Puisi-Puisi Bagus Likurnianto; Amaya, Kita ini Siapa?

David Walker

Pohon Manggis Nenek

 

pohon manggis nenek sudah tua

batangnya mulai rapuh rantingnya ringkih-ringkih

tidak ada lagi perkara baik selain buah cantik

bergelayut di jari-jari para pemetik

 

mereka berduyun-duyun

sambil sesekali meraba tubuh sendiri

yang semakin membuyut

demi mengerti berapa jumlah anak dikandungannya

kau bisa mengira lewat kelopak bunga

yang mekar di bawah perut

 

kalau kau sudah puas mengetahuinya

maka sebaiknya cicipilah dengan segera

lewat robek tanganmu mengalirlah

darah manggis merah

 

di dalamnya ada keluarga

yang menunggu buaianmu satu adalah ibu

satu adalah ayah selebihnya adalah kau

dan segenap saudara-saudaramu

kami hidup karena magis manggis nenekmu

tapi magis tak pernah tinggal dalam tubuhnya

 

nenek adalah manggis yang jatuh sendiri

riwayatnya tertulis pada epitaf jejak kaki para nabi

dan saraf burung quddusi alpa pada musim

yang menjatuhkan kerinduan dari sebatang hayat ini

 

Banjarnegara, 2019

 

 

Amaya, Kita ini Siapa?

 

hati ini begitu gigil, amaya

kita ini siapa? menyusur jalan malam

mencari jejak yang bisa diikuti

mencari langkah kaki yang musti diharakati

 

dari rahim hujan engkau dilahirkan

kepada siapa engkau bertuhan?

demi meralat cinta

kau basahi semesta

demi menjadi cahaya

kau junjung wujud sabda

dan demi tersamar waktu

kau jelma doa ibuku

 

akulah pemilik malam

mezbah bagi segala keheningan

altar bagi hadirat untuk mempertanyakan

kalau sebenarnya ‘kita ini siapa?’

 

amaya, apakah kita

benar-benar ada?

 

Purwokerto, 2019

 

 

Pawon

 

telah kami bakar keheningan dalam dada

kayu yang semula pernah jadi tubuhmu

menabahkan nyala-nyala doa

segala peristiwa

 

Banjarnegara, 2019

 

 

Elegi Penyair

 

pada wajah lembah dan liuk tubuh sungai

ada yang mengutukmu lewat puisi

ratapan doa berjatuhan ke dalam dadamu

suaraku terbata-bata membaca luka

pelantun syair ketiadaan

 

Purwokerto, 2019

 

 

Prasasti

 

di dalam prasasti itu

kami hidup dalam nubuat penyair

yang meriwayatkan sejarah

sepanjang sungai mengalir

 

artefak waktu ini

belumlah berlalu

ke mana zaman akan diabadikan?

butiran air mata jatuh dari surga

merembes ke bumi yang fana

lewat selipan batu-batu

 

kesedihan yang jatuh

tempias di kedua matakakimu

aku rela membaca kitab paling alastu

demi menemukan cinta di hadiratmu

 

akulah aksara itu

jatuh ke dalam dadamu

tersungkur-sungkur

bacalah aku bacalah waktu

sebelum sunyi mengutukmu

menjadi sebongkah batu

 

Purwokerto, 2019

Bagus Likurnianto

Sulung dari Biyung terkasih Laeliyah dan Romo Budianto. Lahir di Banjarnegara, 9 Januari 1999. Beralamatkan di Dukuh Taman Sari, Kelurahan Parakancanggah, RT 04/I Banjarnegara. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Puisinya pernah disiarkan Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Harian Ekspres, Media Indonesia, dan Koran Tempo. Sempat menjadi penyair terpilih World Poet Convention yang diselenggarakan Persatuan Penyair Malaysia pada 2018. Kini menjadi pimpinan redaksi Buletin ‘CAKRA’.
Bagus Likurnianto

Latest posts by Bagus Likurnianto (see all)

Comments

  1. Galuh Kresna Reply

    Seneng baca puisimu mas, 🙂.

  2. Anonymous Reply

    Jadi senang bisa kenal Bagus

  3. Cecep Hasannudin Reply

    Sukak

  4. alya Reply

    Good

  5. Abdul Wachid B.S. Reply

    Sajak-sajak yang original tingkat kebahasaannya, dan cara pandangnya terhadap realitas sungguh unik, keindahan bahasa sajak yang mengabarkan cara pandang terhadap realitas yang diindahkan.

  6. Anonymous Reply

    Masih sangat muda..keren!

  7. Hera Reply

    Halo semuanya….Kalo nulis puisi, gambarnya bikin sendiri? atau ada situs yang nyiapin, dan kita tinggal pilih? Sy mau soalnya. Bantu please

Leave a Reply

Your email address will not be published.