Perihal Khayal, Imajinasi, dan Esai

Daily Mail

I

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Tini, setelah dua puluh satu hari pemuatan, menyampaikan kedongkolannya pada Tono bahwa esai yang tayang di basabasi.co tertanggal 8 Maret 2018, “Jurusan Sastra Indonesia”, tidak mutu. “Masa esai kaya gitu. Esai kok kayak cerpen, kaya cerita aja.” Mendengarnya, Tono melongo.

Saat Tono mengatakan pendapatnya pada Tini bahwa esai tersebut ditulis seperti itu karena esai termasuk juga karya sastra, seperti yang pernah dikatakan Muhammad Qadhafi, penulis novel Lelaki dan Ilusi, Tini menggebrak meja dan dengan garang bertanya, “Loh, kok bisa?” Tono diam, tak tahu alasannya.

“Katanya kamu suka Chairil. Mau hidup seribu tahun lagi. Mbelgedhes! Sikapmu aja tidak menggali kata sampai ke putih tulang gitu, kok. Nggak kritis. Kita sedang membahas esai lho, bukan cerpen atau cerita.”

Malamnya, di garis tipis antara tidur dan jaga, Tono merenungi ucapan Tini tentang apa dan seperti apa itu esai sebelum terlelap di alam mimpi.

II

Suatu pagi, Tono terbangun dari mimpi buruknya dan mendapati Muhammad Qadhafi masih tertidur dengan nyenyak. Padahal, Tono berkunjung ke kontrakannya karena hendak bertanya banyak. Tapi, meski tak berani mengganggu, Tono tak mau sia-sia dan bergegas menuju rak buku.

Ketika sedang membaca halaman 44 Bilang Begini Maksudnya Begitu, Tono buru-buru menutup dan mengembalikannya sebab terhenyak melihat kumpulan esai dengan judul yang menyentak, Sastra yang Malas!

Ketika membukanya, Tono kemudian terbelalak ketika mendapati satu judul esai yang sangat mengharukan, “Esai yang Kesepian”, seperti dirinya, lalu dengan tergesa membuka halaman 125 dengan segera dan tersentak begitu membaca:

Esai sebenarnya hampir sama dengan cerita pendek. Ada yang mengatakan bahwa perbedaan esai dan cerpen ialah esai adalah nonfiksi (sesuatu yang benar terjadi) dan cerpen adalah fiksi (khayalan) sang penulis.

Satu hal yang Tono garisbawahi adalah bahwa esai hampir sama dengan cerpen. Itu penting sekali. Sebab dengannya, Tono memiliki referensi sebagai landasan untuk mengatakan pada Tini bahwa, seperti yang pernah dikatakan Muhammad Qadhafi, esai termasuk karya sastra. Hanya saja, yang satu berisi khayal, sedang yang lain berisi fakta.

Meski begitu, Tono merasa keberatan jika kemudian sastra diidentikkan dengan khayalan. Sebab, bagi Tono, sastra tidaklah berangkat dari khayal, tapi berurusan dengan imajinasi. Sehingga, Ignas Kleden, dalam Jurnal Kalam edisi 11 tahun 1998, mengatakan:

Sastra dianggap menyampaikan kenyataan imajiner (imagined reality) yang sering disamakan dengan khayalan, sedangkan tulisan ilmu sosial menyampaikan kenyataan empiris yang bisa dites dengan pengamatan inderawi.

Tetapi, keterangan Ignas Kleden itu sendiri masih tidak memuaskan Tono. Sebab, dalam keterangannya tersebut, Ignas Kleden sendiri masih mengidentikkan kenyataan imajiner dengan khayalan.

Lebih dari itu, keterangan Ignas Kleden tersebut juga tidak mengobati ketidakpuasaannya pada pengertian khayalan dan imajinasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia luring edisi V luncuran Kemendikbud. Sebab, di dalamnya, kedua kata tersebut, meski sekilas seperti berbeda, masihlah terkesan sama karena, dalam kamus tersebut, arti kedua dari imajinasi adalah khayal itu sendiri.

Bagi Tono, khayalan adalah segala yang terang tidak nyata, seperti misalnya ketika ia berharap Tini ada di dekatnya saat ini dan memberinya taman bunga, padahal nyatanya, membalas pesan WhatsApp-nya saja Tini tak sudi.

Sedangkan imajinasi, bagi Tono, adalah seperti yang disampaikan HB. Jassin dalam pembelaannya atas cerpen “Langit Makin Mendung” Ki Pandjikusmin, yakni Keseluruhan dari kombinasi gagasan-gagasan, perasaan-perasaan, kenangan-kenangan, dan intuisi manusia.

