Perjumpaan dengan Qan’an

(Oil painting on canvas by Vladimir Nezdiymynoga)

 

Ia membuka matanya dan mengatakan bahwa dunia telah jauh lebih baik ketimbang terakhir kali ia melihatnya. Ia bangun dari duduknya dan membersihkan debu dari pakaiannya yang tampak usang dan kaku. Ketika berdiri, tampaklah betapa ia bagai seorang raksasa. Tubuhnya dua kali lebih tinggi daripada tubuhku, rambutnya gondrong, jenggot panjang dan rimbun menjuntai di bawah dagunya, dan gerakannya yang semula kaku perlahan-lahan mulai sedikit luwes.

Ia memperhatikan langit di atasnya dengan perhatian penuh seolah-olah bentangan luas itu adalah kawan lamanya. Matanya mengerjap-ngerjap seakan ingin memastikan bahwa penglihatannya tidaklah sedang menipunya. Ia mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi seperti orang yang baru memenangi sebuah pertempuran. Barangkali ia sesenang itu karena merasa dugaannya tepat atau harapannya tercapai. Meskipun aku tak tahu apakah ia sedang menduga atau mengharapkan sesuatu.

Ia mendekatiku dan tangannya yang besar hendak menepuk-nepuk pundakku. Aku buru-buru mundur menghindar karena kupikir pundakku terlalu ringkih untuk ditepuk-tepuk tangan sebesar itu. Melihat aku menghindar dengan wajah ketakutan, ia kembali menjauhkan tangannya dariku dan terkekeh-kekeh. Ia menutup mulutnya yang terlihat seperti gua mini. Ia masih tertawa-tawa sendirian entah lantaran apa sampai beberapa saat kemudian ia kembali bersuara.

“Aku adalah Qan’an.”

“Kan’an?” tanyaku heran.

“Qan’an bukan Kan’an. Dengan huruf ‘Q’ bukan ‘K’.”

“Siapa sebenarnya kau?” aku mulai memberanikan diri bertanya. Kulemaskan genggamanku dari karung dan gancu.

“Aku Qan’an, satu-satunya manusia yang selamat dari banjir besar keparat itu selain Nuh.”

Aku mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu yang pernah kupelajari saat duduk di bangku sekolah semasa kecil.

“Nuh? Bukankah ia seorang nabi yang berumur sembilan ratus lima puluh tahun dan membuat kapal besar yang bersejarah itu?”

“Tepat sekali.”

“Dan seingatku Nuh naik di kapal itu bersama sekumpulan hewan. Sedangkan semua manusia pada zaman itu mati. Termasuk Kan’an, anaknya yang tak mau ikut dengannya dan memilih naik ke bukit yang pada akhirnya juga ikut tenggelam dibawa banjir besar.”

“Kau betul soal Kan’an. Tapi kau salah soal semua manusia pada zaman itu mati. Ada dua manusia yang masih hidup saat peristiwa banjir besar itu terjadi. Nuh dan aku.”

“Tapi guru agamaku dulu hanya menyebut nama Nuh.”

“Guru agama?”

“Seseorang yang mengajarkan tentang iman dan hal-hal semacam itu.”

“Seperti Nuh?”

Aku mengangguk. “Ya, semacam itu.”

Ia kembali tertawa. Perutnya berguncang-guncang. Kemudian ia beranjak tenang, memandangi lagi langit yang sedang lengang dari awan-awan, dan menatap ke arahku.

“Itukah yang orang-orang pada masamu yakini? Bahwa hanya Nuh saja manusia yang tersisa seusai banjir besar itu?”

Aku kembali mengangguk. Ia mengusap-usap jenggotnya seraya menengadahkan kepala sedikit. Ia seperti sedang berpikir atau mempertimbangkan sesuatu.

