Puisi Badruddin Emce; Sekelumit dari Sahabat Bajing Syekh Baribin

pinterest.com

Syekh, tertatih membaca baris-baris langkah mudamu!

Kenapa jadi begini?

Menurut sahabat Bajingmu, sobat-sobat dan keponakanmu

juga berbaju bepergian dagang.

Mblasak-mblasak

menyibak belukar semak sekaligus menghapus tebat-nya lewat.

Jika jurang-bukitan menolak jadi anak cerita,

galur desa ke desa adalah sajian terbaik semesta.

Gua ternyata sarang sanca, menegakkan tenda adalah tugas mulia,

tertulis di pundak para pengelana!

Adakah ini wanti-wanti Ibnu Arabi?

Ular atau gegremetan lain tahu-tahu menghalang langkah rombongan,

perlahan engkau menyentuhpinggirkan ke semak.

Tiga sentuhan belum juga membuatnya menyingkir,

engkau pun meruwatnya :

Sekali tetak,

sekaratlah yang menurutmu puluhan tahun berharap kesempurnaan!

Sebenarnya sahabat Bajingmu ingin mendapatkan apa, Syekh?

Bahkan bagaimana engkau ngencang, mijeti dan ngombor

tunggangan keponakanmu, ia tempatkan di antara baris nyaris ceriwis.

Semoga saya keliru :

Tidurpun seolah tak mau jauh dari rombongan –

 

Tiga rendheng lagi sang putri konon balég.

Tapi caranya ngolah tenang-gelisah memancarkan molek.

Bagaimana teman-teman tak rebutan nuntun tunggangannya?

Tetapi sebelum kuda coklat gosong bigar,

tuan muda segera tentukan siapa pegang kendali!

O, eloknya lagi sang putri jarang menambah rusuh kami.

Pernah, bonekanya mrucut ke jurang, sesenggukan nangisnya.

Tetapi tingkah polah sobat-sobat segera meredakan.

Kapan bahaya turun pun jadi gampang dikenalhindari!

Dan kini di angkasa berputar-putar sepasang bhéri,

ancer-ancer Ki Ageng Ngayah dua bulan lalu, kembali mengiang.

 

Cetha sekali –

 

“Jika nanti menjumpa hewan terbang yang suaranya memperhebat

detak jantung, yakinlah, tlatah Kaleng telah kalian ambah!

Agar tak dititik menjadi mangsa, tanggalkan segala yang warnanya putih!

Jika detak ketakutan sampai mumbul disambar angin segara kidul,

sudah, dari Nusatembini para pemakan daging bakal jadi kawanan

yang sulit dihindari. Sampai kapan pun, meski dalam léng semut

kalian sembunyi, kalian tetap buruan. Jangan tunda.

Segera, napas buang. Pikiran kosongkan!”

 

Begitu kami saling memastikan, diri bukanlah sapi,

dalam sekejap hening, sepasang bhéri tahu-tahu telah di kejauhan tinggi lagi.

 

O, barusan menikmati tak perlu mengendap-endap lagi,

tiba-tiba tunggangan Kentring Manik meringkik.

Di depan kami, seseorang, tak jauh dari berdirinya, terbujur makam

baru dibersihkan, membuat kami berhenti.

 

“Raden Putrakah?” Sapanya ramah.

 

“Benar adanya, Rama!” Sahut tuan muda rendah.

 

“Syukurlah! Ternyata seperti yang Ki Ageng Ngayah utarakan, makin kuat,

selalu punya sahabat. Ya, jadi békel juga berdaya!”

 

Raut tuan mudaku semu merah, “oh, péan sinten, Rama?”

 

“Panteskah, kalau saya tunggal rama-biyung Ki Ageng Ngayah?”

Segera, satu per satu kami sungkem.

 

“Anak muda, Ngayah masih jauh. Sebelumnya ada malam

tak ramah buat menyeberang. Singgahlah!”

 

“Kami manut, Rama. Ki Ageng Ngayah pesan, jika ketemu orang

yang suka bertamu pada orang mati, ikuti ajakannya.

Nikmati sajiannya.

Itu akan membuatnya senang. Dialah pintu kalian ke Ngayah!”

