Puisi-Puisi Ghayath Almadhoun

flickr.com

Daftar Rincian

 

/1/

Tahukah kau kenapa orang akan mati jika diberondong peluru?

Karena 70 persen tubuh manusia terdiri dari air

Sama saja ketika kau membuat lubang di badan tangki

 

Apakah itu bentrokan kacau yang menari di ujung gang

ketika aku lewat?

Atau apakah ada penembak jitu yang mengawasiku

dan menghitung langkah terakhirku?

 

Apakah itu peluru nyasar

atau apakah aku orang yang kesasar meskipun usiaku

sudah sepertiga abad?

 

Apakah itu api yang ramah?

Bagaimana bisa?

Aku belum pernah bersahabat dengan api sebelumnya.

 

Apa menurutmu aku menghalangi peluru itu sehingga aku mengenainya?

Ataukah ia yang menghalangi jalanku sehingga ia mengenaiku?

Jadi, bagaimana aku bisa tahu kapan ia lewat

dan di jalan mana ia akan menyeberang?

 

Apakah pertemuan dengan peluru dianggap sebagai kecelakaan

dalam arti konvensional

seperti yang terjadi antara dua mobil?

Akankah tubuh dan tulang kerasku menghancurkan tulang rusuknya juga

dan menyebabkan kematiannya?

Atau apakah ia akan selamat?

 

Apakah ia mencoba untuk menghindariku?

Apakah tubuhku ringan?

Apakah butir kecil seperti mulberi itu terasa betina dalam kejantananku?

 

Penembak jitu itu menudingkan bedil tanpa repot-repot tahu

bahwa aku alergi terhadap peluru.

Dan ini adalah alergi dengan jenis yang paling serius

dan bisa berakibat fatal.

 

Penembak jitu itu tidak meminta ijin kepadaku

sebelum menarik pelatuk,

contoh nyata ketidak-sopanan yang menjadi terlalu lumrah

akhir-akhir ini.

 

/2/

Aku mencari perbedaan antara revolusi dan perang ketika sebuah peluru melewati tubuhku lalu memadamkan obor yang disulut guru sekolah dasar dari Suriah, bekerjasama dengan seorang pengungsi dari Palestina yang menjual tanahnya untuk mengakhiri anti-semit di Eropa dan telah dipaksa untuk berimigrasi ke suatu tempat di mana ia bertemu dengan seorang perempuan yang menyerupai kenangan.

 

/3/

Itu adalah perasaan yang indah, seperti makan es krim di musim dingin, seperti berhubungan intim tanpa kondom dengan wanita yang tidak dikenal di kota yang asing di bawah pengaruh kokain. Seperti…

 

/4/

Seorang pejalan kaki berkata kepadaku separuh apa yang ingin ia katakan kepadaku. Aku percaya kepadanya lalu kami saling menusuk seperti sepasang kekasih. Seorang wanita memintaku untuk mengikutinya, maka kulakukan hal itu dan kami memiliki anak yang lebih serupa pengkhianatan. Seorang penembak jitu membunuhku dan aku mati. Langit jatuh pada pejalan kaki dan turis-turis melarikan diri. Langit jatuh pada pejalan kaki dan hatiku tidak melarikan diri. Langit jatuh ke atas, lalu seorang penyair bunuh diri massal di kamarnya, meskipun malam itu ia tengah sendiri.

 

/5/

Sore itu, amnesia menggrebekku dalam ketidak-sadaran. Aku membeli kenangan seorang tentara yang tidak kembali dari perang. Dan ketika aku bergegas menuju sela-sela waktu, aku tak bisa menemukan pengasingan yang sesuai untuk lukaku. Maka, kuputuskan agar tidak mati kedua kalinya.

 

/6/

Kota ini lebih tua dari kenangan. Sebuah kutukan dipagari kemurungan, waktu terlambat dari jamnya, dinding memagari waktu dengan monoton, kematian seperti wajahku. Seorang penyair membungkuk pada seorang wanita dalam puisinya. Seorang jendral menikahi istriku. Kota ini memuntahkan sejarahnya dan aku menelan jalanan dan kerumunan pun menelanku. Akulah yang mendonorkan darahku kepada orang asing dan kubagikan sebotol anggur beserta kesendirianku. Kumohon, kirimkanlah tubuhku lewat pos kilat, bagikan jari-jariku dengan adil untuk kawan-kawanku.

 

/7/

Kota ini lebih besar dari hati seorang penyair dan lebih kecil dari puisinya. Tapi ia cukup untuk bunuh diri tanpa mengganggu siapa pun; cukup untuk memekarkan lampu lalu lintas di pinggiran kota; cukup untuk menjadikan polisi sebagai solusi dan jalan-jalan hanyalah latar belakang kebenaran.

 

/8/

Malam itu, ketika hatiku tersandung, seorang perempuan Damaskus memegangiku dan menuturiku alfabet ambisinya. Aku tersesat di antara Tuhan yang ditanam mualim di hatiku dan Tuhan yang kubelai di tempat tidur perempuan itu. Malam itu, hanya ibuku yang tahu aku takkan kembali.