“Mengapa tidak ada manusia yang mengingatku? Sebelumnya aku pernah bertemu seorang di masa Abraham dan ia juga mengatakan tidak pernah mendengar tentang diriku. Begitu pula ketika aku berjumpa salah seorang penduduk Mekkah di masa Muhammad, seorang prajurit Mongol, hingga lelaki ras Arya yang mengaku sanak keluarga seseorang bernama Hitler; mereka semua mengaku tidak pernah tahu sedikit pun tentangku. Yang mereka tahu hanya Nuh dan hanya Nuh. Ah, mengapa sial sekali nasibku?”

Ia mendengus, lalu menundukkan kepala. Kepalanya besar sekali. Ketika ia menunduk, bayangan lebar terbentuk di atas tanah seperti selembar kain hitam panjang yang dibentangkan.

Pelan-pelan ia kian menundukkan kepalanya dan mulai mengeluarkan suara seperti orang yang sedang berusaha menahan tangisnya. Aku merasa kasihan kepadanya. Tapi, aku belum sungguh-sungguh mengerti dengan apa yang diucapkannya. Sependek yang aku tahu tentang Nuh, ia adalah seorang nabi yang hidup ribuan tahun lalu dan tidak diacuhkan oleh umatnya. Kemudian lantaran murka, Tuhan mengirimkan banjir besar dan menewaskan semua orang kecuali Nuh dan hewan-hewan yang ikut menumpang di atas kapal buatan Nuh. Hanya sebatas itulah yang kutahu, lain tidak.

Kulepaskan karung dan gancu. Kuletakkan keduanya menyandar sebuah dinding yang retak. Aku berjalan mendekatinya. Aku berusaha untuk menyingkirkan segala rasa takutku. Kini aku sudah di depannya. Ia masih menunduk dan aku melihat beberapa tetes air terjatuh dari matanya. Ia meneteskan air mata? Ah, berarti ia betulan seorang manusia. Setidaknya itulah yang sekarang dapat kuyakini.

“Boleh aku tahu lebih jauh tentang dirimu?” tanyaku.

“Ah, apa lagi yang harus kuceritakan, semua orang sudah melupakanku,” jawabnya dengan nada seorang yang masih kecewa dengan kenyataan.

“Tapi kau boleh menjelaskan tentang dirimu lagi kepadaku. Aku akan mendengarkannya dengan sepenuh hati.”

Ia mulai menarik kepalanya. Tidak lagi menunduk seperti tadi. Ia memandangi mataku dengan pinggiran mata masih basah. Wajahnya terlihat begitu tua, seperti orang yang datang dari tempat dan masa yang jauh atau sangat jauh. Ia mengusap-usap matanya, menarik-embuskan napas yang terasa begitu berat. Setelah diam beberapa saat, ia mulai bicara.

“Aku tidak tahu apakah kau akan percaya padaku atau tidak. Orang-orang sebelumnya yang kutemui menyangsikan apa yang kukatakan. Itu terlihat dari pandangan mata mereka yang menyiratkan seolah-olah aku adalah pembohong besar. Padahal apa yang kukatakan sungguhlah nyata. Aku sama sekali tidak berdusta. Lagi pula, tidak ada untungnya bagiku berdusta kepada siapa pun pada usia setua ini.”

“Kalau begitu, ceritalah kepadaku. Aku akan mendengarkannya.”

“Mendengarkannya?”

“Dan memercayainya.”

Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku berkata begitu karena kupikir itulah satu-satunya yang harus kukatakan agar ia mau bercerita kepadaku. Ia pun kembali membisu beberapa jenak, sebelum mulai menceritakan lebih jauh perihal dirinya.

“Aku adalah teman dekat Nuh. Saking dekatnya kami, aku menamai salah satu anakku Nih dan ia menamai salah satu anaknya Kan’an.”

