Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM; Yang Tertinggal

in Puisi by
pexels.com

Hari Ini

 

Tak ada hari kecuali hari ini

Hari-hari lain di luar komposisi

Langkah dan mimpi kita. Tak ada

Hari hanya hari ini; pohon-

Pohon tidur, batu-batu terjaga

Dan laut bangkit di bawah kendali

Planet berputar. Kita memasuki

Pintu-pintu halaman di luar

Presisi, waktu melingkar-

Lingkar di situ, sepanjang hari ini

Selama hari ini.

 

 

Satu Tempat 

 

Satu tempat mengikat ingatan kita.

Mungkin suatu saat kau atau aku

melupakannya. Tapi satu tempat

menuliskan sejarahnya sendiri.

Ia tak beranjak juga tak tertinggal.

Satu tempat bukan masa lalu

Maupun masa depan. Ia berada

dalam kemungkinan-kemungkinan.

Ia ada dalam impian-impian kita

Sekaligus yang tak kita impikan.

 

 

Antara

 

Antara mimpi dan jaga, ada jeda

Jalan bagi angin yang beranjak

Dari luar jendela. Antara kau dan aku

Membentang jarak dalam keheningan.

 

Aku tahu, kau menutup matamu

Segala yang sempat kaupandang

Terekam di ruang balik kesadaran.

 

Tanganku dan tanganmu bertemu.

Tidak di sini, tidak juga di sana.

Tapi di ruang antara bermimpi

Dan terjaga, tempat angin bersarang

Sebelum menyambut fajar datang.

 

 

Yang Tertinggal

 

Yang tertinggal di hari yang tanggal

dari tangkai waktu, mungkin

hanya epidermis tipis perasaanmu.

 

Dan kau menduga sama berharga

dengan segala yang akan singgah

dalam hari-hari belum kau kenali.

 

Yang tertinggal akan membatu

atau menjadi hantu dalam mimpimu.

 

Tapi kau tak yakin, apakah ia

atau hal lain sebagai himpunan

tak mampu kausimak dalam ingatan.

 

Barangkali yang tertinggal

menunggumu di depan pintu samar

dan tak kau sadari, atau menjelma

 

sebuah nada melankoli, mengiringi

langkahmu dalam allegro yang resah.

 

 

Akhirnya

 

Akhirnya kita tiba di sini. Di depan kita dunia

Memamerkan diri, telanjang dalam kebeningan.

Kau menunjuk satu jalan dari banyak jalan

Menuju kemungkinan dari sekian kemungkinan.

 

Akhirnya kita telah menjelajahi hari-hari

Rawan dan penuh pesona petualangan.

Berkawan mimpi-mimpi muram dalam insomnia

Panjang. Kita senantiasa karib dengan kesepian

Dan hantu-hantunya di balik jendela kamar.

 

Di sini kita telah sampai, kota selepas fajar

Membukakan cakrawala bagi mata kita,

Membentangkan tangga ke angkasa perawan.

Dan kita berdiri dilingkupi udara

Pagi yang beranjak dari pohon-pohon terberkati.

 

Tanganku di tubuhmu. Tubuhmu dan tanganku

Sebagai cara bagi sebuah rahasia. Dan suatu tempat

Satu peristiwa telah lahir, di sini, di bawah kaki kita.

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar. Aktif sebagai salah satu penggerak komunitas Jatijagat Kampung Puisi, Bali. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Ensiklopedi Pejalan sunyi.
Kim Al Ghozali AM

Leave a Reply

Your email address will not be published.