Karenanya, Tono percaya bahwa imajinasi adalah suatu proses yang hidup dan menyeluruh hingga memberi daya cipta dalam suatu kenyataan estetik-artistik. Ia, dengan sendirinya, melampaui khayal.

Karena itu pula, Tono kemudian sepakat dengan pendapat Soebagio Sastrowardoyo (1992), halaman 36-37, tentang akibat yang muncul dari pandangan bahwa sastra adalah hasil dari khayal. Bahwasanya:

… pemahaman bahwa sastra adalah hasil khayalan, telah mempunyai akibat yang merugikan pencipta sastra maupun publik yang akan membacanya. Untuk yang pertama, anggapan tentang khayal ini membuat mereka memandang sastra sebagai “hasil lamunan tentang alam yang berada di luar kehidupan nyata.” Untuk yang kedua, tanggapan tentang khayal ini membuat mereka memandang “kesusastraan sebagai hiburan saja atau paling jauh sebagai hiasan hidup yang indah dan menarik tapi tidak esensial yang bisa dikesampingkan di tengah kehidupan sehari-hari yang sungguh-sungguh….

 

Sungguh, Tono tidak dapat menerima bahwa karya sastra, senaif apa pun itu, sebatas merupakan hasil dari khayalan pengarangnya. Sastra selalu mengandaikan pergulatan hidup pengarang yang kemudian terwujud dalam karyanya.

Itu sebab, pikir Tono, esai juga seperti prosa, puisi, dan naskah drama yang pada rentang proses penulisannya berangkat dari pergumulan atas kegelisahan dalam kehidupan penulisnya.

III

Kembali kepada esai, dalam “Esai: Godaan Subjektivitas”, Ignas Kleden menjelaskan bahwa sajak adalah subjektivitas sedangkan ilmu berusaha mendekati objektivitas. Berbeda dari keduanya, esai, dan esais, berada di antara posisi ilmuwan dan penyair.

Esai merupakan tarik-ulur antara subjektivitas dan objektivitas sehingga  memungkinkan untuk sekali tempo berada pada kutub objektivitas ilmu sebelum pada detik berikutnya bermanuver menuju subjektivitas sajak.

Tono termenung dan manggut-manggut ketika membaca keterangan Ignas Kleden tentang bagaimana seseorang yang hendak “mengungkapan” ilmu, sajak, dan esai:

Penulis ilmiah hendaknya menekan perasaannya agar tidak memengaruhi pengamatannya. Sebaliknya, seorang penulis sajak akan berhasil jika ia memunculkan subjektivitas total atau menerjemahkan hal-hal empiris menjadi simbol-simbol metaforis.

 

Melalui penjelasan itulah Ignas Kleden menyatakan posisi seorang esais yang mempunyai posisi unik dengan cemerlang: terbuka atas subjektivitas dan objektivitas!

Tono lantas mencoba menata ulang pemahamannya. Bahwasanya, bermula pada pernyataan Muhammad Qadhafi, esai termasuk sastra yang kemudian Tono dasarkan pada keterangan dalam “Esai yang Kesepian”.

Kemudian, Tono mendasarkan dugaannya bahwa esai “Jurusan Sastra Indonesia” adalah esai pada keterangan Muhidin M. Dahlan dalam bukunya, Inilah Esai halaman 15, bahwa semangat eksperimen dan seni berkelahi dalam percobaan pengungkapan gagasan adalah jiwa daripada esai.

Khusus yang disebutkan terakhir itu, Tono menguatkannya lagi dengan keterangan Budi Darma dalam Solilokui, buku yang banyak dikutip penulis esai “Jurusan Sastra Indonesia” di basabasi.co, yang menyampaikan:

Kalau Anda menulis, katakanlah esai atau kritik sastra, dan mengirim tulisan tersebut ke sebuah media sastra, mungkin tulisan tersebut dapat dimuat, dan mungkin juga tidak. Gagasan dalam tulisan itu penting, akan tetapi yang lebih penting adalah cara pengungkapannya.

 

Tono kemudian juga teringat pada apa yang berkelebat dalam pikirannya ketika membaca halaman 44 buku Sapardi tadi. Bahwasanya, menulis sastra adalah tentang bagaimana menyampaikan. Bahwasanya, bagaimana cara seseorang mengungkapkan bisa jadi justru lebih penting dari apa yang ia ungkapkan.

Dengan kata lain, meminjam istilah Nirwan Dewanto, persoalannya adalah strategi bagaimana memaparkan masalah kecil menjadi masalah yang hangat dan memukau atau, dalam istilah Mario Vargas Llosa, cara menata bahasa yang menentukan dapat-tidaknya mengandung daya bujuk yang tak tertahankan. Karenanya, terbukalah kemungkinan terciptanya tulisan yang, meminjam istilah Radhar Panca Dahana, penuh dengan daya gugah.

