Puisi-Puisi Akhmad Sekhu; Gelisah Antara Dua Desa

in Puisi by
pexels.com

Gelisah Antara Dua Desa

 

 

Ladang tak lagi mampu mengundang

lelaki kecil yang dulu selalu berjalan

tertatih pelan perlahan-lahan di pematang

karena ia kini telah ke tanah lapang, ke arah

yang semakin jarang kesempatan untuk pulang

 

Meski matanya masih menyimpan rengek manja

lelaki yang kini sudah dewasa sudah menemukan

kemanjaan yang lain yang bukan sekadar mendapatkan

mainan hingga malam-malam yang menenggelamkan

tak lagi membuatnya karam, tak membuatnya suram

 

Di sini mungkin sejarah akan ditorehkan

lelaki yang merasa tulang rusuknya hilang

seperti Adam memberontak pada kesunyian

begitulah pula dirinya yang kemudian menambatkan

sebuah rasa yang tak terkatakan, tapi terasa sangat ada

 

Lalu ada yang menunggu, selalu saja ada

yang menunggu, setiap bulan, setiap waktu rindu

menagih kesunyian yang kini tinggal puing-puing

dapatkah perempuan itu meraih harapan yang kesekian

dengan recehan logam bergelondangan dalam celengan

 

Di sana mungkin masanya telah disudahi

tak bisa dipungkiri, betapa tak bisa diratapi

perempuan dengan berselendang angan-angan

telah lama siap mengulurkan kesabaran antara

dua kemungkinan suka atau duka dalam hidupnya

 

Segerak ruang kesempatan telah terbentang

tapi lelaki-perempuan itu tak juga melenggang

tak mau menumpahkan kekesalan, tak mau

sungguh tampak sungkan menunjukkan kesusahan

meski sudah amat sangat kepayahan yang tak tertahankan

 

Akhirnya masa itu datang juga, lelaki-perempuan itu

datang, dengan menggandeng dua buah hati yang mewakilinya

dengan suaranya yang pecah, tapi bukan tangis kesedihan

melainkan ekspresi keharuan yang menggenang, betapa gelisah

tetap didekapnya penuh sukacita antara dua desa yang tercinta

 

 

desa Jatibogor-Suradadi-Tegal, desa Karangjati-Munjung Agung, Kramat-Tegal, 201

 

Senyawa

: catatan untuk Wanti Asmariyani, istriku

 

 

Istriku, aku bangun tapi diriku tegak

Aku bersamamu tapi diriku bersenyawa

dengan dirimu

 

Ingatkah kita pada malam-malam

Yang  menenggelamkan pada saat

Kita bersenyawa

Dua badan satu jiwa

Ya, kita bersenyawa

Seperti dua zat kimia

Yang saling mengisi

Hingga penuh seluruh

Kau padat, aku memahat

Kau cair, aku mengalir

Demikian juga

Kita bertukar tempat begitu akrab

Aku pesona, kau terpana

Kau dunia, aku fatamorgana

Kita bertengkar pendapat begitu dahsyat

Kau keras, aku meranggas

Kau lembut, aku mematuk

Kita bercakap-cakap begitu bersemangat

Aku kata, kau kalimat

Aku puisi, kau narasi

 

Istriku, aku bangun tapi diriku tegak

Aku bersamamu tapi diriku bersenyawa

dengan dirimu

 

 

desa Karangjati-Munjung Agung, Kramat-Tegal, 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Ibu-Ibu Melahirkan

:Wanti Asmariyani

 

 

Ceritakan padaku tentang ibu-ibu yang melahirkan

Yang tiap hari kautemui, saat pagi dan petang, mereka tentu

Sangat bahagia, tapi ceritakan padaku tentang kebahagiaan

Seperti apakah yang mampu memupus segala lelah dan derita

 

Mungkin ada sorga yang lain, di bawah telapak kakinya,

Yang belum pernah orang tahu, ayo bisikan ke telingaku

Tentang keindahan seperti apakah yang dapat mengalahkan

Segala goda, ujian dan kesenangan dunia yang tiada tara

 

Melahirkan adalah perjuangan, kita semua tahu tentang hal itu

Tapi ketabahan seperti apakah yang bisa menunjukkan rasa sayang

Tak berkesudahan, bahwasanya kasih ibu memang sepanjang masa

 

Ceritakan padaku tentang ibu-ibu yang melahirkan, ayo ceritakan

Tapi jangan kau habiskan dalam sekali cerita karena tiap hari aku ingin selalu

Mendengar kisah-kisah ibu yang menggenapkan citra sempurna perempuan

 

desa Karangjati-Munjung Agung, Kramat-Tegal, 2018

 

 

 

Jatibogor

 

 

Di sini matahari bangkit

tatkala melati mulai memutih

wanginya dapat kita punguti

untuk sebentuk kelegaan

dengan dada yang lapang

 

Dan angin yang lincah bermain

mengingatkan kenangan kanak-kanak

tapi kita tak dapat lagi memunguti

masa silam yang semakin terpendam

dalam lumpur kenangan masa silam

waktu pun tak mampu berjalan mundur

bagi nostalgi yang semakin melebur

 

Tatkala sudah di ujung pematang

tatkala lelah, kita pun istirah

di sinilah langkah penyerahan diri pada ilahi

 

 

desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2018

Akhmad Sekhu

Lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Kini hijrah ke "Kota Gelisah" Jakarta dan bekerja sebagai wartawan.

Latest posts by Akhmad Sekhu (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.