Puisi-Puisi Dewi R Maulidah

 

RUMAHKU

Tubuh adalah rumah.

Segala di dalamnya, mulanya tiada.

Lalu, aku datang menghuninya.

Aku pun merabai segala lekuk bentukku.

Ketika kubuka jendelaku: terhamparlah warna-warna.

Lalu, kubuka pintu: tertujulah berbagai jalan.

Kadangkala, matahari melambaikan sinarnya

            dan angin bertamu di telapakku.

Rumahku pun merasa: mengolah hawa.

Kepalaku berumbai rumbia: segala cuaca

            yang terunduh menjadi suara.

Aku pun menyalinnya ke dalam dinding,

            meresapkannya hingga tampak beraroma.

Ketika rumahku begitu berdebu, bau.

Aku pun memandikannya:

dari suatu waktu menuju malam

hingga esok meninggalkan jingga.

Barangkali berulang kali:

            bak memandikan diri.

Kamis keempat, 2020.

 

 

 

BERSETUBUH DENGANMU

dari yang ingin memelukmu, Tuan.

−  dengan segala kecemasan yang melebur

menjadi kedamaian

berkelindan ke semua bagian tubuhku

menuju napasmu.

dari yang ingin memelukmu, Tuan.

−  kurebahkan egoku ke dadamu yang lapang,

kutelanjangkan siasatku ke matamu yang bersendang

padamu tubuhku pun terendam

mencumbu aroma kehangatan

serupa sentuhan.

dari yang ingin memelukmu, Tuan.

−  dengan segala ketenangan yang terkumpul,

akhirnya tetap melahirkan kecemasan

yang lebih pekat di segala peredaran

detakku.

Tuan, kuingin terlelap bersamamu

tanpa bangun tanpa tidur

tanpa doa tanpa resah

tanpa duka tanpa bahagia

serupa hampa meruangkan desah

tanpa masa.

 

 

 

MENELANJANGIMU

Adakah kau tiada meski ada temu?

Adakah kau memang menemuiku?

Adakah kau menemuimu?

Adakah kau di tubuhmu?

Adakah kau di tubuhku?

Adakah kau di tubuh tetumbuh?

Adakah kau di daun layu?

Adakah kau di siang kelabu?

Adakah kau di jalan tak buntu?

Adakah kau di wajah yang pilu?

Adakah, memang, kau di mata ibu?

Sepanjang apakah dunguku itu?

Sepanjang itukah singkapmu?

Sekuat apakah rupa acuhku?

Sedekat itukah kupadamu?

Ku merabai tubuhmu.

Kau pun menelanjangiku.

Malang, Rabu Wage 2020.

 

 

 

MENJADI MIMPI

Tubuhku terbuat dari mimpi:

di dalamnya terhampar miliaran rasi menuju pintu menuju abadi.

Kaki-kakiku digerakkan olehnya – yang nyata di luar realita.

Kepalaku pun memburu ingatan – yang berliar di belantara pikiran.

Telapakku adalah mata – yang merekam segalanya.

Bibirku adalah puisi – yang menarikan bunyinya.

Dan, mataku adalah kumpulan cerita – yang lelap.

Bilamana kauingin membacanya,

mari kita tidur bersama.

Tanpa impian.

Tanpa impian.

Malang, dalam tahun yang kabut.

Latest posts by Dewi R Maulidah (see all)

Comments

  1. zainul febri Reply

    ngeri ngeri!!!.

  2. PenikmatPuisi Reply

    Kurator, yakin?

  3. Vita Reply

    Masyaallah dari Gresik juga

  4. Riyanto Reply

    Bagian menelanjangimu terlalu banyak repetisi sebenarnya. Bisa dihapus beberapa tanpa mengurangi keindahan.

  5. Janabijana Nia Reply

    Jempol deh

  6. Andre Reply

    Membuat lelaki jatuh hati pada puisi-puisi nya dan penulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.