 

“O, bagaimana tidak senang, anak muda?”

 

Lebih senang lagi kami.

Layaknya satu keluarga, usai menyantap sajian,

hingga tengah malam, bersama menabuh terbang.

 

Sesuai janji, usai subuhan Ki Ageng Kaleng mengantar kami ke Ngayah.

 

Siapa sebenarnya sahabatmu, Syekh? –

 

Ada apanya padepokan Ki Ageng Ngayah.

Puasa sasi Wanana sudah lampaui

sepuluh hari ketiga, kami masih betah?

Padahal seperti réwang,

sehari muput turun ke sawah.

Tentu tak terkira lelahnya.

Maka, kerap, sobat-sobat, sejak sebelum Magrib,

setelah mengepung tiwul lauk juwi,

saya biarkan berebut mapan turu.

Sedangkan saya, usai trawéh,

gantian dengan para santri,

masuk senthong Ki Ageng Ngayah –

ngangsu kewruh konon menambah weruh!

 

Bubar itu, senandung khas Ni Ageng kembali mengalun sayup.

Mungkin begitu, caranya menidurkan Kentring Manik.

 

Ni Ageng memang pintar mencuri selanya saat.

Baris-baris luhur tentang kanjeng Nabi

kadang jadi untaian nada tak terkira.

Yang ngalamun pun, jadi hilang getun!

Semoga, liwat rahim Kentring Manik,

baris-baris tadi juga menjangkau penjaga kejayaan laut dan gunung-gunung kelak.

 

Entah hari keberapa.

Baru merasakan nikmatnya buka, tiba-tiba menyaru seseorang –

 

“Paman, kepada setiap punggawa yang mengantar bekti, sang Nata pasti tanya

ke mana sepupunya dan Kentring Manik pergi? Kenapa sepupunya musti mérad?

Kalaupun ada apa-apa, kenapa tak tahu apa-apa Kentring Manik dibawa serta?”

 

“Paman, begitu bimbangnya, di mana-mana para punggawa pun mendesah –

sudah sandekalakah sekarang zaman. Jawaban, jika dianggap benar,

justru dicecarcegat hingga ketemu nalar. Jika dianggap keliru, sudah, besok

pasti tak bakal lagi digugu!”

 

“Nah, ini, Paman. Padahal di mana-mana sang Nata janji, yang bisa dipercaya

adalah yang kesungguhan kerjanya bisa diterima!

Sementara punya apa Adipati Tancang. Tak ditanya apa-apa, dialah

yang dipercaya. Bawa kembali, tak satupun sisa, hidup maupun mati –

pinta sang Nata padanya!”

 

“Sudah pasti Tancang bimbang, Paman.

Kentring Manik calon permaisurinya di mana-mana kadung terkenal,

mengiyakan perintah berarti membayarbenarkan kabar, bukan?

Lalu di aula Agung, ratusan obor dinyalakan!”

 

“Perkenankan aku bicara dengan Raden Putra, Paman. Malam itu

Tancang membagi prajurit pilihan dalam empat rombongan.

Fajar dan tungku dapur belum menyala api, dipimpin Tancang sendiri,

rombongan terakhir berkuda ke barat!”

 

“Mohon, Paman!”

 

Tak sepatah pun kata dari mulut saya.

“Paman!” Itulah kata-kata terakhirnya setelah Magrib jauh meninggalkan Ngayah,

setelah beberapa tetes anyir membuat mata buaya menyala-nyala.

 

Syekh, adakah lembaran lepas ini juga baris-baris sahabat Bajingmu? –

 

Tuan muda mungkin tak mengira,

akhirnya papagan teman nyantriknya

di kelas menari dan tosan aji dulu.

Si teman erat menegakkan titah,

tuan muda erat menggenggam tujuan.

Tuan muda minta kami mendahului sembunyi,

pecahlah yang guru mereka tak pernah perintah.

Menyusul kami menerjang kawanan ayam hutan bersarang,

berkisahlah tuan muda sambil terengah,

“keris patah, tangan payah, sekali ku-gejug tanah

tahu-tahu tubuhku di punggung kuda!”

