Piring: Makan dan Sejarah

Makan pagi sudah siap

Piring, sendok, garpu,

pisau sudah siap.

Irislah hati ibu

yang penuh bumbu.

(Joko Pinurbo, “Hati Ibu” dalam Surat Kopi, 2019)

Di Amerika Serikat, piring itu novel. Dulu, novel tentang piring malah meraih penghargaan sastra bergengsi, 1940. Benda ajaib diceritakan dengan memikat oleh Doris Gates (1901-1987). Kita mungkin sempat meremehkan pengarang memilih menekuni piring ketimbang tema-tema besar atau basi. Konon, piring itu ditulis selama ia berperan sebagai pustakawan di penampungan anak-anak pengungsi. Pergaulan bersama anak-anak itu memicu penulisan novel berjudul Blue Willow. Di Indonesia, novel itu datang pada 2005. Novel diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rahmat Widada, diterbitkan Liliput, Jogjakarta.

Novel menakjubkan meski belum mendapat jutaan pembaca di Indonesia. Bocah-bocah di Indonesia belum terpikat piring. Mereka masih terkena rezim dongeng kuno atau cerita-cerita dipaksa memiliki pesan moral sesuai kemauan guru, orang tua, atau instruksi pemerintah. Piring jarang memanggil bocah-bocah merenungi nasib tokoh di negeri asing dan keterlenaan cerita hampir mustahil. Novel itu wajib cetak lagi asal ada penerbit sanggup mengumumkan dan mengacarakan dengan apik.

Dua bocah perempuan di pertemuan awal di siang terlalu panas. Percakapan untuk saling mengenali, membagi penasaran dan identitas. Kata demi kata terucap. Kejadian wajar. Di hitungan detik, tokoh bernama Janey mulai pamer piring pada Lupe. Pamer benda memiliki sejarah dan cerita agung. Lupe tak terlalu penasaran tapi wajib simak cerita dan melihat piring. Sikap ingin menghormati agak terpaksa.

Piring itu sejarah keluarga. “Semula piring itu kepunyaan nenek dari neneknya nenek Janey. Oleh karena itu, piring itu sangatlah tua. Kemudian piring itu menjadi milik Bunda Janey. Tetapi itu dahulu, dahulu sekali sebelum Bunda Janey meninggal dan kemudian digantikan oleh ibu yang sekarang….” tulis Doris Gates. Ocehan serius dan panjang. Pada detik mendebarkan, pembaca tiba di pengakuan: “Piring itu merupakan tumpuan dunia milik Janey, sebongkah batu cadas di tengah-tengah hamparan pasir yang bergeser tak menentu.”

Janey, bocah dianjurkan rajin membaca sekian halaman Alkitab setiap hari. Ia gampang terpukau cerita. Di Alkitab, ia sering membawa cerita-cerita di kejadian keseharian. Warisan cerita dari para leluhur pun terlalu ajaib, mendekam di kepala dan terucapkan ulang secara urut.

Piring diambil dari kopor ditaruh di atas ranjang. Pandangilah. Piring bergambar. Gambar terindah bagi Janey. Gambar dari ratusan tahun lalu. Pengarang membuat pembaca turut takjub: “Dengan membungkuk di atas piring itu, Janey dapat merasakan keteduhan pohon-pohon wilow. Dapat didengarnya gemericik sungai kecil ketika airnya mengalir di bawah jembatan yang melengkung. Semua keindahan sebuah taman di negeri Cina itu adalah miliknya untuk dinikmati. Ke dalam piring biru itu Janey seolah-olah telah melangkah menuju dunia lain yang benar-benar nyata, sama seperti dunianya, dan lebih menyenangkan.” Piring itu memang milik paling berharga bagi bocah di keluarga miskin. Ia sadar miskin tapi berlimpahan imajinasi.

* * *

Cerita piring pun dimiliki bocah lelaki di desa pinggiran Solo. Ia mendapat piring gembreng untuk makan setiap hari. Piring gembreng bergambar kembang. Bocah lelaki itu biasa dipanggil Mawar, makan di piring bergambar bunga mawar. Ia cuma mau makan dengan piring idaman, tak mau piring lain. Gagal menggunakan piring gembreng berbunga mawar bakal membuat Mawar marah. Bocah pun gampang gembeng. Selama 5 atau 6 tahun, piring itu mencipta biografi Mawar, sebelum teyengen (karatan) dan rusak gara-gara dibanting.

Piring pun mengingatkan keluarga Indonesia menanggung miskin. Dulu, keluarga miskin jarang memiliki piring beling. Para orang tua memilih piring gembreng: murah dan awet. Piring cap proletar tak mengenal pecah. Piring beling milik keluarga sugih. Piring beling legendaris tentu berwarna putih dan bermotif bunga. Piring itu membedakan diri dari mangkok bergambar jago. Piring-piring beling memiliki tempat terhormat di rak atau lemari.

