Puisi-Puisi ELok Teja Suminar; Aku, Johnsy, dan Halusinasi

Stefan Keller

HANTU DI JENDELA. APAKAH ITU TEMANMU?

 

bayiku tidak menangis. tentu saja. dia tidak pandai melakukannya. tapi dia terus melihat ke jendela. aku telah melihat sebelumnya. entah apa. sesuatu yang buruk dan berantakan menyembul dari salah satu sisi jendela. hantu. mungkin saja. khayalanku. mungkin juga. tetapi bentuknya seperti kepala seorang teman yang pernah datang mencuri gagasangagasan dari kepalamu. rambutnya. matanya. milik seorang oportunis. aku tak ingin melihatnya lagi. aku muak mendengar omong kosong. aku telah berikan sepiring nasi terakhirku padanya. cukuplah itu sebagai pertanda. kita berteman bahkan dengan siapa saja. usir pergi sebelum aku berubah menjadi lebih keji. kau pernah membaca the tell tale heart bukan. poe membunuh hanya karena membenci sepasang mata tua. memutilasi lalu menyembunyikan potonganpotongan tubuhnya. ah. aku benci rambut dan matanya. aku benci caranya membohongi kita. dalam sebuah cerita mungkin aku juga akan membunuhnya. tapi tentu saja dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan poe.

 

Bandar Lampung, 03 Juni 2018

 

 

PUZZLE

siapa yang melangkah meninggalkan cahaya. seorang perempuan tertegun di hadapan tungku yang telah berkalikali menghangatkan tubuhnya. sesekali juga menghanguskan pakaian yang dikenakannya. hari masih begitu muda. ketika jemarinya gemetar menahan gigil. kerinduan dan keinginan di dalam dadanya memanggil.  sebuah rumah yang dengan ramah menunggu kepulangan. tetapi di mana senyumsenyum diabadikan. orangorang sibuk dengan rencanarencana. tak ada waktu bercakap lagi. suara peluit dari kejauhan. selalu ada yang pergi dan ditinggalkan. kehilangan. apakah itu masih berarti. sepasang tangan yang pernah saling menggenggam. apakah kau kenali. kehidupan serupa tumpukan puzzle. mereka menunggu untuk segera disusun. dibongkar dan kembali disusun. tak ada yang benarbenar selesai.

Bandar Lampung, 2018

 

WELL DONE

 

seekor burung yang memakan benih dari telapak tanganku kemudian terbang kembali membuatku bersedih. seekor anak kucing yang semalaman menangis di pinggir kali itu juga membuatku tak bisa tidur. apakah ada yang mengerti. di balik baju zirah yang aku kenakan ada seonggok hati yang bila disentuh selembut bolu kukus. sesekali mungkin engkau mendengar aumanku. atau hardikan yang begitu tendensius katamu. suaraku menjelma belati yang tajam. mengiris argumenargumen yang kurang matang. panaskan lagi ovennya. kita perlu sepotong daging yang sempurna. agar tak tersisa parasit atau cacing pita. well done. kita bisa lanjutkan makan malam. tentu saja untuk cadangan energi ketika bercinta.

Bandar Lampung, Maret 2018

 

AKU, JOHNSY DAN HALUSINASI

 

aku tahu. aku bukan johnsy seperti dalam cerita yang ditulis o. henry. di sisiku tak ada sahabat sebaik sue. demam ini juga bukan lantaran pneumonia. aku juga tak akan melakukan hal bodoh. menghitung mundur waktu yang tepat untuk mati misalnya. tak ada pohon ivy di halaman rumah. hanya mengkudu kerdil yang daunnya kerap dipetik bocahbocah. tak ada jalanan bersalju seperti yang digambarkan di washington square. hanya ganggang kecil yang cabangnya membingungkanku. kali dekil yang tak berhenti mengalirkan beragam sampah. hujan lebih sering turun. dinginnya menggigilkanku. demam sialan itu kembali datang. namun siapa yang benarbenar bersedia mati untukku. seperti behrman tua yang malang. demi melukis sehelai daun di tengah badai salju. semua dilakukan untuk johnsy. oh johnsy yang beruntung dikelilingi orangorang baik. dan aku bukan johnsy. oh. banyak minum obat membuatku berhalusinasi. sehelai benang menjelma ular phyton di kepalaku. beri aku batang kayu untuk palang pintu. orang-orang jahat akan menculik bayiku

 

Dini hari, Bandar Lampung, 30 Mei 2018

Elok Teja Suminar

Lahir di Bangkalan 14 Juli 1983. Mulai aktif menulis Cerpen dan Puisi sejak Sekolah Menengah Pertama. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak maupun elektronik baik lokal maupun nasional, seperti Majalah Sastra Horison, Koran Dinamika, Suara Harian, dll. Sebuah puisinya masuk sebagai salah satu nominasi pada ajang Krakatau Award 2017, beberapa puisinya juga tergabung dalam antologi puisi “Negeri Para Penyair”. Sebuah naskah dramanya “Suamiku Bukan Maling” lolos sebagai pemenang dalam ajang lomba teater tingkat Provinsi di Bandar Lampung. Selain menulis, Elok juga piawai mengaransemen lagu dari puisi-puisi yang ditulisnya, serta beberapa puisi penyair nasional seperti ; Sapardi Djoko Damono, Toto ST Radik, Conie Sema, Christian Saputro, Robi Akbar, Isbedy Setiawan, Syaiful Irba Tanpaka, dll. Sekarang tinggal dan aktif berkesenian di Sanggar Gaharu, sanggar seni dan taman baca yang dibangun di lingkungan masyarakat marginal di Bandar Lampung.

Latest posts by Elok Teja Suminar (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Puzzle … suka 😊

  2. A H Kurnia Reply

    Tanda baca oh tanda baca, admin tolong dong

Leave a Reply

Your email address will not be published.