Mungkin tuan Tancang juga tak menduga,

akan mematahkan tuan muda

pernah menjatuhkannya di kelas silat dulu, lalu mengejarnya sekuat daya.

Tetapi hingga malam berlalu tak seorang pun dari mereka menemukan kami.

O, semesta, bagaimana engkau menyembunyikan jejak kami?

 

Syekh, beginikah nggayuh tujuan? –

 

Usai trawéh saya memohon keputusan –

sehari dua hari lagi Wurana tampak,

kapan perjalanan diteruskan.

Ki Ageng Ngayah berkenan menjadi cucuk lampah,

segera, bagi yang puasa dan yang tidak puasa Ni Ageng menyiapkan,

agar tak dihinggapi wayu, makanan yang dikukus

satu-satu dibungkus daun jati, dibuntal selembar kemul jarit.

Usai Subuhan kamipun meninggalkan pedepokan.

Makin ke utara menapaki tanggul membelah bulakan rawa,

setelah melewati beberapa grumbul daonan,

tiba-tiba dari kudanya sang cucuk lampah menunjuk –

“Nah, setelah pohon sundhul langit sana, nanti kita ngiwé!”

 

Seperti apakah dari dekat?

O, thukul di atas tanah timbul, agaknya berkali disamber bledég,

pohon itu puncaknya penuh geseng.

Semesta benar, sabar membuahkan tegar,

pohon pun berkah bagi sekitar –

Sepasang bhéri yang sedari pagi berputar-putar di atas kami,

hijau gelap bulunya,

berkerut-kerut cakarnya,

kini, seperti kerbau derum, mencengkeram salah satu dahannya.

Dan kuning, seperti dituturkan santri-santri Ngayah sebelum tidur,

paruhnya melelehkan cairan kental berasap.

Meremang bulu kuduk saya, tapi segera terbersit –

sang cucuk lampah lahir untuk menataayomi semesta.

Tanpa melupakan keluarga, ngurus praja jadi ibadah utama.

 

Alkhamdulillah, bersama hewan dan pohonan,

manusia mulai sibuk menyambut Riyadi.

Di depan sana,  di kanan jalan, di bawah rimbun pohonan,

sebuah rumah atapnya welit,

baru dilabur, dinding dabag-nya putih memplak.

Tiba-tiba kuda sang cucuk lampah belok

memasuki halaman memanjang rumah itu.

“Semoga tuannya mengizinkan kita bermalam,” ujar sang cucuk lampah.

Sebentar kemudian dari samping rumah, seorang laki-laki tergopoh

meletakkan pacul tudung-nya.

Seorang perempuan setengah baya, enam bujang rampag gempal,

menyusul menyalami kami.

 

Ditunjukkan tempatnya wisuh,

kami pun bergantian raup.

Kumur, merasakan getirnya air kuning sumur.

Munggah mbalé, beralas tikar pandan,

yang puasa dan tidak, bakal menikmati ubi rebus.

 

Ngrembug apa mereka, hingga tengah malam,

sang cucuk lampah dan tuan rumah laki-laki betah berdua.

Paginya tuan rumah laki-laki mendekati tuan muda

tengah menatasaji sisa saur untuk sarapan si mungil Kentring Manik.

 

“Anak muda, bisakah sejenak?” Sela tuan rumah laki-laki memohon.

 

“Saya ikut, Rama!”

 

Sambil ndhulang Kentring Manik, di bawah iyom Waru doyong,

memunggungi saya, tuan muda juga duduk sila

menghadap tuan rumah laki-laki.

 

Blaka saja, saya ingin meminjam pamormu!”

 

“Aduh, Rama. Pripun?”

 

“Anak muda, dapatkah kesempatan seperti ini kami dapatkan lagi?”

 

“Oh bagaimana bisa, Rama?”

 

“Begini, anak muda. Mungkin tak baik dikeluh. Tetapi ini lama jadi pikiran

orang-orang sepantaran saya!”

 

“O, apakah itu Rama?

Saya tertarik mengikuti!”

 

“Anak muda, hingga hari ini, untuk bisa menikmati nasi, selapanan sekali

orang-orang sini musti ke Mranggi, mengantar iwak banyu ditukar beras.

