, “Kau tiada kerja hari ini? Tak berhasrat untuk meninggalkan bungkus ini?”

Seorang teman yang biasa datang bahkan sudah biasa masuk rumah tanpa mengetuk pintu dulu telah berkata begitu padanya, bahkan sebelum pantatnya jatuh di tempat duduk. Dengan dahi sedikit mengernyit, ia tidak langsung menanggapi dengan ucapan, tapi begitu saja menatap sekeliling dengan pikir berbicara sendiri; lantai sudah dipel, meja, vas bunga, pigura, bahkan piring-piring bebas dari sisa nasi semalam. Ia memandang ke halaman, dan ekor matanya telah diikuti tatapan perempuan di sebelahnya.

“Ya, aku tahu. Kalau begitu,” perempuan itu berkata sambil tangan dengan jari-jari lentik jatuh di bahunya, “kupinjam darimu.”

Ia sedikit heran. Dan rasa itu telah membuat kedua pipinya tertarik ke samping dengan dahi sempurna mengernyit karena harus berucap, “Pinjam?”

“Iya, biar kupinjam hasratmu itu. Biar aku yang berjalan keluar sementara kau tetap dalam bungkus ini.”

Bungkus ini? Ya, tentu rumah ini. Matanya lekas tertuju pada pigura di mana fotonya dengan suami tercinta begitu memesona. Begitu dirawatnya melebihi apa pun seisi rumah. Tidak boleh terlihat buram karena kacanya berdebu atau terciprat noda lain.

“Dengan menatap begitu, karena tentu saja kamu lebih memilih di rumah sebab posisimu sebagai ibu muda rumah tangga, dan setelah semua pekerjaan selesai tinggal satu pekerjaan yang tak boleh abai, menunggu suami pulang kerja. Begitu, kan? Iya, kan?” Lalu tertawa. Mereka jadi tertawa bersama-sama. Perempuan itu masih tertawa ketika ia leluasa memandang barisan gigi putih itu. Dalam hati kecilnya berkata, betapa temannya ini periang sekali. Banyak hal bisa dibuatnya jadi bahan candaan. Bahkan ia yakin, bawaannya yang selalu santai begitu telah memengaruhi paras cantiknya makin tambah ayu. Diam-diam ia kembali¬† mengagumi sepotong wajah di depannya, yang tampak sekali berseri-seri setiap kali datang ke rumah menemuinya.

Oh tidak, tidak. Bukannya teman perempuannya itu sering juga memuji kecantikannya. Ya, kami berdua memang cantik, begitu batinnya. Apalagi, sering teman perempuannya itu berkata, “Meski kau sering di rumah, dandananmu seperti seorang gadis yang ingin pergi keluar. Dan kau tahu betul menjaga tubuhmu.”

Ia ingat, pekerjaan rumah yang seharusnya membuatnya berkeringat, dapat disiasati oleh akalnya. Caranya tidak membiarkan pekerjaan menumpuk, melakukan hal sia-sia, dan tentu saja selalu menyemprotkan pengharum tubuh. Kepekaan hidungnya terhadap bau, telah membuatnya begitu. Ia tidak mau tubuhnya bau dan menyiksa dirinya sendiri karena daya ciumnya yang terlalu peka. Dan aroma yang menguar dari tubuh temannya pun, bahkan sudah sangat ia kenal. Jika pun tanpa melihat lebih dulu pada temannya itu, hidungnya pasti lebih dulu mengatakan padanya bahwa temannya itulah yang datang.

“Sudahlah, aku pergi dulu. Kau baik-baiklah di rumah, tunggu saja suamimu pulang,” kata perempuan itu seraya bangkit dan pergi. Ia pun bangkit menyusul di belakangnya. Hidungnya menyecap dan menghirup aroma yang ditinggalkan perempuan itu dan sempat tersenyum membalas senyum temannya sebelum lepas pintu pagar.

Ketika kembali ke dalam, diingatnya lagi bahwa cukup lama dari biasanya¬† temannya itu berkunjung. Dua bulan lamanya tidak muncul entah ke mana. Tapi apa pun itu, tidak begitu dirisaukannya. Bukankah setiap orang punya dunianya masing-masing? Kesibukan masing-masing? Dan ia pun sadar, rutinitas yang dilaluinya sering sama setiap hari, mirip pembantu di sebuah rumah tetapi ia merasa nyaman dan bahagia. Bahagia itu sederhana, menunggu suami pulang! Hehem….

Perihal suaminya itu, ingin sekali ia ceritakan jika sudah sejak kemarin tidak ada di rumah. Ada tugas keluar kota, ingin demikian disampaikannya. Tetapi belum sempat percakapan menuju ke sana, temannya itu keburu pergi karena alasan keluar. Entah keluar ke mana, apa kesibukannya di luar sana, belum jelas dan tak perlu juga ia tanyakan.

“Besok lusa aku ada pertemuan di Surabaya,” kata suaminya. “Mungkin dua minggu di sana. Biasa, ada banyak hal mesti dibahas mengenai pemilihan wakil rakyat yang sebentar lagi ini. Kamu baik-baiklah di sini.”

Setelah menjatuhkan diri di kasur, ia ingat lagi kata-kata suaminya. Pesan suaminya. Yang saat itu membuatnya terkelejat. Yang membuat napasnya sedikit berat. Sebab dua minggu, cukuplah lama baginya. Sebetulnya dari dulu ia tak suka sendirian di rumah. Karena kadung bersuami, perlahan ia menyenang-tenangkan dirinya. Tetapi dua minggu dan untuk pertama kalinya? Setiap hari lepas kepergiaan suaminya dari rumah, ia hanya membaui tubuh suaminya yang terus membekas di hidungnya. Betapa hal itu cukup menyiksa. Tak tahan dengan hasrat yang bergelora di dalam dada ialah bukan sekedar membaui aroma yang melekat di hidung namun sejatinya mengambang.

