Perempuan yang Lahir dari Imajinasi

(Photo by Amy Judd Art on flickr · Oil on canvas 100cm x 70cm)

Tak apalah kau tak percaya kisahku ini. Aku memaklumi itu, sebab kisah ini memang seperti dongeng atau fantasi belaka. Aku pun pasti tak akan percaya jika tak mengalami sendiri. Perempuan itu hadir begitu saja dalam kehidupan nyataku. Dia, perempuan yang lahir dari imajinasiku sendiri. Dan, akankah rumah tanggaku hancur karena dia?

Sudah dua puluh dua tahun sosok perempuan itu terkubur dalam sebuah novel bertema cinta yang pernah kutulis. Dia hanya rekaan belaka. Tak sedikit pun aku membayangkan dia akan ada di dunia ini. Dulu ketika menuliskannya, aku memang membayangkan sosok yang belum pernah kulihat di dunia nyata. Aku membayangkannya sebagai sosok yang menyenangkan walau memang tak kubuat sempurna. Tapi, saat itu aku memang mencintainya. Tergila-gila padanya. Itu wajar, agar perasaan tokoh yang mencintai perempuan itu terlukis dengan jelas dan bisa dirasakan pembaca.

Perempuan itu hadir begitu saja di depanku, memperkenalkan diri sebagai admin baru di toko material bahan bangunan tempat aku bekerja. Seolah dia terlahir dari alam khayali. Hatiku tergetar ketika menatapnya.

Awalnya aku tak mengingat siapa dia. Hanya saja aku merasa mengenal dia. Sangat mengenalnya. Kucoba mengingat di manakah aku pernah melihat atau mengenalnya. Tak ingat.

Beberapa bulan kemudian, seseorang meng-inbox akun facebook-ku menanyakan apakah aku masih memiliki stok novel lawasku itu. Aku bilang tidak.

“Tapi, bisakah Anda mencetak khusus untukku?” seseorang itu bertanya.

“Bisa, sih. Tapi, cetak cuma satu biji akan sangat mahal ongkosnya,” jawabku dengan perasaan malas menanggapi.

“Aku pesan sepuluh.”

Aneh juga orang ini. Untuk apa mencari novelku yang bisa dibilang tak laku itu?

“Untuk apa pesan sebanyak itu?” tanyaku akhirnya.

“Untuk hadiah bagi kawan yang hendak menikah dan yang sedang pacaran.”

Aku tertawa. Kupikir itu olok-olok untukku. Tapi, dia berhasil meyakinkanku.

“Baiklah. Akan aku kabari jika sudah selesai.”

Dengan masih menyimpan perasaan aneh, aku mencari file novel itu. Kubaca ulang kisahnya. Dan, aku terhenyak kita kubaca deskripsi tokoh perempuan yang digilai tokoh prianya. Ingatanku langsung melesat kepada sosok admin baru yang ada di tempat kerjaku. Aku tidak lantas mempercayai ingatanku. Perlu beberapa hari dan penyelidikan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa perempuan itu memang bukan sosok yang lahir dari imajinasiku. Tapi, aku harus mempercayai segala informasi tentang dirinya. Umurnya, sifatnya, jumlah saudaranya, nama adiknya, dan penampilannya memang mirip sekali dengan yang kutulis dua puluh dua tahun lalu. Selanjutnya, aku menengarai getaran hatiku saat menatapnya sebagai sebuah cinta. Atau berahi? Entahlah.

Sejak itulah, aku merasa salah tingkah di depannya. Dia merasakan itu dan bertanya dengan malu-malu. Dengan agak bingung menyusun kalimat, kujawab apa adanya.

“Aku pun begitu,” katanya.

“Maksudnya?”

“Aku juga merasa sudah mengenalmu sebelumnya.”

“Bagaimana bisa ini terjadi?”

“Nggak tahu.”

“Kau juga merasakan apa yang kurasa?”

“Itulah yang bikin aku ragu.”

“Kenapa?”

“Kau sudah beristri.”

Hari-hari berikutnya terasa lebih menyenangkan. Kami saling mendekat dan semakin lekat. Terpikir olehku untuk menjadikannya istri kedua. Kukatakan itu padanya, dan dia menerimanya. Gila! Tapi, aku senang.