Sekranjang dapat setengah rinjing. Jika beruntung, dapat nanas segala.

Tapi meski kuda kami gagah-gagah, perjalanan tidak mesti.

Lampau sehari saja, sudah, busuklah ikan-ikan mati. Maka munthul-budhin

kembali jadi sehari-hari kami. Padahal apa, anak muda?

Kurang apa di sini? Setiap somah punya bujang rosa,

tetapi hamparan rawa tetap hamparan rawa!

Bayangkan, jika di sebelah sana adalah petak-petak sawah. Lalu di sebelahnya,

di antara pohon keras, belukar bertukar nanas.

Bukan tidak mungkin, Mranggi justru dipenuhi beras kami!”

 

“O, sangat mungkin, Rama!”

 

“Itulah, anak muda. Berkali saya yakinkan, tetapi mereka cepat kembali ragu.

Akan beda, jika anak muda mendedahkan!”

 

“Aduh, Rama! Saya tak punya cara!”

 

“Ah, belum dicoba, anak muda. Rasanya sekaranglah saatnya!

Sawalnya Wurana sudah trontong-trontong, bukan? Jika sandékala nanti

bulan mulai jelas, selepas ngisa, kethong saya thuthuk.

Sudah biasa, dari grumbul-grumbul sekitar, tua muda, laki perempuan,

pudunan di sini. Anak muda akan saya ceritakan pada mereka!”

 

“Aduh, Rama!”

 

“Apa yang memberatkan, anak muda?”

 

“Nanti istana jadi dibawa-bawa, Rama.

Kini saya bukan lagi apa-apa!”

 

“Lihat saja gelarnya nanti, anak muda!”

 

O, keluar dari senthong sembayang ngisa,

dan masih deras hujan,

seperti dibebani tugas langit,

tuan rumah laki-laki langsung nuthuk kenthong.

“O, bagaimana ini?” tiba-tiba tuan muda berbisik.

“Tuan, rasanya malam ini semua bahagia. Lihat, adakah kebingungan

di wajah mereka? Bolehlah beras tinggal untuk rayakan awalnya Sawal.

Tetapi semua tampak yakin, budhin-munthul bisa menguatkan.

Lawuh sambel trasi, thiwul juga berasa. Lagi pula, tidak sebentar

membiasakan semuanya. Sampai mateng,

mungkin perlu enam-tujuh purnama menjalani. Padahal yang kita gayuh

masih jauh!”

 

Tuan mudaku seperti mengiyakan pendapatku.

Tapi tamu kadhung kumpul.

Usai tahlil, dibuka tuan rumah laki-laki,

akhirnya semua terbuka bagi kehadiran tuan mudaku.

 

Paginya hendak keluar ke sumur, hampir saja tawaku lepas.

Di tritikan,

puluhan bujang telah berjejer dengan pacul, kudi dan arit.

 

“Maaf krainan. Sebentar saya raup dulu!” Bisikku pada salah satu bujang.

“Nanti Raden Putra pingin berkisah tentang nggaleng, macul, ndaut, nandur,

matun, mbawon dan nyimpen!”

 

Dari balé ke balé, makin dibedah kisah, kisah makin menggelisahkan.

“Sini bukan Mranggi. Di sana berlereng-lereng, air konon mudah

menemukan kali.

Maka demi air mengalir, di sini kita musti menyiapkan kali!”

Ujar tuan muda.

 

Selapan lebih, bagai menerima dawuh sang junjungan,

seharian para bujang takdim mengikuti kisah-kisah petani atas angin.

“Begitu, jika seorang Nata bicara?” Tanyaku suatu hari

disambut senyum sang cucuk lampah.

 

Kadang yang tidak sranta nglakoni tanya kapan mulai.

 

Bledég masih ngampar-ampar, sedulur! Saya tak rela ada yang celaka.

Bukankah kalian dambaan Rama-Biyung?

Lagi pula, siapa tidak ingin kelon dengan perawan gingsul?”

Mereka pun cekikikan.

 

Di hari yang dibayangkan kebersamaannya,

uput-uput lima bujang sudah bersamaku,

lima-lima lainnya bersama sobat-sobatku.