Selanjutnya ia berkisah tentang masa-masa hidupnya sewaktu banjir besar yang menghancurkan dunia dan seisinya belum terjadi. Ia bilang Nuh adalah seorang kawan yang sangat baik dan sabar. Nuh adalah seorang lelaki yang rajin dan nyaris bisa berbuat apa saja yang berguna bagi orang di sekitarnya. Terutama sekali, ia dikenal dengan dua hal: kemampuannya mengrajin kayu dan ketaklelahannya dalam menyebarkan apa yang ia sebut sebagai wahyu dari langit. Ia menyampaikan pesan-pesan dakwah. Ia mengajak semua orang untuk berbuat kebaikan. Dan menurutnya, kebaikan tertinggi adalah dengan mengesakan sesuatu yang ia sebut sebagai Tuhan satu-satunya yang pantas disembah. Bersama dengan itu, ia selalu berusaha menyerukan agar orang-orang meninggalkan sesembahan lain selain Tuhan yang ada di arsy. Ia melarang orang-orang menyembah patung orang-orang saleh terdahulu. Mula-mula orang-orang yang didakwahi Nuh bersikap biasa-biasa saja sampai kemudian mereka merasa kesal dan pelan-pelan menjauhi Nuh.

Ratusan tahun Nuh menyebarkan dakwahnya, tapi tak seorang pun yang menerima ajakannya. Sesungguhnya ada satu orang yang diam-diam membenarkan dakwahnya, semata-mata karena ia merasa iba dengan Nuh, kawan akrabnya sejak kecil. Orang itu adalah aku, Qan’an. Tapi, aku tak pernah berterus-terang mengatakan bahwa aku mengiyakan semua seruannya. Aku hanya tersenyum saban ia menyerukan soal keharusan hanya menyembah Tuhannya dan larangan menyembah patung-patung. Kukira ia mengerti arti senyumku, ternyata tidak. Ia menganggap aku termasuk orang yang mengingkari seruannya.

Lantaran melihat tidak ada hasil dari dakwahnya selama ini dan orang-orang yang malah menjauh darinya, Nuh pun mulai suka mengasingkan diri. Diam-diam ia sedang merangkai suatu kerajinan kayu. Beberapa waktu kemudian barulah aku tahu ia sedang membangun kapal besar. Sebenarnya Nuh tidak membuat kapal itu sendirian. Aku juga turut membantunya. Ketika mula-mula aku menawarkan diri untuk membantunya, ia membiarkan saja diriku ikut bekerja membangun kapal itu. Lama-lama kapal itu pun jadilah. Dan selanjutnya, seperti yang kautahu, banjir besar pun melanda bumi. Sebelum banjir besar itu terjadi, Nuh dan sejumlah hewan berpasang-pasangan telah lebih dulu menaiki kapal buatan Nuh yang aku turut berperan dalam pembuatannya, bahkan akulah yang memasang patok kayu terakhir kapal itu. Yang tidak orang-orang tahu, bahkan Nuh juga tidak tahu, aku juga menumpangi kapal itu. Tepatnya aku bersembunyi di suatu sisi geladak yang diisi oleh hewan-hewan besar. Hewan-hewan besar itu menghalangi pandangan Nuh dari melihatku. Sepanjang kapal terombang-ambing menuju entah, aku tidak berani menghampiri Nuh. Karena sejak anaknya menolak ajakannya, Nuh melulu kelihatan sedih dan tampaknya tak mau diganggu. Aku terus memperhatikannya dari hari ke hari. Sampai beberapa tahun kemudian akhirnya Nuh mati kesepian tepat ketika kapal mendarat di suatu daratan berbatu. Tak lama, tubuhku pun terhuyung jatuh. Tapi aku tidak mati, aku hanya pingsan. Aku sempat bangun beberapa kali di berbagai tempat dan masa yang berbeda. Dan di sinilah, kini aku terbangun dari pingsan panjangku, bertemu denganmu. Oh ya, siapa namamu? Kau belum menyebut namamu.

Ia mengakhiri ceritanya dengan menanyakan namaku.