Piring beling itu piring pertengkaran di rumah. Kuping mendengar piring dilempar atau dibanting mengartikan suami-istri atau bapak-ibu sedang bertengkar. Piring itu bukti marah. Piring hancur berkeping-keping menambahi kerepotan: membersihkan lantai dan dibuang. Penghancuran piring malah menjadi alat keamanan di dinding tinggi melindungi rumah orang sugih. Lihatlah, dinding itu bermahkota pecahan-pecahan piring beling ditaruh acak. Pencuri berani memanjat dinding itu bakal terluka-berdarah kena beling.

Jumlah piring beling koleksi keluarga atau RT kadang perlu ditandai agar tak tertukar atau hilang. Puluhan tahun lalu, ada pembuat tanda di bokong piring sering keliling desa atau kampung. Mereka menawarkan jasa dengan memberi nama atau mengecat bokong piring. Inisial pemilik ada di piring. Kepemilikan piring itu semakin memiliki arti saat ada hajatan. Piring-piring digunakan untuk wadah nasi dan penganan. Kaum lelaki rajin berjudi pasti ingat piring adalah wadah duit cuk. Di piring, duit receh menjadi tanda bagi perjudian di rumah-rumah sedang memiliki hajatan pernikahan atau kelahiran.

* * *

Fiksi di Amerika Serikat dan nostalgia piring di Jawa beda pikat. Pada masa 1980-an, orang sulit membeli piring boleh berharap mendapatkan piring dari kuis atau hadiah setelah belanja. Kita mulai membuka ingatan piring-piring, sebelum orang-orang Indonesia mengincar piring-piring tak lagi dibuat dari beling. Piring-piring mutakhir terlalu mengejutkan. Kini, piring digital sedang jadi idaman. Menit-menit menjelang pertandingan Manchester United melawan Totennham Hotspurs, 13 Januari 2019, ada berita di televisi mengenai piring digital. Piring berharga mahal tapi menawan. Di piring, orang bisa melihat gambar-gambar sesuai selera. Gambar itu diatur dengan ponsel untuk menampilkan gambar bunga, panggangan api, alam, dan pelbagai hal. Urusan makan sudah digital. Piring itu keajaiban abad XXI tapi memerlukan perawatan dan terlarang dibanting dalam pertengkaran klasik seperti di Jawa.

Kita mendingan menengok pengumuman di majalah Femina edisi 5 Februari 1987. Di halaman 91, pengumuman: “Hadiah Menarik dari Femina”. Hadiah itu piring tidak dibuat dari beling. Orang menjuluki piring melamin. Cara mendapatkan piring? Simaklah petunjuk bagi orang-orang ingin beruntung: “Ya, hanya dengan 3 kupon saja Anda dapat mengikuti permainan menarik ini. Sebuah hadiah berupa satu set piring hanamay yang terdiri dari 40 piring-mangkuk dari melamin akan menjadi milik Anda!” Gampang. Belilah majalah Femina dan guntinglah kupon-kupon dikirimkan Jalan HR Rasuna Said, Blok B, Jakarta Selatan! Tunggulah nasib beruntung mendapat kiriman piring! Hidup terasa semakin indah saat makan dengan piring melamin, bukan piring gembreng  sudah teyengen.

* * *

Piring-piring itu hadiah. Pelbagai perusahaan deterjen dan makanan biasa memberi hadiah piring ke konsumen tanpa pengundian. Tugas konsumen cuma membeli dan mengirimkan bungkus. Pemakan mi wajib sregep membeli Indomie demi mendapatkan piring. Iklan Indomie berhadiah piring kita simak di majalah Kartini, 18 Juni-1 Juli 1984. Tampilan iklan khas keluarga. Anak makan mi dan ibu pamer piring hadiah dari Indomie. Rajin makan mi itu memberi untung bagi ibu: irit tak mengeluarkan duit untuk membeli piring. Ia mendingan belanja Indomie asal mendapat piring. Kita jangan kecewa melihat piring itu bening tanpa gambar bunga berwarna merah.

Petunjuk bagi kaum mi di Jawa: “Dapatkan hadiah menarik. Dapatkan selama masa perkenalan hadiah gratis 1 piring dan 1 saringan untuk setiap pembelian 8 bungkus. Ayo, jangan lewatkan kesempatan ini, persediaan terbatas!” Indomie pasti laris. Kaum ibu bermazhab hadiah anggaplah menambahi anggaran membeli Indomie berharap dapat piring. Setiap hari masak Indomie disantap keluarga sambil menantikan kiriman piring-piring beling.