Hanya ibuku yang tahu,

hanya ibuku,

ibuku.

 

/9/

Telah kujual hari-hari putihku di pasar gelap dan kubeli sebuah rumah yang menghadap ke perang. Pemandangannya begitu indah sampai-sampai aku tak dapat menahan godaannya. Lalu puisiku pun menyimpang dari ajaran syekh dan kawan-kawanku menuduhku telah uzlah. Kucelaki mataku dan aku merasa lebih Arab. Kuminum susu unta dalam mimpi dan terbangun sebagai penyair. Aku menyaksikan perang seperti penderita kusta menyaksikan mata orang-orang. Aku telah sampai pada kebenaran yang menakutkan tentang puisi dan orang kulit putih; tentang musim migrasi ke Eropa dan tentang kota-kota yang menerima turis di masa-masa aman dan menerima mujahidin di masa perang; tentang perempuan yang menderita terlalu banyak di masa-masa aman dan menjadi bahan bakar di masa perang.

 

/10/

Di kota yang direkonstruksi seperti Berlin, terdapat rahasia yang semua orang tahu, bahwa…

 

Tidak, aku tidak akan mengulangi apa yang sudah maklum, tapi aku akan memberi tahu apa yang tidak kau ketahui: “Masalah perang bukan terletak pada mereka yang telah mati, tapi pada mereka yang masih hidup setelah perang.”

 

/11/

Itu adalah perang terindah yang pernah kuhadapi dalam hidupku, penuh dengan metafora dan gambaran puitis. Aku ingat bagaimana dulu aku memacu adrenalin dan mengencingi asap hitam, bagaimana dulu aku memakan dagingku sendiri dan meminum jeritan. Kematian yang kurus bersandar pada reruntuhan yang diperbuat oleh puisi dan pisaunya menyapu bersih garam di tubuhku. Kota itu menyemir sepatuku dengan malamnya dan jalan-jalan tersenyum dan kota itu menghitung jari-jari kesedihanku dan menjatuhkannya ke jalan menuju ke arahnya. Kematian menangis dan kota itu mengingat ciri-ciri pembunuhnya dan mengirimiku sebuah tikaman melalui surat pos, mengancamku dengan kebahagiaan dan menggantung hatiku dengan tali cuciannya yang membentang di antara dua kenangan dan lupa menarik diriku ke arah diriku sendiri, sangat dalam ke arah diriku, sangat dalam. Sehingga jatuhlah bahasaku pada pagi hari dan balkon jatuh pada nyanyiannya, tisu pada ciuman, rincian lorong-lorong pada sejarah. Kota ini jatuh di pemakaman, mimpi jatuh di penjara, orang miskin jatuh di kebahagiaan, dan aku jatuh di sebuah kenangan.

 

/12/

Ketika aku menjadi anggota Union of the Death, mimpiku mulai membaik dan aku mulai berlatih menguap dengan bebas dan terlepas dari deru peluru yang bernyanyi di tubuhku yang membengkak. Aku punya banyak waktu untuk berteman dengan anjing liar yang memilih untuk tidak makan jasadku meskipun ia lapar dan merasa puas tidur di dekat kakiku.

 

/13/

Sejumlah orang berusaha menarikku dari jalan, namun si penembak jitu membantah mereka dengan bedilnya sehingga mereka berubah pikiran. Ia adalah penembak jitu yang terhormat, bekerja dengan jujur dan tidak membuang-buang waktu, dan orang.

 

/14/

Lubang kecil itu,

sisa setelah terobosan peluru,

mengosongkan isiku

Semua mengalir dengan lembut

kenangan

nama kawan-kawan

vitamin C

lagu pernikahan

kamus Arab

suhu 27 derajat

asam urat

puisi Abu Nuwas

dan darahku.

 

/15/

Begitu nyawa mulai meloloskan diri melalui lubang kecil yang telah dibuka oleh peluru, segala sesuatu menjadi lebih jelas. Teori relativitas terbukti dengan sendirinya, persamaan matematis yang dulu rumit kini menjadi perkara sederhana, nama-nama teman sekelas yang dulu kulupa kini kembali mengisi ingatan. Hidup, dengan segala pernak-perniknya, tiba-tiba mencorong: kamar tidur masa kanak-kanak, susu ibu, orgasme pertama, jalan-jalan di kamp, potret Yasser Arafat, aroma kepulan kopi di dalam rumah, suara azan subuh, Maradona di Meksiko tahun 1986, dan kamu.