“Namaku… anggap saja namaku Nuh. Aku hanya pemulung. Aku tidak tahu siapa orang tuaku sejak aku lahir. Aku sempat bersekolah, tapi hanya sebentar. Untuk menyambung hidup, hiduplah aku dengan menjadi pemulung. Awalnya banyak orang yang juga menjadi pemulung. Namun, seiring waktu, satu per satu dari mereka mengalami kemajuan. Ada yang menjadi pengusaha, pegawai kantoran, politisi, pemuka agama, dan sebagainya. Hanya akulah yang tetap memulung. Semenjak itulah orang-orang menjauhiku karena akulah satu-satunya pemulung yang tersisa di muka bumi. Karena sudah tak punya teman dan tak ada yang sudi lagi berteman denganku, aku pun terus berjalan, terus sampai jauh. Dan kini, di sini, di reruntuhan bangunan ini, aku bertemu denganmu.”

Pada akhirnya aku pun juga menceritakan riwayat hidupku kepadanya.

“Nah, kalau begitu, Nuh, kini aku adalah temanmu.”

“Terima kasih, Qan’an. Kita berteman sekarang.”

Ia mengangsurkan jari kelingkingnya yang sebesar batang kayu kepadaku. Kutautkan jari kelingkingku yang jadi terlihat kecil sekali dengan kelingking raksasanya.

Aku dan Qan’an berjalan keluar dari reruntuhan gedung itu. Qan’an berhenti sesaat setelah tiba di suatu jalan yang tampak padat dengan kendaraan-kendaraan mewah. Ia memandangi langit dengan tatapan tak wajar. Langit yang mulanya cerah beranjak kelabu. Suhu juga terasa lebih dingin ketimbang sebelumnya.

“Nuh,” kata Qan’an, “bagaimana kalau kita mulai membikin kapal?”

“Untuk apa?”

“Tampaknya tidak lama lagi akan datang banjir besar sebagaimana yang pernah terjadi pada masa lalu.”

“Kenapa kau bisa bicara begitu?”

“Karena orang-orang telah menjauhi orang sebaik dirimu sebagaimana dulu orang-orang menjauhi Nuh.”

Aku tak menimpali kata-katanya. Yang jelas, sejak itu aku dan Qan’an mulai mengumpulkan kayu-kayu dan menyusun rangka kapal. (*)

Bandung, 20 Agustus 2019

Win Han

Tinggal di Bandung. Menulis cerpen dan puisi. Bisa dihubungi melalui surel: winhan11112018@gmail.com
Win Han

Latest posts by Win Han (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Idenya Keren. Memasukkan tokoh dalam cerita nabi. Untungnya agama dari cerita nabi tidak disebut. Kalau aslinya, cerita nabi Nuh.AS, dalam ajaran Islam. Nuh bukan manusia sendiri menaiki bahtera. Beliau juga membawa manusia yang mau beriman bersamanya. Dan berpasang-pasangan. Maka jadilah penerus manusia kita saat ini, dari para pengikut Nuh.AS. Jika Nuh meninggal karena kesepian, tidak akan ada penerus manusia di bumi. hehehe

  2. Kal Reply

    Qan’an ini jadi usianya berapa?

  3. Septiannor Wiranata Reply

    Ide yg kreatif,

  4. Anonymous Reply

    ceritanya bagus 👍

  5. Fani Reply

    Eh ternyta si “Nuh” itu punya delusi

  6. Anonymous Reply

    Kereeen,,, suka ceritanya

  7. Surya Reply

    Walau hanya sebuah fiksi, tapi ada unsur penyesatan, entah ilmu yang dangkal atau ketakutan yg dangkal terhadap konsekuensi dariNYA.

  8. Yuni Bint Saniro Reply

    Terlepas dari ide ceritanya, gaya bahasanya menarik. Runut dan tidak membuat orang lain bosan ketika membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.