Puasa Sepanjang Zaman

Sumber gambar: washingtontimes.com

 

Ramadan terbilang menghitung hari. Ramadan bulan para perindu menunaikan setoran cinta kepada-Nya. Bulan penantian “karena ada alasan” tersendiri; karena memperoleh ampunan (seolah tanpa harus menyadari) segala perbuatan, seakan-akan ada wilayah pemakluman sealam pemaafan Allah untuk kita semua (tanpa persidangan batin mengakui kesalahan), ditambah lagi alasan ketergantungan total penghapusan dosa (tanpa ritual pembersihan diri secara menyeluruh). Akan tetapi, seperti apakah bulan keindahan itu dalam bentuk dan isi lukisanmu sendiri?

Tersebutlah di atas bahwa Ramadan adalah dari bulan ke berbulan-bulan hingga me-Ramadan-kan kehidupan dalam laku keseharian. Sebagai ikhtiar keseimbangan hidup, di bulan suci ini kita menabung bekal kesetiaan “perjalanan yang lurus” menuju akhirat kelak, melewati jalan panjang dunia berliku dengan senantiasa menawar cinta-Nya yang Agung. Dengan permohonan petunjuk dari-Nya akan ke manakah langkah semestinya dan seharusnya diperjalankan.

Di jalan-jalan kecil, parameter Ramadan dalam pemahaman umum berarti menahan (tergantung perluasan atau pengerdilan) diri untuk tidak makan dan minum mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Ketika memasuki gang-gang dipersempit lagi menjadi “jalannya kelaparan” mulanya supaya kita merasakan apa yang dirasakan orang-orang, setelah dipikir-pikir akhirnya buntu sendiri mengartikan lapar hanya sebatas sesal diri.

Tapi Ramadan terbebas dari segala bentuk perasaan manusiawi itu, mau tidak mau, ia pasti datang menemui kita, bertamu padamu sendiri. Kalau berprasangka baik, sikap Allah demikian memaksa manusia untuk berpuasa, sebab puasa adalah salah satu hal yang “tidak disenangi” manusia. Karena kebanyakan manusia cenderung menyenangi sesuatu materi, gayanya rela berbuat apa saja demi memperoleh kesenangan semu. Lazimnya, sikap dan perilaku manusia berdasar pada “iya mau asal senang”, tanpa pernah mau sinau posisi ketepatan dan ketetapan presisi hidupnya.

Kalau pakai patokan Allah, apa yang baik di mata manusia, belum tentu baik bagi-Nya. Terhadap anggapan senang atau tidak senang, suka atau tidak suka menurut manusia, sangat jauh berbeda dengan kehendak-Nya. Bahwa Allah kasih lowongan Ramadan agar mempekerjakan manusia berpuasa. Kemudian Allah menyatakan pula tentang honor atau gaji kerja puasa sebulan hanya untuk-Ku.

Tapi itu bukan perkara untung-rugi, sebab manusia sungguh banyak utang kepada-Nya. Ramadan menjadi nota tagihan-Nya, yang dalam setahun kita wajib mencicil sebulan berpuasa, atau selama dua belas bulan kita membayarkan puasa sebulan. Itu pun setoran kita takkan melunasi segala utang piutang dengan Allah.

Seandainya ungkapan puitis, puasa adalah pernyataan cinta-Nya kepadamu, Ia merindukan saat-saat bersamamu: mengendalikan dan mengelola nafsu keduniawian. Kita digembleng puasa sebagai metode laku pengembara, dengan atau tanpa peta, menyusuri jalan ke penempuhan yang sejati. Patron hidup mendasar bagi segenap daya penyembuhan dan pertumbuhan nilai-nilai manusia atas dirinya sendiri.

Di masa pandemi Covid-19, pelan-pelan kita belajar mempuasai segala sesuatu. Berpuasa dalam banyak hal ajaran Corona tentang menahan diri dan bersiap lapar. Menahan sendiri memuat banyak variabel kemungkinannya, tetapi kelaparan akan mengantarkan manusia kepada elaborasi kenikmatan atau kegilaan. Dua hal ini pokok tulisan Corona, keduanya saling berkait dan berpengaruh satu sama lain. Baik secara mentalitas, jiwa, watak, perasaan, dan pikiran dalam sikap pengambilan keputusan.

