Puisi-Puisi A. Warits Rovi

(URBAN ALONE by Tatiana Iliina)

 

DURI KENANGAN

berteriak ke masa lalu

lampau suaraku menelusup epitaf tahun

ayah batu, ibu batu, kerabat batu

diri hanya sepatah tulang ikan dalam abu

 

matahari mematung di jendela

dengan tubuh tersayat luka

 

jam tinggal belulang dengan kerangka jarum

terperam lubuk arang

waktu larut dalam detik yang mengerang

 

berteriak ke masa lalu

suaraku menemui angka kalender yang dirajam

ayah batu, ibu batu, kerabat batu

dan tanggal tersisa segunting

sobek-sobek di meja makan

 

kala itu, takdir adalah sumber air mata

yang menghantam semesta

dengan alir liar bah yang amat murka

 

dan kala itu

aku hanya sesobek ujung daun kering

yang digilas, digiling dan digulung di dalamnya

sepanjang sungai tanpa muara

ditemani kisah Yunus dalam perut ikan

dan baru dilabuhkan waktu

beberapa tahun setelah itu

ke suatu pagi yang ditumbuhi bunga-bunga biru

di tangan ibu.

Gapura, 01.20

 

 

GERIMIS YANG BERTAMU

malam Jumat

sisa lingkar obat nyamuk

mewiridkan nubuat sepi

:dingin

berlarik ke dusun tubuh

tak terjangkau suara

dijaga ujung pena

tanpa nama

 

asap melinting jejak hibrid

dari suhu dan waktu

dalam sekutu jarum merah

yang berputar di palung dada

mirip hialin tanpa rumus geografi

demi melebihi kaca paling putih

 

jendela bercincin bayangan lampu

memandang halaman

senada warna bulan

dalam genang air yang sama

tak perlu lagi merisaukan warna

 

ibel, filza, laptop, nyamuk

dan separagraf cerpen yang terhenti!

jika besok malam gerimis lagi

tak lain yang subur adalah puisi.

Dik-kodik, 09.01.20

 

 

BUNGA KARET

musim enggan menyentuh daunku

kelopak kecil menengadah

ke raut potret tua di pigura tanpa kaca

seperti meminta aroma

meski dari masa silam yang bernanah,

 

kupu-kupu menolak singgah

jalan ke pucuk hanya dirambah semut

dan rengkuhan debu

sempurna membebat ketiak ranting

dengan lagu-lagu denging,

 

setiap orang menatapku

menatap kepura-puraan

kelopak yang tulus dalam wujud palsu

meludahi waktu dengan seciprat empedu

beginilah hidup yang tak sesungguhnya

memenuhi meja ini dengan luka di hati.

Gapura Timur, 01.20

 

 

DI DUNIA MAYA

tak ada tanah dan pohon

jarak dilipat huruf, gambar dan suara

di sudut yang paling sunyi

kerikil bisa bercumbu dengan matahari.

Bungduwak, 01.20

 

 

EMAK DAN EPPAK

kalian berdua hulu sungai dalam tubuhku

meliuk lalui kemarau, menyusur ngarai dan bebatuan

menampung arus dan keluh ikan,

 

selembar-selembar daun tua pohon ringkihku

jatuh ke mimbar dada kalian, hanyut sebagai bah

melewati dusun-dusun senyap

melaburi batu-batu pengap

ke satu muara, kalian siapkan doa

setanggi nyala di ujung sajadah

sujud kalian terbenam melampaui arca

pinta kalian untukku melebihi padat batu.

Gapura, 01.20

A. Warits Rovi
Add Me
Latest posts by A. Warits Rovi (see all)

Comments

  1. Susi Rida Simamora Reply

    Nikmat sekali puisi ini😑

Leave a Reply

Your email address will not be published.