Pergaulan di Sastra, Ketokohan di Pers

Di majalah Tempo, 25 Juni 1988, ucapan duka kematian. Penerbit majalah Matra turut berduka cita atas kematian Sumanang. Tokoh pers Indonesia dan pengurus Yayasan Bapora itu meninggal pada 13 Juni 1988 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Jogjakarta, 14 Juni 1988. Di Bapora, Sumanang menjadi orang penting dalam penerbitan majalah Matra. Pengumuman duka itu mengingatkan (lagi) ke pembaca peran besar Sumanang dalam sejarah pers Indonesia, sejak masa kolonial sampai masa Orde Baru.

Sumanang dekat dengan Tempo. Ia memiliki pergaulan dan pengaruh dengan para pendiri-penggerak terbitan majalah Tempo, berlanjut ke kemunculan Zaman dan Matra. Tiga majalah itu menjadi tanda gairah membesarkan pers tak pernah usai. Di kalangan pers, Sumanang diakrabi oleh kaum tua. Di bahasa dan sastra, Sumanang mungkin nama sudah dilupakan.

Di buku berjudul Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990)  susunan Pamusuk Eneste, kita tak pernah mendapatkan foto dan data diri Sumanang. Ia memang bukan pengarang. Sejarah sastra Indonesia tak pernah memiliki halaman berisi keterangan Sumanang mengarang cerita pendek atau novel. Ia pun tak memiliki misi besar dengan menggubah puisi. Nama itu tak ada. Sumanang cepat menghilang dari ingatan kesusastraan. Pelupaan tak terlalu dianggap bermasalah.

Ia tokoh di pergaulan sastra di Jakarta. Bermula dari peran sebagai pimpinan di Pergoeroean Rakjat, Sumanang berkenalan dengan para tokoh tergabung di Poedjangga Baroe: Amir Hamzah, Soegiarti, Armijn Pane. Minat di pers membuat Sumanang turut menguatkan kemunculan majalah Poedjangga Baroe. Di sampul, Sumanang tercantum sebagai anggota redaksi. Di Indonesia, orang jarang mau membaca daftar nama redaksi di pelbagai penerbitan majalah sastra atau seni. Orang-orang mungkin paling ingat nama redaktur paling tenar di pelbagai majalah sastra adalah Sutan Takdir Alisjahbana dan HB Jassin.

“Dalam pada itu, Sumanang sendiri sudah menyadari bahwa dia tidak tahu sama sekali tentang kesusastraan Indonesia, namun karena ajakan teman-temannya itulah akhirnya dia toh lalu menyumbangkan buah kalamnya kepada majalah Poedjangga Baroe yang kala itu merupakan majalah yang cukup berbobot dalam membahas soal kebudayaan, kesusastraan, dan kesenian. Sebab, yang menulis di dalamnya adalah tokoh-tokoh kebangsaan pada umumnya, entah dari kalangan pendidikan, agama, nasionalis, sastrawan, para ahli pikir Indonesia pada masa itu,” tulis Soebagijo IN dalam buku berjudul Sumanang: Sebuah Biografi, terbitan Gunung Agung, 1980. Sumanang berperan di alur sejarah sastra masa 1930-an tapi bukan berpredikat sebagai sastrawan. Ia gampang terlupakan tentu kewajaran.

Peran (hampir) terlupakan berulang berkaitan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, 1938. Semula, Sumanang cuma saksi dari Kongres Pemuda II menghasilkan Soempah Pemoeda. Ia berpihak ke pemajuan bahasa Indonesia di pendidikan dan pers, terbukti dengan peran dalam pelaksanaan Kongres Bahasa Indonesia I. Sepuluh tahun dari Sumpah Pemuda, nama Sumanang tercatat di sejarah-perkembangan bahasa Indonesia.

Sumanang bersama para tokoh intelektual memulai merancang Kongres Bahasa Indonesia I. Sumanang ada di panitia bersama para wartawan bekerja di Darmo Kondo, Penjebar Semangat, Adil, dan Koemandang Rakjat. Kongres itu memang diprakarsai oleh para wartawan. Di pelaksanaan kongres, Sumanang pun berperan menjadi sekretaris komite dalam membuat pertanggungjawaban keuangan untuk kongres. Kita membuka sejenak buku berjudul Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai (1991) dengan editor Harimurti Kridalaksana. Di sepucuk surat bertahun 1983, Sumanang menginformasikan ke para ahli bahasa Indonesia bahwa pencetus kongres di Solo adalah Soedarjo Tjokrosisworo. Sumanang wajib menjelaskan ke publik selaku pelaku sejarah. Di buku, nama Sumanang tercatat di Pengoeroes Komite. Ia menjadi “penoelis” bersama Armijn Pane dan Kantja Soengkana.