 

/16/

Benar, sama seperti ketika kau memakan jari-jari kekasihmu, atau menyusu dari kabel listrik, atau dinokulasi melawan pecahan peluru. Sama seperti ketika kau adalah pencuri kenangan, mari, mari, kita habiskan puisi, tukar lagu musim panas dengan pembalut kasa dan nyanyian musim panen dengan benang bedah. Tinggalkan dapur dan kamar kanak-kanakmu dan ikuti aku untuk minum teh di balik karung pasir. Pembantaian itu memberi ruang bagi semua orang; taruh impianmu di gudang dan berilah tanaman balkonmu banyak air agar diskusi kita bisa berlangsung lama. Tinggalkan Jalaluddin Rumi dan Ibn Rusyd dan Hegel, ambillah Machiavelli dan Huntington dan Fukuyama karena kita lebih membutuhkan mereka sekarang. Tinggalkan tawamu, kemeja birumu, dan tempat tidurmu yang hangat. Bawalah kukumu dan paku dan pisau berburu dan kemarilah.

 

/17/

Buang masa Renaissans, ganti dengan inkuisisi

Buang peradaban Eropa, ganti dengan malam Kristallnacht

Buang sosialisme, ganti dengan Joseph Stalin

Buang puisi Rimbaud, ganti dengan perdagangan budak

Buang Michel Foulcault, ganti dengan virus AIDS

Buang filsafat Heidegger, ganti dengan kemurnian ras Arya

Buang matahari Hemingway yang masih bersinar, ganti dengan peluru di kepala

Buang langit berbintang Van Gogh, ganti dengan telinga yang terputus

Buang mural Picasso’s Guernica, ganti dengan mural aroma darah yang segar

Kita butuh semua ini sekarang

Kita membutuhkan mereka untuk memulai perayaan.

 

 

Dan Damaskus pun Menjauh*

 

/1/

Ketika aku meninggalkan Damaskus, aku memaku di tempatku dan Damaskus pun menjauh. Ini persis seperti apa yang coba dijelaskan Einstein dalam teori relativitas, dan apa yang coba dijelaskan Whitman dalam Leaves of Grass, dan apa yang coba kubisikkan ke telingamu ketika kau berupaya mencintaiku.

 

/2/

Damaskus pun menjauh. Hatiku dibungkus dengan hati-hati di dalam koper, hati yang kau ketahui dengan baik, ia melolong seperti srigala di gurun pasir Yordania. Kuikuti jejaknya di belakang kelaparan purba, lantaran aku tak pernah kenyang akan cinta sejak Damaskus meninggalkanku. Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohoni pertolongan.

 

/3/

Hatiku yang kau ketahui dengan baik, kujejali dengan rintihan suaramu agar tunduk, kutiupi dengan asap dari ganja agar tenang. Seorang badui yang memakai kulitku mengembara bersama orang-orang Arab utara. Bagaimana mungkin aku menetap sedang aku tinggal di rumahmu dan Allah menyatakan bahwa aku mengembara di tiap-tiap lembah?! Bagaimana mungkin aku menetap sedang musik-musik mawwal mencuriku dari buaian ibuku, dan pinggulmu yang jelas seperti maut di antara kawan-kawanku itu memenjarakanku, maka kuikuti kau seperti kawan Imril Qais mengikuti kawannya /tanah air adalah tanah air Tuhan, hamba sahaya adalah hamba sahaya Tuhan/?! Dan aku lari darimu, seperti: manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari handai taulan dan anaknya.

 

/4/

Dan Damaskus pun menjauh dan aku memaku di tempatku. Koperku lari ke depan dan hatiku yang dipenuhi retorika Arab sibuk berimigrasi, hati yang kau ketahui dengan baik. Tatkala kukeluarkan ia dari goanya di suatu malam untuk melihat bulan, ia melolongkan namamu. Tetapi aku lebih keras dari batu dan hatiku yang kau ketahui dengan baik tidak juga melunak.

 

*Kutulis puisi ini untuk perempuan yang kucintai dan kami telah berpisah. Sekarang ia punya lelaki lain, dan aku hanya punya puisi ini.

 

 

Genosida

 

Ketika mereka membunuhmu,

sebenarnya mereka melakukan genosida pada seorang saja.

 

Ketika orang-orang menemukan makammu,

mereka

mendapati

kuburan

massal

untuk

satu

mayat.

 

 

Penyair: Ghayath Almadhoun

Penerjemah: M.S. Arifin

Ghayath Almadhoun

Penyair ini lahir di Siria pada tanggal 19 Juli 1979. Ia punya darah Palestina. Ayahnya adalah seorang pelarian. Dalam salah satu puisinya Ghayath bercerita bahwa ayahnya dibuang dari Palestina dan hijrah ke Siria. Di Siria ayahnya bertemu seorang perempuan dan akhirnya menikah. Perempuan itulah ibunya. Dalam puisi berjudul “Israel” ia berkata: Jika tak ada Israel, ayahku/ tak akan dibuang dari Palestina;/ tak akan terlantar di Siria;/ tak akan bertemu Ibuku./ Maka aku tak akan ada/ dan kamu tak akan jadi kekasihku/ saat ini. Sejak tahun 2008, Ghayath hijrah ke Swedia dan tinggal di kota Stockholm.
Ghayath Almadhoun

Latest posts by Ghayath Almadhoun (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.