Entahlah, memang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan serikuh itu. Sebelum temannya itu datang, perasaannya masih biasa saja. Tetapi mendadak setelah pergi, pikirannya berjalan ke mana-mana. Dan lima hari berlalu, kesepian itu tambah meningkat. Tambah berlarat-larat. Tiga hari lalu suaminya memang berkabar, di Surabaya sedang turun hujan. Juga bertanya, apakah di situ hujan dan malam-malam tidak begitu dingin. Ah, pertanyaan semacam itu membuatnya menghirup udara kamar dalam-dalam. Deru napasnya sendiri membentur kesunyian berpadu pekat malam dalam ruang yang lampunya dibiarkan padam.

Pagi hari berikutnya, temannya itu datang lagi. Bertepatan ia sedang berada di halaman usai menyiram bunga-bunga dan menyapu. Sebetulnya mata itu terlepas dari seseorang yang datang, ia fokus memandangi burung kesayangan suaminya yang tadi sudah diberinya makan. Namun bau, bau itu menyergap hidung dan membuatnya seketika menoleh. Seorang perempuan telah berdiri tidak jauh di sampingnya.

“Rupanya kau, memang mau ke sini?”

“Ah, pertanyaanmu tak enak didengar. Tak ada pertanyaan lain?”

“Lepas ini kau hendak ke mana?”

“Oh, mungkin kau butuh hiburan. Ayolah, sesekali ikutlah aku keluar. Udara di rumah tidak membuatmu lebih segar.” Perempuan itu tertawa.

“Tunggulah sebentar, biar kubuatkan minum.”

“Ha ha… mestinya begitu. Tapi aku terburu-buru. Aku ke sini hanya mengunjungimu, itu saja. Ya, sekalian mampir berhubung urusan di luar yang mengharuskanku lewat jalan di depan rumah ini.”

“Kau terlau sibuk. Sok sibuk.”

“Ya, begitulah hidupku. Dan kau juga sibuk.” Lalu memandang rumah juga halaman.

Selepas perempuan itu pergi, sungguh membuat perasaannya kacau. Kemeriut di dadanya begitu terasa. Melecut-lecut. Pun sungguh menjengkelkan, sepagi itu mendapati kenyataan begitu. Tidak bukan, ia mencecap aroma semakin kentara yang menguar dari tubuh temannya itu. Huh, sungguh menyebalkan, geramnya, kemudian masuk menuju kamar mandi, membersihkan hidung dengan air, membasuh muka, menuju kamar dan membaui ruangan itu dengan harapan bau segar meruapi penciumannya sehingga kembali membuatnya tenang. Namun sungguh, bau temannya itu menyiksa hidungnya. Oh, betapa hidung ini menyiksaku, gerutunya, dadanya megap-megap.

Sungguh ia ingin melupakan semuanya. Dan ia telah berhasil tidak merisaukan apa-apa berhari kemudian. Hidungnya telah kembali menyecap bau ketenangan di rumah sendiri. Di halaman, makin diperbanyak bunga-bunga. Dan tentu saja di kamar, selain tetap rutin ia menyemprotkan wewangian. Hingga suatu hari suaminya kembali dari tugasnya. Kembali pulang meski sedikit lewat dari dua minggu yang dijanjikan.

Ia menyambut suaminya dengan senyum hangat penuh kerinduan. Dipeluknya tubuh itu, dan hidungnya menemukan kembali bau khas yang lama tak dicecap hidungnya. Namun sungguh ada aroma yang meski tak mendominasi, begitu saja mengacaukan pikirannya. Ia memendam risau yang kembali bergejolak itu. Sampai dua hari selanjutnya, ketika bau dari tubuh suaminya menguar dan semakin menyengat. Hari itu juga teman perempuannya muncul tanpa mengetuk pintu. Berbasa-basi seperti biasa. Sementara ia sendiri mendadak bingung dengan rasa geram yang menguap di dalam dadanya.

Ia menahan deru napasnya. Menutup hidungnya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain tanpa sadar mengelus-elus perut yang kian membesar. Tapi betul-betul, hidungnya itu menyiksanya. Bau dari dua tubuh di dekatnya tetap menembus tangan yang membekap hidung dan membuatnya ingin muntah. Dari tubuh suaminya menguarkan bau perempuan itu. Begitu pun sebaliknya, tubuh temannya menguarkan bau serupa dengan bau yang lekat di tubuhnya sendiri, bau yang sangat khas dan terkunci di kamarnya. Ia ingin marah, teriak, ketika diam-diam suami dan teman perempuannya saling memandang.

Karangcempaka, 2018

D Inu Rahman Abadi

Pria kelahiran Sumenep 1995. Mahasiswa STIQNIS Karangcempaka, penikmat kopi, senja, dan sastra.

Latest posts by D Inu Rahman Abadi (see all)

Comments

  1. Dyah Reply

  2. Anonymous Reply

    apik

  3. Siti slamiah Reply

    Apa benar mengirim cerpen harus 8 halaman?? Panjang amat..

  4. yunita karang Reply

    kereeen

  5. Tea Terina Reply

    Konfliknya halus. Keren!

Leave a Reply

Your email address will not be published.