Sebagai satu ilustrasi melalui Serat Dewi Sri: “Tersebutlah negeri Jawa, sekarang (menderita) paceklik berat. Segenap negeri Jawa kekurangan makan. Tidak ada yang dapat bersujud. Segenap orang di tanah Jawa, lupa (untuk) berbakti, tidak ingat pada agamanya, tidak mampu bergerak.” Tersiar kabar bahwa terjadinya paceklik di sana lantaran semua lupa pada Tuhan.

Nabi Mukhamad berkata pelan kepada Jabarail: “Benar, Tuanku. Pendapat hamba tentang umat Tuan yang berada di dunia, maka sekarang tidak salat (dan) bersembahyang, lupa pada agamanya, itu karena sangat kelaparan.”

Jabarail pun berkata pelan: “Baiklah, umatku semua. Sudahlah sekarang berbaktilah kalian. Ingatlah agamamu. Saya pergi ke tanah seberang (untuk) menjemput Dewi Sri, (akan) kubawa ke tanah Jawa.” Dalam kisah pengembaraan Dewi Sri dan Sadana menjumpai berbagai tokoh dan peristiwa berdaya pengajaran tentang bagaimana pengolahan sawah, pemeliharaan padi, hal-ihwal rezeki, dan sikap terhadap kekayaan dan kemiskinan.

Penggambaran di atas kemungkinan sisi buruknya, kegilaan. Akan tetapi, dari yang terburuk sekalipun yang kita ambil baiknya saja. Seperti caranya menghadapi situasi paceklik berat itu menyaran untuk mempertimbangkan kembali dan menghitung ulang laku perbuatan sesama manusia dan alam, misalnya. Meskipun ruang dan waktu lain paceklik, lain pula pagebluk Corona, keadaan kini lebih mengukuhkan kembali daya hidup survival.

Bagaimana seseorang sanggup tahan di jalan Allah yang mengembarai—kerja dan usaha tergantung pada sehari saja—dalam keadaan stagnan, posisi stone, dan sikap freeze kepasrahan diri menyeluruh? Apabila sesudah apa yang dikerjakan hari itu, kita pegang pengharapan atau pengertian sejati, sebagaimana Allah mewanti-wanti, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 155)

Sementara “sedikit” Corona teramat banyak menelanjangi manusia sedemikian rupa, mencabik-cabik pakaian—kelaparan dan ketakutan—tubuh seluruh umat manusia. Sekarang kita bersifat telanjang, benar-benar kotor dan zalim. Umumnya diketahui kalau diteruskan berderet-deret tingkah kebodohan dan kebijakan sembrono—bagi sebagian orang yang sedemikian bebal isi kepalanya yang ditugasi mengurusi urusan Corona. Namun, alangkah baiknya kita tak usah menunggu hasil (kerja) penanganan dan pencegahan mereka atas Corona, melainkan inilah momentum tepat untuk kita menyapa Penghuni Rumah Sejati.

Bahwa kita sebetulnya tamu bagi diri sendiri. Yang sekian lama pergi ke dunia kesenangan, kemewahan, kebahagiaan, serta label-label lain yang tak cukup menggambarkan tingkah absurd dan kompleksitas liarnya manusia. Ternyata berpetualang ke luar diri tidak juga menyadarkan kita tentang manusia bukan miliknya sendiri, melainkan hanya numpang sementara waktu, bahkan dirinya pun aslinya tiada. Tapi sesudah compang-compang begini, bisakah kita berlari menjauh ke luar lintasan Corona atau justru memohon perlindungan kepada Yang Mahamengetahui arah jalan pulang kembali ke diri walaupun tergopoh, ngesot, merayap, melata, dan segala gerak ampunan masing-masing penanda ketidakberdayaan manusia atas kuasa-Nya?

Kita meninjau hal ihwal perbuatan, menilik lalu lintas jalannya perilaku keseharian, dan menengok ke belakang untuk merevisi tindakan keliru, syukur-syukur ada pembenahan diri di tengah keberlangsungan Corona—yang kehadirannya tak lain lantaran hasil daripada cara hidup manusia. Sebagai contoh bisa kita gali sendiri, rasanya kolom sependek ini tak cukup luas untuk menampung kekerdilan, kesempitan, kedangkalan cara berpikir dan sikap hidup manusia. Nyata bahwa apa yang diagung-agungkan oleh kemajuan atau kecanggihan semakin jauh kebablasan dari jalan kenyataan hidup sesungguhnya adalah keabadian.

