Pertunjukan di Mazbah

Pada saat Umaini lahir, sebutir dari berjuta hujan merekah sebelum menyentuh tanah. Semburat warna-warni dari butir hujan itu meliak-liuk di udara, membentuk sosok menyerupai nenek tua lalu terbang hingga sampai di hadapan Umaini.

Sebelum sosok nenek tua itu pergi dengan cara terbang dan menghilang, ia telah menitipkan sebuah pesan yang hanya dapat didengar oleh Umaini, “Kelak, ketika harinya tiba, kau akan dipenggal oleh bapakmu yang menyamar menjadi orang suci. Jangan khawatir, sebab kau telah kutiup menjadi dua.”

***

 Mereka mendengar kabar kelahiran dan kematian. Mereka berdatangan dan bertanya, “Sungguh, kami telah mendengar kabar kelahiran anakmu dan kematian Nyi Sutim, sang dukun beranak. Benarkah demikian?”

Saliman tertunduk tidak menjawab.

Mereka melihat pada pintu yang terbuka, tampak Uta Juma, istri Saliman, tengah menangis sambil memeluk seorang bayi berkaki satu.

“Masyaallah!” mereka berseru, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain, ke arah Nyi Sutim yang telah terbujur kaku di sudut kamar itu.

Mereka mengambil keputusan untuk membawa mayat Nyi Sutim, menuju rumahnya di seberang sungai untuk kemudian dikuburkan di sana.

“Maafkanlah kedatangan kami,” ucap salah satu dari mereka pada Saliman.

“Selamat untuk kelahiran anakmu. Ia cantik. Maaf,” ucap yang lainnya sebelum berpamitan.

Jangankan tahu atau pernah melihat kuburan Nyi Sutim yang mati setelah kabar Umaini ditiup menjadi dua, mereka yang datang untuk mengucap selamat atau belasungkawa, juga tak pernah diketahui kabar keberadaannya setelah kejadian itu.

Dari buah bibir orang kampung, banyak cerita yang percaya mereka hanyut, mereka tenggelam, mereka diisap ke langit, dan terakhir mereka tak pernah benar-benar datang ke rumah Saliman, karena kedatangan mereka begitu ganjil untuk mengetahui kabar kelahiran dan kematian sekaligus, ditambah identitas mereka tidak pernah diketahui.

***

Kepada umatnya, Saliman bercerita, sewaktu usia kandungan Uta Juma masuk bulan kedua, mimpi buruk itu datang kepadanya. Lalu di bulan ketujuh usia kandungan, Uta Juma mengeluh nyeri yang terasa seperti percikan api berjatuhan di dinding perut.

“Andai aku dapat menggantikan rasa sakit itu,” ucap Saliman yang kemudian disanggah akan rasa penasaran, bagaimana sesungguhnya yang dirasakan Uta Juma.

“Selain istriku yang kemudian menjadi bisu, mungkin boleh kukatakan. Kalian punya pisau dapur, bakar ujungnya lalu tusuk ke bagian pusar hingga terasa menyentuh tulang punggung. Tarik pisau itu dan bakar lagi hingga merah menyala, tusukkan lagi ke dalam lubang berdarah kemudian biarkan ia melebur menjadi tambalan daging di luka tadi.”

Orang-orang yang mendengar cerita itu terdiam sambil menahan ngilu dalam buai khayal masing-masing. Mereka tampak tidak tenang dan menggeliat-geliut seperti ular kesetanan. Seorang dari mereka berharap waktu cepat berlalu agar azan dikumandangkan dengan segera. Untuk tidak membuat mereka tersiksa pada bagian kesengsaraan, Saliman diminta untuk melanjutkan kisah itu.

“Hujan yang turun malam itu tidak hanya meniup tumbang pepohonan, tetapi juga meluapkan sungai dan sesekali menggetarkan bumi. Melihat wajah istriku yang semakin sengsara menahan sakit, aku takkan memilih diam melihat akhir sengsara berujung maut. Dengan doa tunggal yang aku yakini akan menyelamatkan istri dan anakku, aku putuskan untuk berperahu malam itu. Bagaikan di atas laut, aku terombang-ambing dan selalu hampir digulung amukan angin kencang. Dan bagaimana aku bisa sampai malam itu, adalah hal yang ajaib,” begitu simpul Saliman.

 “Apa yang dikatakan Nyi Sutim saat Ustaz datangi kediamannya?” tanya seorang umat yang penasaran, “Adakah pertanda sebelum matinya Nyi Sutim?” sahut umat lain.