Berhari-hari aku memikirkan cara mengatakan itu pada istriku. Tapi, tak jua kutemukan cara paling menyenangkan. Ya sudah, kukatakan itu tanpa ragu dan basa-basi. Aku santai saja ketika istriku uring-uringan menanggapiku.

“Kau nggak bisa berkaca? Lihat keadaanmu! Gaji terus-terusan kempis tanpa ada kembangnya sama sekali saja belagu mau menikah lagi.”

“Jadi, aslinya kau setuju?”

“Nggak!!” katanya sambil keluar kamar dan membanting pintu.

Entah setan atau malaikat yang merasuki istriku. Beberapa hari kemudian, dia tersenyum padaku. Senyum yang selama itu raib. Aku heran tentu saja.

“Kau sudah bisa tersenyum lagi? Ada apa?”

“Kau boleh menikah lagi.”

“Alasannya?”

“Setidaknya akan ada yang bantu aku masak, cuci baju, menyetrika, bersihkan rumah, dan lainnya.” Dia mengatakannya dengan masih tersenyum.

“Cuma begitu? Ada lagi?”

“Saat aku malas melayanimu, dia bisa menggantikanku.”

Aku mengernyit, tapi akhirnya tersenyum juga. “Alasanmu langka. Tapi, kau sungguh-sungguh mengizinkanku?”

“Tentu saja.”

“Baiklah. Terima kasih, Istriku. Kau sungguh mulia.”

Hari berikutnya kukatakan keputusan istriku pada perempuan yang lahir dari novelku itu. Dia tersenyum senang. Apalagi aku. Aku merasa menjadi lelaki paling beruntung.

Namun, petaka itu datang. Perempuan itu meninggal dua hari kemudian. Aku sedih? Tentu saja. Aku sudah sangat mencintainya dan telanjur membayangkan akan menikmati hari-hari indah bersamanya, tapi dia harus mati.

“Kenapa sedih?” tanya istriku.

“Dia meninggal kemarin.”

“Aku sudah menduganya.”

“Dari mana kau tahu?”

“Dari novel yang kau tulis. Bukankah kau sendiri yang mematikannya dengan penyakit aneh itu? Itu kenapa aku izinkan kamu menikahinya. Kalaupun dia nggak mati-mati juga, setidaknya dia bisa jadi pembantuku,” jawab istriku sambil tertawa penuh kemenangan.

Ah, aku baru sadar. Dalam novelku, kubayangkan dia juga mengidap suatu penyakit aneh, ganas, dan mati sebelum menikah dengan tokoh prianya.

“Oh, Tuhan. Betapa indah sekaligus berbahayanya imajinasiku,” lirihku berbalut sesal telah membuatnya mati.  Lalu, kataku pada istriku, “Tapi, di sana aku juga membayangkan banyak wanita yang datang pada tokoh prianya. Bagaimana menurutmu?”

Istriku menatapku tajam. Aku tertawa.

Era Ari Astanto

Lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018). Novel terbarunya yang akan terbit berjudul Di Pasujudan Bonang.
Era Ari Astanto

Latest posts by Era Ari Astanto (see all)

Comments

  1. Dwi Oktavian Reply

    Menarik

    • Arish Light Reply

      Keren

    • Arish Light Reply

      Keren

  2. Wahyudi Reply

    Unik

    • Anonymous Reply

      Aku jatuh cinta, serius. 😂

  3. Garnesi Reply

    Mengingatkan saya dengan film stranger than fiction.
    Berhati-hatilah wahai penulis, karena karakter fiksi mu bisa jadi manusia di dunia nyata…

    • Andris Susanto Reply

      Kalo menurut aku sih, imajinasi atau mimpi sekalipun, berasal dari nyata yang terekam otak.
      Ceritanya sederhana tapi keren!

  4. Yuni Bint Saniro Reply

    Gila. Tapi kadang kala beneran sih. Penulis memang kudu hati-hati. Khawatir imajinasi mempengaruhi alam bawah sadar dan kemudian menjelma menjadi kenyataan, meski tak persis sama tapi menyerupai. Hehehe

  5. Anonymous Reply

    Keren!

  6. ansitorini Reply

    sungguh… jadi bikin takut :'(

  7. Sri Reply

    keren

  8. Jejakarsa Reply

    Sederhana dan mengesankan

  9. Anonymous Reply

    keren…. jadi lebih termotivasi untuk berimajinasi. haahaaa

  10. Linda Reply

    Wah asli keren

Leave a Reply

Your email address will not be published.