Manusia (seakan-akan) kehilangan bahkan meninggalkan naungan yang sejati dari diri-Nya, barangkali mungkin tak dikenali lagi. Demikian kiranya problem terutama manusia dengan Allah, di samping Corona. Kalau tidak, Corona disebabkan oleh perilaku kita yang merusak dan rakus. Kita kalah, tapi tak mau dihibur kemesraan Allah. Kita terperosok ke jurang tergelap sekalipun tapi tak butuh cahaya. Kita jatuh tersungkur tergeletak menggeliat tapi tak mau dibantu dengan tangan yang gaib. Di hadapan kita, ketakutan dan kelaparan porak-poranda, tapi meragukan pertolongan pertama Allah Pemberi Kehidupan “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang.” (QS. Thaahaa [20]: 118). Cukup berdoa dan minta ampun dengan sederhana.

Sejak awal makhluk kecil yang tak kasatmata itu bertamu ke tanah air, belum terdengar sekali saja ucapan salam kepadanya sehingga sedemikian kelimpungan kita mesti menyuguhi apa dan bagaimana cara menghidangkannya. Hal ini tidak lantas diartikan bahwa kita menerimanya begitu saja, tapi lebih kepada kita siap menjamu kedatangannya. Dengan begitu kelihatan bagaimana cara kita memperlakukan atau mesti menghadapi tamu. Tapi kita telanjur sombong punya apa-apa, padahal jelas tak punya apa-apa. Keadaan lebih menuntut tinggi hati ketimbang berlaku rendah hati sewajarnya. Tak mengherankan ketika tamu Corona masuk ternyata tidak sungguh disadari malah justru meributkan hal-hal yang entahlah atau belum tersedia.

Sekilas cerita Dewi Sri sebelumnya itu melukiskan cara mengantisipasi atau mengevakuasi keadaan paceklik berat, ekonomi penderitaan. Barangkali juga begitu penanggulangan kelaparan untuk meminimalisasi ketakutan dalam masa pagebluk sekarang. Terkait teknis, pelaksanaan, mekanismenya nanti bagaimana, baik juga dipikirkan bersama. Dengan syarat puasa sebagai metode menahan diri dalam banyak hal dirasa perlu daripada menambah keruh keadaan. Menahan diri bukan sekadar memikirkan diri sendiri, melainkan tafakur terhadap permasalahan bersama dan mencarikan solusi jalan keluarnya. Menahan bisa berarti dalam rangka saling menjaga keluarga, saling mengamankan tetangga dan lingkungan sekitar.

Pelbagai cara material atau jasadi telah dilakukan dalam menangani virus Covid-19, namun sementara belum diimbangi asupan rohani dan vitamin spiritual bagi jiwa yang kering kerontang makna. Kalau memang tindakan preventif keilahian dibutuhkan manusia modern maka dengan jalan puasa itu semoga memproses penyembuhan dan penyelamatan tersendiri. Ada banyak cara menyemprotkan disinfektan rohani (seandainya sedia) yaitu beristigfar sekuasa-semampunya, selawat salam kepadamu kekasih Nabi Muhammad, mengumandangkan azan, senantiasa melantunkan wirid dalam pertapaan Gua Corona—seperti halnya spiritualitas dalam dirimu sendiri serta segala yang ada di langit dan di bumi semua bertasbih kepada-Nya.

Menjelang puasa Ramadan, Corona sedang melatih daya sensitivitas dan kepekaan diri terhadap apa yang tidak kita senangi. Seseorang tidak suka durian dari baunya. Seseorang jijik kepada kecoak karena terbang. Tidak senang dalam arti meluas dan mendalam, bisa jadi selama ini kita menginginkan sesuatu berdasar senang saja, sekarang lebih terfokus pada keperluan dan kebutuhan hidup mendasar. Tapi tidak menutup kemungkinan juga setelah Corona berlalu, manusia atau gerak kebudayaan masyarakat hanya mengalami semacam change without change (perubahan tanpa perubahan) sehingga peradaban atas penguburan nilai-nilai tetap dilanjutkan.

Dilihat dari kenyataan demikian (seharusnya) Allah akan membinasakan manusia agar digantikan dengan makhluk-Nya yang baru atau meluluhlantakkan kita semua karena kezaliman dan pengingkaran terhadap-Nya. Alangkah bersyukur tak putus-putusnya kita bahwa Allah pun berpuasa sepanjang zaman. Tapi bagaimana kalau tidak atau Dia membatalkan puasa? Wallahu a’lam bishawab.

18 April 2020

Syahruljud Maulana
Latest posts by Syahruljud Maulana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.