Karena itu pula, esai menjadi memiliki hak untuk dituliskan dalam gaya penyampaian yang berputar-putar, belok-belok, lurus-lurus saja, berapi-api, tenang, nyinyir, dan semisalnya, dan semacamnya—termasuk seperti gaya dalam esai “Jurusan Sastra indonesia” tersebut. Itu kenapa kemudian Gus Dur menyebutkan bahwa gaya penulisan esai adalah gaya penulisan yang “bukan-bukan”.

Maka, Tono lantas menyimpulkan bahwa esai “Jurusan Sastra Indonesia” yang tayang di basabasi.co itu merupakan esai, bukan cerita seperti yang disangkakan Tini. Sebab, bagi Tono, jelas sekali bahwa penulis esai tersebut berusaha untuk meneroka kemungkinan gaya ucap dalam esai dibandingkan menyampaikan gagasan yang barangkali sudah usang itu.

Tono kemudian membayangkan bahwa besok, di suatu hari yang cerah, atau di suatu siang yang kerontang, ia akan menemui Tini untuk berdiskusi tentang esai. Bahwa esai, karena termasuk sastra, memberikan ruang eksplorasi dalam bahasa dan gaya pengungkapan, bukan (melulu) pada tema.

Sebab, pikir Tono, semuanya sudah pernah dituliskan. Sehingga, apa yang ada adalah gaung dari masa lalu. Singkatnya, “Tidak ada hal yang disebut orisinalitas mutlak, yang sama sekali tidak berutang pada yang ada sebelumnya,” kata T.S. Eliot. Sebab, “Yang tersisa pada kita hanyalah kutipan,” lanjut Jorge Luis Borgess.

IV

Memang, Tono mulai merasa mempunyai argumen untuk disampaikan pada Tini. Dapat pula Tono mengatakan bahwa gaya esai seperti yang dimuat di basabasi.co tersebut mungkin sudah ada sebelumnya: Budi Darma dengan Nirdawat-nya; Agus R. Sarjono lewat Sarpakun-nya; Umar Kayam melalui kolom Mangan Ora Mangan-nya; atau Mahbub Djunaedi lewat kolom Asal-Usul, misalnya.

Walakin, Tono masih merasa belum bisa berkata, “Inilah Esai”! Sebab, buku yang baru saja membantu menata pemahamannya itu juga memberinya kegelisahan yang lain lagi karena adanya penjelasan dahsyat tentang terdapatnya jenis tulisan yang selama ini tidak Tono sangka sebagai esai, tapi esai!

Bahwasanya, dalam buku tersebut disebutkan bahwa surat pun merupakan esai. Memoar juga esai. Naskah Deklarasi Djuanda yang terdiri dari 76 kata juga esai. Naskah “Petisi Soetardjo” yang terdiri 123 kata juga esai. Kertas Resolusi Jihad NU cetusan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari juga esai. Naskah-naskah pidato Bung Karno juga esai. Naskah pembelaan HB. Jassin atas  “Langit Makin Mendung”, yang sedikit disinggung di atas, juga esai. Naskah “Indonesia Merdeka” Bung Hatta yang tidak jadi dimimbarkan di pengadilan Belanda juga esai.

Keterangan itu membuat kebingungannya tentang esai ini, ditambah kegagalannya dalam mengikuti perkembangan berita tentang puisi esai cetusan salah seorang politikus kenamaan itu, menjadi berlipat ganda. “Jangan-jangan, Pancasila dan UUD ‘45 juga ….” Secepat kilat, Tono membekap mulutnya sendiri kuat-kuat dan mengucap istigfar berkali-kali agar terjaga dari pikiran setan yang terkutuk.

Menyadari kebodohannya, Tono ingin segera pergi ke Bilik Literasi dan belajar banyak pada Bandung Mawardi.

Syafiq Addarisiy

Belajar di PP. Assalafiyyah dan Jurusan Sastra Indonesia UNY. Bergiat di Komunitas Susastra dan Kelompok Melempar Jala. Dapat dihubungi melalui surel: addarisiy13@gmail.com
Syafiq Addarisiy

Comments

  1. Imas Nurhayati Reply

    Selamat siang, saya Imas Nurhayati ingin menanyakan perihal informasi pembelian buku dari Basa Basi untuk keperluan stok di toko buku pribadi saya. Apakah ada harga khusus untuk pembelian dalam jumlah tertentu mendapatkan, atau seperti apa. Terimakasih, jawabannya sangat saya tunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.