Puisi-Puisi Bresman Marpaung; Laskar Berusia Sehari

in Puisi by
Tom Sullivan (@Sulbone)

Dari Sekelumit Rambut Tuan Bahlul

 

tuan bahlul masih serumit puntiran rambutnya

yang tak sampai tebal sejengkal

bebal berpilin

 

seperti jalan pendek sudah ditempuh

tak pernah berujung di mataku

menambahkan pening

memanah dari seputaran keningnya

membawa hantu-hantu  bising

beriring di lubuk dada kami

 

layaknya orang kebal

tapi Tuan Bahul terlihat lebih pejal!

nasibmu kekasihku

pegal menjejak tujuan sejarak

terkerat akal sepangkalnya

mengakar sebanyak  tali-temali

menyumirkan keadaan

 

rumit seperti Mister Pandir juga

 

          Medan 2018

 

 

Saat Ular Meluap dari Tenabang

 

tuan ogah kerja ogah capek

satu per satu mati kelaparan

di pasar lapang makanan

 

yang mengelu-elukan muhrim di musim lalu

tiarap mencari-cari balasan

mencuri-curi ayat tanpa palang

memotong-motong bayangan dengan geraham

dengan keyakinan kebal bahwa siasat lapuk

masih berkhasiat memutarbalikkan kenyataan

sebagai akibat pantangan sebuah lencana

bencana meluap dari satu kutukan

populasi yang  khilaf terhimpun pada  satu semesta

yang  tak mau pasrah beririsan

menanggung  balasan alasan

 

yang compang-camping

luka luar-dalam

dikepung ular

pun yang tekun mengirim doa-doa

terlempar di luar cara biasa bulus

 

sebab berada di tengah-tengah episentrum liar para nujum

porak-poranda dikucar-kacir semburan tak harum

seketika terpaksa bersamaan rebah tanpa senyum

 

          Jakarta 2018

 

 

Laskar Berusia Sehari

 

Mereka sudah menjadi hakim pendendam

kejam mendahului malaikat  tuan langit takzim

ada pula bermacam latar belakang tak mahfum

menggiring minat menjadi penghukum

mengaku berakar dari lubuk dada terdalam berbibit harum

menjaga semerbak kuat pembasmi bau hantu sampai tak tercium

 

tapi gemercik bau mesiu dikulum, berpura ia tak maklum

 

orang lain kental mengenal mereka Si Buta-Tuli

dengan bulu kuduk tak bisa hikmat berdiri, meski

tuan langit hilir-mudik dan mendesir berkali

mencari anak-anak terlalu tak tahu diri

lari sudah lebih dari 10.000 hari

 

Laskar gagang pentungan, usiamu baru sehari!

 

 

Perihal Keluarga Centang-Perenang Itu

 

bapakmu tak pernah tiba sejak menjarah setanggi  hutan

ibu hanya sekejap jadi pelakon murung

satu hari kemudian miring  membilas tanda-tanda duka pingitan

saban malam rajin  mengupas bekas puritan kutang

laluan singgah terbuka bagi pejantan yang suka bermata nyalang

sampai dua gadisnya menguping ciri-ciri tak risih membiakkan piutang

 

sejak itu serempak menanam cita-cita menantang

menumbalkan cinta di atas tinggi kurungan belah kutang

kira-kira kelak bisa terjual senilai bobot utang

 

sedang si anak lelaki yang tak sempat berguru bapa

membiarkan loyo kaki yang ragu

diasuh mata pemalu

selalu tiba-tiba mengasah amarah tapi kelu di bawah bulu-bulu

tak paham berperang menumpas sembilu

betul-betul tak pilu hanya mampu jadi pecandu

membisu dan masih senang menyusu

 

wow, menjalar dari puri ke puri kepala batu

tumbal nafsu benalu

timbul-tenggelam bertalu-talu!

 

Medan 2017

 

Bresman Marpaung

Dilahirkan diPematangsiantar pada tanggal 15 April 1968. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tahun 1992. Menggelutidunia sastra sejak tahun 1984. Selain pernah menjuarai Lomba Cipta Puisi semasa SMA pada tahun 1985-1986, juga pernah menjadi 15 Penyair Terbaik sepanjang Tahun 1988 oleh Radio Mercuclan Martapura Kalimantan Selatan (kemudian berganti nama menjadi Bahana Nirmala), dengan Dewan Juri bernamaAjamuddin Tifani (penyair nasional asal Kalimantan Selatan). Puisinya pernah dimuat di berbagai media cetak nasional.

Latest posts by Bresman Marpaung (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.