 Banyak yang ingin dikatakannya, dan karena itu kupastikan ia mati sebelum mereka berdatangan. Andai ia masih bernapas dalam kematian, akan kuputus lidahnya—serupa Uta Juma—dalam remang-remang dunia lembap yang memisahkan nyata dan gaib. Dengan begitu, takkan ada yang perlu dibicarakan olehnya dan Uta Juma, tentang kejadian saat aku tahu anakku….

“Ustaz Saliman!” cetus umat lain, “apa yang dikatakan Nyi Sutim saat kau datangi kediamannya?” mengulang pertanyaan tadi.

“Oh,” Saliman terlepas dari lamunannya. “Nyi Sutim hanya mengangguk. Lalu tak perlu kuceritakan bagaimana kami bisa sampai di rumah. Ia tahu apa yang perlu ia lakukan, sementara aku mendengar Uta Juma berteriak, aku juga mendengar suara kasak-kusuk, aku seperti melihat wajah Uta Juma yang setengah mati berusaha mengeluarkan bayi dari perut saat menghayati suaranya dalam keadaan mata terpejam. Hingga dapat aku rasakan tenaga Uta Juma di ujung setarik napas—terdengar dari suara yang melengking aneh lalu redam menghilang—, Nyi Sutim muncul di hadapanku. ‘Anakmu pilihan bumi, lihatlah bagaimana alam menyambutnya,’ kata Nyi Sutim lirih waktu itu.”

“Apakah pada saat itu juga terakhir kalinya Ustaz mendengar suara Uta Juma?”

“Ya,” jawab Saliman. “Itulah terakhir kalinya kudengar suaranya. Setelah aku mendekat lalu mengecup kening bayiku, Nyi Sutim telah terbujur kaku di sudut kamar. Aku baru menyadari, Uta Juma tidak lagi berbicara. Dan sebelum sepuluh tahun kemudian tiba saat mimpi buruk itu benar-benar meyakinkan aku, aku selalu bahagia hidup bersama keluarga kecilku dan selalu menolak untuk benar-benar melakukan apa yang pernah dilakukan Ibrahim.”

Seluruh umat mengangguk, lalu salah satu mengacungkan tangan, tanpa ditanggapi untuk dipersilakan bicara, umat itu lebih dulu berteriak, bertanya siapa sesungguhnya mereka yang datang ke rumah Ustaz Saliman malam itu. Walau sejenak terdiam, Saliman bisa menjawab dengan pasti dan yakin, orang-orang, katanya—dengan tekanan yang sama—sebanyak dua kali.

***

 Sepuluh tahun usia Umaini saat Saliman terjaga dari tidur lelap lalu bergumam “inilah waktunya”. Sambil mengucek-ngucek mata, Saliman menyelinap pelan dari ruang ke ruang menuju kamar Umaini yang tidak terkunci. Sebelum Saliman menggendong Umaini dari kamar menuju pinggir Sungai Nambuk Kubo, Umaini telah merasa bahwa ia sudah lama tak kuasa pada tubuhnya. Umaini tambah yakin saat melihat Saliman menangkap tubuhnya dalam keadaan terlelap. Umaini teringat pada sosok nenek tua yang datang di hari kelahirannya, mungkinkah aku telah menjadi yang kedua? batin Umaini, lalu ia mendengar suara, kepada siapa kamu bertanya, Umaini langsung menjawab; tentu kepadamu yang berbicara.

Kedua kaki Saliman bergemetaran saat mengangkat tubuh Umaini. Ia berusaha melangkah sambil menenangkan diri, “Sungguh, suara-suara itu hanya ada dalam kepalaku saja,” gumamnya sambil menyimpul kerut-kerut di wajahnya. Ia tegangkan tulang yang bergoyang, mulai melangkah melewati ruang demi ruang tanpa bebunyian, sambil menggendong Umaini. Sampai di depan kamar di mana tadi ia terjaga, tampak Uta Juma tengah lelap tengkurap.

“Jangan penggal anakku!” Saliman tahu, suara itu berasal dari dalam kepalanya yang mirip suara Uta Juma. Tak mungkin ia mengigau tanpa lidah, batin Saliman lalu matanya berkaca-kaca sambil menatap tubuh istrinya yang sedang tertidur itu. Saliman seolah ingin menjatuhkan Umaini di lantai, merangkul Uta Juma dan masuk ke dalam mimpi istrinya untuk menghentikan dirinya yang ingin memenggal Umaini. Tapi ia malah melangkahkan kakinya, lalu larut dalam kesedihan. Ia tak mampu melawan. Seperti dikuasai oleh sesuatu yang sangat halus, hingga tak disadarinya, ia telah sampai di Sungai Nambuk Kubo, subuh itu. Pada sebuah batu pipih seluas lingkar kaki orang dewasa yang menonjol di permukaan sungai, ia rebahkan tubuh Umaini.