Untuk pertama kalinya ditunjukkan sang cucuk lampah

bagaimana menggiring buaya kembali ke sarangnya

(maaf, rapalan mantranya saya lupa).

 

Terkadang saya merasa akan patah sendiri.

Alang-alang dan putri malu berduri

tak juga tembus dibabad.

Lumpur-air terus menolak dipisahkankan.

 

Syekh, rasanya sahabat Bajingmu mendapatkan yang ditunggu-tunggu.

 

O, butir padi mulai berisi.

Susul menyusul, dengan mahkota canggungnya,

nanas muda keluar dari persembunyian.

Saat tuan muda berbagi bagaimana layang-layang tenang mengangkasa,

tiba-tiba datang berkuda santri Ngayah

nemoni sang cucuk lampah.

Dari sang cucuk lampah tahulah kami,

tuan Tancang sudah berada di Kaleng.

 

Harus bagaimana kami, tuan mudaku kembali menata kami sebagai buruan.

“Sedulur, di manapun wong tani senang menanam.

Bayangkan, jika semua tanaman adalah kebaikan!

Tetapi sebagai pemilik tujuan, di mana pun, tak elok merasa tenang.

Maaf, di sini semua sudah jadi keluarga.

Sayang sekali kami mesti meninggalkan!” –

Para bujang saling pandang.

 

“Begitulah, biarkan kami saja yang nglakoni. Apa yang akan kami petik

dan bagaimana akhirnya, tak ada pastinya. Nanti tabir akan dibukakan.

Sedulur, ijinkan kami berkemas!”

 

Usai Ngasaran, tuan muda menemui tuan rumah laki-laki.

Tak banyak yang disampaikan, tetapi tuan rumah laki-laki paham.

 

Kami pamitan, di luar sudah menunggu keluarga para bujang.

Salah seorang dari mereka maju –

“Kami orang yang tak banyak mengerti seluk beluk bepergian.

Apa yang dapat kami lakukan untuk Tuan?”

 

“O, Rama. Mohon, lupakan kami! Cukup yang pernah kami lakukan bersama

para bujang jadi pekerjaan! Yang tak tergantikan, seperti kali rekaan,

pertahankan dalamnya. Yang menguatkan sila tambahkan!” Ujar tuan muda.

 

“Pasang merah putih demi keutuhan! Sekarang kami mohon diri,

terima kasih banyak merepotkan!”

 

“O, iya. Sebentar lagi panen, semoga berkah dan berkat!”

Mereka tertawa, kami pun tertawa.

 

Lalu seorang lagi maju –

“Tuan, dari kami orang yang tidak tahu adabnya

terima kasih, mohon terima yang nanti malah merepotkan!”

Katanya sambil menunjuk tujuh ekor kuda gagah terikat

di bawah pohon Nangka.

 

Kami pun memacunya.

Ke Srandil dulu, apa langsung Kejawar, belum diputuskan.

 

Kroya, 2016-2018

 

 

Catatan :

Nama bulan di era Majapahit

  1. Warana semasa Sura
  2. Wadana semasa Sapar
  3. Wijangga semasa Mulud
  4. Wiyana semasa Bakda Mulud
  5. Widada semasa Jumadi Awal
  6. Widarpa semasa Jumadi Akhir
  7. Wilapa semasa Rejep
  8. Wahana semasa Ruwah
  9. Wanana semasa Pasa
  10. Wurana semasa Sawal
  11. Wujana semasa Sela (apit)
  12. Wujala semasa Besar

Sumber :

http://kerajaan-majapahit.punokawan.web.id/id1/1757-1639/Penanggalan-Jawa_19538_kerajaan-majapahit-punokawan.html

Badruddin Emce

Tinggal di Kroya, kumpulan puisi pertamanya yang telah terbit Binatang Suci Teluk Penyu (2007), sedang yang kedua, Diksi Para Pendendam (2012) terpilih sebagai 10 nominator Khatulistiwa Literary Award 2012. Kini Ketua Lesbumi PCNU Cilacap, pegiat Tjlatjapan Poetry Forum.

Latest posts by Badruddin Emce (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.