Puisi-Puisi Deri Hudaya; Lawang Angin

Ioannis Ioannidis

Lawang Angin

 

Atas nama bukit-bukit batu

Yang memandang ke langit jauh

 

Atas nama lubuk-lubuk lembah

Yang dibanjiri kabut rahasia

 

Ada yang luput dan terjangkau

Antara aku dan engkau

 

2018

 

Insomnia

 

Asbak penuh puntung

Seperti nasib yang tidak beruntung

 

Dedak kopi adalah sisa hari

Yang bukan untuk dinikmati

 

Mungkin malam akan lebih abadi

Dari sebelumnya. Matahari telah pamit

Untuk sebuah usaha bunuh diri

 

Dan kamar pun bisa jadi penjara

Atau istana, sebagaimana dunia sebenarnya

Yang selalu ada di luar rencana

 

Aku membuka lagi buku puisi

Halaman-halamannya seperti rangkaian pintu

Yang tidak membawaku ke mana-mana

 

Aku ingin tidur

Dan tidak perlu bangun lagi

Kecuali di sebuah tempat bernama surga

kecuali kalau kau memang ada

 

Asbak, gelas kopi, juga malam

Tidak pernah tidur di kamar ini

Senyap yang diciptakannya

Seperti petuntuk ke neraka

 

2018

 

 

Dewi Sri

 

Kau tidak mesti seluruhnya memahami

Cabai yang tumbuh dalam dingin

Dan panasnya cakar matahari

 

Kau pun tidak harus bertanya-tanya lagi

Mengapa pohon jati hanya ranggas

Setiap tangan kemarau mengutip napas

napas terakhir dari pohon-pohon yang lain

 

Singkong tumbuh tidak akan menjadi umbi

Cengkih berbuah karena kehendaknya sendiri

Cuaca berubah-ubah. Angin datang dan pergi

 

Aku peduli dan sering pula abai

 

Tapi kau, siapa pun engkau, masih saja di sini

Bahkan setelah tubuhmu

Jadi abu

Jadi debu

 

2019

 

 

Jalan Yang Lain

 

Banyak orang bergegas ke Palestina

Membawa senjata, doa, serta bendera-bendera

Aku hanya ingin melihat pucat wajahmu, Cintaku

Dengan bekal sebuah puisi tentang anggur dan setangkai mawar

Membayangkanmu membusuk sendiri dalam labirin sunyi

Adalah tragedi paling mengerikan dari hidup ini

 

Banyak orang berebut jalan ke swargaloka

Pertempuran seperti bahasa yang biasa di antara mereka

Aku masih di setapak jalan menuju persembunyianmu, Cintaku

Setiap keraguan kusiasati senantiasa menjadi keyakinan

Membiarkanmu tidak pernah percaya pada apa pun di dunia

Adalah dosa paling keji bagi seorang pecinta

 

Barangkali, nanti, puisiku akan berkhianat pada maknanya

Dan bunga berwarna darah ini takkan mekar selamanya

Barangkali, teriakan garang dan tembakan itu sering juga salah sasaran

Dan jalan yang diperebutkan bisa jadi malah mengarahkan mereka ke jurang

 

Aku hanya ingin mengecup bibirmu, Cintaku, mengurai kusut rambutmu

Seperti ingin kutemukan diriku sendiri pada lorong paling kelam di pikiran

 

2019

Deri Hudaya

Deri Hudaya

Lahir 3 September 1989 di Singajaya, Garut Kidul. Menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Beberapa karyanya pernah dimuat antara lain di Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, IndoPos, Jurnal Sajak, Manglé, Galura, dll. Tahun 2012 mengikuti Temu Penyair Jawa Barat (Cibutak Foundation) dan Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (Disbudpar, Yogyakarta). Novel Deng (2016) Godi Suwarna merupakan karya terjemahannya yang telah terbit. Saat ini bekerja sebagai petani di kampung kelahirannya dan mengajar di Fikom Universitas Garut.
Deri Hudaya

Latest posts by Deri Hudaya (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.