Orang-orang pun masih ingat bahwa merek-merek deterjen bersaing memberi hadiah piring bagi konsumen setia. Orang diminta membeli derterjen dengan berat sekian gram. Ia langsung mendapatkan hadiah piring. Deterjen untuk mencuci pakaian. Para ibu dilarang memberi makan sepiring deterjen bagi bocah-bocah ingin menjadi sehat dan pintar. Makan deterjen mengakibatkan sakit dan tolol. Nafsu mendapat piring kadang mencipta cerita-cerita lucu dan mengenaskan. Segala demi piring. Duh, masa itu piring memang dambaan kaum ibu.

Piring-piring masuk ke rumah-rumah digunakan untuk makan keseharian. Piring-piring mungkin awet puluhan tahun, sebelum si pengguna bosan. Piring-piring masa lalu pernah memiliki cerita-cerita kesederhanaan, kemiskinan, kebersamaan. Di rumah-rumah, jumlah piring sedikit. Di RT atau kampung, piring berjumlah ratusan sebagai milik bersama. Dana pembelian diperoleh dari iuran. Piring disimpan dengan baik, digunakan oleh orang-orang sedang memiliki hajatan atau acara besar. Piring itu perekat sosial. Iuran untuk memiliki piring terasa wajar ketimbang menerima piring-piring bercap partai politik atau perusahaan.

* * *

Piring bergambar bunga mawar merah milik kaum masa lalu. Orang-orang berduit ingin berbeda dengan keumuman rumah-rumah mengoleksi piring beling berwarna putih. Di rumah-rumah masa 1980-an, piring itu benda dipamerkan ke tamu. Kita masih ingat ada lemari ditaruh di ruang tamu. Lemari itu tempat pameran piring, mangkuk, dan cangkir. Benda-benda itu menandai gengsi dan selera keluarga. Orang bertamu diminta melihat pameran piring sambil menunggu kedatangan segelas teh dan sepiring makanan di atas meja.

Piring-piring pelbagai merek muali ditawarkan ke orang-orang bergaji besar atau berada di kelas sosial elite. Mereka malu memiliki piring beling berimajinasi mawar. Mereka wajib membeli untuk mencipta pembeda dan mengisahkan selera asing. Di majalah Kartini, 4-17 September 1989, iklan penjualan benda-benda indah dan anggun. Iklan dari Decopal. Orang dibujuk membeli piring, mangkuk, dan cangkir. Di situ, kita melihat piring-piring untuk wadah buah dan kue. Gambar nasi sengaja absen. Piring beling berwarna putih bermotif bunga, berbeda dari piring kaum masa lalu. Piring itu mahal. Satu piring mungkin setara selusin piring gembreng gampang teyengen alias berkarat. Tuduhan mahal itu sudah “ditenangkan” dengan pemberian kalimat: “Dengan harga tetap terjangkau.”

Cerita piring di Indonesia abad XX cenderung diperoleh dengan belanja dan mengisi kupon. Hasrat membeli piring milik orang-orang berduit selaku PNS, pejabat, atau saudagar. Piring belum dipilih jadi cerita memiliki sejarah ratusan tahun lalu. Cerita bakal memikat dan bersaing dengan novel berjudul Blue Willow. Dulu, piring-piring indah asal Cina juga berdatangan ke Nusantara. Semula, orang-orang di negeri agraris bingung dalam menggunakan atau mengartikan piring. Ikhtiar memberi arti malah pernah berlangsung di kuburan. Para peneliti masa lalu kadang menemukan ada piring-piring bergambar elok dan berkaligrafi di tembok-tembok kuburan orang suci. Piring ada di pemamahan perdagangan, adab asing, dakwah, dan estetika.

Kenangan atas Hindia Belanda awal abad XX tercantum di novel dokumentatif tentang Maluku. Novel itu berjudul Taman Kate-Kate (1975) gubahan Maria Dermoit, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dick Hartoko. Keluarga-keluarga asal Eropa memilih hidup di pulau-pulau dengan kegemaran mendirikan rumah batu dan membuat taman-taman. Di Maluku, mereka mencipta imajinasi-imajinasi mencengangkan tentang tetumbuhan, binatang, laut, dan benda-benda. Pilihan di pulau-pulau kecil menjadikan mereka terlalu memberita arti atas segala hal. Di rumah milik pegawai pemerintah, kita dikabarkan piring: “Dinding dihiasi piring-piring porselin bersegi delapan dengan bunga-bunga merah, sangat mahal piring-piring itu!” Piring bukan untuk makan tapi dipandang dengan mata estetika.

Kita menantikan ada pengarang mau mengadakan riset lama dan menulis novel mengenai piring. Novel boleh jadi seperti bacaan bocah asal Amerika Serikat atau dipersembahkan bagi pembaca berselera (serius) sejarah, setelah khatam dua novel tebal: Arus Balik dan Kura-Kura Berjenggot. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Comments

  1. Indri Reply

    Wow! ‘Hanya’ bahas piring saja ternyata penuh dengan makna yaa

  2. Anonymous Reply

    good jd keinget piring ku yg seumuran kini

Leave a Reply

Your email address will not be published.