“Maafkan bapakmu, Nak,” gumam Saliman.

***

Saliman yang baru pulang setelah berkhotbah di langgar-langgar antar kampung, melihat Uta Juma duduk termenung dalam balutan perasaan yang hancur. Uta Juma menghabiskan waktu untuk memandang sebuah batu di permukaan Sungai Nambuk Kubo, yang tampak jelas dari beranda rumahnya. Mungkin ia harapkan ada pertanda yang datang dalam waktu dekat. Tetapi, hanya lalu lalang burung puyuh yang melompat-lompat ia tangkap.

Saliman tak pernah mau memperhatikan betul-betul bola mata Uta Juma, ia pernah terbayang seperti Uta Juma ingin bertanya dalam bahasa isyarat, bagaimana sesungguhnya mimpi itu. Sambil bersungut-sungut melangkah ke dalam rumah lalu merebahkan diri di ranjang, Saliman mengingat ia pernah bercerita pada Uta Juma, “Aku melihat orang-orang merangkak dari dalam Sungai Nambuk Kubo menuju rumah kita. Mereka, orang-orang ini, menyembah aku. Kau yang paling cantik Uta Juma, dipuja layaknya mereka mengisap madu tiada henti. Kulihat juga ada lingkaran dari langit yang menjatuhkan melati ke tubuhmu. Lingkaran itu dapat menembus gua, apa lagi sekadar atap rumah kita. Tiap malam mereka menzikirkan namaku dan namamu, bagai suara air yang mengalir. Bukankah itu keindahan?”

Uta Juma tersenyum sambil mengatakan bahwa mimpi Saliman tidak lebih indah daripada yang telah ia mimpikan belakangan ini.

“Apa yang kaumimpikan?” tanya Saliman.

Uta Juma, yang masih dengan sebuah senyuman di wajahnya, melanjutkan cerita mimpinya tentang seorang ahli agama yang telah berdusta di langgar-langgar kecil antar kampung. Ia terus berseru tentang keindahan surga atas perbuatannya yang najis. Ia menyama-nyamakan dirinya dengan nabi yang telah menyembelih leher anaknya sendiri. Tetapi, yang tidak disadari oleh mereka, umat langgar ahli agama yang biadab itu, adalah cerita di balik semua itu hasil karangan ahli agama sebagai orang yang malu memiliki anak cacat.

Mata Saliman tampak mencetuskan sepercik api. Dadanya panas setelah mendengar Uta Juma. Ia mulai gusar dan berdalih waktu asar yang akan segera tiba. Uta Juma memintanya tenang untuk mendengar sedikit lagi tentang mimpinya. Sambil meminta diri untuk meneruskan ceritanya, Uta Juma mengeluarkan parang yang masih ada bekas darah dari balik bajunya. Saliman pucat seketika, ia sangat yakin sedang bermimpi. “Kau sudah bisu!” teriak Saliman.

Saliman berusaha membuka matanya lebar-lebar dan menghapus tubuh Uta Juma di hadapannya. Ia menggosok-gosokkan telinganya agar suara itu tidak terus mengucapkan cerita lain. Sungguh, ini hanya mimpi dari sekian mimpi burukmu, Saliman, batin Saliman sambil menyadari dirinya berkubang keringat.

Uta Juma tak segera hilang dari hadapannya, ia tampak bertambah cerah dengan paduan warna yang menyerupai wujud benda di sekitar Saliman. Telinga Saliman terasa panas, bagai api berbisik-bisik padanya.

“Apa yang kaumimpikan Ustaz Saliman?” tanya seorang umat yang telah berkumpul tanpa sepengetahuan Saliman, bagai mereka lahir dan tumbuh dari angin yang bertiup.  

Lalu salah seorang umat berjalan mengambil parang berdarah untuk kemudian diberikan kepada Saliman.

Seorang umat lain menunjuk tubuh Uta Juma yang telah siap di atas batu pipih seluas lingkar kaki orang dewasa yang menonjol di permukaan Sungai Nambuk Kubo. Saliman dituntun melangkah dan dibisikkan oleh suara yang meyakinkannya, Uta Juma telah menjadi dua. Uta Juma kini bersama Umaini yang kedua. Kau juga telah menjadi dua. Maukah kau pergi bersama Umaini dan Uta Juma yang kedua? Semua umat menyaksikan Saliman, menunggu pertunjukan penyembelihan dan cerita karangannya.***

Beri Hanna
Latest posts by Beri Hanna (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.