Peran di Poedjangga Baroe dan Kongres Bahasa Indonesia I dicatat oleh Soebagijo IN, belum tentu muncul di buku-buku sejarah bahasa dan sastra di Indonesia. Peran juga penting untuk diingat: sekretariat redaksi Poedjangga Baroe beralamat di Jalan Raden Saleh Kecil Nomor 2, Batavia Centrum, tempat Armijn Pane menumpang di rumah ibunda Sumanang.

Peran teringat di kalangan wartawan adalah Sumanang turut mendirikan kantor berita Antara (1937) dan organisasi dinamakan Persatuan Wartawan Indonesia (1946). Sumanang itu lulusan sekolah hukum dan memiliki gelar hukum tapi bergairah di pers. Ia mendirikan terbitan Perantaraan di Bogor, sebelum memilih kancah di Jakarta. Di pergaulan para wartawan berpihak ke nasionalisme, muncul kemauan membuat kantor berita. Sumanang dan penggerak pers rapat menentukan nama kantor berita. Rapat agak sulit sampai mufakat. Seorang wartawan bicara pada Sumanang: “Apa nama mingguan Bung tempo hari diterbitkan di Bogor?” Sumanang menjawab: Perantaraan. Armijn Pane lekas turut omong: “Nah, bagaimana kalau kantor berita kita itu diberi nama Antara?” Penamaan singkat dari nama mingguan Perantaraan. Para peserta rapat tak perlu waktu sejam atau sehari. Mereka pun mufakat (Soebagijo IN, 1980).

Kemauan para wartawan mendirikan Antara sempat mendapat sindiran dari tokoh pers bernama Parada Harahap. Di Tjaja Timoer, ia menulis: “Nasehat kita kepada mereka jang masih berangan-anagn mengadakan biro oentoek pers, di waktoe pers sendiri sekarang masih sebagai sekarang ini, hanjalah ini: djangan boeang tempo. Poelang ke desa, pegang patjoel, tanam oebi dan djagoeng. Itoe lebih berhasil.” Sumanang dan teman-teman menjawab dengan menerbitkan buletin sederhana dinamai Antara. Soebagijo IN dalam buku berjudul Jagat Wartawan Indonesia (1981) memberi deskripsi buletin: “… dengan huruf kurang jelas, disebabkan mesin stensil sudah kuno, sehingga aksara dalam buletin mbelobor, sukar dibaca.” Sejarah wagu itu menempuhi jalan terang. Antara menjadi kantor berita terpenting dan besar di Indonesia. Antara masih ada sampai sekarang.

Peran Sumanang berlanjut di PWI. Ia berpredikat ketua pertama di pendirian PWI (1946). Di Solo, Sumanang tercatat lagi gara-gara turut mendirikan PWI. Di peristiwa bersejarah, nama-nama orang penting memberi seruan demi Indonesia: Natsir, Amir Sjarifuddin, BM Diah, Adam Malik, Harsono Tjokroaminoto, dan lain-lain. Kongres itu berlangsung di latar Indonesia sedang menjalankan revolusi demi kedaulatan dan kemulaan. Kongres memutuskan Sumanang menjadi ketua. Pemilihan sampai ke mufakat itu disempurnakan dengan tepuk tangan.

Peran-peran di masa lalu terus berlanjut pada masa Orde Baru. Peran dimulai dengan menggunakan SIT (Surat Izin Terbit) Sari Pers untuk menerbitkan mingguan baru bernama Zaman. Majalah itu ditangani oleh Goenawan Mohamad bersama para wartawan-sastrawan. Soebagijo IN (1980) mencatat: “Zaman oleh sementara orang disebut edisi murah dari Tempo dan dalam waktu singkat berhasil mendapatkan tempat yang tersendiri di kalangan masyarakat.”

Catatan itu berbeda jauh dari penjelasan Goenawan Mohamad di Zaman nomor 1, Oktober 1979: “Dewasa ini, rasanya keluarga menjadi terpisah-pisah dalam pilihan bacaan. Bila si ibu sudah memilih majalah wanita, si bapak biasanya agak ragu-ragu: jangan-jangan dia harus memperhatikan soal kecantikan melulu! Lalu si bapak pun lebih baik membaca koran atau majalah berita untuk mendapatkan informasi tentang inflasi atau keadaan politik…. Dan si anak, jika ia seperti anak-anak lain kini anak yang haus bacaan? Dia perlu majalah tersendiri. Demikian pula kakak-kakaknya yang remaja.”

Peran Sumanang terus bersambung ke penerbitan Matra., majalah dipersembahkan ke kaum lelaki dengan rubrik-rubrik apik. Di situ, rubrik sastra diadakan dengan memuat cerpen-cerpen dari pengarang-pengarang tenar dan berpengaruh di Indonesia. Sumanang (1 Mei 1908-13 Juni 1988) tetap saja bukan sastrawan. Ia ingin terkenang di pergaulan sastra dan tokoh penting di pers Indonesia, dari masa ke masa. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.